Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 27


__ADS_3

➡➡➡


Sudah terlambat, aku sudah jatuh teramat dalam. Saat itulah kamu akan menyadari betapa berartinya aku bagimu, dan kamu kehilangan satu satunya orang yang pernah memahamimu sangat.


Tolong jangan bersedih, tapi menyesalah agar nanti tidak kamu ulangi, dan cukup aku yang kamu hianati.


Aku sudah mencobanya, tapi tetap saja asing. #unknown.


➡➡➡


Aku duduk pada kursi taman di halaman samping cafe Furi, dengan Adnan uang duduk di sebelahku.


Sudah sepuluh menit kami duduk di sini, tapi Adnan masih bungkam dan masih tidak mengatakan apapun.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Cepat katakan karena aku tidak memiliki banyak waktu!!" Aku terpaksa memulai pembicaraan karena aku sudah jengah berada pada situasi canggung semacam ini.


Aku memiliki firasat jika pembicaraan ini akan menjadi pembicaraan yang dewasa dengan menghilangkan ego dan juga menghilangkan pertengkaran secara fisik. Namun akan menjadi pertengkaran batin yang justru akan menimbulkan rasa sakit untuk salah satu di antara kami.


Entah itu Adnan atau aku, tetap akan ada yang tersakiti.


"Apa kabar, Sya?" Suara Adnan terdengar parau, bukan suara manly yang dulu sering Adnan bisikan di telingaku.


Hanya beberapa minggu tidak bertemu, namun Adnan sudah banyak berubah. Mungkin dia mengalami stres karena harus mengurusi seorang wanita hamil.


"Kenapa kamu tidak mengajak Istri barumu ke sini? Bukankah memiliki istri yang masih muda dan sangat cantik itu sangat menyenangkan?" Bukannya menjawab pertanyaan Adnan, aku justru melayangkan ucapan sarkas yang memang sengaja ku lontarkan untuk memojokkan Adnan.


Benar saja, ekspresi Adnan berubah seratus delapan puluh derajat setelah mendengar ini. Mungkin di satu satu sisi dia merasa bersalah padaku, dan di sisi lainnya dia menyembunyikan kegembiraannya karena memiliki istri yang cantik.


"Jangan membicarakan dia saat kita tengah berdua." Suara Adnan terdengar sangat datar, tenang dan tenang.


Tidak sepertiku yang sudah di penuhi amarah karena ucapanku sendiri. Entah kenapa dadaku kembali terasa sesak. Rasa nyeri saat harus membicarakan wanita lain yang telah menggantikan posisiku sebagai wanita Adnan.


"Kenapa? Bukankah ini yang ingin kamu bicarakan denganku?" Aku tidak pernah menyangka jika Adnan masih bisa bersikap setenang itu. Mungkin dia berusaha untuk mengimbangi emosiku untuk menghindari perdebatan.

__ADS_1


"Sya, sudah ku katakan berulang kali jika pernikahan itu hanya sebuah formalitas? Dia hanya menginginkan buku nikah sebagai pengakuan atas suami istri yang sah secara hukum dan Agama. Aku tidak sungguh sungguh mencintai dia, dan kehidupan Rumah Tangga kami juga tidak normal, Sya."


Aku tertawa mendengar ini, " Formalitas? Lucu sekali, bahkan kamu masih sempat mengatakan kata l*knat itu saat kamu jelas jelas tidur dengannya di belakangku sampai dia hamil? HA-MIL, apa kamu tau apa artinya itu? Hubungan itu tidak di lakukan hanya sekali atau dua kali, tapi itu di lakukan berulang kali sampai benih itu benar benar tumbuh di dalam rahim." aku sengaja menekan Adnan agar Adnan sadar dengan posisinya saat ini.


Adnan diam sebentar, mungkin perkataanku cukup membuat Adnan terpukul dan memahami kesalahannya.


"Sya, kamu tidak bisa menghakimiku tanpa tau kisah yang sebenarnya? Semua yang kamu pikirkan selama ini, tidak sesuai dengan apa yang terjadi."


Aku dan Adnan saling berpandangan selama beberapa detik, aku mencoba untuk melihat kedalaman mata Adnan. Namun aku tidak menemukan arti dari tatapan itu. Semua tertutup rapat, mungkin dia menutupi rasa sesalnya karena telah melepasku dan telah memilih wanita yang salah.


Sangat lucu.


Adnan yang meminta berpisah, namun Adnan juga yang tidak rela dengan perpisahan itu sendiri. Bukankah itu sesuatu yang sangat k*nyol?


"Kamu sangat cantik sekarang? Apa setelah berpisah denganku, kamu lebih bahagia?" Ucapan Adnan membuatku tersenyum geli.


Bahagia?


"Aku cukup bahagia sekarang," aku menoleh ke arah Adnan, "ada atau tidak adanya kamu tidak banyak berpengaruh. Tanpa kamu, aku juga masih hidup sampai sekarang."


"Apa kamu masih sangat membenciku?"


Pertanyaan absurd Adnan membuatku muak. Apakah semuanya masih kurang jelas untuk Adnan jika kebencianku bahkan sudah menyatu dengan aliran darahku?


Melihatku masih diam, membuat Adnan tersenyum, "biasanya rasa benci tercipta karena masih adanya rasa cinta, Sya?"


"Apa menurutmu seperti itu?"


Adnan mengangguk.


"Kamu salah besar, aku membencimu bukan karena aku masih menyimpan perasaan cinta, tapi aku membencimu karena aku muak dengan penghianatan yang telah kamu lakukan. Aku membencimu karena kamu telah menyayat dan kemudian menaburkan garam pada luka yang telah kamu buat. Bahkan sampai matipun, aku tidak akan pernah bisa melupakan rasa sakit ini." Untuk pertama kalinya aku berbicara dengan sangat tenang kepada Adnan, mungkin karena aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk meluapkan rasa lelah yang telah lama tersimpan.


Juga rasa sakit yang terlanjur beranak pinak dalam hatiku bahkan mulai menjalar dan merambat kemana mana? Bagaimana bisa aku melupakan itu?

__ADS_1


"Kamu sangat berbeda sekarang, Sya? Aku tau jika sekarang kamu sudah menjadi wanita yang hebat dan kuat, wanita yang mandiri dan tidak membutuhkan pria lagi sebagai penopang untukmu," Adnan menghela nafas panjang, "aku harap kamu akan tetap seperti itu untuk waktu yang lama, sampai kamu bisa memaafkan dan kembali menungguku."


MENUNGGU??


Mendengar ini, aku membelalakan mata. Menunggu adalah kata s*alan yang paling aku benci.


Memangnya apa lagi yang harus di tunggu? Hubungan yang terlanjur rusak tidak akan bisa untuk di perbaiki lagi. Sekalipun masih meninggalkan rasa cinta, itu semata mata bukan karena mengharap untuk kembali, tapi berharap untuk melupakan.


"Apa kamu sudah gila?" Aku menaikan nada suaraku, aku bukannya tidak membutuhkan pria untuk berbagi kehidupan, tapi aku hanya takut akan jatuh pada lubang yang sama jika memulai hubungan baru lagi dengan seorang pria. Aku takut mereka juga akan meninggalkanku jika mereka sudah mendapat pengganti seperti yang Adnan lakukan padaku.


"Aku tidak pernah merasa sewaras ini dalam hidupku, Sya."


Aku berdiri, "Berhenti berbicara atau aku sungguh sungguh akan membuatmu menyesal karena telah menbicarakan hal ini denganku."


"Sya, ku mohon?" Adnan memegang tanganku, seakan melarangku untuk pergi.


"Sya???" Suara Furi terdengar nyaring, dia mencariku, mungkin sudah saatnya aku untuk kembali pada pekerjaanku.


"Maaf," ucapku seraya melepaskan tangan Adnan secara paksa dan meninggalkan Adnan secepat yang aku bisa.


"Kali ini, Furi sudah menyelamatkanku," ucapku di dalam hati seraya memegang dadaku yang mulai berdenyut nyeri.


...❤❤...


Silahkan hujat author di part ini... author ikhlas kok.. 😂😂 karena author sengaja bikin kalian membenci Adnan, biar nanti kalian nyesel karena udah menghujat Adnan. Cieilah.. baper..


Jangan lupa likenya ya?


Bahagia author itu sederhana banget, dengan kalian ninggalin jempol kalian aja udah membuat semangat author buat nulis jadi membara, apalagi di tambah komen, vote dan bintang lima.


Lengkap pokoknya kebahagiaan author.


Meski kadang reviewnya memang luama buanget, kayak nunggu jodoh yang gak kunjung datang. Soalnya yang up kemarin aja belum lolos review, tapi ya udah lah.. bye bye pada chapter selanjutnya..

__ADS_1


__ADS_2