Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 12


__ADS_3

#Musibah Atau Berkah??


➡➡➡


Jika kamu melihat hujan saat langit tak mendung, maka kamu akan tahu saat air mataku menetes meski aku tengah tersenyum. #me


➡➡➡


"Entah kamu adalah seorang psikolog ataupun guru vokal itu tidak menjadi masalah untukku, asal kamu bisa mengajari aku cara bermain gitar yang baik dan benar." Ucapku dengan susah payah karena cokelat di wajahku mulai mengeras.


"Tidak bisakah kamu diam? Cat kukumu akan berantakkan nanti." Ucap Miranda sambil terus mengoleskan cat kuku pada kuku tanganku dengan teliti dan rapi.


"Aku sudah lupa kapan terakhir kali kita seperti ini," ucapku menoleh ke arah Miranda.


Miranda sontak menghentikan aktifitasnya sejenak, menoleh ke arahku sekilas, namun sedetik kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Sepertinya aku perlu berterima kasih pada Adnan karena telah menceraikanmu? Sehingga kita bisa kembali seperti ini lagi. Entah aku harus menyebut ini sebagai musibah atau berkah?" Ucap Miranda seraya tertawa lebar.


Akupun turut tertawa mendengar pengakuan jujur Miranda kali ini, "dasar tidak tahu malu, tidakkah kamu malu karena telah tertawa di atas penderitaan sahabatmu sendiri? Dasar janda."


"Hei hei hei.. apa kamu lupa kalau sekarang kamu juga seorang janda?" Miranda melotot padaku.


"Tentu aku sangat mengingat itu." Ucapku seraya menarik tanganku yang telah selesai Miranda oles dengan cat kuku, aku menelitinya sekilas dan kemudian mengangguk puas dengan hasil kerja Miranda. "Good job and perfect."


Miranda menoleh, "tentu saja, aku selalu bisa di andalkan." Ucap Miranda bangga dengan dirinya sendiri.


.


Setengah jam kemudian.


.

__ADS_1


Cat kuku yang Miranda oles telah kering dan tertempel dengan sangat indah, juga masker cokelat yang ternyata memang mampu membuat kulit wajahku menjadi lebih rilex dari biasanya.


Sepertinya aku memang perlu untuk berterima kasih pada Miranda atas semuanya.


Aku mendudukkan diriku di atas sofa tepat di samping Miranda. Sementara Miranda tengah sibuk dengan cemilan dan drama korea yang selalu Miranda tonton dari laptopnya.


"Miranda..."


"Ehm.." jawab Miranda tanpa menoleh sedikitpun dari drama yang tengah Miranda tonton.


"Apa aku boleh menceritakan sesuatu? Misalnya tentang hidupku? Aku selalu menyimpan perasaanku sendiri, tidak pernah berbagi perasaan dengan orang lain. Sangat lama aku memendam banyak hal hanya di dalam hati. Aku butuh psikolog untuk menilai tentang benar dan salah, tentang wajar atau tidaknya." Ucapku hanya dengan satu tarikan nafas.


Miranda diam cukup lama, mungkin Miranda sedang mencerna ucapanku, dan sedetik kemudian Miranda menutup laptopnya, "aku siap menjadi psikiater pribadimu, apakah kamu akan menceritakannya sendiri atau aku yang bertanya?"


Aku berpikir sebentar, "bagaimana kalau kamu yang bertanya?"


Miranda mengangguk, "baiklah, aku akan memulai dengan pertanyaan pertama, bagaimana kehidupan rumah tanggamu?"


"Aku pikir kehidupan rumah tanggaku dan Adnan berjalan cukup baik. Kami tidak pernah bertengkar seperti pasangan suami istri pada umumnya yang akan membentak dan saling menghujat satu sama lain saat mereka mendapat masalah. Kami tidak seperti itu, kami akan membicarakan semuanya secara baik baik dan akan mencari jalan keluarnya bersama."


"Mungkin kamu benar, Adnan adalah tipe pria yang tidak banyak bicara, bahkan semenjak aku mengetahui Adnan selingkuh hingga kami bercerai, Adnan masih tetap bungkam dan tidak menjelaskan apapun. Dan bodohnya, aku juga tidak bertanya. Seharusnya aku berusaha lebih keras untuk membicarakan ini dengan Adnan meskipun hanya lewat panggilan telepon."


"Itu semua bukan salahmu, sekalipun kamu bertanya, apa kamu pikir Adnan akan menjawabnya?"


"Sepertinya kamu memang benar," ucapku dengan lesu.


"Lupakan.. apa dia selalu seperti itu? Maksudku tidak menunjukkan tanda tanda secara signifikan yang membuatmu curiga?"


Aku menggelengkan kepala, "entahlah, tapi seingatku Adnan masih sama, tidak pernah marah ataupun berkata kasar, tidak membanting pintu ataupun melakukan kekerasan. Bahkan Adnan tidak membentakku sama sekali meskipun dia tengah menjalin hubungan gelap dengan wanita lain, yang biasanya suami akan menjadi lebih kasar setelah menjalin hubungan baru. Namun yang membuatku curiga adalah Adnan yang selalu penuh kehangatan mendadak berubah menjadi dingin dan tidak peduli kepadaku."


"Hanya itu?"

__ADS_1


"Hm.." aku mengangguk.


"Sejak kapan Adnan seperti itu?"


"Sejak kembali dari perjalanan dinasnya di luar kota. Aku menemukan kartu nama HS World dan Adnan menyembunyikannya dariku."


"Bagus, sangat bagus," Miranda bertepuk tangan, "pria akan berkata bohong jika bukan untuk melindungi sesuatu maka untuk menutupi sesuatu. Namun berdasarkan analisaku, Adnan jelas berusaha menutupi penghianatannya dan juga berusaha untuk melindungi selingkuhannya di waktu yang sama."


"Entah sudah berapa ratus kebohongan yang dia sembunyikan dariku, dan aku bahkan tidak curiga sama sekali. Bodohnya aku." Ucapku seraya menepuk kepalaku sendiri karena kenaifanku.


"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang? Hidup dengan b*jingan itu atau tidak sama sekali?"


"Jawabannya adalah TIDAK.. dan aku tidak akan pernah percaya pada semua ucapannya lagi. Aku tidak akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya."


"Itu pilihan yang bijak, seorang pria yang gemar berbohong, akan selalu seperti itu untuk menutupi kebohongan yang lain."


Di tengah diskusi kami, tiba tiba saja hpku berbunyi.


Aku melirik layarnya sekilas, melihat namanya saja membuatku malas dan tidak ada niat untuk mengambil dan membukanya. Sudah jelas, pesan itu lagi..


Aku masih membiarkannya hingga cukup lama sampai Miranda berinisiatif untuk membukanya. Setelah selesai membaca pesannya, Miranda menoleh ke arahku dan tersenyum penuh ejekkan,"ku pikir, istri baru mantan suamimu memiliki sejenis kecenderungan sosial yang gemar menganggu kehidupan orang lain jika ingin mendapatksan sesuatu."


"Menurutmu kenapa?"


Miranda memencet hpku sekilas secara cepat dan kemudian mengembalikannya padaku, "kenapa kamu masih bertanya? Dasar b*doh, tentu saja karena kamu masih menempati rumah Adnan saat ini. Dia ingin mempengaruhi mentalmu agar kamu frustasi dan tidak tahan sampai kamu angkat kaki dari rumah Adnan secepatnya sebelum batas waktu yang Adnan berikan."


Aku mengangguk, melihat nama J*LANG di hpku sudah berubah menjadi RUBAH. Tentu saja Miranda yang mengubahnya, "lalu kenapa kamu mengubah namanya menjadi Rubah?" Tanyaku penasaran.


"Karena dia adalah wanita paling menjijikkan yang pernah di lahirkan di dunia ini. Dia bahkan lebih buruk dari pada j*lang, setidaknya j*lang hanya seorang penggoda, bukan perusak. Sementara Rubah adalah penggambaran yang sangat nyata untuk melambangkan istri baru Adnan, dia tidak hanya menggoda Adnan, tapi dia juga merusak rumah tangga kalian. Bermuka dua dan sangat menakutkan."


...

__ADS_1


Tengkyu udah baca Perebut Suamiku, jangan lupa kritik dan sarannya melalui like, comment dan bintang lima.


Sekali lagi Thanks for all guys..


__ADS_2