
#Hamil??
➡➡➡
Rasa sakit yang paling sakit adalah ketika seseorang membuatmu teramat istimewa kemarin, kemudian membuatmu begitu tidak di inginkan sekarang. #unknown.
➡➡➡
Semenjak Kirani sakit sampai satu bulan berlalu, aku hanya bertemu dengan Adnan satu kali. Itupun saat Adnan menjenguk Kirani di rumah sakit dengan wajah lebam dan biru.
Adnan hanya akan menelepon sekali atau dua kali untuk menanyakan tentang surat cerai yang nyatanya sampai detik ini belum juga aku tanda tangani. Adnan sama sekali tidak memaksaku untuk menanda tanganinya, jadi ya... santai saja.
Hari ini, pagi pagi sekali Haris menjemput Kirani untuk di ajak ke Kebun Binatang oleh Ibuku seharian penuh. Jadi bisa di pastikan jika aku akan sangat bosan seharian ini tanpa kehadiran Kirani.
Aku melihat koran untuk mencari lowongan pekerjaan, menandai beberapa apotik yang membutuhkan jasa seorang Apoteker, juga membuka internet untuk melihat lihat apakah ada lowongan pekerjaan yang sesuai untukku. Namun, kebanyakan perusahaan hanya membutuhkan Supervisor ataupun Marketing, dan tidak membutuhkan seorang ahli gizi.
Mungkin aku akan mengunjungi beberapa apotik besok untuk mencari tahu tentang kejelasan lowongan pekerjaan yang terlampir di koran.
Aku menutup laptopku dan memanggil Miranda untuk mengajak bertemu.
...
Satu jam kemudian, kami bertemu di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat Miranda bekerja. Miranda adalah seorang psikolog yang bekerja pada Komnas Perlindungan Anak dan Perempuan.
Miranda adalah seorang janda yang cantik jelita dengan body aduhai, yang bercerai satu tahun setelah menikah karena ketidak cocokkan akibat dari perjodohan orang tuanya, juga sahabat baikku sejak dulu saat kami masih di Fakultas hingga sekarang.
"Hai," sapa Miranda menghampiriku dan kemudian mencium kedua pipiku, "Maaf membuatmu menunggu, aku sangat menyesal." Ucap Miranda mendudukkan dirinya di hadapanku.
"Santai saja, aku punya banyak waktu luang," jawabku, "aku sudah memesan secangkir cokelat hangat untukmu."
"Thank you dear, aku memang merasa sedikit tertekan belakangan ini. Btw, dimana Kirani? Apa dia tidak ikut?" Tanya Miranda sambil melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Kirani.
__ADS_1
"Haris menjemputnya pagi ini, mereka akan membawa Kirani ke kebun binatang."
"Baguslah, aku merasa lega karena Ayah dan Ibumu sangat peduli terhadap Kirani. Lalu bagaimana dengan Haris?"
"Haris?? Em.. Haris membuat Adnan babak belur satu kali, dan sampai sekarang Haris tetap diam di rumah dan tidak berulah lagi," ucapku seraya tertawa lebar saat mengingat wajah lebam Adnan saat menjenguk Kirani di rumah sakit.
Mendengar ini, Miranda ikut tertawa, "Haris tidak begitu mengecewakan, dia bisa di andalkan."
"Tapi dia sudah membuat anak orang babak belur."
"Lalu apa bedanya? Adnan juga sudah membuat hidup anak orang hancur."
Aku mengangkat sebelah tangan ke atas, "okey, kamu menang."
Miranda tersenyum penuh kemenangan saat melihat aku telah menyerah. "Apa kamu sudah menandatangani surat cerainya?"
Aku menggelengkan kepala, "belum, lagi pula Adnan tidak pernah memaksaku, jadi aku merasa sedikit santai, tidak begitu terbebani."
Tiba tiba hp ku bergetar, sebuah notifikasi whatsapp dengan nama J*LANG yang tertera. Aku membuka isi pesannya dengan malas, dan aku juga tidak terkejut sama sekali dengan isi pesannya. Hanya sebuah gambar hasil USG, beserta buku Kesehatan Ibu dan Anak.
"Ku pikir selingkuhan suamimu adalah tipe wanita yang suka membuat sensasi hanya karena ingin di perhatikan, juga seseorang yang kesepian.. mungkin?"
"Entahlah, aku hanya tahu jika dia adalah seorang pekerja di HS Group. Dia kesepian atau tidak, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku."
"Berdasarkan analisaku sebagai seorang psikolog, sepertinya bukan kamu yang tidak rela dengan perpisahan ini, tapi Adnan sendiri yang tidak rela untuk melepas kamu dan Kirani."
"Omong kosong, jika Adnan memang berat melepasku, dia tidak akan pernah memintaku untuk menandatangani surat cerai itu."
"Tapi Adnan memang tidak pernah memintamu untuk menandatanganinya bukan?"
Aku memutar bola mataku, mulai memikirkan ucapan Miranda. Adnan memang tidak pernah memintaku untuk menanda tangani Surat Cerai itu, Adnan hanya meninggalkannya di nakas tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Itu lebih tidak mungkin, Adnan tetap seorang k*parat yang harus di beri sianida agar cepat menghadap Tuhan."
"Jadi kamu meragukan analisa seorang psikolog sepertiku? Percaya saja, itu tidak akan rugi. Lagi pula J*LANG itu yang selalu memanasi dan mencoba membuatmu cemburu. Jelas dia berniat membuatmu agar segera melepas Adnan."
"Benarkah?"
"Aku yakin jika J*LANG itu tidak pernah berhasil untuk menekan Adnan, maka dari itu dia menekanmu. Dia sudah hamil delapan minggu, jadi dia mulai gelisah dengan kehamilannya. Mereka tidak akan bisa menikah selama kamu belum bercerai dengan Adnan, okey?"
Aku mengangguk, apa yang di katakan Miranda memang benar. Aku yakin jika J*LANG itu tengah mengupayakan banyak hal juga sumber daya terbaik untuk perceraianku dengan Adnan. Namun, J*LANG itu sungguh meremehkan ku, sebagai seorang istri sah, bohong jika aku berkata tidak cemburu.
Aku memang terbakar amarah dan cemburu tentunya, tapi setidaknya aku masih bisa mengendalikan amarahku sendiri. Plus, aku juga masih bisa berpikir dengan sangat jernih.
"Lupakan saja, anggap aku tidak pernah mengatakan apapun."
"Tapi kamu sudah terlanjur mengatakannya, jadi bagaimana mungkin aku bisa untuk melupakannya?"
"Terserah kamu saja, itu bukan urusanku. Apa kamu sudah menemukan pekerjaan?" Pertanyaan Miranda membuatku merasa pusing seketika.
Aku menggeleng, "masih belum, aku lulusan fakultas Farmasi, dan cukup sulit untuk mendapatkan pekerjaan di Rumah Sakit jika mengingat usiaku yang sudah setua ini. Sedangkan untuk di kantoran, aku tidak memiliki skill sama sekali. Tapi aku akan pergi ke beberapa Apotik untuk melamar pekerjaan sebagai Apoteker."
"Tunggu saja, nanti kamu juga akan menemukan pekerjaan, aku akan membantumu untuk mencarikan pekerjaan yang mungkin cocok denganmu. Apa kamu masih bisa menyanyi?"
Aku berpikir sebentar, "aku tidak yakin."
"Sepupuku mempunyai sebuah cafe terkenal, cafe bintang lima dengan para pengunjung kebanyakan kaum high class. Jika kamu mau aku bisa mempromosikanmu agar menjadi penyanyi di sana. Gajinya memang tidak terlalu tinggi, tapi setidaknya itu cukup untuk meluruskan otakmu yang mulai ikal."
Aku merengut, "s*alan, aku bahkan tidak pernah sewaras ini sepanjang hidupku. Bukankah dulu aku lebih gila darimu?" Ucapku seraya menertawai diriku sendiri.
Miranda tertawa, "apa kamu yakin akan ada orang gila yang mengaku dirinya gila?"
"Dasar Psikolog gadungan."
__ADS_1
"Sudahlah, kamu mau ikut atau tidak? Aku akan pergi ke salon untuk perawatan wajah."
"Boleh boleh.." mataku berbinar, "kebetulan aku juga perlu untuk menjadi cantik kembali, secara.. aku akan segera menyusul kamu menjadi janda."