Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 29


__ADS_3

➡➡➡


Aku merindukannya bukan karena lama tidak bertemu, tapi.. apapun yang ku lakukan, aku hanya berharap agar dia selalu di sampingku. #unknown


➡➡➡


Aku membuka mataku, mengerjapkan mata beberapa kali, dan melihat matahari sudah sangat tinggi.


"S*al," umpatku dalam hati, aku segera bangun dan sangat terkejut saat mendapati Helena sudah berdiri di samping ranjang dengan berkacak pinggang entah sejak kapan.


"Astaga, Helena, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Ucapku seraya memegang dadaku sendiri karena terkejut.


Gadis ini selalu saja membuatku kaget, apa hanya itu yang bisa gadis ini lakukan?


"Apa lagi? Tentu saja membangunkanmu, kenapa kakak masih malas malasan?" Helena menunjukan wajah seram, seakan Helena adalah bos di rumah ini.


"Aish, aku pulang jam tiga pagi, Helena. Aku lelah dan masih sangat mengantuk. Lagi pula, ini akhir pekan." Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran ranjang, mengambil hpku di atas nakas, dan melihat chat dari Zidan.


Zidan :


"Dasar, pemalas, ayo bangun! Aku tunggu setengah jam lagi."


Aku membaca pesan ini sampai tiga kali untuk memastikan, apa aku salah baca? Tapi semakin di baca, semakin aku yakin jika sepertinya memang pesan ini sudah benar, lalu bagaimana mungkin Zidan bisa tahu jika aku masih bermalas malasan?


Sangat mengerikan.


Ini adalah pertama kalinya Zidan mengirimiku pesan, biasanya dia akan memanggilku secara langsung jika memang ada kepentingan mendesak seperti kencan misalnya?


Aku tersenyum sendiri, mencoba membayangkan ekspresi menggemaskan Zidan saat mengatakan itu.


"Kak, apa kamu sudah gila?" Helena merebut Hpku, dan membaca keras keras pesan dari Zidan sambil tertawa cekikikan.

__ADS_1


Aku merasa jika pipiku sudah merona saat ini, "hentikan, Helena! Berhenti membuatku malu!" Aku berusaha merebut hpku yang berada dalam genggaman Helena.


"Kak, kamu berhutang penjelasan padaku." Ucap Helena seraya mengembalikan Hpku.


"Penjelasan apa? Aku tidak merasa telah menjanjikan apapun?" Aku masih berpura pura bodoh, meski aku tahu persis jika maksud Helena yang sebenarnya adalah Zidan, tapi aku tidak ingin membicarakan Zidan untuk sekarang. Ini masih terlalu dini, dan aku kira ini tidak akan baik untuk membicarakan pria itu.


Helena merengut, "tidak usah berpura pura tidak tahu? Jangan berani menipuku?"


"Tapi aku memang tidak menipumu," aku menampilkan wajah polos tanpa dosa, "bagaimana kamu bisa pulang ke sini? Bukan.. maksudku aku tidak mengira jika kamu akan membawa Kirani pulang ke sini? Ngomong ngomong, dimana Kirani?" Tanyaku penasaran, jika Kirani memang tidur di sini, seharusnya dia menghampiriku dan memberikan morning kiss.


"Aku sengaja mengajak Kirani pulang ke sini karena aku ingin," Helena menghela nafas panjang, "Ibu menjemput Kirani pagi pagi sekali untuk di ajak ke kolam renang sesuai permintaan Kirani," Helena duduk di sampingku.


Mendengar ini, aku segera mengangkat sebelah alisku, "lalu kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu tidak ikut berenang? Bukankah itu menyenangkan?"


"Hah?" Helena tersentak, "tentu saja untuk meminta penjelasan, memangnya apa lagi? Tapi kakak justru membuatku kecewa."


"Lain kali akan ku ceritakan, aku janji." Ucapku mengangkat dua jari membentuk huruf V, "sekarang aku akan berangkat kencan," aku beranjak, mengambil dompet, dan mengulurkan lima lembar uang seratus ribuan, menyerahkannya kepada Helena.


"Ambil ini, pergilah main, dan jemput Kirani, Zidan akan menjemputku setengah jam lagi."


Helena menerima uang pemberianku, "Kakak tega menyuapku?" Helena melotot, "apa kakak pikir aku gampang untuk di suap? Ini tidak cukup, pokoknya dua lembar lagi."


"Astaga Helena, kamu mau merampokku?"


Helena mengangguk, dan menengadahkan tangannya kembali, seakan menagih uang keamanan kepada pemilik kios di pasar.


"Keterlaluan!" Aku mengambil dua lembar lagi dari dompetku, "ini yang terakhir, aku tidak punya lagi, sudah.. sana pergi!"


"Terimakasih," ucap Helena sebelum pergi.


Setengah jam kemudian.

__ADS_1


Zidan datang ke rumahku, bukan.. lebih tepatnya adalah rumah Adnan.


Zidan turun dari mobil dengan gaya cool, kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, celana katun panjang, juga kacamata hitam yang.. wow.. astaga.. aku tidak pernah tahu jika kakek yang satu itu masih terlihat sangat tampan.


S*al, sepertinya aku.. sungguh sungguh terpesona.


Zidan mendekat, "sudah puas melihatku?" Suara manly Zidan semakin membuatku terpojok karena telah tertangkap basah tengah mengawasinya tanpa berkedip.


"Siapa yang melihatmu?" Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan malu, "aku hanya melihat rambutmu yang sedikit berantakan," ucapku seraya merapikan rambut Zidan yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan.


"Tidak perlu malu," Zidan menggenggam tanganku, "aku sudah sangat tua, dan aku juga tidak berharap bisa jatuh cinta lagi."


Aku membelalakan mataku saat mendengar ini, melihat raut wajah Zidan yang menunjukan keseriusan. Apa artinya ini? Apa Zidan akan mencampakanku bahkan sebelum kami memulai suatu hubungan? Atau dia justru akan menyatakan cintanya padaku?


Astaga..


"Kita sama sama pernah gagal," Zidan menghela nafas panjang, "kamu bercerai dan aku di tinggalkan. Aku merasa jika kita mungkin cocok satu sama lain, tapi aku tidak yakin dengan semuanya. Aku takut..."


"Stt," aku meletakan jari telunjukku untuk melarang Zidan melanjutkan ucapannya, aku tidak ingin mendengar apapun, entah itu pertanyaan atau pernyataan. Aku tidak peduli dengan apapun. "Tidak perlu bicara lagi, aku tidak membutuhkan pernyataan cinta dari seorang pria. Tidak sama sekali."


"Kenapa?"


"Pernyataan cinta hanya sebuah simbol dalam suatu hubungan, tidak menjamin kesetiaan dan tidak menjamin kebahagiaan. Aku hanya ingin menjalani hubungan seperti air yang mengalir, dan mengikuti arus kemanapun arus itu membawaku. Kita bisa menjalani ini dengan perlahan, tidak perlu terburu buru karena semua perlu proses. Kita sama sama pernah terluka, kita sama sama pernah kecewa, dan kita juga sama sama pernah di tinggalkan. Baik aku atau kamu merasakan luka dan rasa sakit yang sama. Aku berdiri di sini, tidak untuk menghakimimu, tapi aku berdiri di sini karena aku membutuhkanmu untuk mengobati luka itu." Ucapku panjang lebar dengan satu tarikan nafas.


Meski sampai detik ini aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga Zidan, tapi aku hanya berusaha meyakinkan Zidan jika rasa sakit itu bisa di hilangkan dengan memulai hubungan baru.


Aku tersentak saat tiba tiba Zidan memelukku erat, tidak tahu kenapa, tidak tahu apa, pelukan ini? Tanpa menunggu lagi, aku segera membalas pelukan Zidan seraya menepuk punggung Zidan pelan.


Aku mulai merasa jika Zidan mungkin mengalami tragedi yang jelas lebih mengerikan dari pada yang ku alami. Entah itu di hianati, di campakan atau apapun itu. Juga anggapan burukku tentang Zidan, menguar seketika.


Mungkin Zidan bukanlah seorang bad boy, ataupun playboy, karena Zidan bahkan trauma dengan apa yang di sebut dengan cinta dan hubungan.

__ADS_1


"Terimakasih, Himalaya Gilsya. Maaf jika aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku, tapi percayalah.." Zidan menuntun tanganku ke dadanya, "kamu adalah wanita terhebat yang selamanya akan menetap di sini."


__ADS_2