Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 26


__ADS_3

Halo.. aku menyapa lagi.. ๐Ÿ˜†


Syukur syukur kalo ada yang kangen, kalo gak ada ya gak apalah, aku sabar kok orangnya. Anggap aja ini cobaan. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


Maap ya para pembaca setiaku kalo membuat kalian bingung.


Umur si Zidan Viki ini 45 tahun ya, yang 53 tahun ini visualnya si Zidan Viki.


Maksudnya adalah.. visual Zidan ini pake fotonya Chuando Tan, fotografer dari Singapura yang sekarang berumur sekitar 53 tahun.


So.. jangan salah paham lagi, okey? Zidan tetap 45 tahun, dan Sasya gak nikah sama pria tua yang udah bangkotan. Soalnya Zidan belum tuir tuir amat.


Lagian kasian si Sasyanya kalo di suruh nikah sama kakek kakek.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


Udah.. gak usah basa basi lagi, kuy capcus baca.. happy reading..


โžกโžกโžก


Sebagian diriku mudah sekali di baca dengan jelasnya, begitu terangnya.


Sebagian diriku kelabu sekali, arahnya tidak tertebak, bahkan seringkali acak.


Aku berpijar dengan satu sisi yang aku punya, dan buram pada sisi yang lainnya.


Tidak pernah ku temukan manusia serumit diriku sendiri. #raiiinyy


โžกโžกโžก


Aku tiba di cafe Furi dua puluh menit setelahnya.


Aku mengendap endap masuk dan terkejut setengah mati saat mendapati Furi yang justru tengah berkacak pinggang serta menghadangku di depan pintu masuk cafe. Layaknya seorang pengendara yang tengah menghindari razia, namun siapa sangka jika polisi justru menangkap basah ku yang jelas jelas tidak membawa SIM.


"Kamu.. terlambat." Furi mengacungkan jari telunjuknya tepat di hidungku.


Aku meringis, "maaf, aku lupa." Aku menggaruk tengkukku sendiri untuk menutupi rasa bersalahku.


"Lupa? Acara sepenting ini bagaimana kamu bisa lupa?" suara Furi terdengar berbeda dari biasanya. Mungkin saat ini dia tengah kesal, jelas lah.. aku terlambat.


"Mana aku tau jika ini adalah acara penting? Kamu hanya mengatakan ini hanyalah gathering sebuah perusahaan?" Nada suaraku tidak kalah tinggi, meski aku sendiri menyadari jika ini sepenuhnya kesalahanku, tapi wanita tidak bisa di salahkan dan akan selalu benar dengan pemikirannya sendiri, okey? Dan sebagai gantinya, pria yang harus mengalah.


"Hanya gathering? Apa kamu gila? Ini acara besar pemilik perusahaan textile ternama di Ibu Kota yang telah menyewa cafeku untuk satu malam penuh? This is a party? PAR-TY." Furi mengeja dan menekankan kata PARTY dengan sangat jelas.

__ADS_1


Furi bahkan mulai terlihat uring uringan, mondar mandir kesana kemari seperti seorang i*iot.


Aku hanya menghela nafas melihat ini. Aku sangat mengerti kegelisahan Furi. Dia memang seperti itu, selalu panik jika itu menyangkut reputasi cafenya.


Aku menepuk bahu Furi pelan, sebelum masuk dan segera berganti pakaian yang memang telah pihak cafe sediakan.


Aku melihat bayanganku sendiri di cermin, gaun yang indah namun sepertinya tidak cocok untukku. Sejujurnya aku merasa tidak pantas memakai ini.


Gaun yang mengekspos punggung dengan sempurna membuatku tidak cukup percaya diri. Entahlah.. mungkin karena aku belum terbiasa memakai pakaian seperti ini di depan umum. Juga riasan tebal yang aku pakai hari ini membuatku sangat berbeda dari aku yang biasanya hanya merias wajahku secara natural.



..VISUAL SASYA..


Aku mempelajari beberapa list lagu yang memang telah di pilih oleh pihak perusahaan yang menyewa tempat ini.


Kali ini, Furi juga mendatangkan sebuah band indi berbakat dari luar kota untuk mendampingiku. Band bernama Zodiak ini memiliki seorang vocalis tampan berwajah blesteran dan masih muda.


Kami berlatih bersama untuk beberapa lagu, mencari nada dan juga irama yang tepat untuk penampilan kami malam ini.


Jam sembilan tepat orang orang mulai berdatangan, kebanyakan mereka adalah orang orang kaya. Terlihat jelas dari jas dan juga gaun yang mereka kenakan yang sebagian adalah rancangan dari designer ternama.


Kebanyakan mereka juga datang dengan pasangan mereka sebagai gandengan. Jelas, karena ini adalah acara anniversary pasangan paruh baya yang mungkin adalah pemilik perusahaan textile yang Furi maksud.


Acara mulai berlangsung, aku dan Zodiak menyanyikan lagu Hingga Akhir Waktu, Nineball dan Temani Masa Tua, The Potters


sebagai pembukaan dengan alunan musik mellow dan benar benar mengharukan.


Takkan pernah ada yang lain di sisi


Segenap jiwa hanya untukmu


Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi


Ku ingin kau di sini


Tepiskan sepimu bersamamu


Hingga akhir waktu


...

__ADS_1


...


Aku dan Zodiak menyelesaikan lagu pembuka dan terkejut saat melihat seseorang yang sangat ku kenal memasuki cafe.


Aku mencoba untuk tidak memperdulikan tatapan aneh yang dia berikan padaku. Meski sejujurnya aku hanya penasaran bagaimana Adnan bisa berada di sini?


Tunggu tunggu tunggu.. THE WORLD OF GARMEN??


Aku menepuk jidatku sendiri, pantas saja Adnan di sini, bagaimana aku bisa lupa jika Adnan adalah seorang pekerja di perusahaan itu??


Aku melirik Adnan sekilas, entah kenapa jika aku merasa dia terlihat lebih menyedihkan saat ini, dia terlihat semakin kurus dan seperti tidak merawat dirinya, apa mungkin Rubah Betina itu tidak memperhatikan Adnan?


Sudah ku duga, dia tidak memperhatikan Adnan tapi dia mempunyai banyak waktu untuk mengirimkan pesan pesan tidak berguna yang memenuhi hpku? Dasar Rubah.


Tapi yang membuatku sedikit bingung adalah, kenapa Adnan datang sendiri? Kenapa Rubah betina itu tidak mendampingi Adnan di acara besar seperti ini? Bukankah seharusnya ini menjadi ajang yang paling sempurna untuk si Rubah memamerkan kemesraannya di depan umum sebagai pengantin baru dan memanasiku?


Aku sungguh tidak mengerti.


Aku tidak lagi memperhatikan Adnan, aku kembali fokus dengan pekerjaanku. Aku hanya tidak ingin menambah masalah baru saat masalah lama saja masih belum selesai. Lagi pula, ini hanyalah sebuah kebetulan yang murni kebetulan, tidak ada unsur kesengajaan sama sekali.


Para tamu terlihat sangat menikmati pesta malam ini. Aku dan Zodiak juga tertawa bersama saat harus menyanyikan lagu gembira dengan tempo yang cepat.


Jam sebelas malam, aku dan Zodiak beristiharat sebentar, duduk dengan segelas wine di hadapan kami.


"Sya?" Suara yang terdengar akrab itu membuatku tersentak.


Aku menoleh ke arah sumber suara, dan merutuk dalam hati saat mendapati Adnan di sana. Aku tidak tau harus menjawab apa, aku masih diam hingga Zack, vocalis Zodiak meledekku habis habisan.


"Cie... yang di hampiri pacarnya sampai kehilangan kata kata saking terharunya?" Ledekan Zack membuatku mati gaya, dan aku ingin melemparkan Zack dari lantai lima detik ini juga.


Mungkin Zack berpikir jika aku dan Adnan adalah pasangan kekasih, dan Adnan menemaniku saat bekerja. Apa mata Zack terhalang sesuatu sampai tidak bisa melihat jarak yang tercipta antara aku dan Adnan?


"Zack, berhentilah menggodaku, okey? Dia bukan pacarku, tapi mantan suamiku." Aku menekankan kata mantan suami agar Adnan juga tau batasannya.


Personil Zodiak terlihat cukup terkejut, juga Arkana selaku drumer memandangiku dan Adnan secara bergantian, "kalian pernah menikah? Astaga... jangan bertengkar di sini, okey? Kami masih kecil untuk mendengar perdebatan para orang tua seperti kalian."


Zack menoyor kepala Arkara, "Dasar bodoh, kita hanya dua tahun lebih muda dari Sasya."


Arkana memegang kepalanya dan meringis, "sudah, pergi dan selesaikan urusan kalian, tidakkah kamu lihat jika pria itu sudah berdiri di sana untuk waktu yang lama?"


Arkana memberikan tatapan padaku yang mengandung maksa usiran, dia mengusirku secara halus. Tapi siapa peduli? Memangnya apa lagi yang ingin Adnan bicara kan denganku? Kami sudah berakhir dan hubungan kami juga sudah berhenti. Titik.

__ADS_1


"Sya, ada yang ingin aku katakan," suara Adnan terdengar lagi. Aku bahkan tidak tau kenapa Adnan masih di sana dan tidak kunjung pergi?


__ADS_2