Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
TILAS BALIK. Naughty Kiss


__ADS_3

Wellington, Selandia Baru.


Kota yang indah dengan sejuta kuliner, hiburan dan budaya. Semua menikmati, kecuali seorang gadis yang tengah sibuk menata hidupnya.


Caramel, adalah nama panggilannya. Sebuah nama yang indah, sesuai dengan paras cantik yang dia miliki. Manik cokelat dengan bulu mata lentik, alis tebal, hidung mancung, juga bibir tipis yang sangat mempesona. Tidak hanya itu, dia juga memiliki bentuk tubuh indah dengan postur tinggi semampai. Akan cocok jika dia menjadi model ataupun selebriti, namun gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan dunia entertaiment. Dia justru lebih memilih buku dan buku untuk menemani di sepanjang hari harinya.


Caramel duduk dengan segelas soda di hadapannya. Cuaca panas Kota Wellington pada siang hari membuatnya sedikit berkeringat meski dia telah menyalakan pendingin ruangan. Memandang ke luar jendela dari rumah kakaknya di lantai dua. Entah apa yang dia lihat, entah apa yang dia pikirkan, dia tidak tau.


"Langit Wellington memang sangat indah." Gumamnya pada dirinya sendiri. Memandang hamparan langit luas dari ujung ke ujung. Mengagumi pahatan Tuhan yang telah di ciptakan dengan sangat sempurna. Sesekali dia akan menggerakan jari jemarinya di jendela, menggambar sebuah bentuk hati. Berusaha untuk tidak memperdulikan hidupnya. Berusaha untuk tetap pada pendiriannya. Dia tidak boleh goyah, setidaknya tidak ada yang bisa memperjuangkan hidupnya selain dirinya sendiri.


Suara khas sepatu hak tinggi mulai mendekat. Semakin lama semakin keras hingga suara deritan saat pintu di buka membuat Caramel menoleh ke arah sumber suara.


"Mereka sudah tau kamu di sini." Carla masuk dan mendudukan dirinya di atas ranjang. Mengawasi ruangan yang telah resmi menjadi kamar Caramel sejak tiga hari yang lalu.


"Sudah ku duga," Caramel berkata dengan suara lemah. Sepertinya meninggalkan hpnya saat dia pergi, tidak banyak membantu. Buktinya dia tetap bisa terlacak dari kejaran orang tuanya dengan mudah. "Kakak juga takut pada mereka?" Dia mengawasi wajah kakaknya penuh selidik.


"Bukannya aku takut." Carla menjeda kalimatnya, "tapi.. berdasarkan sudut hukumpun, aku tidak memiliki kuasa. Mereka adalah Papa dan Mama kita, mereka tentu lebih berhak atas dirimu dari pada aku."


"Tapi aku menghormatimu, setidaknya kamu bisa menekan mereka untukku."


"Lima belas bulan adalah waktu yang mereka berikan." Carla menjeda kalimatnya. Memilih kata dengan hati hati agar tidak membuat adiknya kecewa. "Aku hanya bisa menahanmu sampai lima belas bulan ke depan, dan selebihnya kamu tetap harus kembali dan menjalankan pernikahan yang sudah di rencanakan sesuai jadwal."

__ADS_1


"Tetap tidak bisa di ubah??" Caramel mengangkat sebelah alisnya. Sudah tau dengan apa yang mungkin akan Carla ucapkan.


Carla mengangguk. Membuat Caramel menghela nafas panjang. Dia sama sekali tidak terkejut dengan keputusan ini, berdasarkan prediksinya, kemungkinan terburuknya memang perjodohan tidak bisa di hentikan, apapun yang terjadi.


"Apa kamu tau sesuatu??"


Carla menggelengkan kepalanya, "entahlah.. aku juga tidak yakin. Mereka hanya bilang calon suamimu adalah seorang pengusaha real estate yang masih muda dan tampan."


"Yang lain??"


"Hanya itu," Carla menjawab lesu. Sangat mengetahui kegelisahan adiknya saat adiknya menunjukan gelagat aneh yang membuat hatinya berdenyut nyeri. "Percaya saja, jika Mama dan Papa akan memilihkan yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu. Jangan risau!"


Ini hidupnya, masa depannya. Tidak ada orang lain yang tau lebih banyak selain dia sendiri.


"Bekerjalah sebagai sekretaris pribadiku di perusahaan. Kamu bisa belajar tentang banyak hal. Kamu juga masih bisa bekerja freelance sebagai penerjemah atau apapun itu." Carla berusaha menghibur Caramel. Lagi pula, mengalihkan kegundahan dengan bekerja, adalah pilihan yang tepat.


Caramel diam. Sama sekali tidak menanggapi. Suasana hatinya sedang buruk sekarang.


"Setidaknya kamu harus menikmati hidupmu dengan damai sebelum seseorang menikahimu." Carla melanjutkan setelah tidak mendapat respon apapun dari Caramel.


Memikirkan kembali ucapan Carla, sepertinya itu tidak buruk. Dia memang harus menikmati hidupnya selagi bisa.

__ADS_1


"Dan satu hal.." Carla mendekat ke arah Caramel, kemudian membungkuk, "kamu harus bahagia." Carla berbisik lembut di telinga Caramel. Memberikan sedikit dorongan agar adiknya bisa semangat menjalani kehidupan barunya di sini.


"Aku harus kembali ke kantor, kamu bisa mempertimbangkan tawaranku," Carla menepuk pelan bahu Caramel sebelum melangkah keluar dari kamar, menyisakan kesunyian saat Caramel lagi lagi harus sendiri.


"Bekerja?" Caramel bertanya pada keheningan setelah beberapa menit membisu. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Udara masih sama, diam dan sunyi.


Memikirkan kembali, dia memang tidak membawa apapun selain tubuh dan pakaiannya. Dia hanya membawa beberapa lembar uang yang sudah habis di pakainya untuk membeli makanan dan membayar taksi. Di tambah, Papa tidak mungkin memberikan uang lagi untuknya setelah ini.


Jadi.. bekerja adalah pilihan yang tepat.


〰〰〰


Hallo... aku menyapa.


Kenapa aku lanjut di judul ini adalah karena aku ingin dapat level 10 untuk bulan depan. Level bulan ini masih 8, bikin aku patah semangat buat nulis. 😧😥😭


Sempet mau hiatus aja, tapi.. aduh.. udahlah.. gak usah di bahas.. pusing pala eke.


Intinya adalah, kalo bulan depan masih gak naik level, mungkin aku akan lanjut cerita ini di novel yang berjudul NAUGHTY KISS.


Udah gitu aja.. salam saiiank dari aku.. 😍😘

__ADS_1


__ADS_2