Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 34


__ADS_3

➡➡➡


Nyatanya, hidup memang penuh kejutan. Tidak selalu sesuai rencana, dan tidak sesuai dengan perkiraan.


Ada yang benar benar tidak terhitungkan dan tidak terbayangkan.


Namun dengan demikian, aku di sadarkan bahwa sehebat apapun aku, aku tetaplah manusia.


Ada batasnya.


Ada kurangnya.


Ada lelahnya. #raiiinyy


➡➡➡


Sayang.. dengarkan aku


Aku ingin bicara kepadamu


Kemana kau hari ini


Tak biasanya kau seperti ini


Sekarang kau mulai tak jujur padaku


Apa yang kau sembunyikan dari diriku


Dari matamu kau mulai membohongiku


Sampai teganya kau duakan aku


Sayang.. kurangnya apa aku


Sampai teganya kau duakan aku


Kau berjanji untuk selalu menemaniku


Dan tak kan pernah meninggalkan aku


Aku menyelesaikan petikan gitarku di sertai dengan berakhirnya lirik lagu dari Stiker band. Juga terdengar tepuk tangan dari beberapa pengunjung yang datang.


Adalah lagu penutup penampilanku di siang hari ini. Lagu yang berjudul Sampai Hati ini ternyata mampu menyentuh hatiku sampai sudut terdalam. Tidak tahu kenapa, rasanya isi lagunya adalah aku beberapa bulan yang lalu. Saat Adnan masih menjadi milikku. Saat aku masih sangat naif dan saat aku masih menolak untuk mengakui jika Adnan sudah menduakan aku.

__ADS_1


Kadang hidup terlalu cepat berubah, siang berganti malam dengan cepatnya, detik berganti jam, hari berganti bulan, juga hati manusia yang mulai pindah haluan lantaran tempat yang lama sudah tidak bisa untuk di singgahi.


Mundur akhirnya menjadi pilihan meski seribu kali konsekuensi harus di tanggung, dari pada harus bertahan namun menyakitkan, berpisah akhirnya menjadi pilihan terbaik meski tidak memiliki jaminan apapun.


Aku menggeser layar hpku, hp peninggalan Adnan. Adnan? Kenapa selalu ada Adnan di sini? Aku memegang dadaku, meyakinkan diriku sendiri jika Adnan bukan lagi penghuni di sana. Nama itu sudah lama mati, bersama dengan penghianatannya.


Tidak tahu kenapa, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Mungkin semacam perasaan gelisah dan tidak tenang.


Aku menggeser layar hpku lagi, dan menemukan nama Helena di sana. Aku segera menghubunginya tanpa ragu.


"Hallo, Helena, apa Kirani baik baik saja?"


"Iya, dia bersamaku sekarang, dan dia juga sangat baik, ada apa?" Nada suara Helena terdengar penasaran. Mungkin Helena bertanya tanya kenapa aku menanyakan hal seperti itu.


"Tidak ada apa apa, aku hanya merasa sedikit tertekan belakangan ini. Ya sudah, jaga Kirani baik baik, akan ku tutup teleponnya." Aku segera mematikan sambungan teleponnya sebelum Helena bertanya lebih jauh, dan aku juga terpaksa berbohong pada Helena, aku tidak mungkin mengatakan jika aku gelisah sepanjang hari ini, tanpa aku tau apa sebabnya.


Ada apa ini sebenarnya? Aku menggeser layar hpku lagi, tidak tau apa yang tengah ku cari. Aku masih merasa tidak nyaman, perasaan aneh yang sulit di jelaskan.


"Hallo?" Terdengar suara dari ujung panggilan.


"Apa Caramel baik baik saja?" Tidak tahu kenapa, aku tiba tiba mempunyai inisiatif untuk memanggil kediaman Zidan untuk menanyakan keadaan Caramel.


Caramel seperti memiliki kehidupan rumit yang tidak aku tau. Mungkin saja ini berhubungan dengan ibu kandungnya? Tapi, aku juga tidak tau pastinya, karena aku hanya sekedar menebak.


"Nona berada di kamarnya sepanjang hari seperti biasanya, Nyonya." Adalah jawaban Bibi Lu dari balik telepon.


"Sepertinya begitu, hanya saja Nona belum memakan makan siangnya."


"Aku akan ke sana sekarang." Ucapku sebelum menutup sambungan telepon.


Tidak tau sejak kapan aku dan Caramel menjadi sangat dekat. Namun aku perlu berterima kasih pada Miranda untuk ini. Berkat hoodie dengan tanda tangan EXO yang ku dapatkan dari Miranda, Caramel sedikit demi sedikit mulai mempercayaiku.


....


..


.


Aku tiba di kediaman Zidan setengah jam setelahnya. Tanpa menunggu lagi, aku segera masuk dan menuju ke kamar tidur Caramel.


Aku mengetuk pintunya, namun sama sekali tidak ada jawaban. Aku segera membuka pintunya, dan seperti biasanya, ini sama sekali tidak terkunci.


Aku tidak menemukan gadis itu di kamarnya.

__ADS_1


"Caramel?" Aku memanggilnya karena aku hanya ingin memastikan jika Caramel mungkin saja berada di kamar mandi.


Namun, masih tidak ada jawaban.


Aku mencarinya ke kamar mandi, namun kamar mandi juga kosong. Aku mulai panik, dimana gadis itu yang sebenarnya?


Aku kembali mengawasi sekeliling kamar. Sesaat kemudian, aku menghela nafas lega saat mendapati tirai pada pintu balkon berkelebat di tiup angin. Menandakan jika pintu balkon tengah terbuka, dan gadis itu pasti berada di sana sekarang.


Aku mendekat, benar saja.. gadis itu tengah berdiri di sana dengan tenang. Aku tidak tau apa yang tengah dia perhatikan. Aku mencoba untuk mengikuti arah pandang gadis ini, tapi tidak ada apapun di sana.


"Caramel?" Aku mendekat ke arahnya.


Mendengar suaraku, Caramel menoleh, "kamu? Kenapa kamu di sini?" Sedetik kemudian Caramel mengalihkan pandangannya dariku, kembali memperhatikan sesuatu yang tidak ku tau.


Aku berdiri di sampingnya, "aku sendiri juga tidak tau kenapa aku justru datang ke sini dan mencarimu di saat hatiku gelisah." Aku mencoba untuk membuat agar suasana tidak tegang.


Mungkin gadis ini mengalami sesuatu yang buruk hari ini, jelas.. karena Caramel menangis. Aku tidak bodoh, dan Caramel tidak bisa menutupi hal seperti ini dariku.


Meski aku sendiri juga tidak tau alasan kenapa dia menangis, namun aku tidak ingin menanyakan ini lebih jauh. Caramel hanya perlu waktu sendiri untuk memikirkan semua masalah dan kemudian mencari jalan keluarnya sendiri. Sebagai konsekuensi karena Caramel memilih untuk memendam semua masalahnya tanpa membiarkan orang lain untuk mengetahuinya.


Setidaknya aku akan membiarkan Caramel menceritakan semuanya sendiri tanpa aku harus bertanya, dan jika saat itu tiba, maka bisa di pastikan jika Caramel sudah sepenuhnya mempercayaiku.


"Apa kamu tau? Kadang, hidup yang kita rasa paling berat, belum seberapa dari yang orang lain alami di luar sana." Kenapa aku bisa mengatakan ini dengan mudah? Jawabannya tentu karena aku sudah mengalami pahit manis kehidupan sejak aku di lahirkan.


Caramel tersentak, mungkin dia sedang bertanya tanya, bagaimana aku tau jika dia sedang memiliki masalah?


"Bagaimana kamu bisa tau?" Pertanyaan Caramel pada akhirnya terlontar dengan mudah seraya menyeka air mata yang masih menggenang pada sudut matanya.


Aku tersenyum, "apa lagi? Tentu karena aku juga mempunyai seorang putri."


"Benarkah? Kamu adalah seorang ibu?" Caramel terlihat tidak yakin jika aku sudah menjadi seorang Ibu.


Aku mengangguk, "putriku masih sangat kecil, usianya bahkan belum genap empat tahun, tapi aku meninggalkannya bersama orang tuaku, bersama adikku. Karena apa, karena aku ingin dia memiliki kehidupan yang lebih baik. Aku harus mencari uang untuk membiayai hidupnya. Putriku masih terlalu kecil untuk mengetahui kehidupan kelam ku, di tinggalkan, di campakan, dan tidak di anggap kehadirannya."


Caramel tersenyum, beberapa saat kemudian, Caramel mengulurkan tangannya dan memelukku erat. Jujur, aku sangat terkejut dengan tingkah ajaib gadis ini, aku hanya bisa menepuk punggungnya, serta meyakinkannya jika ini baik baik saja.


Aku menghela nafas panjang, "satu hal yang harus kamu ketahui, orang tua akan selalu menyayangi anaknya, tidak peduli apapun yang terjadi. Meski kadang mereka tidak mengungkapkan rasa peduli mereka dengan tindakan, tapi mereka akan menyayangi anaknya sepanjang hayat mereka? Bagaimana aku bisa tau adalah karena aku juga orang tua."


Caramel melepaskan pelukannya, "tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan,"


Tidak seperti yang aku pikirkan? Aku masih tidak mengerti makna tersembunyi dari ucapan Caramel. Bukankah dia sedih karena Zidan terlalu dingin untuk ukuran seorang Ayah? Bukankah semua rasa sepi yang Caramel rasakan, awal mulanya berasal dari Zidan yang tidak peka dan tidak pernah menunjukkan perhatiannya pada Caramel?


Lalu apa maksudnya ini?

__ADS_1


Semakin di pikirkan, semakin terasa rumit.


"Apa kamu ingin mencari udara segar?" Tawarku pada Caramel yang seketika di tanggapi dengan anggukan.


__ADS_2