Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 32


__ADS_3

➡➡➡


Beri aku waktu enam jam untuk menebang sebatang pohon, dan aku akan menghabiskan empat jam pertama untuk menajamkan kapaknya. #AbrahamLincoln


➡➡➡


Gadis itu menoleh ke arahku.. namun sedetik kemudian dia kembali melihat layar komputernya, seakan menganggapku tidak pernah ada.


"Astaga, aku di kacangi," umpatku dalam hati.


Aku mendekat, mengawasi kamar gadis ini. Kamar yang sangat sederhana untuk ukuran anak seorang pemilik HS.


Kamar yang seharusnya berisi tas bermerk, justru di isi dengan banyak buku dengan berbagai judul. Buku Sains dan Matematika mendominasi namun berserakan di sana sini, di lantai, di atas meja, di atas tempat tidur. Hanya ada buku dan buku.


Aku memungut salah satu buku yang tergeletak di lantai, melihat sekilas nama yang tertera pada sampul buku, "Caramel, nama yang indah," ucapku seraya mendekat dan kemudian duduk di atas ranjang.


Caramel diam.


Aku membereskan buku yang berserakan di atas tempat tidur, menumpuknya menjadi satu dan mulai meneliti buku buku itu.


"Caramel, Ayahmu.. eh, tidak tidak, kamu memanggil ayahmu dengan panggilan apa? Papa? Papi? Atau Dady?"


Caramel tetap diam, seakan yang ada di hadapanku bukanlah seorang manusia melainkan sebuah pagar, namun aku tidak akan menyerah sampai Caramel melunak dan menganggap kehadiranku. Harus.


"Caramel, kamu sedang mempelajari pelajaran apa?"


Caramel masih diam.


Aku mengawasi Caramel lekat, gadis itu sangat serius melihat layar komputernya, juga tangan yang bergerak cepat pada


keyboard. Mungkin Caramel memiliki IQ yang hebat, tapi tidak tahu dengan EQnya. Kemungkinan besar EQnya adalah nol poin.


Gadis yang sepertinya berusia sekitar lima belas tahunan, dengan rambut panjang dan wajah polos yang cantik. Sama sekali tidak memakai riasan apapun. Namun, gaya pakaiannya bisa di bilang sederhana, bahkan menjurus pada kampungan.


Entah karena Caramel adalah gadis yang cuek dengan penampilannya, atau tidak mengerti tentang style atau karena Caramel terlalu sederhana? Entahlah.. aku juga tidak tahu pastinya.



...VISUAL CARAMEL...


Terlihat sederet soal Matematika yang tertera pada layar. Jelas jika Caramel tengah mengerjakan soal.

__ADS_1


Bimbingan belajar bisa melalui online, tapi apakah Ujian Nasional bisa melalui online juga? Tidakkah Zidan memikirkan ini?


Aku tidak tau bagaimana cara Zidan membesarkan putrinya. Tapi yang jelas, ini bukan sesuatu yang baik.


Anak seusia Caramel seharusnya belajar di Sekolah bersama Guru dan juga teman temannya, tidak belajar di kamar dengan komputer. Ini jelas suatu kesalahan.


Aku beranjak, melihat banyak poster EXO yang tertempel pada dinding. Sepertinya gadis ini menyukai boyband asal Korea yang satu ini.


Aku mendekat pada poster paling besar yang tertempel dengan sempurna. "Wah, sepertinya kamu sangat menyukai EXO?" Tanyaku seraya menunjuk gambar DO EXO yang menjadi pujaan hati Miranda.


Caramel sama sekali tidak menggubris ucapanku. Aku hanya tersenyum dalam hati saat melihat sikap cuek Caramel, kita lihat saja sejauh mana Caramel akan bertahan dengan diamnya.


"Wah, sayang sekali kamu tidak menanggapi, padahal aku mempunyai hoodie yang di tanda tangani langsung oleh DO, Kai, dan Chanyeol." Ucapku menggoda Caramel dengan iming iming tanda tangan tiga personil EXO.


Benar saja, Caramel menghentikan ketikannya, gadis itu diam sebentar. Mungkin dia sedang berdebat dengan hati kecilnya untuk berbicara atau tidak.


Baiklah, aku akan menghitung dalam hati. Dalam hitungan ke empat, dia pasti akan berbicara.


Lima.


Empat.


Tiga.


"Apa kamu tidak bohong?" Adalah suara pertama yang keluar dari bibir Caramel.


Apa ku bilang? Bukankah sudah ku katakan jika aku tidak suka di abaikan? Sekarang lihat saja, siapa yang masih bisa menolak pesonaku? "Apa aku terlihat sedang berbohong?"


Caramel menoleh dan mengawasiku lekat, "aku tidak tahu." Jawab Caramel singkat.


"Baiklah, turun dan makan malamlah dulu, nanti akan aku berikan hoodie itu padamu," ucapku membujuk Caramel.


Yang namanya anak kecil, tetaplah seorang anak kecil, perlu di bujuk oleh orang tuanya, sama halnya seperti Kirani. Hanya saja, mungkin Zidan tidak bisa melakukan itu. Karena membujuk seorang anak bahkan sangat sulit, butuh tenaga dengan tingkat kekebalan super, yaitu kesabaran.


"Apa kamu serius?" Mata Caramel berbinar.


Aku mengangguk.


Mungkin Caramel memang EXO L sejati. Lihat saja antusiasmenya dalam menanggapi ucapanku? Padahal dari tadi aku sudah berbicara panjang lebar tapi dia sama sekali tidak menanggapi. Sementara saat aku mengatakan EXO, dia langsung kegirangan.


Dasar remaja labil.

__ADS_1


"Tapi kamu harus janji dulu!" Caramel mengarahkan jari kelingkingnya padaku.


Melihat ini aku segera menautkan jari kelingkingku pada jari kelingking Caramel tanpa ragu, "aku janji. Ayo.. kita turun! Ayahmu pasti sudah menunggumu."


Aku dan Caramel turun ke lantai bawah, dengan candaan ringan yang kadang terselip tawa di dalamnya. Aku pikir, Caramel bukan seorang introvert, mungkin gadis itu hanya kesepian.


Ya.. Caramel gadis yang kesepian. Itu sebabnya dia selalu merasa nyaman dengan dunia sepinya, yaitu di dalam kamarnya. Membuatnya seolah kamar dan komputer adalah tempatnya berbagi dan bersembunyi dari kesedihannya.


Apa itu berhubungan dengan ibunya? Lalu kemana ibunya yang sebenarnya? Kenapa dia tega meninggalkan Caramel dengan sosok ayah yang dingin seperti Zidan? Semakin di pikirkan, semakin membuatku pusing.


Yang jelas, Caramel perlu seseorang yang bisa di ajak bercerita, yang bisa di ajak berbagi, yang bisa menjadi tempat bersandarnya. Sosok teman atau Ibu, bukan kamar dan komputer.


"Duduklah Caramel! Aku yang memasak ini semua," ucapku pada Caramel.


"Benarkah? Kamu bisa memasak?" Caramel menunjukan raut wajah seakan tidak percaya jika aku bisa memasak.


Aku tersenyum, "tentu saja, kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja pada Bibi Lu." Ucapku kemudian, "jika kamu lapar, kamu makanlah dulu! Mungkin Ayahmu akan lama, ada sedikit kendala di salah satu hotelnya." Aku mengambilkan nasi dan juga lauk untuk Caramel.


"Terima kasih," Caramel tersenyum sangat manis saat mengatakan itu.


Aku juga tersenyum. Aku hanya tidak menyangka jika iblis kecil ini bisa berubah dalam hitungan detik. Menjadi sangat berbeda dengan Caramel menyebalkan yang aku temui beberapa menit yang lalu.


Caramel bercerita banyak hal, tentang kehidupannya, tentang bimbingan belajarnya, dan juga tentang kegiatannya sehari hari. Sampai Caramel tiba tiba menghentikan ucapannya, dan diam dalam sekejap sambil menundukan kepala.


Aku yang bingung, segera mencari asal muasal kenapa Caramel menjadi diam, dan jawabannya adalah Zidan.


Zidan yang sudah selesai dengan pekerjaannya segera bergabung denganku dan Caramel di meja makan.


"Maaf telah membuatmu menunggu, aku sangat menyesal." Ucap Zidan seraya duduk di sampingku.


"Tidak masalah, aku mengerti," Jawabku, "Aku memasak beberapa menu malam ini, aku harap kamu menyukainya. Lihatlah.. Caramel juga sepertinya menyukai masakanku."


Mendengar ini, Caramel menoleh sekilas ke arahku seraya tersenyum.


Sementara Zidan justru tertegun tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dariku, mungkin dia sedang bertanya tanya, bagaimana bisa aku dan Caramel saling berkomunikasi satu sama lain?


"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Ucapku pada akhirnya, aku risih karena Zidan terus saja memperhatikanku tanpa berkedip.


"Terima kasih." Jawab Zidan singkat.


Aku tertegun, "terima kasih? Untuk?"

__ADS_1


"Untuk semuanya.."


__ADS_2