
➡➡➡
Saat seseorang membutuhkan kehadiranmu dan menganggapmu penting, maka tidak ada kebahagiaan yang melebihi itu.
➡➡➡
Suara tetesan hujan menambah suasana sendu yang sempat tercipta. Ketegangan mulai berangsur hilang, namun tergantikan dengan kesedihan Caramel yang tidak kunjung reda.
Aku menghela nafas panjang saat melihat Caramel yang masih menangis sesenggukan. Tidak tau apa yang gadis itu pikirkan saat ini. Tapi yang jelas, itu bukan sesuatu yang baik.
Tidak ingin berspekulasi lebih jauh, aku hanya bisa menepuk punggungnya pelan, mencoba memberikan kenyamanan yang mungkin tidak berarti apapun, tidak mungkin bisa menghilangkan kesedihan Caramel, tapi setidaknya itu bisa meringankannya.
"Sudahlah, kenapa kamu seperti ini? Apa Carla sering melakukan hal itu? Maksudku, mengumpat dan menghinamu secara langsung?" Tanyaku pada akhirnya. Penasaran karena aku tidak tau apapun tentang permasalahan rumit di dalam keluarga Zidan. Ingin tutup telinga dan berpura pura tidak tau, namun.. aku tidak bisa. Semua yang menyimpang harus segera di luruskan dan di kembalikan ke jalan yang semestinya.
Caramel mengangguk, "sejak aku masih kecil, sampai sekarang.." Caramel mendongak, melihat mataku, "Kenapa dia seperti itu, Kak?"
Kenapa Carla seperti itu? Adalah pertanyaan yang aku sendiri tidak tau jawabannya, juga sesuatu yang ingin aku ketahui alasannya, "entahlah, mungkin karena dia iri padamu. Kamu cantik, baik, dan Papa sangat menyayangimu.."
"Tidak mungkin.. kamu berbohong, kamu pasti mengetahui apa alasannya," Caramel menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan ucapanku.
Aku mengangkat sebelah alisku, "Lalu.. menurutmu kenapa??"
__ADS_1
"Karena aku seorang pembunuh." Caramel kembali terisak, menangis pilu, kemudian memeluku erat.
Aku membalas pelukan Caramel. Tidak tau kenapa, aku turut sedih saat melihat Caramel seperti ini. Kesedihan ini adalah kesedihan yang sama seperti yang tengah aku rasakan. Menyesakkan, sakit, sampai rasanya ingin mati, "kamu bukan pembunuh dan kamu tidak membunuh siapapun. Dengarkan aku!!" Aku mencengkeram rahang Caramel, "jika aku di beri pilihan antara satu yang harus di selamatkan, nyawaku atau nyawa Kirani, maka aku akan memilih untuk menyelamatkan Kirani, apa kamu tau apa alasannya?"
Caramel diam, tidak menanggapi, namun terus menatap mataku.
"Alasannya adalah karena seorang Ibu menginginkan anaknya tetap hidup. Kenapa Ibumu meninggal adalah karena Ibumu sangat menyayangimu, karena kamu lebih berharga daripada apapun, lebih dari sekedar dunianya, bahkan lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Percayalah.. Ibumu pergi bukan karena dia menginginkannya, tapi karena dia tidak mempunyai pilihan lain."Ucapku panjang lebar, melepaskan cengkramanku dari rahang Caramel. Ini bukan sekedar ucapan penghiburan, tapi ini curahan hati seorang Ibu. Apa yang ada dalam hatiku adalah apa yang ada dalam hati Silvia juga.
Caramel menatapku lekat, "lalu aku harus bagaimana, Kak?"
"Tidak ada.. kamu hanya harus tumbuh lebih kuat, at a minimum you must prove that you are not a burden, not weak, and not ignorant (minimal kamu harus membuktikan jika kamu bukan beban, tidak lemah, dan tidak bebal). You understand??"
Caramel terlihat tengah berpikir keras, sepertinya tengah memikirkan perkataanku, "tapi.. aku tidak yakin, apa menurutmu aku bisa melakukannya?" Ragu, adalah sesuatu yang tampak jelas dari raut mata yang Caramel tunjukan, binar matanya seakan redup karena tidak cukup percaya diri.
"Sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali gagal dan berhasil pada percobaan yang ke seribu kali," jawab Caramel tanpa berpikir.
Aku tau jika Caramel adalah gadis yang cerdas, hanya saja dia masih labil, masih belum bisa berpikir matang dan masih perlu di asah untuk membuatnya tajam, "kamu tau kenapa Thomas Alva Edison tidak menyerah meski berulang kali gagal?"
"Karena dia gigih, pekerja keras, dan mau mencoba lagi dan lagi," jawab Caramel yang tentu sangat paham dengan ilmuwan yang satu ini, karena dia adalah seseorang yang telah mengubah dunia dengan penemuannya.
"Lalu, apa kamu akan menyerah bahkan sebelum kamu mencoba? Saat kamu berusaha berdiri dengan susah payah, namun seseorang tiba tiba menjatuhkanmu, apa yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Em," Caramel memutar bola matanya, seperti tengah memikirkannya dengan serius, "menariknya agar jatuh bersamaku?"
"No no no.. itu salah, " aku menggelengkan kepala, "menjatuhkannya hanya akan membuat dia semakin membencimu. Yang harus kamu lakukan adalah biarkan dia melihat jika kamu bisa menopang tubuhmu dengan kedua kakimu, dan saat kamu bisa melakukannya, kamu baru memiliki kesempatan untuk mentertawakannya,"
Caramel mengangguk, "now, i understand. Jadi aku harus membuat Carla yakin jika aku tidak membunuh Ibu?"
"Iya, lagi pula kamu memang bukan pembunuh. Yakinkan dia jika kamu sangat menyayanginya. Saat dia memberikan kejahatan namun kamu membalasnya dengan kebaikan, mungkin itu bisa membuatnya sadar if the family is the main and the best (jika keluarga adalah yang utama dan yang terbaik)." Meski sejujurnya aku membenci Carla karena dia telah menghancurkan rumah tanggaku dan mengambil Adnan, tapi aku harus menyayangi dia sebagai anakku.
Bagaimanapun, anak Zidan adalah anakku juga, jadi tidak ada alasan untuk mengabaikannya. Dia tetap alasan utama mengapa aku memasuki rumah ini. Saat akses sudah ada, maka aku hanya perlu menyelidiki sampai tuntas tanpa menyakiti siapapun.
"Kita tidak boleh gegabah, menghancurkannya bukanlah hal yang baik, dia Kakakmu dan Papa tidak akan menyetujui ini. Kita akan rangkul dia, buat dia percaya, buat dia nyaman bersama kita, dan saat itu tiba kita akan mencari tau dan memberinya sedikit kejutan, bagaimana.. kamu setuju?" ucapku menambahkan, mengulurkan tangan sebagai bentuk aliansi antara aku dan Caramel.
Caramel tersenyum, "i agree with you, very strongly agree (aku setuju denganmu, sangat sangat setuju)." Caramel menunjukan binar kebahagiaan, "sejujurnya, aku selalu menantikan saat saat seperti ini."
Aku tersentak, "maksudmu?"
"Maksudku adalah hadirnya seseorang yang tidak hanya mencintai Papa, tapi juga mencintaiku, seperti kamu.." Caramel menghela nafas panjang, "apa aku boleh memanggilmu Mama, sama seperti Kirani memanggilmu?"
Aku tersenyum, "tentu saja, kamu memang putriku sejak awal, jadi sudah sepantasnya jika kamu memanggilku Mama."
"Thank you, Mam, im very happy to have you as my mother (terima kasih, Mam, aku sangat bahagia memilikimu sebagai ibuku). Cup.." ucap Caramel di sertai dengan ciuman hangatnya di pipiku.
__ADS_1
Aku tidak tau harus berkata apa lagi, sejujurnya aku sangat bahagia dan terharu. Saat seseorang membutuhkan kehadiranmu dan menganggapmu penting, maka tidak ada kebahagiaan yang melebihi itu.