Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 25


__ADS_3

➡➡➡


Aku ingin mempunyai satu pria yang saat ada masalah dia berkata "ayo kita perbaiki ini", bukan menjadi anak kecil, dengan pergi dan tiba tiba meninggalkan. #cewek_santun


➡➡➡


Kirani menunjukan rona kebahagiaan yang nyata saat kami bertiga pergi bersama. Mungkin ini adalah sesuatu yang sangat Kirani rindukan, yaitu pergi bersama seorang Ayah.


Aku bersyukur meskipun Zidan adalah sosok yang tegas, tapi dia juga sosok yang hangat. Dapat mengimbangi Kirani meskipun mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu.


"Apa lagi yang ingin Kirani tonton??" Adalah suara Zidan yang memecahkan kesunyian setelah film animasi The Willoughbys yang kami tonton sudah selesai.


"Kirani capek, Kirani mau pulang," ucap Kirani seraya bergelayut manja pada lengan Zidan.


Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, mungkin karena aku terlalu bahagia sampai aku tidak tahu lagi dengan apa yang aku pikirkan.


Aku hanya merasa jika Zidan sangat cocok dengan Kirani, dan sepertinya mereka bisa menjadi ayah dan anak yang bisa melengkapi satu sama lain.


"Baiklah, ayo kita pulang," ucapku seraya melihat jam pada pergelangan tanganku yang sudah menunjukan pukul enam sore. Pantas saja Kirani merasa lelah, sudah beberapa jam kami berada di Mall, dan aku juga harus kembali ke cafe Furi secepatnya sebelum Furi mengeluarkan lahar panas karena keterlambatanku.


Aku benar benar melupakan satu hal, yaitu lupa kalau aku harus tiba di cafe pukul tujuh malam tepat untuk hari ini. Aku juga tidak tau kenapa, karena Furi hanya mengatakan akan ada acara gathering sebuah perusahaan ternama, yang membuatku harus tiba lebih awal untuk persiapan bersama band.


Kami berjalan bersama menuju pintu keluar Mall. Mungkin mereka yang melihat berpikir jika kami adalah satu set keluarga bahagia, dan tidak akan tau jika Zidan hanyalah orang lain.


"Biar ku antar kalian, Kirani akan masuk angin jika menerobos hujan dengan sepeda motor." Zidan menawarkan tumpangan untukku dan Kirani.


Benar juga, di luar tengah hujan lebat. Tidak mungkin jika aku pulang dengan motor sementara Kirani bisa saja sakit setelahnya.


Aduh.. aku merasa bingung, di satu sisi tawaran Zidan tidak buruk, tapi di sisi lain aku juga takut Ayah tidak akan menyukai Zidan karena usianya tidak berbeda jauh dari Ayah


"Tidak perlu, ini saja sudah sangat merepotkanmu, aku tidak ingin menambah beban untukmu lagi." Aku menolak tawaran Zidan secara halus. Selain aku takut Ayah akan murka, aku juga tidak ingin membuat Zidan berpikir jika aku sangat merepotkan, bukankah seorang pria menyukai seorang wanita yang mandiri??


Aku belajar banyak dari kegagalan pernikahanku dengan Adnan, jadi aku akan berusaha lebih baik untuk menjadi wanita idaman yang di cari oleh para pria.


"Itu sama sekali tidak merepotkan, aku justru senang karena bisa bersamamu untuk waktu yang lama." Ucap Zidan dengan tawa indah yang baru pertama kali aku lihat.


Deg..

__ADS_1


Ucapan Zidan membuatku melayang. Aku merasa seperti remaja yang tengah di rayu untuk menerima cinta seseorang, wajah merah dan juga dada yang berdebar.


Astaga.. aku bisa mati jika Zidan terus saja seperti ini. Hatiku tidak sekuat itu untuk menahan rayuan seorang pria tampan dan mapan seperti Zidan.


"Berhetilah menggodaku jika tidak ingin ku tinggalkan di sini," ancamku setengah bercanda.


Zidan tersenyum seraya mengangkat sebelah tangannya tanda menyerah, "okey okey, aku kalah."


Aku mengambil hp yang berada pada saku jaketku, menggeser layar sebentar dan kemudian memanggil Helena. Begitu mendengar suara "hallo" dari balik panggilan, aku langsung berbicara.


"Helena, bisa kamu jemput Kirani di Mall sekarang?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku harus berangkat secepatnya ke cafe, aku sudah sangat terlambat," ucapku untuk meyakinkan Helena.


Helena diam sebentar, mungkin dia sedang mendiskusikan ini dengan Ibu, "okey, aku akan datang."


"Kamu naik taksi saja, di sini hujan lebat."


"Terserah, apa kamu ada uang untuk naik taksi?" Aku takut Helena tidak mempunyai uang untuk naik taksi.


"Masih cukup jika hanya untuk naik taksi," terdengar tawa renyah dari Helena, mungkin dia tau tentang kekhawatiranku soal uang.


"Baiklah, jangan terlalu lama! Aku tidak bisa menunggu lagi." Ucapku penuh penekanan.


"Iya.. aku akan berangkat sekarang." Suara Helena terdengar enggan, namun siapa peduli? Entah Helena enggan atau tidak, yang penting Helena sampai di sini dengan cepat.


Aku segera mengakhiri panggilan begitu mendapat jawaban iya dari Helena.


"Siapa yang kamu panggil?" Suara Zidan membuatku tersentak.


"Aku memanggil adikku, aku memintanya untuk menjemput Kirani di sini."


Zidan mengangkat sebelah alisnya, "jadi kamu sungguh tidak mau aku antar?"


Aku tersenyum, "mungkin lain kali, aku sudah terlambat untuk bekerja."

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang saat melihat ekspresi Zidan yang terlihat murung karena tawarannya aku tolak, "Furi memintaku untuk datang lebih awal hari ini. Jika aku naik mobil, aku akan terjebak macet, tapi jika aku naik motor, aku bisa menyalip kendaraan lain dari kanan dan dari kiri dengan gesit." Ucapku seraya memperagakan gaya menyalip seperti seorang pembalap.


Zidan tersenyum, "mungkin kamu tidak perlu bekerja lagi jika aku menikahimu."


Hah? APA? MENIKAH?


Dadaku terasa mekar seketika, seperti ada sesuatu yang tiba tiba masuk ke dalam hatiku dan menari di sana sampai membuatku salah tingkah dan menggigit bibirku sendiri untuk menghilangkan kegembiraan itu. Bahkan mungkin saja saat ini wajahku sudah sangat merah karena ucapan kecil Zidan.


Memang ini yang aku harapkan, rencanaku sejak awal memang untuk mendapatkan kepala agar bisa mengendalikan ekor, tapi siapa sangka jika aku akan jatuh cinta secepat ini dan justru seperti melupakan niat awalku untuk memanfaatkan Zidan?


Harus ku akui jika ini adalah CINTA, perasaan yang sama saat aku jatuh cinta pada Adnan, dan sekarang aku harus merasakan rasa itu kembali pada seorang pria yang dua puluh tahun lebih tua dariku, pria yang bahkan lebih pantas untuk menjadi Ayahku.


Beberapa saat kemudian, sebuah taksi tiba di depan kami. Helena turun dari taksi dan segera menghampiriku yang memang tengah menunggunya.


Helena menghentikan tatapannya pada sosok Zidan yang tengah menggendong Kirani dan mengawasi Zidan lekat. Kemudian Helena memandangku seakan bertanya tentang siapa pria ini?


Aku yang mengerti maksud dari tatapan Helena segera memperkenalkan Zidan, "Helena, ini temanku, Zidan."


Zidan menoleh ke arahku, "jadi ini, adik perempuan yang kamu ceritakan?"


Aku mengangguk.


"Hallo Helena, aku Zidan. Senang bertemu denganmu." Ucap Zidan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Helena.


"Hallo, senang bisa bertemu denganmu juga," Helena membalas uluran tangan Zidan, "Kirani, ayo kita pulang!" Ucap Helena seraya mengambil Kirani dari gendongan Zidan.


Kirani menurut tanpa banyak bantahan.


"Kakak berhutang penjelasan padaku," bisik Helena tepat di telingaku sebelum masuk ke dalam taksi.


Aku memperhatikan taksi yang di tumpangi Helena pergi sampai menghilang dalam kegelapan malam. Aku tersenyum, gadis itu selalu saja ingin tau urusan orang lain.


Aku menoleh ke arah Zidan, "Baiklah Zidan, aku akan pergi sekarang sebelum Furi mengeluarkan lahar panas untuk menghanyutkanku," ucapku tersenyum, "kita akan bertemu lain kali, okey? Aku janji." Ucapku berjinjit dan kemudian mencium bibir Zidan sekilas dan segera meninggalkan Zidan sebelum Zidan sempat bereaksi.


Aku menggaruk tengkukku sendiri dengan canggung saat berjalan ke tempat parkir. Tidak tau setan apa yang sudah masuk ke akalku sampai aku punya keberanian untuk mencium Zidan?


Astaga.. rasanya, aku ingin mengubur diriku sendiri ke tanah karena malu.

__ADS_1


__ADS_2