
➡➡➡
Kamu pergi setelah menghancurkan semuanya. Tak apa.. tapi jangan kembali di saat semua terasa baik baik saja. #hyeongenest.
➡➡➡
Caramel merentangkan tangannya,"wow.. ternyata ini sangat menyenangkan." Suara Caramel menunjukan jika Caramel sangat menikmati ini.
Aku bisa menebak, jika Caramel tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Orang kaya dengan segala kerumitannya, tidak serta merta membuat mereka lepas dari apa yang di sebut dengan permasalahan. Justru permasalahan terbesar, biasanya di derita oleh para orang kaya.
Tidak mungkin kan jika Caramel memiliki masalah dengan kekasihnya? Nihil jika seorang gadis autophile mempunyai pacar. Bukannya aku meremehkan, tapi Caramel adalah gadis yang baik dan polos, jadi tidak mungkin dia mempunyai pacar.
"Kita sudah saling kenal cukup lama, tapi sampai detik ini aku belum tau siapa namamu?"
Aku tersedak air liurku sendiri, aku meringis, "benarkah?" Aku sendiri bahkan tidak menyangka jika Caramel ingin mengenalku, "aku Himalaya Gilsya, kamu mau memanggilku apa saja, terserah kamu."
"Bagaimana jika aku memanggilmu kakak? Jika aku memanggilmu tante, aku rasa itu tidak cocok karena kamu lebih pantas jadi kakakku dari pada jadi tanteku."
Dasar gadis ini, "okey, tidak terlalu buruk, aku menyukainya," jawabku seraya menambahkan kecepatan laju motorku.
Beberapa saat kemudian, aku menghentikan motorku di depan sebuah rumah dua lantai, iya.. aku sengaja membawa Caramel ke rumah orang tuaku. Mungkin Caramel bisa merasa lebih baik dan sedikit terhibur jika bertemu dengan Helena. Plus, Helena bukan sosok yang garing, dia cerewet dan cenderung galak.
Caramel turun dari motorku, melepaskan helmnya, "Kak, dimana ini?" Caramel mengawasi sekeliling.
Mungkin Caramel merasa asing di sini, bagaimanapun ini adalah kawasan menengah ke bawah, berbanding terbalik dengan rumah mewah yang biasa Caramel tinggali.
"Nanti kamu juga akan tau, ayo masuk!" Aku membuka pintu, dan Caramel mengikuti di belakangku.
"Mama...." Teriakan nyaring Kirani begitu tau jika aku datang.
Aku merentangkan tanganku, dan menerima pelukan hangat Kirani, "kenapa? Apa Kirani sudah sangat merindukan Mama?"
Kirani mengangguk, kemudian melepaskan pelukannya, "Mama, ini siapa?" Kirani meneliti Caramel dari ujung kaki hingga ujung kepala seakan penuh tanya tentang gadis yang berada di belakangku.
"Oh, ini Kak Caramel, teman Mama, ayo beri salam." Ucapku meminta Kirani untuk berkenalan dengan Caramel.
"Hallo, Kak Caramel, aku Kirani. Senang bertemu denganmu," Kirani mendekat ke arah Caramel, menjabat tangannya dan kemudian mencium punggung tangannya.
Caramel tersenyum, "hallo, Kirani, kamu sangat pintar dan cantik, aku juga senang bertemu denganmu," ucap Caramel seraya menepuk pelan puncak kepala Kirani.
Kirani tersipu malu mendengar ucapan Caramel.
__ADS_1
"Helena, dasar anak nakal!!" Terdengar teriakan Ibuku dari arah dapur, juga suara langkah kaki yang cepat seakan menghindar dari teriakan itu.
"Ampun, Bu, aku tidak sengaja? Kenapa Ibu seperti ini padaku?" Terdengar suara ratapan ampun di sertai dengan munculnya sosok seorang gadis yang masih mengenakan seragam putih abu abu, berlari dan kemudian bersembunyi di belakangku.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa Ibu sampai seperti in..." Ibu menghentikan kalimatnya begitu melihatku, memelankan langkahnya, dan berhenti di depanku. Ibu berkacak pinggang dan mendengus kesal dengan ulah Helena.
Aku menggelengkan kepala melihat ini. Selalu seperti ini, keadaan yang sama di dalam keluargaku, "apa lagi yang Helena lakukan Bu?" Tanyaku seraya melindungi Helena di belakangku.
"Apa lagi? Memangnya ada yang bisa Helena lakukan selain membuat onar? Tentu saja dia berbuat ulah lagi. Ibu mendapat surat panggilan dari pihak Sekolah yang mengatakan jika Helena kabur dari Sekolah hari ini," ucap Ibu mulai menceritakan kronologi kenapa Ibu sampai memarahi Helena.
"Astaga, Helena.." aku menjewer telinga Helena, "kali ini kamu benar benar keterlaluan, bagaimana bisa kamu kabur dari Sekolah? Kamu itu seorang perempuan, kamu harus tau batasanmu." Aku berteriak pada Helena.
"Ampun, Kak, tapi aku sungguh tidak sengaja," Helena membela dirinya sendiri seraya meronta agar aku melepaskan tanganku dari telinga Helena.
"Apanya yang tidak sengaja? Dalam satu tahun terakhir, Ibu sudah mendapat tujuh kali surat panggilan dari pihak Sekolah karena ulahmu." Kali ini aku sudah jengah dengan tingkah nakal Helena yang sudah keterlaluan. Berbeda jauh dengan Haris yang penurut, sementara Helena? No comment.
Helena mengerucutkan bibirnya, "Kakak tidak bisa menghakimiku tanpa tau masalah yang sebenarnya."
Aku melepaskan Helena, memijit ruang di antara alisku, aku menoleh ke arah Ibu yang sudah terduduk lesu di atas sofa, "apa Ayah mengetahui ini, Bu?"
Ibu menggeleng, "belum, Ibu belum memberitahukan masalah ini pada Ayahmu. Ayah pasti akan marah besar, dan itu tidak baik untuk tekanan darahnya."
"Tunggu tunggu tunggu.. ini siapa Kak?" Helena yang baru menyadari keberadaan Caramel, kemudian mengawasi Caramel lekat. Ibu yang mendengar ini juga turut menoleh ke arah Caramel.
Helena membelalakan mata saat mendengar ucapanku, "Bagaimana bisa Kakak mengatakan aku gangguan jiwa?" Helena tidak terima dengan ucapanku.
"Lalu aku harus menyebutmu apa? Orang gila?"
Helena berkacak pinggang, "Lalu apa bedanya gangguan jiwa dan orang gila? Bukankah secara harfiah kedua kata itu memiliki makna yang sama?"
"Kamu sangat berisik, ayo.. ajak Caramel dan Kirani ke atas, aku akan melepaskanmu dari hukuman kali ini, tapi tidak untuk lain kali!" Ucapku pada Helena, kemudian aku menoleh ke arah Caramel, "Caramel, nikmati harimu, okey? Bersenang senanglah dengan Helena, hm??"
Caramel mengangguk, "terima kasih."
"Siap Kak." Helena kegirangan karena sudah aman dari omelan Ibu dan juga hukumanku, "Caramel, panggil aku Helena, okey? Aku akan menjadi kakakmu mulai hari ini, jadi hormati kakakmu sekarang." Helena menarik tangan Caramel ke lantai atas.
"Tante Helena, tunggu Kirani!!" Kirani berteriak seraya menyusul Caramel dan Helena yang mulai menghilang.
....
...
__ADS_1
..
Beberapa jam sudah berlalu, waktu bahkan sudah menunjukan jam lima sore, tapi para gadis masih belum keluar juga dari kamar Helena.
Aku menghela nafas panjang, apa yang para gadis itu lakukan sebenarnya? Aku naik ke lantai dua, dan segera masuk ke kamar Helena tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Aku tersenyum saat melihat Helena tengah memakaikan cat kuku pada kuku Caramel dengan telaten, juga Kirani yang sedang meniup kuku jarinya yang juga sudah tertempel cat kuku.
"Astaga Caramel.. ada apa dengan wajahmu?" Aku terkejut melihat Caramel yang tampak berbeda jauh dari pertama Caramel tiba di sini.
Caramel meringis, "apa ini aneh?" Caramel meneliti penampilannya lagi. Baju Helena dan juga riasan ringan yang Helena aplikasikan ke wajahnya mungkin sedikit berlebihan.
"Apanya yang aneh? Kamu justru terlihat sangat cantik, Caramel? Sepertinya kamu perlu berterima kasih pada Helena karena telah membuatmu secantik ini." Aku memuji hasil karya Helena dengan mengangkat ibu jariku, "kerja bagus, Helena."
"Tentu saja, aku tidak akan pernah mengecewakan." Ucap Helena sombong seraya menyelesaikan olesan terakhir pada kuku Caramel, dan kemudian membantu Caramel meniup kukunya.
...VISUAL CARAMEL..
"Aku.." Caramel menghentikan kalimatnya, seperti ragu untuk mengatakan sesuatu.
Aku yang menangkap keraguan Caramel segera duduk di sebelahnya, "ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu? Berbagi adalah pilihan yang bijak, tidak hanya kebahagiaan yang harus di bagi, tapi masalah juga demikian. Setidaknya itu tidak akan membuatmu sakit dan menderita sendirian."
"Sejujurnya aku sangat senang bisa bertemu kalian," Caramel menghela nafas panjang.
Aku, Helena dan Kirani mulai mendengarkan ucapan Caramel dengan seksama.
"Aku sendiri dan selalu sendiri selama lima belas tahun terakhir. Tidak ada siapapun yang bisa ku ajak bicara," Caramel meneteskan setetes air mata pada akhir kalimatnya.
Helena tampak terkejut, namun sedetik kemudian, Helena memeluk Caramel erat, seraya menepuk bahu Caramel, "sekarang kamu tidak sendiri lagi, kamu punya aku, okey? Aku janji akan menjadi kakak yang baik untukmu, tapi kamu juga harus janji jangan sedih lagi."
Caramel melepaskan pelukan Helena, kemudian tersenyum, "terimakasih."
Aku tersenyum melihat ini. Ini sangat manis. Aku merasa jika Helena sudah tumbuh dewasa hanya dalam waktu beberapa detik.
Caramel menyeka sisa air mata pada ujung matanya, menoleh ke arahku, dan memegang tanganku, "apa kakak bisa mengantarku ke suatu tempat?"
Aku bisa melihat binar penuh harap yang terpancar dari mata Caramel, dan aku tidak sampai hati untuk menolak permintaan Caramel, "Kemana?"
"Menemui ibuku."
__ADS_1
Aku tersentak, "ibu??"