
➡➡➡
Ada sesuatu yang bisa di perbaiki, dan ada sesuatu yang jika di perbaiki justru akan semakin rusak, dan aku akan menjadi bijaksana dengan memaafkan, tapi aku tidak cukup bodoh untuk percaya lagi. #unknown
➡➡➡
Hidup memang penuh misteri, mungkin siklus kehidupan hanya tentang jatuh dan kemudian bangkit. Memaafkan kemudian di sakiti lagi. Itu adalah kehidupan nyata seorang anak manusia.
Aku juga telah mengalami apa yang di sebut dengan jatuh bangun hingga ratusan kali. Sampai aku sepenuhnya kebal akan hinaan dan rasa sakit.
Jam dua dini hari, acara sudah selesai.
Pemilik acara sudah pergi terlebih dahulu setengah jam yang lalu. Banyak yang telah meninggalkan tempat ini, namun ada juga yang masih bercengkerama dan ada juga yang mabuk berat.
Salah satunya adalah Adnan.
Sejujurnya aku benci melihat ini, seseorang mabuk karena apa? Lebih tepatnya adalah Adnan mabuk karena alasan apa? Sudah ku katakan jika Adnan bukanlah pria yang gampang depresi meski sebanyak apapun pekerjaannya.
Aku menghela nafas panjang, teman teman Zodiak sudah meninggalkan tempat ini dan langsung kembali ke Bandung detik ini juga.
Aku mendekat ke arah Adnan yang telah menjatuhkan kepalanya di atas meja, menepuk bahunya pelan, namun Adnan sama sekali tidak merespon. Sepertinya Adnan mabuk berat.
"Adnan mabuk," adalah suara seorang pria yang mungkin adalah teman satu kantor Adnan.
Teman Adnan yang satu ini masih terlihat sadar, dan sepertinya tidak mabuk.
Aku duduk di sebelah Adnan, "aku tau," jawabku singkat.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Adnan? Bukankah kamu penyanyi yang tadi menghibur kami?" Pria itu mengulurkan tangannya, " aku Gilang, teman satu kantor Adnan."
Aku membalas uluran tangan itu, "Aku Himalaya Gilsya, aku memang penyanyi di cafe ini, dan aku adalah.." Aku menjeda kalimatku sebentar, apa aku juga harus mengatakan jika aku adalah mantan istri Adnan? Aku dilema, antara jujur atau bohong.
Pria yang mengaku bernama Gilang ini memicingkan matanya, seakan penasaran dengan kata kata yang akan aku ucapkan selanjutnya, "dan??"
__ADS_1
"Aku mantan istri Adnan." Ucapku penuh keraguan.
PRAANG..
Gilang menjatuhkan gelas yang di pegangnya karena terkejut setengah mati.
"Apa?? Mantan istri?"
Aku menepuk jidatku sendiri melihat ini. Astaga, apa itu tidak berlebihan? Ekspesi macam apa itu? Ekspresi Gilang ini lebih terlihat seperti seorang suami yang menangkap basah sang istri yang tengah berselingkuh.
Ck ck ck, sangat menggelikan. Aku ingin tertawa namun takut terkena azab. Jadi aku mengurungkan niatku untuk tertawa, meski aku harus sakit perut karena menahannya.
Aku hanya meringis, "iya, aku mantan istri Adnan, memangnya kenapa?" Aku bingung sendiri melihat raut wajah Gilang yang tampak tidak percaya. Kemudian aku memanggil waiter untuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Gilang terlihat seperti orang yang tengah berpikir, "masa sih? Tapi Adnan tidak pernah mengatakan apapun tentang perceraian?"
Gantian aku yang terkejut, "oh ya?" Namun sedetik kemudian aku kembali dari keterkejutanku, "Masalah itu aku tidak tahu menahu. Adnan mengatakan atau tidak itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Lalu kenapa Adnan sampai mabuk begini?" Tanyaku penasaran. Harusnya Gilang mengetahui jawabannya karena Gilang adalah teman Adnan.
"Apa menurutmu, mengurus seorang wanita hamil bisa membuat seorang pria menjadi frustasi?" Itu mungkin saja kan? Lagi pula, Adnan memang layak untuk frustasi jika mengingat belakangan ini menjadi moment yang paling mengerikan antara aku dan Adnan.
"Hah?" Gilang menoleh ke arahku, "apa maksudmu? Kamu tengah hamil tapi Adnan menceraikanmu?"
"Dasar gila, buka matamu lebar lebar! Apa aku terlihat seperti seorang wanita yang tengah hamil?" Aku melihat tubuhku yang ramping dan tidak terlihat buncit sama sekali.
Gilang juga mengikuti arah pandangku dan memperhatikan perutku dengan seksama, kemudian Gilang menggeleng, "tidak, kamu tidak terlihat tengah hamil, lalu gadis mana yang Adnan hamili?"
"Rubah wanita itu, bukan.. maksudku adalah Istri baru Adnan yang sedang hamil sekarang, apa kamu tidak berpikir jika Adnan mungkin saja frustasi karena itu?"
"Istri baru? Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana mungkin Adnan menikah lagi di saat mantan istrinya saja masih sangat cantik? Apa Adnan tidak waras?"
"Syukurlah jika bukan hanya aku yang berpikir jika Adnan gila. Jika kamu berpikiran seperti itu maka kita satu keluarga, kamu bisa menikahi adik perempuanku saat adikku tumbuh dewasa." Aku mengucapkan ini dengan nada bercanda.
Lagi pula aku tidak mungkin mempromosikan adik kesayanganku pada seorang pria yang baru ku kenal beberapa detik yang lalu. Namun tidak akan berdosa jika memanfaatkan Gilang untuk membereskan masalah dengan iming iming seorang Helena kan?
__ADS_1
Aku tersenyum dalam hati.
"Hah? Menikahi adikmu? Apa adikmu sudah besar? Kebetulan aku single sejak lahir," Gilang mulai mengeluh dengan hidupnya.
Aku tidak menyangka jika Gilang justru menanggapi ini dengan serius? Sangat menyedihkan.
"Adik perempuanku masih duduk di bangku SMA sekarang, tapi akan memasuki Universitas sebentar lagi? Berapa umurmu?"
"Dua puluh dua tahun, aku masih muda dan juga tampan," Gilang sangat percaya diri untuk mempromosikan dirinya, "tenang saja, aku sudah pegawai tetap di Garmen World, aku juga pria yang sangat setia, jadi ku pastikan jika aku tidak akan pernah menyakiti adik perempuanmu jika dia menjalin hubungan denganku."
"Kamu sungguh percaya diri? Baiklah, aku akan mengenalkanmu padanya lain waktu, tapi ada syaratnya.." aku akan membuat penawaran spesial untuk Gilang, ini sungguh tidak berat, dan kita akan melihat kesungguhan Gilang untuk mendapatkan Helena.
Anggaplah aku berbaik hati untuk mencarikan Helena jodoh yang baik dan juga mapan, dan yang terpenting adalah setia.
Gilang terlihat sangat antusias, "apa?"
"Kamu barus mengantar Adnan pulang ke rumahnya."
Ekspresi semangat Gilang memudar seketika, berubah menjadi ekspresi lesu yang menggambarkan seribu kekecewaan, "apa? Mengantar Adnan pulang? Aku saja tidak tahu dimana rumahnya."
Aku beranjak dari dudukku, lebih baik aku pulang sekarang, aku tidak akan membuang waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini.
"Tunggu dulu," Gilang menarik tanganku hingga aku terduduk kembali, "kenapa kamu sangat terburu buru?"
"Kenapa kamu masih bertanya? Tentu saja aku akan pulang."
"Tapi bagaimana dengan Adnan?"
"Kamu urus saja sendiri! Atau biarkan saja dia tidur di sini malam ini, Furi bukan orang kejam yang tega mengusir orang yang tidak berdaya ke jalanan."
"Tapi.. apa kamu masih akan mengenalkan aku dengan adik perempuanmu?" Gilang menunjukan puppy eyesnya.
Aku beranjak, "dalam mimpimu." Setelah mengatakan itu, aku segera pergi dari cafe tanpa menoleh lagi ke belakang.
__ADS_1