Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 39


__ADS_3

➡➡➡


Aku tidak merindukan orang orang di masa laluku, tapi aku merindukan diriku yang dulu sebelum mereka hadir. #unknown


➡➡➡


"A.. ayah.. sejak kapan Ayah berdiri di sana??" Ucapku panik saat melihat sesosok pria paruh baya yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Aku mendorong dada bidang Zidan agar menjauh, dan semoga saja Ayah tidak melihatku saat memeluk Zidan tadi.


"Kenapa kamu terkejut??" Suara Ayah tidak kalah keras, "apa kamu merasa bersalah karena telah kepergok tengah memeluk pria di depan Ayahmu?" Ayah berjalan mendekat ke arah kami dengan wajah garang, meski sejujurnya itu sangat tidak cocok dengan karakter Ayah yang tenang dan lembut.


'Ck ck ck.. Ayah benar benar orang yang kolot. Ini hanya pelukan, tapi kenapa Ayah bereaksi seperti itu? Apakah Ayah tidak bisa membedakan jika berpelukan itu berbeda jauh dengan perbuatan mesum? Pelukan itu masih berada pada taraf normal, tapi bisa bisanya Ayah menganggap ini sebagai sesuatu yang berlebihan? Astaga.. Ayah.. Ayah.. bukankah Ayah dulu juga pernah muda? Tunggu sampai aku dan Zidan berciuman di depan Ayah, dan ku pastikan Ayah akan pingsan saat itu juga.' Batinku, seraya tersenyum licik dalam hati.


"Ayah ini bicara apa? Kami hanya berpelukan, bukan berciuman, tapi kenapa reaksi Ayah seperti itu?" Aku melipat kedua tanganku, merasa geram dengan ucapan Ayah yang sangat berlebihan.


Ayah menatapku tajam, "bukankah ini reaksi yang wajar saat seorang Ayah melihat putri kesayangannya tengah berpelukan dengan pria asing di tempat umum?"


"Apa sih Yah? Siapa yang pria asing?"


Ayahku melirik Zidan sekilas, meneliti Zidan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Namun, dengan melihat penampilan muda Zidan, aku yakin jika Ayah tidak akan tau berapa umur Zidan yang sebenarnya meski di lihat sampai sepuluh kali sekalipun.


Aku memberi kode kepada Zidan untuk segera memperkenalkan diri, Zidan mengulurkan tangannya, "Nama saya Zidan."


....


...


..


.


Aku duduk di sofa ruang tamu, setelah Ayah menyeretku secara paksa untuk pulang.

__ADS_1


Aku tidak tau kenapa Ayah tiba tiba datang dan mengacaukan sesi romantis antara aku dan Zidan? Bukankah seharusnya Ayah datang untuk menjenguk Haris setelah di hubungi oleh Mitha? Tapi kenapa fokus Ayah justru beralih kepadaku?


Menyebalkan.


"Siapa dia?" Suara Ayah menggelegar, mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku.


Aku sudah seperti penjahat yang tengah di interogasi polisi, "bukankah Ayah sudah berkenalan dengan Zidan tadi? Seharusnya Ayah menanyakan detailnya secara langsung, supaya lebih jelas, bukannya sibuk menyeretku pulang." Sebenarnya aku sedikit kesal dengan Ayah karena telah memperlakukanku seperti gadis remaja, apa Ayah lupa jika aku sudah dua puluh lima tahun?


"Omong kosong! Maksud ku, dia itu siapa? Kenapa dia sangat dekat denganmu?"


"Dia..," aku ragu untuk mengucapkannya, bukan karena hubunganku dan Zidan tidak jelas, aku hanya belum siap untuk berterus terang dengan Ayahku tentang siapa Zidan yang sebenarnya.


"Dia siapa? Bicara yang jelas!!" Nada suara Ayah penuh penekanan.


Jelas Ayah bermaksud untuk menekanku, tapi Ayah salah alamat karena aku bukan orang yang mudah di tekan, "dia pacarku, Yah."


Ayah menatapku tajam, "apa?? Pacar?"


Aku mengangguk, "ya ampun, Ayah, ekspresi macam apa itu? Tidakkah Ayah sadar jika Ayah sudah overreacting?"


"Kamu baru bercerai beberapa saat yang lalu? Apa kamu tidak trauma dengan komitmen setelah semua yang Adnan lakukan?" Suara Ayahku melunak, dan berganti menjadi penuh kecemasan.


"Aku tau jika Ayah khawatir denganku, tapi Ayah tidak perlu berlebihan. Zidan itu sudah dewasa dan mapan, jadi apa lagi yang harus di pusingkan?" Setidaknya itulah yang aku pikirkan, dan yang terpenting adalah Zidan baik dan bisa menerimaku apa adanya.


"Justru karena dia sudah sangat dewasa sampai dia tidak cocok menjadi pasanganmu, perbedaan usia kalian pasti terpaut jauh, iya kan?"


Hah? Aku terkejut. Dari mana Ayah tau jika usia Zidan sudah cukup tua? Apa Ayah seorang indigo yang memiliki indra ke enam? Sedetik kemudian ekspresiku kembali seperti semula, aku meringis, aku hanya merasa canggung karena Ayah sudah mengetahui usia Zidan meski Zidan bahkan tidak tampak tua, "ngomong ngomong, darimana Ayah tau jika usia Zidan tidak lagi muda?"


"Aku seorang Ayah, apa kamu lupa jika aku juga seorang dosen?"


Aku mengangkat sebelah alisku, "memangnya apa hubungan antara dosen dengan umur seseorang, Yah? Bukankah Ayah itu sok tau?"

__ADS_1


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, berapa usianya?"


Aku berpikir sebentar, "sekitar empat puluh lima tahun mungkin?" Aku menoleh ke arah Ayah yang sudah duduk di sampingku.


"Jadi pacarmu lima tahun lebih muda dari Ayahmu?"


"Bukan begitu, Yah? Dia bukan pacarku, tapi calon suamiku? Hm?" Aku tersenyum lebar.


Ayah memijit ruang di antara alisnya, "astaga, Sya? Kenapa seleramu menjadi seperti ini? Apa semua karena k*parat Adnan yang telah membuat seleramu tentang devinisi pria tampan menurun drastis?" Ayahku menggelengkan kepala penuh ejekkan, "anggaplah, jika tipe pria idamanmu yang semula adalah pria muda tampan, berubah menjadi seorang kakek kakek?"


Aku merengut mendengar ejekan Ayah, apa apaan coba, kenapa Ayah terus saja berbicara seenaknya sendiri? "Seleraku masih sama, Yah. Apa Ayah masih belum mengerti jika Zidan terlihat seperti tiga puluh tahun? Jika orang tidak melihat KTPnya, mereka tidak akan tau umur Zidan yang sebenarnya. Jadi.. bisakah Ayah berhenti memanggil Zidan dengan sebutan kakek? Panggilan itu sama sekali tidak cocok untuk Zidan."


"Tapi, Sya...,


"Aku tau jika Ayah susah untuk menerima menantu yang sepantar dengan Ayah, tapi usia Zidan hanya lima tahun lebih muda dari Ayah, jadi seharusnya itu bukan masalah besar kan? Kecuali jika usia Zidan lebih tua dari Ayah, baru Ayah bisa menentang hubungan kami." Aku memotong ucapan Ayah, aku sungguh tidak ingin mendengar complain dari Ayah lagi.


Ayah menghela nafas panjang, "Ayah hanya tidak ingin kamu gagal lagi, Sya? Ayah ingin anak anak Ayah mempunyai pasangan yang baik dan bertanggung jawab, yang bisa membimbing bukan meninggalkan dan menghancurkan, dan poin terpenting adalah bisa membuat anak anak Ayah bahagia." Ayah menepuk punggung tanganku.


Tidak tau kenapa, aku ingin menangis sekarang, rasanya aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini karena memiliki seorang Ayah yang sangat hebat. Meskipun Ayah bukan konglomerat, tapi setidaknya Ayah tidak pernah sekalipun mengecewakan, di tambah Ayah sangat pengertian.


Aku tau jika Ayah akan mengalah pada akhirnya. Ayah bukan orang tua egois yang akan mengekang anak anaknya, Ayah bahkan akan memberikan dukungan yang tidak tanggung tanggung asal anak anaknya bahagia.


Aku menoleh ke arah Ayah yang masih tampak tidak senang, "ada apa lagi, Yah?" Tidak mungkin jika Ayah berubah pikiran kan?


"Aku hanya menghawatirkan Haris," jawab Ayah singkat.


Aku menghela nafas lega, syukurlah jika Ayah tidak berubah pikiran, "Kalau soal Haris, tidak perlu di pikirkan lagi. Mulai sekarang Zidan yang akan mengambil alih untuk penanganan Haris kedepannya."


➡➡➡


Cieee.. yang udah ngarep si rubah bakalan muncul di chapter ini??? Acieeee.. Maap aja ya.. tapi belum saatnya si Rubah muncul di chapter ini.. 😆😆😆

__ADS_1


Jangan berkecil hati, dan tenang aja.. si Rubah bakal muncul di chapter 41.. yeaayyy.


So.. stay here and enjoy.. tengkyu.


__ADS_2