Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS Chapter 49


__ADS_3

Tengkyu buat para silent reader, atau yg udh ninggalin jejak, ntah itu like, komen, rate, atau vote..


Tengkyu buat kritik dan sarannya, aku hargai bgt, tapi.. maaf kalo aku gak balas komen kalian, bukan berarti aku sombong, tapi percayalah.. aku punya dunia nyata yang juga harus di urus. Meskipun gak di bales, tapi aku baca satu persatu komen kalian kok.


Tengkyu juga udah mau baca curhatan aku yang unfaedah..


Udah.. itu aja.. 😉😘.


Happy reading.


➡➡➡


Suatu saat.. mau tidak mau, siap tidak siap, seseorang tetap akan sampai pada titik paling menyakitkan dalam hidup.


Kehilangan orang orang yang kamu sayang dan yang menyayangimu. Entah sebagai yang di tinggalkan atau yang meninggalkan. Kamu akan tetap di paksa untuk memainkan peran itu. #unknown


➡➡➡


Aku menatap lekat Zidan dari samping, Zidan dengan wajah tenangnya. Tidak ada satu hal pun yang tidak aku kagumi dari pria yang duduk di sebelahku ini. Selalu tenang meski apapun yang terjadi. Seakan enggan untuk membuat orang lain cemas dan khawatir. Kemudian aku mengalihkan pandanganku pada sesosok bayi mungil yang tertidur lelap dalam gendongan Zidan.


Zidan memeluknya erat, perasaan cinta seorang Kakek kepada Cucunya terlihat nyata saat Zidan selalu menatap bayi itu tanpa sekalipun mengalihkan pandangan darinya.


Menurut Dokter, itu adalah bayi laki laki yang tampan dan juga gemuk. Namun, aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung, karena bayi itu sudah tertutup sempurna dengan kain dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Sangat di sayangkan jika bayi itu harus menjadi korban keegoisan orang tuanya.


Iring iringan mobil kami berhenti di pelataran suatu tempat. Tempat ini.. tempat yang pernah aku kunjungi beberapa waktu yang lalu bersama Caramel. Juga tempat yang tampak sangat akrab.


Kami berjalan sebentar, dan kami tiba di makam Silvia. Masih makam yang sama, sangat bersih, dan tampak sebuah lubang kecil yang terletak tepat di samping makam Silvia.

__ADS_1


Hanya ada aku, Zidan, Caramel, dan beberapa anggota keluarga kami yang turut mengantar bayi Carla ke peristirahatan terakhirnya.


Tidak ada tangis, tidak ada air mata. Suasana pemakaman berlangsung sakral. Mulai saat Zidan meletakan bayi Carla ke dalam liang lahat, mengumandangkan adzan, hingga bayi kecil itu tidak lagi terlihat saat timbunan tanah perlahan menutup tubuh kecilnya.


Saat proses operasi pengangkatan rahim Carla berakhir, maka saat itu pula bayinya selesai di kebumikan.


Tidak ada yang menyangka jika semua akan berakhir seperti ini, di sini, hari ini, detik ini. Masih teringat jelas semua perlakuan egois dan menyebalkan si Ibu bayi yang selalu menganggap dirinya hebat dan mengaku mampu memiliki dunia dalam genggamannya. Namun, semua berubah saat Dokter Meli mengatakan jika Bayi Carla sudah meninggal beberapa saat sebelum Carla tiba di Rumah Sakit. Membuatku kembali teringat saat Carla mengatakan bayinya tidak bergerak saat aku menemukannya tergeletak di lantai kamar mandi. Mungkin saat itu pula, Tuhan sungguh sungguh telah menggambil nyawa bayi itu.


Aku dan Caramel menabur bunga mawar saat batu nisan sudah tertancap di atas pusara. Makam kecil untuk penghuni kecil yang tidur di sana. Semoga Silvia bisa menjaga cucunya di sana, di dunia dan dimensi yang berbeda.


Tiba tiba.. hp ku berbunyi.


Aku membulatkan mata saat melihat nama yang tertera pada layar, dan segera mengangkat panggilan dengan cepat. "Hallo."


"Mbak Sasya, Haris..." Suara Perawat Mitha terdengar panik dari balik panggilan.


Aku panik begitu mendengar Perawat Mitha mengatakan kata Haris, "Ada apa dengan Haris? Aku ke sana sekarang." Belum sempat Perawat Mitha menjawab pertanyaanku, aku sudah memutuskan panggilan. Tidak ingin berlama lama setelah mendengar sesuatu terjadi pada Haris di Rumah Sakit.


〰〰〰


Aku menangis di sepanjang jalan menuju Rumah Sakit. Entah kenapa bayangan kematian Haris terus menghantuiku. Jika bukan kritis, tidak mungkin Perawat Mitha repot repot untuk meneleponku.


Aku melaju dengan kecepatan maksimal, menerobos lampu merah dan menyalip beberapa kendaraan yang tidak memberiku jalan.


Siiittt.. brakk...


"Aw," aku memegang dahiku yang sakit karena membentur stir saat aku menginjak rem secara mendadak. Menoleh ke kanan dan kiri. "Si*l," aku mengumpat dan memukul stir saat mendapati mobilku hampir menubruk mobil lain hingga berakhir dengan mobilku yang menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


Aku kembali melajukan mobilku, namun kali ini dengan kecepatan sedang. Tidak ingin celaka adalah alasan yang masuk akal. Setidaknya aku ingin tiba di Rumah Sakit dalam keadaan hidup dan harus melihat kondisi Haris.


Aku turun dari mobil setelah memarkirkan mobilku terlebih dahulu, dan berlari secepat yang aku bisa menuju ruang ICU. Aku membuka pintunya, namun..


Apa??


Aku terkejut saat melihat bahwa tidak ada siapapun di ruangan yang biasanya ada Haris yang terbaring di sana. Aku terduduk lesu di lantai, seraya menangis sesenggukan.


"Tidak mungkin," aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya dengan apa yang tersaji di depan mataku, "kemana Haris? Kenapa ruangan ini kosong??" Tidak mungkin jika Haris sudah di bawa ke kamar mayat bukan?


"Mbak," seseorang menepuk bahuku.


"Ah," aku tersentak, menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Perawat Mitha sudah berdiri di belakangku.


"Kenapa Mbak masih di sini? Apa Mbak Sasya tidak ingin menemui Haris?"


Aku menutup telingaku, aku sungguh tidak ingin mendengarkan Perawat Mitha yang mungkin akan mengatakan jika Haris sudah tiada. Aku tidak ingin mendengar itu.


"Mari.. saya antar," Perawat Mitha memapahku, membawaku entah kemana. Aku menurut dan tidak menanyakan apapun, aku terlalu lemah, lesu dan tidak bertenaga meski hanya sekedar bertanya akan kemana. Pasrah kemanapun Perawat Mitha membawaku.


Namun, semakin ke sini, aku semakin linglung. Rasa rasanya.. ini bukanlah lorong menuju Kamar Mayat. Ada semacam perasaan bingung namun justru membuatku tenang. Apa Perawat Mitha membawaku ke tempat yang salah?


Kami tiba di Paviliun Timur Rumah Sakit. Sebuah tempat rawat inap dimana golongan konglomerat berada. Tunggu tunggu tunggu.. aku menghentikan langkahku, kemudian aku menoleh dan melihat senyum manis Perawat Mitha, "Mas Haris sudah sadar. Mbak bisa masuk ke ruang nomor lima belas di Paviliun Timur."


"Apa??"


"Seperti yang saya katakan, Mas Haris sudah bangun Mbak."

__ADS_1


Aku membulatkan mata dengan binar terang sebuah kebahagiaan. Aku segera berlari ke ruang nomor lima belas sesuai arahan Perawat Mitha, dan langsung masuk begitu aku membuka pintunya. Aku membeku di tempatku berdiri.. melihat seseorang yang tengah duduk di atas ranjang Rumah Sakit dengan santai, bersama Helena, Ayah dan juga Ibu yang sudah berada di dalam ruangan.


Aku menutup mulutku, aku meneteskan air mata sebelum aku berjalan pelan ke arah Haris. Begitu aku tiba di samping ranjang, aku langsung memeluk Haris dengan menangis sesenggukan, "dasar anak nakal. Sebenarnya siapa yang sudah membuatmu seperti ini??"


__ADS_2