Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 46


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu. Furi memberikan informasi tentang kondisi Carla melalui peretasan sistem keamanan rumah Adnan secara berkala. Tidak ingin melewatkan moment moment saat Carla harus kehilangan sumber daya dari Zidan.


Namun, khusus hari ini, aku datang secara langsung ke tempat Furi dengan Miranda bersamaku.


"Kartu kredit adalah yang terpenting, tapi sepertinya Carla masih terlihat baik baik saja meski tanpa uang dari Zidan?" Ucap Miranda setelah melihat kondisi Carla beberapa jam yang lalu dari rekaman CCTV yang berhasil Furi retas.


"Dia tidak akan jatuh miskin meski tanpa Zidan, okey?" Ucapku dengan nada datar, tentu Carla bukan poin utamanya, karena Adnan adalah supplier resmi keuangan Carla saat ini. Mengingat jabatan Adnan di perusahaan, jelas Carla tidak akan kekurangan apapun.


Furi mengalihkan pandangannya kepadaku, "Adnan?"


Aku mengangkat bahu, "memangnya siapa lagi kalau bukan Adnan? Apa kamu lupa jika Adnan hanyalah sebuah lelucon yang di anggap tidak lebih dari sebuah mainan oleh Carla?"


Miranda mengangguk, "tentu saja, wanita seperti itu hanya akan mencintai dirinya sendiri, tidak mungkin mencintai orang lain."


"Lalu, apa kalian tidak berpikir jika bayi yang di kandungnya bukanlah anak Adnan?" Furi mengajukan pertanyaan yang aku sendiri juga tidak tau apa jawabannya.


Aku menggeleng, "entahlah.. hanya mereka dan Tuhan yang tau," jawabku. Merasa marah dan kesal saat harus mengingat peristiwa buruk itu.


"Apa kalian tidak memperhatikan jika wanita itu terlihat semakin kurus belakangan ini?" Furi menunjuk layar laptopnya, memperbesar tangkapan layar dengan fokus pada postur tubuh dan wajah Carla, "wajahnya selalu tampak pucat."


"Mungkin dia depresi karena Adnan tidak pulang beberapa hari ini, dia juga terlihat melakukan semuanya sendiri tanpa seorang pembantu," ucap Miranda sekenanya. Tidak ingin membicarakan hal baik apapun tentang Rubah betina itu.


"Sepertinya dia memang tidak memiliki pembantu," ucapku menanggapi, karena berdasarkan video yang Furi kirimkan, tidak pernah menunjukan orang lain selain Carla dan hanya Carla.


"Apa Carla tidak mempunyai penyakit kronis atau apapun itu?" Furi menoleh kepadaku, meminta jawaban.


Aku menggelengkan kepala, "tidak ada," aku menghela nafas panjang, "sayangnya, dia sangat sehat dan sangat baik sejauh ini, hanya sedikit tertekan dengan kejadian beberapa hari terakhir saat semua fasilitasnya di ambil Zidan. Mungkin itu yang mempengaruhi kondisi kejiwaannya."


"Ada berapa banyak CCTV di rumahmu?" Furi bertanya dengan serius.


"Hei.. itu rumah Adnan, okey? Bukan rumahku lagi! Jadi berhenti berbicara omong kosong!!" Aku berteriak pada Furi, merasa tidak terima dengan ucapannya.


"Okey, okey, maksudku rumah Adnan bukan rumahmu, lalu ada berapa banyak CCTV di rumah Adnan? Puas??"


"Belum puas, tapi.. tidak buruk," aku berpikir sebentar, berusaha untuk mengingatnya, "entahlah, aku juga tidak tau pastinya. Meskipun aku sudah cukup lama menempatinya, namun aku tidak sekalipun memperhatikan ini. Tapi.. ada CCTV di masing masing kamar, salah satunya ada di kamar Adnan, tapi Adnan selalu mematikannya, " ucapku sedikit ragu, tidak yakin dengan rumah yang pernah ku tempati selama beberapa tahun belakangan.

__ADS_1


"Carla belum keluar dari kamarnya sejak dua jam yang lalu." Ucap Furi santai, namun mengandung makna yang dalam jika mampu mengartikannya.


"Mungkin dia sedang tidur di kamarnya," Miranda menebak dengan gamblang, seakan itu hanyalah masalah kecil yang tidak pantas di besar besarkan.


"Tidak mungkin, dia tidak pernah tinggal lama di kamarnya pada jam sepuluh pagi, okey?" Furi menyanggah analisa Miranda dengan bukti nyata dari rekaman yang di dapatnya sehari hari.


"Cie.. yang selalu memperhatikan Carla? Cie.." Miranda tersenyum, meledek Furi habis habisan.


"Memangnya siapa yang memintaku untuk memantau Carla setiap hari??" Furi menaikan nada suaranya. Seakan tidak terima dengan ledekan Miranda.


Miranda meringis, "okey.. okey, sudahlah, aku salah," Miranda mengangkat ke dua jarinya membentuk huruf V, mengibarkan bendera perdamaian.


Furi melengos, tidak menanggapi ajakan damai Miranda karena sudah terlanjur kesal, kembali melanjutkan aktifitasnya untuk menghidupkan CCTV pada kamar Adnan.


Beberapa menit kemudian, "kalian tidak percaya padaku kan? Tapi lihatlah sendiri.. Carla memang tidak berada di kamarnya," ucap Furi setelah berhasil menembus sistem keamanan dan kemudian mengambil alihnya. Menemukan kamar yang kosong, tidak ada Carla di sana.


Aku tersentak, bagaimana mungkin Carla tidak berada di sana? Sebelum aku memberi Furi instruksi untuk mempreview video ke beberapa menit yang lalu, Furi sudah terlebih dahulu melakukannya. Namun dalam waktu tiga puluh menit yang lalu, tidak ada gerakan mencurigakan apapun di dalam kamar. Furi kembali mempreview dari satu jam yang lalu, dan menemukan Carla memasuki kamar mandi, dan itu SATU JAM YANG LALU?? Apa yang kira kira Carla lakukan di sana?


Aku mulai khawatir, merasa ini bukan sesuatu yang baik, tidak mungkin Carla bunuh diri kan? Sangat tidak mungkin, itu bukan gayanya. Lalu.. apa mungkin Carla melahirkan di kamar mandi dan kemudian membunuh bayinya??


"Sepertinya kita perlu memastikan keadaannya?" Furi memberikan pendapat.


"Bukan ide yang buruk. Aku setuju, lagi pula aku ingin melihat kondisi depresi Carla, " ucap Miranda menyetujui usul Furi.


Aku mengangguk, "aku juga merasa khawatir dengan anak nakal itu, takut dia sedang melahirkan dan kemudian membunuh bayinya di kamar mandi."


Mendengar ucapanku, Miranda dan Furi menoleh ke arahku, "dasar gila, Ibu tiri l*knat!!" Ucap Furi dan Miranda serempak, seakan menyanggah pemikiranku yang terasa konyol.


〰〰〰


Lima belas menit adalah waktu yang di butuhkan untuk tiba di rumah Adnan. Furi mendobrak pintu karena pintunya terkunci dari dalam.


"Ayo.. apa kamu ini pria? Bahkan mendobrak pintu saja, kamu tidak memiliki tenaga!!" Miranda meremehkan Furi karena Furi terlalu lembek untuk ukuran seorang pria.


"Kamu sangat berisik! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya??" Ucap Furi sambil terus berusaha untuk mendobrak pintu yang tidak kunjung terbuka.

__ADS_1


Brak.. pintu terbuka.


"Kerja bagus," aku menepuk pelan bahu Furi seraya masuk ke dalam, mengawasi tempat itu dari sudut ke sudut, dan berjalan ke lantai dua di sertai dengan Furi dan Miranda yang mengikutiku di belakang.


Mengetuk pintu setelah kami tiba di depan pintu kamar Adnan. Beberapa kali mengetuk, namun situasi kamar masih sunyi, tidak ada tanggapan sama sekali. Aku memberanikan diri untuk memutar gagang pintu, dan menemukan jika sebenarnya ini tidak di kunci.


"Carla, are you there? (Apa kamu di sana?)" Ucapku seraya melangkahkan kaki ke dalam, "Carla??" Panggilku lagi, namun masih tidak ada jawaban.


Aku mendekat ke arah kamar mandi, dan mengetuk pintunya, "Carla, are you alright?? (Apa kamu baik baik saja?)"


"Sasya, is that you?? (apa itu kamu??)" Suara Carla dari dalam kamar mandi.


"Yes, its me, are you okey inside?? (Ya, ini aku, apa kamu baik baik saja di dalam??)"


"No, im not fine, please.. help me!! (Tidak, aku tidak baik, tolong aku!!)" Suara Carla di sertai dengan rintihan.


"Furi!! Cepat!! Dobrak pintunya!!" Aku memberikan perintah, kali ini aku benar benar panik.


Furi mendekat dan mendobrak pintunya.


Braak..


Aku masuk begitu pintu kamar mandi terbuka, "Astaga... Carla, apa yang terjadi??"


〰〰〰


Yang minta POV Adnan, tenang aja, nanti juga akan ada penyesalan Adnan, sekarang belum waktunya, okey??


Sabar ya saiiank, orang sabar rejekinya besar.. aamiin.. 😉.


Ini baru permulaan buat si Rubah, masih banyak hal buruk yang akan menimpa Rubah selanjutnya, so.. favouritkan!!


Aku up jam 00.11, kita lihat reviewnya berapa lama..


Udah.. itu aja, tengkyu.. 😘

__ADS_1


__ADS_2