
Adnan memandangi siluet Sasya hingga menghilang sepenuhnya, kemudian meremas rambutnya dengan frustasi. Adnan menangis sesenggukan. Merasa jika hidupnya sudah hancur sepenuhnya saat Sasya lebih memilih Ayah Carla dari pada dirinya. Dia tau jika dia adalah pria br*ngsek, namun kebr*ngsekannya juga bukan berasal dari dirinya, melainkan berada di bawah ancaman Carla.
Adnan menghidupkan ponselnya, menghubungi seseorang lewat sambungan telepon, "siapkan secepatnya, aku akan tiba di sana dalam setengah jam!" Ucap Adnan sebelum memutuskan panggilan.
〰〰〰
Adnan masuk ke dalam ruang rawat inap Carla, melemparkan sebuah map tepat di wajah Carla, "tanda tangani itu!!" Ucapnya penuh penekanan. Adnan yang terlebih dulu mengambil surat perceraiannya di kantor pengacaranya, segera pergi ke rumah sakit tanpa menunggu lagi. Ingin segera mengakhiri semuanya.
Carla yang semula bahagia karena kedatangan Adnan, mendadak suram saat mendapatkan perlakuan seperti ini. Tidak menyangka jika pria yang sangat di cintainya tega melakukan hal ini, yaitu memintanya untuk menandatangani surat cerai. "Aku tidak mau," Carla melemparkan surat cerai itu ke lantai. Menolak dengan tegas keinginan Adnan. Carla menyadari jika Adnan memang tidak pernah mencintainya, namun Carla masih tidak menyerah untuk mempertahankan pernikahannya.
Adnan menyeringai, "kenapa?"
"Kenapa kamu masih bertanya?? Jawabannya tentu karena aku sangat mencintaimu? Apa itu masih belum cukup??" Suara Carla meninggi.
"Cinta??" Adnan mengambil surat cerai di lantai, "sejak kapan ada cinta di dalam pernikahan ini? Ha?? Kamu hanya mencintai dirimu sendiri!! Tandatangani atau aku akan memasukanmu ke penjara!!!"
Carla tersentak mendengar ini, bagaimanapun itu adalah ancaman yang selalu dia gunakan untuk mengancam Adnan selama ini. Tidak menyangka jika ancaman itu berbalik kepadanya. Meski marah, namun Carla tidak bisa melakukan apapun. Ini memang salahnya sejak awal, jadi sudah sewajarnya jika dia mendapat karma buruk pada akhirnya.
__ADS_1
Adnan melemparkan sebuah bulpoin kearah Carla. Carla mengambilnya dengan gemetar. Meski enggan, namun dia tidak memiliki pilihan lain selain menandatanganinya.
"Terima kasih, Carla," ucap Adnan setelah Carla menyodorkan kertas yang sudah di tandatangani, kemudian melangkah pergi tanpa menghiraukan raut wajah Carla yang sudah berubah masam.
Carla menangis pilu setelah melihat Adnan benar benar pergi meninggalkannya, kehilangan anak, kehilangan rahim, dan sekarang.. kehilangan Adnan.
Carla meraih sebuah pisau buah di atas nakas, sebuah pisau yang biasa Sasya gunakan untuk mengupas buah buahan untuknya. Carla memandangi pisau itu lekat. Merasa takut untuk melakukannya, namun apa gunannya juga dia hidup jika dia sudah hancur??
Carla memejamkan mata, dan mengarahkan pisau itu ke urat nadinya.
〰〰〰
Aku panik, "DOKTER..." aku berteriak sekencang mungkin untuk memanggil Dokter. Kemudian Dokter datang dan segera memeriksa kondisi Carla.
Beberapa saat kemuduan, aku menghela nafas lega begitu Dokter selesai memasangkan perban pada pergelangan tangan Carla dan mengganti cairan infus menjadi cairan darah. Tidak ada yang serius, meski Carla belum sadarkan diri, namun wanita itu hanya pingsan karena kehabisan banyak darah.
Dokter mengatakan jika Carla depresi hingga berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan memotong nadinya sendiri. Namun beruntung karena aku menemukannya lebih cepat. Tidak tau apa yang melatar belakangi Carla sampai nekat berbuat seperti itu.
__ADS_1
Wanita itu masih baik baik saja saat aku meninggalkannya beberapa saat yang lalu. Wanita itu juga masih menunjukkan raut wajah yang biasa saja, tidak menunjukan tanda tanda depresi ataupun stres.
Dua jam menunggu namun Carla masih betah memejamkan matanya. Zidan memelukku erat, juga Caramal dan Kirani yang sama sama diam. Tidak ada yang ingin membuka mulut untuk berbicara. Semua seakan kehilangan kata kata saat di hadapkan dengan wanita menyedihkan di depan mereka.
Perlahan lahan.. mata Carla mulai terbuka, aku dan Zidan saling bertatapan sebelum akhirnya kami berhambur ke ranjang dimana Carla berbaring, "dimana aku??" adalah pertanyaan yang Carla ucapkan begitu dia sadar.
"Semua baik saja," aku mencoba menenangkan Carla, "kamu masih di Rumah Sakit, namun ruangan yang berbeda, Dokter memindahkanmu ke ruangan lain," aku menjelaskan karena ruang ini berbeda dengan ruang sebelumnya, ada sebuah CCTV di kamar ini untuk memantau pasien selama dua puluh empat jam, untuk menghindari Carla berbuat hal aneh lagi.
Tiba tiba Carla memelukku, "Adnan menceraikanku." Carla menangis terisak.
Mendengar ini, aku menoleh ke arah Zidan, menatapnya dengan tatapan rumit. Karena sejujurnya aku dan Zidan sudah mengetahui ini saat Adnan datang untuk menjenguk Kirani. Jadi kami tidak lagi terkejut.
"Carla, ini bukan akhir dari segalanya," aku menepuk pelan punggung Carla, "kamu juga tidak sendiri. Kamu memilikiku, Zidan, Caramel dan juga.. Kirani. Kami semua sangat menyayangimu, jadi.. jangan pernah melakukan hal konyol apapun untuk mengakhiri hidup. Kita adalah keluarga sekarang, apa kamu mengerti??"
Carla menghentikan tangisannya, melepaskan pelukanku, mengawasi sekitarnya, dan kemudian tersenyum hangat, "terima kasih, Sya. Terima kasih karena telah mengubah hidupku menjadi lebih baik."
END.
__ADS_1
〰〰〰
Maksa banget sih tamatnya, tapi ya udahlah.. TAMATIN aja.. 😆😆😆