Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 20


__ADS_3

➡➡➡


*Bersabar memang sulit, mengikhlaskan pun demikian. Namun itulah yang membuat seseorang menjadi istimewa karena tidak semua orang bisa me**lakukannya. #unknown*


➡➡➡


Tidak terasa tujuh puluh hari lagi masa tenggang yang Adnan berikan akan berakhir, dan aku masih berdiri di tempat sama.. belum ada perkembangan apapun, sementara Rubah itu sudah sepuluh langkah di depanku.


Aku tidak yakin akan bisa mengungguli Rubah itu. Di lihat dari performanya saja, aku jelas sudah kalah set. Membuatku kehilangan semangat dan juga rasa percaya diri.


Aku melakukan rutinitasku seperti biasa, dan aku menyanyikan lagu WANITA PENGGODA, sebagai penutup penampilanku malam ini. Entah kenapa, belakangan ini aku menyukai lagu bertema perjuangan ataupun penghianatan.


Mungkin karena aku merasa jika lagu penghianatan sangat cocok karena aku telah di hianati, dan saat ini sedang berjuang untuk menata kembali hidupku, jadi.. lagu perjuangan adalah lagu yang tepat pula untukku.


Aku memetik gitarku, dan mulai bernyanyi.


..❤..


Kau dulu pernah bilang


Aku ratu di hatimu sayang


Dan aku ratu di istanamu


Dan.. dulu pernah kaupun bilang


Takkan pernah tinggalkanku


Sumpah.. mungkin kau lupa


Dan ku pernah jadi yang tersayang


Ku pernah jadi yang paling kau cinta


Mungkin kau lupa


Dan di saat sang pernggoda datang


Kau biarkan dia hancurkan istanaku


Ternyata kau lupa aku ratumu


Kini akupun telah pergi

__ADS_1


Telah ku relakan kau bersamanya


Ku biarkan dia merebut semua..


....


..


..❤..


Setelah selesai dengan lagu terakhir, aku segera beranjak, menuju lokerku, mengganti pakaian dan segera meninggalkan cafe Furi setelah pamit terlebih dahulu.


Jam sebelas tepat, aku yang tidak membawa motor, terpaksa harus menunggu taksi untuk pulang ke rumah. Tidak tahu kenapa, motorku mendadak tidak bisa di nyalakan, padahal tadi siang masih ku gunakan dan tidak ada masalah sama sekali.


Tiba tiba hpku berbunyi, tanpa menunggu lagi, aku segera menjawab panggilan setelah tahu jika yang memanggil adalah Mitha, perawat yang khusus merawat Haris.


Firasatku mengatakan jika ini tidak baik, karena perawat Mitha hanya akan menghubungiku jika sesuatu yang mendesak terjadi, dan aku sangat takut Haris akan pergi jauh dariku.


"Iya??"


"Mas Haris.. kritis Mba??"


Tepat saat perawat Mita mengatakan kata terakhirnya, aku melihat taksi di seberang jalan, "baik, aku akan kesana sekarang, tolong berikan yang terbaik untuk Haris!!!" Ucapku mengakhiri panggilan, dan segera berlari ke seberang tanpa menoleh kanan kiri..


Hingga sebuah mobil seperti menabrakku, tubuhku ambruk, namun aku tidak lagi merasakan rasa sakit.. dalam pikiranku hanya ada satu, "Aku tidak mau mati hari ini".


Tiba tiba aku merasa pandanganku menjadi putih, aku tidak tahu apapun lagi dan aku kehilangan kesadaranku.


....


Rumah Sakit..


Aku membuka mataku pelan, yang terlihat untuk pertama kalinya adalah langit langit kamar yang asing, dimana ini?? Apa aku sudah mati?? Tidak mungkin!! Aku tidak bisa mati dan aku harus tetap hidup, setidaknya sampai aku bisa mengembalikan harga diriku kembali.


Aku dapat mencium bau obat obatan khas seperti di Rumah Sakit.


Hah?? Rumah Sakit??


Aku mengerjapkan mataku hingga beberapa kali, mengawasi sekeliling, dan mendapati Miranda tengah duduk di sofa dengan Hp di tangannya. Aku menghela nafas lega saat mengetahui bahwa aku belum mati dan Tuhan masih mengizinkanku untuk hidup.


"Miranda??" Ucapku pelan, dengan suara lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.


Miranda segera beranjak dan mendekat ke arahku begitu tahu jika aku sudah sadar.

__ADS_1


"Apa kamu baik baik saja? Dimana yang sakit?? Apa yang sebenarnya terjadi??" Tanya Miranda secara membabi buta seraya memegang tanganku dan kemudian menggoncangnya dengan keras.


Aku memegang kepala dengan tangan kiriku, terasa pening, dan aku bahkan tidak tahu harus menjawab pertanyaan Miranda yang mana dulu.


Aku hanya menoleh ke arah Miranda, mencoba untuk memcari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Miranda hanya mengedipkan sebelah matanya kepadaku.


Aku hanya tersenyum simpul melihat kedipan mata ini.


"Nona, apa anda merasa lebih baik??" Suara seorang pria cukup mengejutkanku, namun aku segera kembali ke akal sehatku.


Aku melirik Miranda sekilas, dan Miranda mengangguk.


Astaga.. kali ini aku benar benar linglung. Tidak tahu situasi macam apa yang tengah aku hadapi saat ini. Namun aku tetap mengangguk, "aku merasa cukup baik, Tuan." Ucapku sopan seraya melihat seorang pria tinggi, dan masih sangat tampan menghampiriku.


Aku di bantu duduk oleh Miranda yang kemudian membantuku menyandarkan tubuhku pada sandaran ranjang tempatku berbaring.


"Maafkan saya karena telah membuat anda seperti ini.. saya sangat menyesal, saya sungguh tidak sengaja menabrak anda saat anda tengah menyeberang malam itu." Pria itu membungkuk, juga suara pria itu yang terdengar penuh penyesalan.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Tuan?? Mungkin aku yang terlalu ceroboh sampai tidak memperhatikan kanan dan kiri saat menyeberang." Ku akui jika aku cukup teledor saat itu, sampai aku menjadi celaka hanya karena terburu buru.


"Sekali lagi saya minta maaf, anda tenang saja, saya akan bertanggung jawab secara penuh untuk menebus kesalahan yang telah saya perbuat. Ini adalah kartu nama saya, jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan hubungi nomor yang tertera pada kartu itu. Assistant saya akan mengurusnya secara pribadi jika saya tengah sibuk. Saya permisi lebih dahulu, ada sesuatu yang harus saya urus." Pria itu memberikan kartu nama bercorak emas, membungkukan badan sekali lagi dan meninggalkan ruang rawat inapku.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanyaku pada Miranda setelah pria itu benar benar hilang dari pandangan.


"Em.." Miranda berpikir sebentar, "mungkin sekitar dua hari??"


"Apa??? Dua hari??" Aku terkejut, jadi aku tidak sadarkan diri selama dua hari?? Astaga..


Miranda mengangguk.


"Bagaimana keadaan Haris??" Aku teringat dengan perawat Mitha yang menghubungiku untuk mengabarkan kondisi Haris yang kritis sebelum aku tertabrak mobil.


"Tenang saja, Haris baik baik saja, kondisinya kembali stabil."


Aku menghela nafas lega, "syukurlah.. lalu bagaimana dengan Kirani??" Aku merasa sangat cemas jika Kirani tahu aku mengalami kecelakaan, aku sungguh tidak ingin membuat Orang tuaku, Helena juga Kirani khawatir tentang ini.


Bagaimanapun Haris belum sadar, dan itu merupakan beban berat tersendiri untuk keluargaku, dan akan menjadi semakin rumit jika mereka tahu aku juga mengalami kecelakaan sampai tidak sadar selama dua hari.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak mengatakan apapun kepada keluargamu. Aku hanya mengatakan jika kamu sedang menemaniku melakukan perjalanan bisnis ke luar kota."


"Apa mereka tidak curiga?"


"Berhentilah mengkhawatirkan itu, semua baik baik saja, dan mereka percaya padaku bahkan tidak curiga sedikitpun."

__ADS_1


Aku menghela nafas lega, "syukurlah, sekarang aku bisa sedikit lebih tenang." Ucapku seraya mengambil kartu nama pria yang telah menabraku, dan membolak baliknya sebentar.. aku tersenyum saat membaca kartu nama itu, tertera nama ZIDAN VIKI dengan jabatan CEO HS WORLD..


__ADS_2