
➡➡➡
Cepat atau lambat yang suka mempermainkan akan di permainkan pada waktunya, karena KARMA tidak akan salah alamat. #unknown
➡➡➡
Hari sudah berganti. Waktu beberapa bulan sebenarnya tidaklah cukup, terasa begitu singkat sampai aku tidak menyadari jika masaku untuk pergi dari rumah ini jatuh pada hari ini, tanggal ini, bulan ini, dan tahun ini.. akan menjadi kenangan paling mengerikan yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.
Bahkan cuaca panas tidak lagi aku rasakan, hatiku hancur dan hancur. Tidak ada kata kata indah yang bisa ku rangkai, ataupun hal istimewa yang mampu ku urai. Mungkin ini tidak pernah berarti apapun untuk Adnan.
Saat aku menyadari, kami berjumpa delapan tahun lebih, bersama hampir tujuh tahun, bahkan Adnan menikahiku lima tahun lalu, tapi entah kenapa aku seperti sudah terbiasa untuk hidup dengan Adnan.
Aku melipat pakaianku, kemudian aku memasukannya ke dalam koper. Tidak banyak baju yang akan ku bawa, hanya ada beberapa pakaian yang biasa ku pakai sehari hari.
Aku turun ke lantai bawah, menyeret koperku. Mengawasi ruang tamu, ada banyak kenangan yang tercipta di sini. Aku menoleh ke arah dimana foto kebersamaan ku dengan Adnan tersemat. Foto yang di ambil enam tahun lalu masih terpampang nyata dalam ingatan.
...Foto VISUAL ADNAN & SASYA...
Tapi sayang, semua seakan terlupa begitu saja. Seakan tidak terjadi apapun, seakan kembali asing satu sama lain.
Terlihat sebuah mobil memasuki halaman, mobil mewah berlabel Porsche Cayman berwarna merah ini sukses mencuri perhatianku, bukan karena design mobilnya yang membuatku terkejut, tapi karena si pengemudi mobil yang membuatku muak dan ingin muntah. Siapa lagi jika bukan Adnan dan Rubah betina itu. Pasangan selingkuh menjijikan yang tidak akan pernah mati.
Orang orang macam ini yang betah hidup sampai ribuan tahun serta ikut andil dalam menghancurkan peradaban umat manusia.
Rubah betina itu turun dari mobil dengan Adnan yang membukakan pintu mobil untuknya.
"Cuih, dasar manja," ucapku dalam hati. Merasa risih melihat gelagat mereka yang pamer keromantisan di hadapanku. Namun sayang sekali, cemburu tidak berlaku untukku, apa lagi jika itu untuk pria sebr*ngsek Adnan. Tidak ada gunanya.
Si Rubah berjalan mendekat ke arahku, dengan satu tangan memegang tas branded limited edision, dan satu tangan bergelayut manja pada lengan Adnan. Sementara Adnan tidak menolak juga tidak menanggapi, seakan tidak peduli dan masa bodoh dengan drama membosankan ini.
__ADS_1
"Hai Sasya, sudah sejauh mana persiapanmu untuk hengkang dari rumah ini , uupss.. maksudku adalah rumahku?" Ucap si Rubah penuh ejekan dengan nada suara yang terdengar halus di telinga, sama sekali tidak cocok dengan kepribadian si Rubah yang menyimpang.
Aku berpikir sebentar, "ku rasa ini sudah cukup," Aku menunjuk sebuah koper kecil yang tergeletak di sampingku.
"Jangan bercanda? Kamu akan membutuhkan banyak baju setelah kamu pergi dari rumah ini. Apa perlu ku bantu untuk packing pakaianmu?" ucap si Rubah seraya tertawa, mungkin merasa lucu dengan ucapannya sendiri.
Sementara aku hanya menggelengkan kepala melihat ini. Merasa prihatin dengan tingkah laku istri baru Adnan yang masih kekanak kanakan. Pantas saja Adnan tidak merasa bahagia dengan pernikahannya, bahkan jika melihat dengan mata batinku, sepertinya Rubah ini hanya cocok menjadi seorang simpanan dari pada menjadi seorang istri apalagi seorang Ibu.
"Aku rasa tidak perlu, ini sudah cukup, tapi terimakasih banyak atas tawarannya, aku merasa tersanjung. Sebagai ucapan terima kasihku, biar ku beri sedikit nasihat.. wanita yang tengah hamil besar sepertimu, sebaiknya jangan banyak berbicara, itu tidak baik untuk kandunganmu. Diam adalah pilihan yang baik. Percayalah.. aku juga pernah hamil, bayi Adnan juga." Ucapku dengan serius. Tentu saja aku sangat serius untuk membuat si Rubah diam, dia terlalu berisik.
"Begitu ya? Baiklah.. aku akan berhenti bicara, aku tidak akan membuang suaraku untuk hal yang tidak penting, jadi aku sangat berterima kasih dengan nasihatmu," si Rubah mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Carla, bisakah kamu membuatkanku minum, sebagai tuan rumah, tidakkah kamu ini keterlaluan membiarkan tamu sepertiku kehausan," ucapku seraya duduk pula di atas sofa.
"Apa?" Si Rubah terkejut mendengar ucapanku.
"Kenapa kamu terkejut? Bukankah kamu adalah pemilik rumah ini sekarang? Jadi apa yang salah jika aku meminta air minum kepada pemilik rumah?"
Ekspresi kaget si Rubah berubah menjadi biasa dalam hitungan detik, "Tidak sulit, aku akan meminta Bibi untuk membuatkannya untukmu. BIBI...!!!" Teriak si Rubah nyaring untuk memanggil Bibi.
Mendengar ini, si Rubah menoleh ke arah Adnan untuk mencari kejelasan, dan Adnan mengangguk tanpa ragu hingga membuat ekspresi cantik Rubah seketika berubah menjadi suram.
Si Rubah berdiri, "sudah, tidak perlu basa basi lagi, cepat angkat kaki dari rumahku!! Aku muak melihat wajahmu!!" Ucap si Rubah seraya mengarahkan tangannya pada pintu, seakan memintaku keluar detik ini juga.
Di usir, adalah penghinaan paling hina yang pernah aku terima sepanjang hidupku. Tapi aku juga tidak memiliki kuasa untuk melawan. Ini memang bukan rumahku, jadi sudah sewajarnya jika aku di depak keluar dengan cara seperti ini.
"Baiklah," Aku berdiri, "Memangnya siapa yang ingin tinggal di Rumah ini?" Aku berkata dengan percaya diri, "jika kamu mau b*jingan ini, ambil saja!! Bos kaya raya baru suamiku," Ucapku seraya berjalan keluar dengan cepat sembari menyeret koperku, seakan aku tidak lagi membutuhkan rumah ini.
"Hei, dasar tidak tau malu," Rubah berjalan menyusulku ke halaman, juga Adnan yang stand by di sisi Rubah dengan patuh, "memangnya bos mana yang sudi memperistri wanita sepertimu?"
Aku menghentikan langkahku, menoleh ke arah si Rubah, "memangnya wanita seperti apa aku? Tidakkah seharusnya kamu mengajukan pertanyaan itu untuk dirimu sendiri?"
__ADS_1
"Cuih, dasar pembual. Aku tidak mempercayai ini, mari kita lihat Tuan tanah mana yang akan menjadi suamimu," si Rubah berkata dengan arogan.
Apa apaan ini? Si Rubah sungguh sungguh menantangku? Apa dia tidak takut petir akan menyambarnya? Namun aku sama sekali tidak meperdulikan kata kata provokatif si Rubah. Aku hanya tersenyum simpul saat sebuah mobil Chevrolet Camaro tipe SS, bergaya sporty masuk ke halaman.
Mungkin hanya aku yang tidak terkejut saat melihat siapa yang turun dari mobil saat mobil itu berhenti tepat di depan kami.
Rubah itu tertegun, "Papa?"
"Om Zidan?" Adnan tidak kalah terkejut.
Zidan mendekatiku, "apa kamu sudah selesai? Bisa kita pergi dari sini sekarang?" Zidan berucap santai dengan mengenggam tanganku, seakan hanya ada kami berdua di sini dan tidak ada yang lain.
"Papa, apa maksudnya ini?" Si Rubah berbicara dengan nada panik.
"Memangnya apa lagi?" Aku mendekat ke arah Rubah, "kamu merebut suamiku, maka ku rebut Papamu."
➡➡➡
Yeay.. TAMAT..
Tapi..
BOONG.. 😆😆.
Soalnya masih byak hal yang perlu di ulas di sini. Kalo tamat sekarang, banyak banget hal yang akan menggantung.
Mungkin aku halu tingkat tinggi bgt pas bikin chapter ini, tapi.. bodo amat..
Alasannya sederhana, yaitu karena gak di dunia nyata, film, novel, komik, yang namanya pelakor biasanya menang terus, kalopun kalah juga pas di ujung, itupun karena dapat azab ketiban meteor.
Jadi aku ingin buat si cabe kiloan tau rasa.
__ADS_1
Ya udah, gitu aja.
Tengkyu.. salam sayang dari aku, 😙😘😚