
Curcol ah, sebenernya setiap hari aku udah up, tapi karena di sisipin visual, jadinya reviewnya lebih lama dari pada yang cuma text.
Makasih banget buat yang udah vote, aku terharu banget.. 😢😢..
Tetap pantengin dan favoritkan..
I luph u pembaca setia PEREBUT SUAMIKU,
thank for all and happy reading..
➡➡➡
Jika tidak bisa melepaskan, lebih baik belajar untuk ikhlas, nanti lama lama juga akan terbiasa. #unknown
➡➡➡
Sepulang dari Rumah Sakit, aku langsung bergegas menuju cafe.
Tentu saja Kirani bersamaku, aku tidak tega membiarkan Ibu menjaga Kirani, aku hanya takut Ibu akan merasa lelah jika mengingat usianya yang tidak lagi muda.
Lagi pula situasi cafe di siang hari tidak terlalu ramai ataupun sepi, artinya masih berada dalam taraf normal atau sedang.
Aku mengajak Kirani ke lantai atas tempat dimana Furi tinggal.
"Lihatlah.. siapa ini yang datang? Ayo... peluk paman Furi!" Ucap Furi seraya merentangkan tangan untuk memeluk Kirani.
Kirani berlari dan segera masuk ke dalam pelukan Furi, "apa Paman tidak sibuk hari ini?" Pertanyaan polos Kirani membuat Furi menjawab hanya dengan gelengan kepala.
"Jika Paman tidak sibuk, ayo.. ajak Kirani beli es krim! Ayo.. Paman." Ucap Kirani manja seraya menarik tangan Furi agar mengikutinya untuk membeli es krim.
"No.. no.." Furi menggendong Kirani dan mengajaknya menuju kulkas, "tidak perlu membeli es krim lagi, karena Paman sudah punya banyak es krim di sini.. yeee.." Furi membuka kulkas dan menunjukan banyak es krim beraneka rupa dengan berbagai rasa.
"Wah..." melihat banyak es krim di depannya, mata Kirani berbinar, "kenapa Paman menyimpan es krim sebanyak ini? Apa Paman diam diam sudah mempunyai anak lain selain Kirani?" Pertanyaan Kirani membuatku tertawa, bagaimana mungkin Kirani berfikir jika Furi mempunyai anak lain sementara Furi saja seorang single sejati??
Furi hanya menghela nafas panjang dan tampak mulai frustasi dengan kejahilan Kirani yang selalu menggodanya, namun aku tidak memikirkan bagaimana nasib Furi selanjutnya jika sudah tertangkap oleh pesona Kirani? Karena selebihnya.. nasib Furi akan jauh lebih mengenaskan.
Aku melangkah pergi meninggalkan dua sejoli itu. Aku tidak perlu berganti pakaian lagi, karena kebetulan penampilanku tidak terlalu kaku hari ini.
..VISUAL SASYA..
Tak mampu melepasnya
__ADS_1
Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa
Masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya
Lagu dari Letto menutup penampilanku siang ini, lagu berjudul Memiliki Kehilangan yang entah di request oleh siapa, tapi karena unknown ini memberikan tips yang lumayan, aku menjadi sangat bersemangat.
Aku kembali ke lantai paling atas, dan mendapati Kirani sudah tertidur nyenyak dalam pelukan Miranda di sofa. Aku sendiri bahkan tidak tahu kapan Miranda datang, sementara Furi tertidur di atas karpet bulu di bawah.
"Astaga.." aku menepuk jidatku sendiri.
...❤...
Aku mengajak Kirani untuk membeli beberapa baju di Mall setelah bangun dari tidur siangnya di tempat Furi dengan uang tips yang unknown berikan.
Sudah cukup lama aku tidak membelikan baju untuk Kirani, anggaplah ini sebagai rezeki lebih untuk hari ini.
Kirani tampak sangat senang, sambil memakan es krim dengan tidak menghentikan ocehannya sama sekali.
Aku tersenyum pahit, seharusnya ada sosok ayah yang menemani Kirani di saat saat seperti ini, tapi dimana Adnan? Dia bahkan sudah melupakan putrinya sendiri.
"Ayo.. Ma.. kejar Kirani sampai dapat! Mama payah." Ucapan Kirani membuatku tertawa. Anak kecil itu.. meremehkanku.
"Jangan seperti itu!! Jangan berlari lagi! Ini sangat berbahaya.." aku mengejar Kirani yang ternyata jauh lebih gesit di banding aku.
Untung saja kondisi Mall tidak terlalu ramai dengan pengunjung, membuatku menghela nafas lega, setidaknya Kirani tidak akan merepotkan orang lain.
Tiba tiba..
BRUUUKK..
"Aw." Kirani terduduk di lantai setelah seseorang menabraknya.
"Astaga Kirani, sudah Mama katakan untuk tidak berlarian di sini!! Berbahaya." Ucapku seraya membantu Kirani bangun, dan aku segera meminta maaf kepada orang yang yang telah Kirani tabrak.
"Maaf Tuan, Putriku tidak sengaja melakukannya, aku sungguh minta maaf."Aku membungkukan badan penuh penyesalan.
"Bukan masalah besar."
__ADS_1
Hah? Aku tersentak mendengar suara ini. Suara yang cukup familiar, dan suara yang belakangan sering terngiang dalam pendengaranku. Aku mengangkat wajahku.. dan benar saja..
"Apa putrimu tidak apa apa??"
Aku mengangguk, "iya, dia baik baik saja, dia hanya sedikit ceroboh."
"Kirani tidak ceroboh, Ma?" Kirani merajuk.
Aku tersenyum canggung, "dia memang seperti itu, maksudku Kirani sedang bereksplorasi dengan dunianya," aku mencoba menjelaskan, takut jika pria ini akan menganggap Kirani sebagai pembuat onar atau anak nakal.
Aku tidak tahu kenapa bisa bertemu Zidan di sini detik ini? Jika ini adalah kebetulan, maka ini adalah kebetulan yang sangat manis.
"Tidak perlu khawatir, anak anak sangat wajar seperti itu, maksudku adalah lebih baik agar anak belajar sejak usia balita," ucap Zidan seraya mengelus puncak kepalaku, "tunggu sebentar, okey? Aku akan segera kembali," ucap Zidan sebelum membicarakan sesuatu dengan tiga orang pria lainnya yang datang bersamanya. Entah apa yang mereka bicarakan, sampai ketiga pria itu pergi dan Zidan kembali menghampiriku.
"Maaf, membuatmu menunggu." Ucap Zidan seraya melonggarkan dasinya, menjadi sedikit berantakan dan terlihat seperti bad boy, dan sejujurnya itu sangat menggoda.
"Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf karena telah mengganggu pekerjaanmu?" Aku merasa menyesal karena telah membuat Zidan meninggalkan pekerjaannya hanya karena tidak sengaja bertemu denganku di sini.
"Tidak, ini bukan pekerjaan penting, ini hanya sebuah inspeksi bulanan, dan sudah di atasi oleh assistant pribadiku." Jawab Zidan seakan mengerti kekhawatiranku.
Zidan berjongkok di depan Kirani, "siapa namamu cantik?"
Kirani tersenyum, "Kirani," jawab Kirani malu malu.
"Nama yang indah.. apa kita bisa pergi berjalan jalan bersama?"
Kirani mengangguk.
Kami berjalan bersama layaknya keluarga bahagia, berdampingan dan saling melengkapi. Zidan bahkan tampak seperti Ayah Biologis Kirani, dan Kirani juga sangat menikmati moment ini.
Aku tahu, mungkin Kirani hanya merindukan sosok Ayah yang telah lama hilang, dan mungkin kehadiran Zidan membuat Kirani merasa nyaman dan kembali merasakan kehangatan keluarga yang utuh.
"Apa yang ingin kalian beli?" Ucap Zidan seraya menjalinkan tangannya dengan tanganku.
Mendengar ini, aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan senyum. Bukan karena suara Zidan, tapi karena jalinan tangan Zidan yang menggenggam tanganku dengan erat.
Aku memegang dadaku yang terasa panas. Perasaan macam apa ini? Apa ini cinta? Apa ini kebahagiaan? Astaga.. aku merasa kembali muda dalam sekejap hanya dengan perlakuan kecil dari Zidan.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian beli?" Suara Zidan membuyarkan lamunanku. Aku mengerjapkan mata dan kembali ke akal sehatku.
Aku meringis saat mendengar Zidan mengulangi pertanyaan yang sama karena aku tidak kunjung menjawab.
"Beberapa baju untuk Kirani, dan selebihnya, kami ingin menghabiskan waktu bersama." Jawabku singkat tanpa menghilangkan rona kebahagiaan dari wajahku.
__ADS_1
"Apakah aku tidak menganggu acara family time kalian?"
"Tidak sama sekali, aku justru merasa tersanjung karena di temani seorang pria hebat sepertimu."