Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 14


__ADS_3

#Me And Furi.


➡➡➡


Pada akhirnya, satu satunya orang yang bisa membuatku bahagia adalah diriku sendiri. #unknown


➡➡➡


Aku mengawasi sekeliling, dengan keadaan sunyi serta pencahayaan remang remang, aku mencoba untuk mencari Furi.


Aku berjalan masuk, dan semakin masuk, namun aku masih belum menemukan sosok Furi di dalamnya.


Apa dia tidak di sini? Tapi.. itu tidak mungkin, pelayan jelas jelas mengatakan jika pria itu ada di sini.


Aku kembali meneliti sekeliling, namun hanya ada kesunyian dan kesunyian yang justru membuatku semakin takut dan merinding.


Sudah ku katakan jika aku sangat takut dengan hantu, dan aku sungguh tidak ingin bertemu hantu itu sekarang. Namun jika memang hantu itu harus muncul di sini saat ini, ku harap wajahnya akan seperti Robbert Pattinson atau seperti Leonardo D Caprio, setidaknya meskipun mereka adalah hantu, mereka tidak akan membuatku takut.


Aku menelan ludah dengan susah payah, mencoba mencari saklar, tapi aku tidak tahu di mana letak pastinya, plus.. aku baru pertama kali menginjakkan kaki di sini, jadi aku tidak tahu menahu tentang denah tempat ini, okey??


Saat aku di landa rasa takut yang luar biasa, aku menjadi semakin terkejut saat sesuatu memelukku di belakang, aku menjerit dan sontak aku berbalik untuk menampar makhluk itu tanpa melihat dulu seperti apa rupa makhluk itu.


Aku menutup mulutku saat mendapati bahwa dia sebenarnya bukan hantu, tapi dia adalah Furi, namun tanganku sudah terlanjur mendarat tepat pada pipi kanan Furi.


'Dasar tangan nakal', rutukku dalam hati. Aku merasa tidak enak hati dengan apa yang telah aku perbuat pada pria itu.


Astaga.. rasa bersalah mulai merayap di dalam relung hatiku, namun di sisi lain, aku juga ingin tertawa, mentertawakan ekspresi syok Furi yang terlihat sangat menggemaskan. "Maaf, apakah itu sakit?" Ucapku memecah kesunyian pada kegelapan malam.


Furi mencari saklar dan kemudian menyalakan lampu yang membuat ruangan terang seketika. "Sebenarnya tamparanmu tidak begitu buruk." Furi memegang pipi kanan yang terkena tamparanku dengan senyum aneh.


"Astaga, pipimu merah dan sedikit bengkak," aku memegang wajah Furi yang mulai tampak merah dan sedikit bengkak. Padahal, aku hanya memakai sedikit kekuatanku saja. Lalu apa aku yang sebenarnya terlalu kuat atau Furi yang terlalu lemah??


"Tidak masalah, hanya masalah kecil, dan asal kamu tahu? Aku tidak selemah itu." Furi berbisik di telingaku.


Aku menyeret Furi agar duduk di sofa, sementara aku akan mencari batu es untuk mengompres wajahnya, tapi.. "dimana kulkasnya?" Aku melirik ke kanan dan ke kiri untuk menemukan keberadaan kulkas sambil berjalan mencari dimana letak dapur dengan mode sok tahu.


"Tidak tidak, kamu salah arah nona, kamu lurus ke arah sana dan kamu akan menemukan dapurnya," ucap Furi menunjuk arah kemana aku harus pergi.


Aku mengangguk.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian aku kembali dengan membawa batu es yang telah ku bungkus dengan kain. Aku segera mengompres wajah Furi dengan telaten.


Aku memang terbiasa melakukan ini sebelumnya, karena Kirani adalah tipe anak yang tidak bisa diam, dan sering kali celaka karena keaktifannya yang luar biasa, jadi aku selalu melakukan pertolongan pertama agar tidak terjadi peradangan serius pada luka Kirani.


Entah kenapa aku menjadi teringat dengan gadis kecil itu, dan aku sangat merindukannya sekarang. Sepertinya aku harus minta maaf sebanyak banyaknya pada Kirani karena tidak bisa selalu berada di sampingnya.


"Hei, apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian akan berciuman?" Adalah suara ejekkan Miranda yang membuatku dan Furi menoleh bersamaan ke arah sumber suara, aku lantas menghentikan aktifitasku dengan menarik tanganku dari wajah Furi.


Aku mengangkat sebelah alisku, mulai bertanya tentang apa maksud pertanyaan Miranda, dan bagaimana Miranda bisa masuk?


Sebelum aku bertanya, Miranda lebih dulu menunjukkan id card yang sama seperti yang Furi berikan padaku, seakan menjelaskan bahwa 'aku bisa masuk karena memiliki id card ini'.


Melihat itu, aku mengangguk.


"Lalu, apa aku menganggu adegan romantis kalian?"


Aku dan Furi saling menukar pandangan dengan bingung setelah mendengar ucapan konyol Miranda.


"Tunggu tunggu.. kenapa wajahmu merah?" Tanya Miranda kemudian.


"Ini.." Furi menggaruk tengkuknya, "aku tidak sengaja menabrak pintu." Ucap Furi dongkol.


Miranda mengangkat sebelah alisnya, "apa pintu jaman sekarang memiliki lima jari?" Nada suara Miranda terdengar penuh ejekkan, seakan tahu jika aku yang telah melakukan ini.


"Terserahlah," Miranda duduk di tengah antara aku dan Furi.


"Lalu kenapa kamu datang? Ada urusan denganku?" Furi menoleh ke arah Miranda dengan penuh tanya.


"Apa aku harus punya urusan terlebih dahulu untuk datang ke sini?" Ucap Miranda penuh penekanan.


"Kamu membuatku takut, tidak bisakah kamu bersikap santai dan rilex di tempatku? Kamu hanya seorang tamu dan jangan anggap tempat ini sebagai rumahmu sendiri." Ucap Furi dengan melirik ke arahku, seakan memberi tahu jika Miranda memang selalu tidak tahu malu seperti ini.


"Baiklah, berhenti bicara omong kosong, berikan kami minum sekarang."


"Memangnya kalian mau minum apa? Aku hanya punya cola di dalam kulkas, jika kalian mau ambil saja sendiri!!"


"Cuih, dasar pelit." Miranda beranjak pada akhirnya, dan kemudian membawa tiga kaleng cola di tangannya, menyerahkan satu untukku, satu untuk Furi dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


Miranda duduk kembali,"ayo.. aku tidak sabar ingin mendengar Sasya bernyanyi." Ucap Miranda dengan antusias.

__ADS_1


Aku berdehem, "memangnya genre apa yang mereka sukai? Maksudku pengunjungmu?" Tanyaku pada Furi.


"Em.. apa saja mereka suka," jawab Furi seraya beranjak dan berlalu, beberapa saat kemudian, Furi kembali dengan sebuah gitar di tangannya, dan mengulungkannya padaku.


Aku menerima gitar itu, memainkannya sebentar, dan aku mulai bernyanyi.


Legends never die


When the world is calling you


Can you here the screaming out your name


Legends never die


They become a part of you


Every time you bleed for reaching greatness


Relentiess you survive


They never lose hope when everythings cold and the fightings near


Its deep in their bones


Theyll run into smoke when the fire is fierce


Oh.. pick yourself up because


....


....


....


Aku mengakhiri nyanyianku dengan Miranda dan Furi yang masih tertegun.


Dengan melihat tingkah mereka, aku bisa mengambil kesimpulan, yaitu hanya ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama adalah suaraku jelek atau kemungkinan kedua adalah mereka terlalu menghayati lagu yang aku nyanyikan, salah satu lagu favourite ku, Legends Never Die.


"Hei, bagaimana?" Tanyaku mendesak mereka berdua untuk memberi penilaian.

__ADS_1


Miranda dan Furi saling pandang sebelum akhirnya mereka mengangkat jempol mereka, serta mengimbuhkan kata "GOOD" setelahnya.


Aku menarik nafas lega, "syukurlah, aku sangat takut suaraku akan berubah menjadi jelek saat aku gugup."


__ADS_2