
➡➡➡
Setiap yang hadir pasti akan pergi, itulah kepastian yang tidak seorangpun menginginkannya. #unknown
➡➡➡
Sudah jam delapan malam, Furi sudah berkali kali memanggil, namun aku sama sekali tidak berniat untuk bergerak, apalagi untuk bekerja.
Malas, adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya.
Aku hanya bisa menggunakan Kirani sebagai alasan agar Furi tidak mengomeliku, karena sekarang zona nyaman tidak lagi berlaku, dan sebagai gantinya, zona aman menjadi pilihan pada situasi seperti ini.
Aku mengusap rambut Caramel hingga gadis itu tertidur lelap, dengan sebuah foto usang yang di peluknya erat.
Aku menghela nafas panjang, sejujurnya aku sangat penasaran dengan gambar siapa yang berada di sana. Aku mengambil foto itu dengan hati hati dari pelukan Caramel, berharap agar Caramel tidak terbangun dan tidak menyadarinya.
Aku mengawasi foto itu lekat.
Tampak seorang wanita yang tengah hamil besar sedang di peluk seorang anak perempuan yang mungkin berusia sekitar empat tahunan.
Mungkin ini adalah gambar Silvia yang tengah mengandung Caramel, sementara gadis kecil ini adalah anak yang selalu menindas dan menyalahkan Caramel atas kematian Silvia seperti yang Caramel ceritakan.
Namun yang masih mengganjal dalam pikiranku adalah, kenapa Silvia memakai kursi roda? Apa Silvia sebenarnya tidak bisa berjalan?
Aku menepis semua keraguan itu. Tidak mungkin jika seorang Zidan menikahi wanita yang tidak bisa berjalan, ini sangat mustahil. Mungkin saja kandungan Silvia memang sangat lemah saat itu.
Aku meletakan foto itu di atas meja, mencium dahi Caramel sekilas, dan kemudian beranjak.
Aku menutup pintu kamar Caramel dengan hati hati. Gadis itu membuatku khawatir sepanjang hari, mungkin aku perlu mengkonsultasikan tentang ini dengan Miranda.
__ADS_1
Aku hanya berharap semoga saja masalah seperti ini tidak berpengaruh banyak pada psikis Caramel.
Aku menaiki anak tangga hingga aku sampai di lantai tiga, berdiri di balkon. Aku melihat halaman samping yang di penuhi dengan tanaman mawar putih tanpa berkedip.
Tidak tau siapa yang menanamnya, tidak tau siapa yang merawatnya, tapi tidak mungkin jika itu adalah Silvia. Silvia jelas meninggal lima belas tahun yang lalu.
Namun jika memang bukan Caramel ataupun Zidan yang merawat tanaman tanaman itu selama ini, lalu siapa?
Aku tersentak saat sebuah tangan kekar tiba tiba melingkar di pinggangku hingga berhasil membuyarkan lamunanku, "kamu sudah pulang? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Ucapku tanpa berbalik, aku tidak tau kenapa Zidan sudah kembali. Seharusnya dia pergi selama tiga hari ke Bali untuk perjalanan bisnisnya, lalu kenapa belum genap tiga hari Zidan sudah berada di sini?
Zidan mengangguk, "em, tidak ada hal penting lagi yang membutuhkan kehadiranku. Lalu apa yang sedang kamu lakukan di sini? Ini sangat dingin, tidak baik untuk kesehatanmu." Zidan mempererat pelukannya.
Aku menggelengkan kepala, "tidak ada, aku hanya melihat bunga bunga itu," aku menunjuk halaman samping yang memang hanya berisi tanaman mawar saja, tidak ada tanaman lain.
Zidan mengikuti arah tunjukku, "apa kamu tidak menyukainya? Jika kamu tidak suka, aku bisa menggantinya dengan tanaman bunga lain."
"Jangan di ganti, aku menyukainya, sungguh." Ucapku cepat. Aku takut Zidan akan menggantinya. Meski sejujurnya aku tidak begitu menyukainya, tapi aku tidak memiliki hak di rumah ini untuk mengganti apapun. Lagipula, aku tidak menyukai tanaman mawar karena durinya sangat berbahaya untuk anak anak. Selain itu tidak ada alasan lain.
"Aku tidak menyukainya karena Kirani pernah tertusuk duri pada batang mawar ketika berada di rumah orang tuaku saat bermain di halaman bersama Helena, jadi sejak saat itu aku selalu menganggap bunga mawar sebagai musuh bebuyutanku, jadi seharusnya itu bukan masalah besar," aku tersenyum canggung. Merasa malu karena telah berlebihan dengan hal kecil seperti ini, sangat memalukan.
"Apa kamu yakin tidak ada yang lain?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, apa kamu sudah melihatnya?"
Aku terkejut, "melihat apa?" Sejujurnya aku tidak tau dengan apa yang Zidan maksud.
"Foto.. maksudku adalah gambar Silvia di kamar Caramel."
__ADS_1
"Oh.. itu?" Aku mengangguk, mungkin Zidan terlebih dahulu pergi ke kamar Caramel sebelum menemukanku di sini, "aku yang meletakannya di atas meja, apa kamu tidak menyukainya?"
"Sama sekali tidak, aku hanya takut kamu akan merasa tidak nyaman dengan itu," jawab Zidan pada akhirnya.
Jika di tanya aku menyukainya atau tidak, jelas jawabannya adalah aku tidak menyukainya. Aku tidak munafik, tapi aku tidak ingin mempermasalahkan hal sepele yang takutnya akan memperkeruh suasana tegang di antara Zidan dan anaknya. Aku sudah sangat tua untuk bersikap kekanak kanakan seperti itu.
"Aku baik baik saja, kamu jangan khawatir," aku berbalik, melihat wajah lelah Zidan, serta mencoba meneliti kedalaman mata Zidan. Entah apa yang tengah Zidan pikirkan saat ini, aku tidak tau.
"Apa kamu tau kenapa Silvia memakai kursi roda?"
Aku terkejut mendengar ini, bagaimana mungkin Zidan bisa tau tentang apa yang tengah aku pikirkan saat ini? Jawaban dari pertanyaan yang memang sangat menganggu pikiranku adalah sesuatu yang sangat ingin aku dengar dari bibir Zidan.
"Sttt," Zidan mengusap bibirku, "tidak perlu di jawab, aku tau cepat atau lambat kamu juga akan tahu tentang ini." Zidan menghela nafas panjang, "Seperti yang kamu pikirkan, Silvia cacat, dia tidak bisa berjalan normal layaknya orang kebanyakan, dia akan menyeret kakinya saat berjalan, dan itu sangat menyulitkannya, sehingga dia memakai kursi roda untuk kesehariannya. Aku.."
"Hentikan!" Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk menghentikan kalimat yang akan Zidan ucapkan selanjutnya, aku merasa jika ini bukan sesuatu yang baik untuk di katakan, "kamu tidak perlu mengatakannya, aku tidak ingin mendengar ini lagi."
"Tapi kamu harus mendengarnya? Jika aku tidak mengatakannya sekarang, aku tidak yakin bisa mengatakan hal ini lain kali." Zidan tetap bersikeras untuk mengatakan semua kebenarannya.
Aku sendiri tidak tau kenapa Zidan bersikeras untuk mengatakan ini, membuatku mengangguk pada akhirnya, "baiklah, aku akan mendengarnya."
"Semua bermula, saat aku kembali setelah menyelesaikan pendidikanku di Australia. Aku tidak sengaja menabrak seseorang saat mengemudi."
Aku melebarkan mata mendengar ini. Tidak mungkin jika orang yang Zidan tabrak adalah Silvia kan?
"Dia adalah Silvia, dia menjadi cacat setelah bangun dari masa komanya. Keluarganya khawatir tidak akan ada pria yang mau menikahi seorang wanita cacat, dan mereka memintaku untuk menikahi Silvia sebagai bentuk tanggung jawabku, menikahi wanita yang tiga tahun lebih tua dariku."
Aku menutup mulutku rapat, aku tidak menyangka jika pernikahan mereka tidak berdasarkan cinta, melainkan hanya bentuk tanggung jawab Zidan untuk menebus kesalahannya.
"Aku dan Silvia menjalani kehidupan rumah tangga yang biasa, bukan karena Silvia cacat, tapi karena sama sekali tidak ada cinta di dalam pernikahan kami. Tapi aku berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Silvia, memberikan apapun yang Silvia minta, melindunginya, menjaganya, namun.. saat perasaanku mulai berubah.. Silvia justru meninggal saat melahirkan Caramel."
__ADS_1
Aku memeluk Zidan erat setelah Zidan menyelesaikan ucapannya, aku tidak menyangka jika Zidan adalah pria yang bisa menerima pasangannya dengan apa adanya. Mungkin pria seperti itu hanya ada satu di dunia, yaitu hanya Zidan.