
➡➡➡
*Aku akan selalu t**ersenyum, karena tidak ada seorangpun yang peduli atas apa yang ku rasakan. Tidak ada yang lebih menyayangiku selain diriku sendiri. #unknown*
➡➡➡
Seminggu sudah berlalu sejak aku mengalami kecelakaan, bahkan dua hari yang lalu aku sudah mulai bernyanyi lagi, juga Zidan yang kadang meluangkan waktu untuk melihat penampilanku.
Entah sejak kapan aku dan Zidan mulai akrab. Meski tidak banyak bicara, tapi Zidan selalu membuatku merasa nyaman.
Aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku merasa jika wajah dan perilaku Zidan tidak tampak seperti orang tua, maksudku adalah dia santai dan tidak mengguruiku, dan dia bahkan terlihat seperti seumuranku.
Dia juga selalu memberikan nasihat yang baik dan positif sebagai bentuk kepeduliannya terhadapku. Entahlah.. mungkim aku hanya sedikit mengaguminya.
Seperti biasa, jam sebelas malam aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Aku melangkah menuju loker dengan gontai. Sejujurnya ini cukup melelahkan, aku bahkan telah menguap beberapa kali.
Tiba tiba hpku berdering, aku segera mengangkat panggilan itu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang memanggil.
"Hallo??"
"Hai, tengok ke sebelah kananmu sekarang!!" Adalah suara Zidan dari ujung panggilan.
Hah? Aku tersentak, apa maksudnya ini?? Tapi aku tetap saja menoleh ke arah kanan sesuai arahan Zidan.
Aku tersenyum saat mendapati Zidan tengah duduk dengan santai dan melambaikan tangan saat tahu aku menemukannya.
Dia terlihat tampan malam ini, dia mengenakan kemeja putih dengan membiarkan tiga kancingnya terbuka, menampakan sedikit dada bidangnya, juga kacamata bening yang membuatnya terlihat keren.
..VISUAL ZIDAN VIKI..
Aku memutuskan untuk menghampirinya, dan kemudian duduk di sebelahnya, "ada apa ini? Apa kamu memiliki urusan di sini?" Tanyaku dengan tingkat penasaran tinggi. Ini jam sebelas malam, sangat mustahil jika Zidan datang hanya untuk menemui ku kan? Bukannya aku tidak percaya diri, aku hanya tidak mau terlalu berharap.
Zidan mengangguk, "ya, aku memiliki sedikit urusan denganmu."
"Maksudnya??" Aku tersenyum dalam hati mendengar ini. Jelas aku sangat tahu arti dari ucapan Zidan. Aku bukan gadis tujuh belas tahun lagi, tapi aku tetap berlagak tidak mengerti agar Zidan tidak menilaiku terlalu agresif.
__ADS_1
"Sejujurnya aku sedikit merindukanmu.."
Aku tertawa menggodanya, "sungguh!! Hanya sedikit? Padahal aku merindukanmu sangat banyak," ucapku dengan nada suara yang ku buat penuh kekecewaan, serta raut wajah yang ku buat murung.
"Berhentilah menunjukan wajah itu! Aku tidak sanggup melihatnya."
"Lalu untuk apa kamu ke sini jika bukan untuk melihat wajahku?? Apa aku tidak cukup cantik hari ini??"
"Kamu luar biasa, sangat cantik. Apa kamu ingin melihat bintang bersamaku??"
"Apa kamu yakin jika malam ini ada banyak bintang??"
Zidan mengangguk, "tentu saja aku yakin, aku sudah melihatnya sebentar sebelum mengajakmu."
"Oh.. aku sangat terharu, ayo kita pergi!!" Ajakku kemudian. Rasa kantuk dan lelahku mendadak hilang saat aku melihat Zidan sangat bersemangat malam ini.
Aku tidak tahu, apakah Zidan seorang f*ck boy atau playboy? Aku baru mengenalnya beberapa hari, jadi aku masih belum bisa menyimpulkan. Tapi jika melihat cara Zidan memperlakukan ku, mungkin Zidan juga sering melakukan ini kepada wanita lain, mungkin? Karena aku hanya sekedar menganalisa.
Mobil Audi yang Zidan kemudikan tiba di depan sebuah hotel mewah bintang lima, dengan tulisan HS HOTELS yang tercetak besar pada pelataran hotel.
Aku bukannya sok suci ataupun apa, aku hanya selalu menjujung tinggi dengan prinsip S*K PRA NIKAH, dan aku masih akan menggunakan prinsip itu meski aku adalah seorang janda.
Zidan mengajakku naik ke lantai paling atas, dan aku tersenyum saat melihat tanganku dan Zidan saling terjalin satu sama lain. Entah Zidan sadar atau tidak, tapi dia mengenggam tanganku dengan erat sekarang.
Aku tidak tahu dengan apa yang kurasakan sekarang, entah perasaan macam apa ini?? Perasaan itu.. debaran itu.. bahkan tatapan itu.. Rasa yang dulu sempat hilang, kini terasa datang kembali.
Apakah ini yang di sebut dengan melupakan seseorang akan sangat mudah jika sudah hadir orang yang mengisi dan menggantinya? Apa itu juga alasan mengapa Adnan begitu mudah melupakanku karena posisiku sudah tergantikan oleh Rubah betina itu??
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara manly Zidan membuyarkan lamunanku.
Aku menggelengkan kepala, "tidak ada.." ucapku seraya mengawasi sekeliling, ternyata kami sudah berada di atap sebuah gedung setinggi tiga puluh lantai, aku sendiri bahkan tidak tahu sejak kapan kami sudah tiba di sini. "Kenapa kamu mengajakku kesini?"
Sejujurnya aku merasa lega karena Zidan tidak mengajakku ke kamar hotel.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan mengajakmu melihat bintang??"
Aku mendongak, melihat ribuan bintang berkelap kelip di atas sana, "indah sekali.." ucapku mengagumi bintang bintang itu.
__ADS_1
"Hm.. tentu saja,"
"Sepertinya kamu sangat memahami seorang wanita? Memangnya aku wanita keberapa yang kamu ajak ke sini?"
"Hanya kamu.. dan kamu adalah orang pertama yang ku ajak ke sini. Aku tidak mempunyai maksud lain, aku hanya berpikir jika kamu mungkin seorang Astrophile (pecinta benda benda langit)?"
Aku mengangguk, "kamu benar, aku menyukai mereka karena mereka sangat indah."
"Syukurlah jika kamu menyukainya, karena aku hanya sekedar menebak."
"Tapi aku berpikir jika tebakanmu sangat pas tentang ini. Apa kamu sering ke sini?"
"Iya, saat aku merindukan seseorang," suara Zidan lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.
Aku melebarkan mataku, mencoba bertanya apa artinya ini, mungkin semacam perasaan sakit yang tengah Zidan rasakan.
"Lupakan saja!!" Ucap Zidan singkat.
Aku tidak bertanya lebih jauh lagi, karena mungkin saja Zidan belum siap menceritakan semuanya kepadaku, di tambah Zidan juga memiliki privasi yang tidak berhak untuk orang lain tahu.
"Aku juga sering melihat langit saat aku merindukan putriku," ucapku tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari langit luas dengan ribuan bintang yang mengisi kegelapannya.
"Putri??"
Aku mengangguk, "apa aku belum mengatakan jika aku mempunyai seorang putri kecil yang harus aku titipkan kepada adiku karena aku harus bekerja??" Sejak aku memutuskan untuk risaign dari apotik, aku bekerja di tempat Furi siang dan malam, pukul sebelas hingga pukul dua siang, dan pukul delapan hingga sebelas malam, dan akan mengunjungi Kirani dan Haris untuk waktu yang tersisa.
"Sepertinya belum, lalu di mana ayah putrimu?"
"Kami bercerai beberapa bulan yang lalu karena kami tidak lagi cocok satu sama lain," jawabku berbohong. Aku tidak mungkin memberi tahu Zidan tentang kepergian Adnan karena wanita lain. Aku bukannya ingin melindungi Adnan, tapi aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan.
"Tidak apa apa," ucap Zidan seraya mengusap ujung kepalaku, "aku juga memiliki seorang putri yang juga di tinggalkan oleh ibunya."
Mendengar ini aku cukup terkejut, rasa penasaran mulai merayap, entah Zidan mengalami nasib yang sama sepertiku atau bahkan lebih buruk dari itu? Tapi aku lebih memilih untuk memendam rasa penasaranku dalam dalam.
"Apa kamu tidak ingin bertanya KENAPA?" Zidan menambahkan.
Aku menggelengkan kepala, "jika kamu ingin menceritakan semuanya, kamu pasti sudah menceritakannya tanpa aku harus bertanya."
__ADS_1