
➡➡➡
Bohong jika aku berkata tidak lagi mencintaimu, karena air mataku masih menetes untukmu, dan karena air mata hanya bisa di berikan kepada orang yang kita sayang.
➡➡➡
Miranda kembali meneliti penampilanku, meneliti rambutku, meneliti pakaianku, juga mengawasiku dari ujung kaki hingga ujung kepala hingga beberapa kali, seakan memastikan jika semuanya harus terlihat sempurna.
Tidak tahu kenapa justru Miranda yang sangat bersemangat?? Aku bahkan merasa jika Miranda sudah sangat berlebihan.
Apa Miranda tidak pernah berpikir jika pertemuan ini bisa saja berakhir dengan adu mulut hingga aksi cakar mencakar?? Atau.. mungkin bisa saja lebih buruk dari itu?
Bagaimanapun, ini adalah pertemuan antara mantan istri dan istri baru, jadi sangat wajar jika pada akhirnya bisa berakhir cekcok ataupun ricuh.
"Kenapa kamu sangat bersemangat? Tidakah kamu khawatir jika acara ini mungkin saja akan berakhir dengan adu mulut?" Tanyaku pada Miranda yang masih fokus mengawasiku sampai detail kecil sekalipun.
Miranda menggeleng, "tidak.. memangnya apa yang harus di khawatirkan?? Kamu bukan tipe wanita yang bermulut besar, okey?"
"Kenapa kamu sangat yakin??"
"Tentu saja aku percaya padamu, aku yakin jika kamu bisa mengendalikan amarahmu dengan baik dan tidak akan membuat dirimu sendiri malu."
Aku kembali melihat pantulan wajahku dari cermin seraya memikirkan perkataan Miranda.
..VISUAL SASYA..
...
Aku tiba di pelataran SURVIVE CAPITAL jam delapan kurang tiga menit.
Aku adalah orang yang tepat waktu, aku tidak akan pernah datang lebih awal ataupun datang terlambat. Jadi ku usahakan agar aku bisa datang tepat pada waktu yang telah di tentukan sebelumnya.
__ADS_1
Begitu aku memasuki SURVIVE CAPITAL aku di suguhkan dengan pemandangan kemewahan yang membentang dari ujung ke ujung, mulai dari design, furniture, hingga arsitektur yang high class. Benar benar untuk kalangan menengah ke atas yang ingin menghamburkan uang hanya untuk secangkir kopi.
Pelayan menuntunku untuk memasuki sebuah ruang private di lantai dua, aku mengikuti pelayan yang kemudian menyuruhku masuk begitu kami tiba di tempat yang mungkin telah rubah itu pesan sebelumnya.
Begitu pintu terbuka, aku langsung di suguhkan dengan penampilan ruang eksklusif dengan seorang wanita muda yang tengah duduk anggun dengan secangkir teh di hadapannya.
Begitu rubah itu melihatku masuk, dia tersenyum dan mempersilahkan ku untuk segera duduk.
Aku mengangguk dan kemudian duduk di hadapannya.
Bukan hanya penampilannya yang berkelas, namun juga perilaku anggun khas seorang bangsawan yang bisa di lihat dari caranya berperilaku. Jelas sangat berbeda denganku.
Pantas saja jika Adnan lebih memilih Rubah terk*tuk ini di banding aku, sekarang aku sudah tahu jawabannya.
Ku amati wajahnya lekat lekat, sangat jelas jika rubah itu lebih muda dariku, Mungkin usianya sekitar dua puluhan? Atau mungkin justru kurang dari dua puluh?
Aku tidak bisa memprediksinya karena dia memang masih sangat muda, cantik, seksi, berkelas dan kaya raya tentunya.
Jelas dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau, tapi kenapa dia memilih Adnan? Adnan hanya seorang pria beristri yang bisa di katakan biasa saja??
Gaun designer ternama, tas limited edision, sepatu hak tinggi eksklusif, berlian serta mutiara, semua jelas berada pada kisaran wah dan wow. Tapi kenapa pilihan untuk seorang suami harus jatuh kepada Adnan? Adnan yang mungkin tidak akan pernah bisa untuk mengimbangi kehidupan wanita ini?? Kenapa??
"Apa yang kamu pikirkan, hm??" Suara itu membuyarkan lamunanku hingga aku kembali ke akal sehatku.
Aku tersenyun, "tidak ada, aku hanya cukup terkejut setelah melihat istri baru mantan suamiku yang ternyata masih sangat muda dan tengah hamil??" Ucapku seraya melirik perut buncit rubah itu yang sepertinya berusia sekitar empat belas minggu.
Rubah itu tersenyum, "Iya, kamu benar, bayi ini adalah putra Adnan, dan sepertinya bayi ini berjenis kelamin laki laki. Oia, aku sampai lupa belum memperkenalkan diri, namaku Carla Megan, aku istri baru Adnan."
"Nama yang sesuai untukmu," ucapku lantas tersenyum. Carla Megan adalah nama yang sangat cocok untuk seekor Rubah. "Aku Himalaya Gilsya, mantan istri Adnan." Ucapku menekankan kata 'mantan istri' dengan intonasi yang menggebu.
"Aku juga sudah tahu tentang itu, apa yang ingin kamu pesan? Hari ini aku akan mentraktirmu, anggap saja ini sebagai sapaan seorang teman lama."
"Tidak perlu, aku kehilangan selera makanku saat ini, dan jika sudah seperti itu, maka aku tidak perlu untuk berbasa basi lagi, plus aku tidak membutuhkan teman sepertimu. Aku hanya akan bertanya satu hal secara langsung dan aku berharap kamu akan menjawab dengan jujur, apa semua itu ada hubungannya denganmu?"
__ADS_1
Rubah itu mengangkat sebelah alisnya, "aku sungguh tidak mengerti.."
"Berhentilah bersandiwara, kamu membuatku muak."
"Tapi.. aku memang tidak mengerti apa maksudmu?" Rubah itu masih mengelak dan tetap tidak mengakuinya.
Aku mencoba untuk melihat pada kedalaman mata rubah itu, namun yang ku temukan hanyalah.. kesedihan.. kesepian.. dan kebencian.. apa mungkin rubah itu sungguh tidak berbohong??
Aku kembali teringat ucapan Miranda tempo lalu yang mengatakan jika s*luman Rubah ini adalah tipe wanita yang kesepian, sehingga sering kali membuat sensasi agar di perhatikan.. benarkah itu??
"Apa menurutmu akan ada pencuri yang mengaku?" Tanyaku sekali lagi untuk memastikan, jika memang bukan rubah ini pelakunya, lalu.. siapa? Atau kecelakaan Haris memang murni kecelakaan??
"Tentu saja, karena aku adalah tipe pencuri yang akan mengakui perbuatannya."
"Termasuk.. mencuri seorang ayah dari putrinya?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Bukankah sudah sangat jelas jika orang yang naif akan kalah dari orang yang pintar?"
"No.. no.." aku menggelengkan kepala, "sepertinya kamu salah, you dont know if smart people will still be inferior to those who move fast." (kamu tidak tahu jika orang pintar masih akan kalah dari orang yang bergerak cepat)
"Lalu apa kamu pikir kamu bisa lebih cepat dariku??"
"Em.." aku berpikir sejenak, "mungkin?"
"Percuma saja, kamu tidak akan bisa mendahuluiku."
Wanita ini terlalu sombong, dia bahkan berani meremehkanku. "Aku tidak mengatakan jika aku bisa mendahuluimu, karena aku tidak akan pernah bisa mendahuluimu, tapi kita akan melihat siapa yang akan mencapai garis finish lebih dulu dan menjadi pemenangnya. Aku.. atau kamu.."
"Aku tidak menyangka jika kamu pandai beebicara?"
"Tapi aku masih tertinggal jauh di belakangmu untuk soal berbicara."
Aku melihat jam pada pergelangan tanganku, "Baiklah, jika sudah tidak ada yang perlu untuk di katakan lagi, aku permisi lebih dulu, dan terima kasih atas jamuannya, aku benar benar merasa tersanjung."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat terakhirku, aku segera pergi meninggalkan Rubah itu dengan menegakkan kepala. Aku melangkah dengan percaya diri, namun tanpa terasa bulir bening kembali mengalir dari mataku.
S*alan.. aku menangisi k*parat itu lagi.