
Buat kalian yg suka pelakor pelakoran, jgn lupa nnton The world of the merried ya??
Film yang mencerikatan kehidupan rumah tangga yang di ganggu sama cabe kiloan. terus pas si emak udah bisa menghancurkan si bapak sampai kandas, eh.. ternyata si bapak bisa bgkit lagi sama cabe kiloan setelah dua tahun, jadi kaya raya lagi.
Episode paling keren 5 sama 6, menguras emosi, suka pas liat si emak jadi psikopat. Terus pas si anak di ambil secara paksa sama si bapak, si emak hampir bunuh diri karena depresi, si anak bilang gini,
"Mak, bisa gak sih kita pergi ke tempat dimana hanya ada kita berdua, dan gak ada seorangpun yang mengenali kita."
Busyet dah.. nyesek bgt.. sakit hati aku, dan di situ juga perasaan gue pingin bac*ok si bapak meronta ronta.
Udah.. gitu aja.. nonton aja di tipi, banyak adegan yang udah di skip juga, gak nyakitin bgt..
Sekali lagi tengkyu ya gaes udah mau dengerin curhatan gak penting aku soal drakor ini. loph u pull dah.. 😘
Happy reading..
➡➡➡
Aku duduk sendirian di kursi panjang di depan ruang operasi. Furi dan Miranda sudah pergi sejak lima menit yang lalu setelah memastikan Carla sudah di tangani oleh Dokter terbaik di Rumah Sakit ini.
Suasana sepi membuat situasi menjadi kian mencekam. Aku meremas pakaianku sendiri, merasa frustasi saat di hadapkan dengan insiden seperti ini di dalam keluarga baruku. Aku tidak pernah menyangka akan di suguhkan dengan tragedi yang menimpa Carla di kamar mandi. Entah itu karma ataupun teguran yang memang telah Tuhan sisipkan untuk membuat Carla kembali pada kehidupan lurus tanpa banyak tikungan.
__ADS_1
"Sayang."
Aku menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Zidan yang sudah berlari menghampiriku, kemudian memelukku erat. Aku tak kuasa untuk menumpahkan semua air mataku di bahu Zidan.
Menangis.. adalah keadaan dimana aku merasa jatuh, tidak berdaya dan tidak berguna. Sedangkan cemas, takut, dan depresi adalah perasaan yang kini telah membaur dan tumpang tindih dalam pikiranku. Namun merasa tenang saat Zidan berada di sampingku. Memberi kekuatan agar aku bisa sabar menghadapi ini semua.
Tidak tau alasan pasti kenapa aku menangis, dan apa pula yang aku tangisi? Satu hal yang aku sadari adalah.. bukankah ini adalah sesuatu yang sudah ku tunggu sejak lama? Kehancuran Carla adalah prioritasku sejak awal, bahkan tanpa campur tanganku secara langsung, Tuhan telah membalasnya untukku. Tapi kenapa, sekarang aku harus menangisinya?? Merasa prihatin dan sedih saat harus melihat Carla seperti itu?
Sepertinya dendam yang sudah lama mendekam pada sudut terdalam di hatiku secara perlahan mulai mencair dan berganti menjadi suatu penyesalan.
"Carla jatuh di kamar mandi, dia mengalami pendarahan dan sekarang Dokter sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi Carla," ucapku setelah susah payah menghentikan air mataku. Berbicara dengan terbata saat harus menceritakan kronologis Carla hingga seperti ini.
Empat puluh menit kemudian, Dokter keluar dangan memintaku dan Zidan untuk mengikutinya ke ruangan pribadi Dokter Kandungan.
"Maaf, Tuan, Nyonya, meski bayinya sudah berhasil kami keluarkan, namun kondisi pasien tidak stabil. Pasien mengalami robekan yang cukup serius pada rahimnya. Ini tidak hanya menyebabkan rasa sakit yang luar biasa pada pasien, namun juga berbahaya untuk Ibu bayi." Ucap Dokter Meli selaku Dokter Kandungan di Rumah Sakit ini. Menjelaskan jika ini bukan hanya sekedar mengeluarkan bayi dari dalam perut, namun ada masalah lain yang lebih dari itu.
Astaga.. aku menutup mulutku sendiri karena syok, jadi maksudnya adalah jatuhnya Carla di kamar mandi bukan hanya menyebabkan Carla pendarahan, namun juga menyebabkan komplikasi saat persalinan, yaitu Ruptur Uteri (Sobekan pada dinding rahim).
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Suara Zidan terdengar santai, dia memang sangat berbakat saat harus menutupi perasaan gelisah serta rasa takutnya, dan menggantinya dengan ketenangan yang luar biasa.
"Kita hanya memiliki satu jalan keluar saat ini." Ucap Dokter yang hanya memberi kami satu jalan keluar dan tidak mengizinkan kami untuk memilih sebagai gantinya.
__ADS_1
"Apa itu, Dok?" Aku angkat bicara, jika Dokter hanya memiliki satu jalan keluar, maka sudah di pastikan jika ini sangat darurat dan berbahaya. Jelas jika nyawa di pertaruhkan di sini.
"Kita tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat rahimnya," Ucap Dokter seraya mengambil selembar kertas dari dalam lacinya dan kemudian menyodorkan kertas itu kearah kami beserta bulpoinnya.
Aku menangis saat membaca isi kertasnya, sebenarnya ini adalah Surat Persetujuan Keluarga Pasien untuk suatu tindakan yang berisiko. Pihak Rumah Sakit tidak ingin di salahkan jika mengambil tindakan tanpa persetujuan keluarga pasien.
Aku menoleh ke arah Zidan, dan menggelengkan kepala, aku tidak menyetujuinya. Bagaimanapun rahim adalah yang terpenting untuk seorang wanita, apa jadinya jika Carla kehilangan rahimnya? "Ini tidak bisa, kita tidak bisa melakukannya."
"Maaf, Nyonya. Tapi kita tidak bisa mempertahankan rahim yang telah mengalami sobekan parah, ini bisa membuat pasien merasakan rasa sakit yang mengerikan dalam jangka panjang, dan yang terburuk adalah kematian," Dokter kembali memaksa kami untuk secepatnya mengambil keputusan, "kita berpacu dengan waktu saat ini, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena suami pasien tidak berada di sini, silahkan kalian selaku orang tua pasien membuat keputusan dengan cepat."
"Zidan," aku kembali menggelengkan kepala, "setidaknya kita harus menunggu Adnan terlebih dulu. Bagaimanapun Adnan adalah suami Carla, Ayah dari bayinya. Adnan lebih berhak untuk mengambil keputusan dari pada kita."
"Tapi kita tidak tau dimana posisi b*jingan itu sekarang, Sya!! Aku tidak mungkin membuat Carla menunggu dan memberikan kematian padanya!!" Zidan meraih bulpoin dan segera menandatangani selebaran itu tanpa ragu, kemudian mengulurkannya kembali kepada Dokter.
Dokter menerima kertas itu, dan menelitinya kembali. Kemudian mengangguk dan segera memberikan arahan agar operasi pengangkatan rahim segera di lakukan.
Aku memegang kepalaku yang terasa pening. Kenapa Zidan melakukan ini adalah pertanyaan yang terus bergulir dalam kepalaku. Juga nomor hp Adnan yang masih tidak aktiv. Sudah tidak terhitung berapa kali aku mencoba untuk menghubunginya, dan berapa pesan yang telah ku kirim hanya untuk memberi tahukan kabar ini, namun nomornya selalu berada di luar jangkauan.
Memikirkan ini kembali, aku memijit ruang di antara alisku. Bagaimana kehidupan Carla selanjutnya? Apakah dia bahkan masih ingin hidup saat mengetahui dia tidak lagi memiliki rahim? Astaga..
"Sya, percayalah.. semua akan baik baik saja!! Em??" Zidan menepuk bahuku pelan sebelum meninggalkanku untuk segera mengurus bayi Carla.
__ADS_1