
➡➡➡
Ada perasaan yang tidak dapat di ungkapkan, karena aku sendiri juga tidak tahu perasaan apa itu. #unknown
➡➡➡
Semalaman aku duduk di sini, di depan ruang ICU, sendirian.
Untunglah jika Ayah, Ibu, Helena dan juga Kirani menurut untuk pulang serta beristirahat di rumah. Aku sangat takut mereka akan jatuh sakit jika mereka tetap bersikeras untuk menunggu Haris di sini.
Aku sungguh malas untuk berdebat dalam situasi seperti ini, namun aku bisa menghela nafas lega saat mereka tidak membantah ucapanku sama sekali.
Aku tidak hanya lelah secara fisik tapi juga psikis. Lelah badan tidak lagi aku rasakan, tapi lelah mental yang membuatku ingin menangis serta menghancurkan semua yang ada di hadapanku.
Aku ingin marah dan ingin teriak sekeras kerasnya, aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku mati rasa sekarang.
Aku jatuh dari titik tertinggi dari puncak gunung, berharap akan ada yang mengulurkan tangannya untukku agar aku tidak jatuh semakin dalam, namun itu hanya sebatas angan. Karena nyatanya.. tidak ada seorangpun yang menarikku dari kedalaman luka.
Andai saja orang tuaku tidak menanamkan ilmu agama yang cukup, mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku sekarang. Aku sudah gila, bahkan sangat gila.
Haris juga masih tetap sama, masih memejamkan matanya dengan erat seakan sedang bermimpi indah dan seperti enggan untuk kembali pada kehidupan nyatanya, juga masih belum menunjukan tanda akan segera bangun.
Dokter spesialis Neurologi yang menangani Haris mengatakan jika Haris mengalami cedera hebat di kepalanya yang membuatnya koma dan sangat kecil kemungkinan untuk bangun dalam waktu dekat.
Semua itu di sebabkan oleh benturan pada kepala Haris yang menyebabkan kerusakan pada salah satu bagian otak, dan kebetulan bagian yang mengalami kerusakan itu adalah bagian yang mengatur kesadaran Haris.
Dokter Demian juga mengatakan untuk tingkat kesadarannya sendiri berfariasi, tergantung tingkat kerusakan otak itu sendiri, minimal tiga bulan dan maksimal satu tahun.
__ADS_1
Maksudnya adalah paling sedikit tiga bulan untuk masa bangun yang paling singkat dan batas maksimalnya adalah satu tahun. Jika dalam satu tahun Haris tidak kunjung bangun, maka resiko kematian ada di depan mata.
Tidur panjang yang mengancam nyawa.
Aku juga masih belum bisa berpikir saat ini, entah kenapa otakku mendadak bebal dan tidak bisa memikirkan apapun tentang apa, mengapa dan bagaimana.
Bahkan untuk menjawab tiga pertanyaan tentang apa, mengapa dan bagaimana saja aku tidak mampu, apa lagi untuk mencari jalan keluar dan juga solusi??
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar benar merasa tidak berguna dan tidak bisa melakukan apapun. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, malu dengan ketidak mampuanku, malu dengan ketidak berdayaanku, serta malu dengan kebodohanku.
..VISUAL SASYA..
Baiklah, aku akan mengambil semua keputusan setelah polisi memberikan titik terang tentang kecelakaan Haris. Jika itu sudah terjawab maka aku akan segera mengambil keputusan.
Mataku benar benar bengkak sekarang. Aku menangis dan tidak tidur semalaman, tapi itu bahkan belum seberapa dari rasa sakit yang harus Haris tanggung saat ini.
Aku mengawasi sekeliling. Jam lima pagi adalah suasana sepi di depan ruang ICU, penggambaran nyata untuk hati dan juga hidupku saat ini. Hanya ada beberapa perawat dan Dokter yang berlalu lalang di depanku.
Aku menolak untuk percaya bahwa ini adalah kenyataan. Aku seperti hidup di dunia mimpi, yang hanya dalam hitungan detik, hidupku sepenuhnya di hancurkan.
Di hianati, di ceraikan, dan sekarang? Haris harus mengalami nasib s*al yang mungkin saja seharusnya menimpaku, bukan menimpa Haris.
.
Dua puluh jam kemudian.
__ADS_1
.
Dua orang Polisi tiba di Rumah Sakit tempat Haris di rawat. Mereka mengatakan jika seseorang memang telah menabrak Haris dan kemudian melarikan diri. Namun sayangnya, tidak ada saksi ataupun rekaman CCTV yang bisa menjadi bukti.
"Satu satunya saksi adalah saudara Haris sendiri, namun saudara Haris masih dalam kondisi tidak sadarkan diri. Jadi akan sulit untuk menemukan kebenarannya." Ucap salah satu dari mereka yang tampak lebih tua.
Aku mengangguk, karena apa yang di katakan pihak berwajib adalah benar adanya. Pihak berwajib tidak bisa mengklaim sebuah kasus hanya menggunakan spekulasi, mereka perlu bukti yang cukup dan akurat sebelum melimpahkannya ke kejaksaan.
"Maaf nona, karena kami masih belum bisa menyimpulkan adanya unsur kesengajaan di dalamnya atau murni kecelakaan." Adalah ucapan salah satu dari mereka yang berakhir dengan menjabat tanganku dan kemudian undur diri.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak." Ucapku ramah.
Setelah kedua Polisi itu pergi, aku kembali memikirkan ucapan mereka yang mengatakan murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan??
Unsur kesengajaan ya??
Jika kecelakaan Haris memang sudah di rencana sebelumnya, maka jawaban satu satunya mungkin saja adalah... dia.
Sejujurnya aku tidak ingin berprasangka buruk atau menuduh siapapun, apa lagi saksi kunci satu satunya masih dalam keadaan koma. Jadi, aku masih tidak tahu kebenarannya secara pasti. Tapi entah mengapa, hati kecilku berkata jika kecelakaan Haris malam itu adalah sebuah peringatan untukku. Tidak.. tapi sebuah ancaman.
Mungkin seseorang tidak sungguh sungguh ingin mencelakai Haris, mungkin mereka hanya berniat untuk memberi Haris sedikit sapaan kecil, namun berakhir dengan kecelakaan fatal yang justru membuat Haris hampir kehilangan nyawa.
Aku harus menyelidiki ini secepatnya, setidaknya.. aku hanya ingin mengetahui motif di balik semua ini? Jika itu memang untuk rumah mewah Adnan, maka aku akan memberikannya di waktu yang tepat.
Aku memeriksa sisa tabunganku, sebenarnya ini masih cukup banyak. Setidaknya masih cukup untuk biaya rumah sakit Haris dan sisanya bisa di gunakan untuk kebutuhan Kirani selama beberapa bulan ke depan. Lagi pula aku juga masih mendapat penghasilan dari menjual suaraku di cafe, plus.. aku masih mempunyai Miranda. Janda kaya raya dengan banyak aset yang pasti akan sangat membantuku untuk melewati semua ini.
Aku akan menyusun sebuah rencana nanti, saat akal sehatku sudah kembali dan saat hatiku sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Bagaimanapun badai belum berlalu, dan masih berada tepat di hadapanku, aku hanya perlu menyingkir untuk sementara waktu sebelum bisa kembali ke jalan yang harus aku tempuh.