
➡➡➡
Ibu.. ternyata benar.
Memikul beban sendirian memang sangat berat. Apa lagi di usia yang masih muda. Di saat orang lain menikmati masa mudanya, sementara aku harus fokus mengatur bagaimana agar kebutuhan keluargaku tercukupi dengan hasil keringatku sendiri.
..❤..
Jam sembilan malam aku sudah tiba di tempat Furi kembali. Miranda juga masih berada di sana.
"Bagaimana?? Sukses??" Tanya Miranda menghampiriku dan kemudian duduk di samping kiriku di atas sofa.
"Entahlah, aku tidak yakin." Jawabku murung.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Furi mendekat dan turut duduk di samping kananku.
"Rubah itu masih muda dan sangat cantik. Aku kalah banyak dari dia." Jawabku lesu. Bagaimana tidak? Aku bahkan sudah tertinggal sangat jauh di belakang rubah wanita itu.
"Sudahlah, tidak perlu di pikirkan, kamu juga masih muda dan cantik." Ucap Furi seraya menepuk bahuku, memberiku semangat.
"Apa kamu melihat wajahnya?" Tanya Miranda seraya melangkah menuju meja, sesaat kemudian Miranda kembali dengan laptop di tangannya.
"Tentu saja, bahkan aku juga tahu siapa namanya." Jawabku yakin, karena aku memang mengetahui namanya saat kami bertemu tadi.
"Siapa??" Tanya Miranda dan Furi bersamaan.
"Carla Megan."
Furi mengangguk, "baiklah, mana laptop ku?" Furi memberi kode pada Miranda untuk memberikan laptop di tangannya.
Tanpa menunggu lagi, Miranda segera mengulurkan laptopnya dan langsung di raih oleh Furi.
Kemudian Furi membuka laptopnya, dan mengoperasikan jari jemarinya dengan cekatan.
"Ada apa ini?" Tanyaku bingung, aku sungguh tidak mengerti dengan maksud Miranda dan Furi yang sebenarnya.
"Oho.. apa kamu sangat ingin tahu?" Tanya Furi menggodaku tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari laptop di depannya.
__ADS_1
Aku semakin bingung dengan perkataan Furi, "Miranda?" Aku mencoba untuk mencari tahu dengan menoleh ke arah Miranda.
Miranda menoleh ke arah Furi, setelah Furi mengangguk, Miranda segera membuka mulutnya, " apa kamu tidak tahu jika Furi adalah seorang hacker?"
Mendengar ini, aku menjadi linglung selama beberapa detik.
Hacker?? WTF?? Jadi maksudnya adalah FURI SEORANG HACKER?? Ini tidak mungkin?? Bagaimana bisa Furi adalah seorang peretas? Omong kosong apa lagi ini? Aku menolak untuk percaya, karena ini sangat mustahil.
"Apa maksudmu??" Tanyaku pada akhirnya.
"Maksudku adalah.. Furi bukan berasal dari lulusan Bisnis, tapi dari lulusan Web Progammer."
"Apa???" Aku bahkan lebih terkejut lagi setelah mendengar ini, Furi bukan dari Manajemen Bisnis tapi dari Web Progammer? Tapi bagaimana mungkin Furi bisa mengelola sebuah cafe hingga beranak pinak dan sangat sukses tanpa lulus dari Fakultas Bisnis?? Apakah otak Furi terbuat dari emas? Atau Furi seorang Alien?
"Tidak perlu di pikirkan!!" Furi angkat bicara, "hacker hanya pekerjaan paruh waktu, dan cafe ini adalah pekerjaan utamaku."
"Dasar gila!!" Umpatku dengan kesal, aku sungguh iri dengan Furi, iri dengan keterampilan dan bakatnya. "Lalu kamu akan melakukan apa?" Ucapku seraya mengintip layar laptop yang menunjukan angka dan simbol simbol rumit.
"Aku sedang meretas data internal HS World," jawab Furi singkat.
Aku mengangkat sebelah alisku, "untuk??"
Aku meringis, "maaf, aku minta maaf, sungguh aku tidak mengetahui ini? Lagi pula kalian merencanakan ini di belakangku? Em?"
"Sudah.. sudah.. kemari dan lihatlah, apa gambar rubah itu ada di salah satu dari mereka?" Tanya Furi menunjuk layar di depannya.
Aku dan Miranda dapat melihat beberapa gambar dengan tulisan "JAJARAN PETINGGI HS WORLD" pada layar.
Aku dan Miranda saling bertukar pandang dengan tertegun, luar biasa... Furi benar benar melakukannya, meski sebenarnya meretas data internal perusahaan lain adalah perbuatan ilegal serta melanggar hukum.
"Bagaimana bisa kamu melakukannya secepat itu?" Tanya Miranda yang merasa takjub dengan keahlian Furi yang satu ini, "aku kira, keahlianmu hanya menggoda wanita? Tidak ku sangka jika kamu bisa melakukan hal yang bermanfaat seperti ini??"
Aku mendengus kesal, "bermanfaat?? Apa kamu gila? Mencuri data orang lain itu perbuatan ilegal, dan melanggar hukum. Kita bisa di penjara." Ucapku cemas setengah hidup jika sudah menyangkut jeruji besi.
Tiba tiba, Miranda dan Furi tertawa terpingkal pingkal dengan memegang perut mereka.
Hah?? Aku semakin linglung, apa yang salah dengan ucapanku? Bukankah yang aku katakan itu benar??
__ADS_1
"Dasar id*ot, melanggar hukum jika para aparat itu tahu, dan ingat satu hal.. kita hanya melihat, tidak mencuri, okey? Jadi tenanglah.." Ucap Furi meyakinkanku.
"Benarkah??" Sejujurnya aku masih tidak terlalu yakin.
Miranda mengangguk, "tentu saja, itu adalah bagian pekerjaan dari seorang hacker. Menurutmu kenapa Furi masih di sini sampai sekarang meski sudah bertahun tahun menjadi peretas?"
Aku menggelengkan kepala.
"Karena ini adalah pekerjaanku, dan karena aku bisa melakukannya dengan sangat rapi, plus.. aku bisa menutup akses identitasku agar tidak di ketahui publik." Furi menegakan badannya dengan bangga.
Waow.. untuk kesekian kalinya aku merasa takjub, aku sama sekali tidak pernah mengetahui dunia peretas sebelumnya, jadi wajar saja jika aku yang kampungan ini sangat bodoh.
"Lihatlah, apa wanita ini yang kalian maksud?" Furi menunjuk gambar seorang wanita dengan nama Carla Megan di bawahnya.
Aku mengangguk, " iya, makhluk itu yang aku temui malam ini." Jawabku yakin, tidak.. tapi sangat yakin. Bahkan aku masih mengingat aromanya dengan sangat jelas.
"Baiklah, ayo kita lihat informasi tentang wanita ini." Furi kembali melajukan jari jemarinya dengan lincah.
Sesaat kemudian informasi tentang rubah betina itu muncul dengan informasi hingga detail terkecil sekalipun, bahkan makanan kesukaan hingga hobi juga terlampir di situ.
"Wow, rubah ini benar benar seorang petinggi HS," suara Miranda memecah kesunyian.
"Pantas saja penampilannya sangat berkelas." Ucapku menambahkan.
Beberapa saat kemudian, muncul gambar seorang pria yang terlihat masih muda dengan tulisan CEO di bawahnya.
Aku dan Miranda saling pandang dengan terkejut, "CEO??" Ucap kami bersamaan.
Aku tidak menyangka jika CEO HS World masih muda dan juga tampan. Tapi aku dan Miranda segera tertawa saat melihat status serta umur CEO ini, Duda dengan usia empat puluh lima tahun.
"Tidak mungkinkan jika pria berusia empat puluh lima tahun masih setampan ini?" Furi angkat bicara.
"Tentu saja tidak mungkin, mungkin gambar ini di ambil dua puluh tahun yang lalu." Miranda kembali tertawa.
Aku ikut tertawa, "Bayangkan saja, dia bahkan lima tahun lebih muda dari ayahku. Tapi.. ayahku masih cukup tampan. Mungkin CEO ini adalah wujud lain ayahmu??" Aku menoleh ke arah Miranda.
"Ayahku sepuluh tahun lebih tua dari CEO ini, okey?? Tapi mungkin wujudnya hampir sama dengan ayahku, gendut dengan perut buncit serta kepala botak khas seorang taipan." Ucap Miranda yakin.
__ADS_1
"Setuju." Aku dan Furi menjawab bersama dengan tawa lebar karena kejujuran Miranda.