Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 9


__ADS_3

#Tanda Tangan Surat Cerai


➡➡➡


Akan ada saat dimana kata "MASIH AKU PANTAU" berubah menjadi "SUDAHLAH, AKU CAPEK". #unknown


➡➡➡


Aku segera menanda tangani surat perceraian tanpa ragu di depan Adnan, dan segera menyerahkannya kembali kepada Adnan.


Adnan menerimanya, menelitinya sekilas dan kemudian memasukkannya ke dalam map. Namun, Adnan masih diam di tempat tanpa berniat untuk pergi meski surat perceraian yang selalu Adnan inginkan sudah di dapatnya. Seperti ada sesuatu yang ingin Adnan katakan. Tapi apa??


"Sya, aku minta maaf. Semua salahku sampai kita harus berakhir seperti ini." Suara Adnan terdengar sendu.


"Apa gunanya minta maaf? Minta maaf tidak mampu merubah apapun." Ucap ku datar, meski sejujurnya aku juga sangat ingin mendengarkan penjelasan Adnan secara langsung, tentang apa, kenapa dan bagaimana.


Ini adalah kali pertama aku dan Adnan di pertemukan dan di izinkan untuk berbicara empat mata dari hati hati. Di sini, di tempat ini akan menjadi saksi atas kematian hubungan kami dan selamanya akan menjadi tempat penguburan untuk hubunganku dengan Adnan.


Pria itu, pria yang selalu aku cintai. Terpaksa harus aku lepaskan. Aku sudah lelah, lelah dengan ketidak mampuanku sendiri untuk terus mempertahankan Adnan.


Aku juga terlalu malas untuk selalu mengurusi makhluk j*hannam j*lang s*alan itu. Meski sebenarnya aku juga tidak pernah melihat seperti apa rupa makhluk itu yang sesungguhnya, tapi jika mengingat Adnan lebih memilihnya, pertanda jika dia cantik dan istimewa. Yang jelas tidak sepertiku.


Aku mengawasi Adnan lekat lekat, Adnan benar benar telah berubah. Tidak hanya hatinya telah berubah, namun fisiknya juga telah berbeda. Adnan sekarang terlihat lebih kurus, juga terlihat raut frustasi yang terpancar dari matanya.


"Aku juga tahu, aku b*jingan, tapi aku juga berada di posisi yang sangat sulit. Sejujurnya aku tidak sanggup bertemu kamu Sya? Aku malu sama kamu, malu sama Kirani."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku tidak sengaja menghamili wanita itu. Aku sangat menyesal Sya.. tapi aku juga harus bertanggung jawab untuk menjadi Ayah dari janin yang dia kandung. Dia akan memasukkan aku ke penjara jika aku tidak bertanggung jawab."


Mendengar ini aku blank seketika.


Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan air mataku yang hampir jatuh. Aku mencoba untuk menguatkan diriku sendiri, menopang hati dengan akal pikiranku. Adnan bertanggung jawab untuk wanita lain, tapi mencapakkan istrinya sendiri? Sangat hebat.


Untuk pertama kalinya aku benar benar merasa tidak berguna, tidak di inginkan, tidak di harapkan, dan tidak berarti apa apa saat orang yang paling aku percaya berkata "aku tidak sengaja menghamili wanita lain".


Tidak sengaja? Apa Adnan gila? Kehamilan terjadi karena di lakukan berulang kali, apa itu juga termasuk tidak sengaja? Atau tidak sengaja karena Adnan sudah puas??


Semua ini bahkan cukup untuk membuktikan jika Adnan sering melakukan hubungan gelap di belakangku. Sejak kapan Adnan seperti ini? Dan sudah berapa banyak wanita yang Adnan tiduri?


Aku tersenyum getir, si b*engsek itu benar benar membuatku ingin memasukkannya sendiri ke liang lahat.


Jika sudah seperti ini, lalu aku harus tertawa atau menangis?


Entah aku harus kasihan dengan Adnan atau diriku sendiri, aku juga tidak tahu. Yang aku yakini adalah, Adnan akan lebih menderita setelah melepasku, karena dia telah kehilangan satu satunya orang yang selalu memahaminya sangat.


"Aku perlu tahu, wanita seperti apa yang akan menjadi Ibu untuk Kirani?"


"Dia berbeda Sya, bukan wanita seperti kamu."


Tentu saja aku berbeda dengan dia, perbedaannya jelas karena aku terlalu bodoh dan terlalu mengandalkan Adnan untuk hidup. Sekarang aku mulai menyesal, kenapa dulu aku lebih memilih untuk meninggalkan pekerjaanku untuk sebuah pernikahan? Kenapa dulu aku lebih memilih Adnan dari pada karir?


Penyesalan hanya tinggal penyesalan, waktu tidak akan bisa di ulang kembali, dan inilah saatnya aku harus memanen hasil dari apa yang telah aku tabur.


"Lalu?"

__ADS_1


"Selamanya kamu tetap istriku, Sya? Tetap satu satunya wanita di dalam hidupku. Aku janji akan segera menceraikan wanita itu dan akan kembali ke kamu dan Kirani." Ucap Adnan memegang punggung tanganku, namun aku segera menepisnya, aku jijik bersentuhan dengan pria l*knat seperti Adnan.


Aku tersenyum mendengar ini. Seorang b*adab selamanya memang akan tetap menjadi b*adab.


"Bukanlah aku pernah mengatakan sebelumnya bahwa cukup aku yang kamu hianati, aku ingin kamu menyesal sampai tidak ada wanita lain yang bernasib sama sepertiku." Ucapku mengangkat gelas berisi orange juice dan segera menyiramnya ke wajah Adnan.


Byuurr.. wajah Adnan basah seketika, namun Adnan sama sekali tidak melakukan apapun untuk menghentikan kegilaanku.


Sejujurnya aku masih belum puas, aku bahkan ingin menyiram Adnan dengan air keras untuk menghancurkan seluruh topeng yang terpasang di wajahnya, dan aku ingin melihat rupa asli seorang Adnan Pradipta.


Setelah melihat wajah menyedihkan Adnan yang basah, aku lantas segera pergi meninggalkan Adnan lalu menghentikan taksi.


Aku menutup pintu taksi dan menangis sejadi jadinya, aku rugi, di kalahkan, di hancurkan dan tidak punya harapan.


Meskipun setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku bisa mendengarkan semuanya secara langsung dari bibir Adnan, namun itu masih tidak bisa membuatku lega. Lalu apa bedanya jika pengakuan Adnan justru membuatku semakin terpuruk?


Aku tidak lagi berada di puncak tebing, tapi aku sudah jatuh, di injak dan di leburkan pada waktu yang sama.


Aku membuka hpku yang bergetar, sebuah notifikasi pesan whatsapp dari Adnan.


"Sya, kamu bisa menempati Rumah kita sampai enam bulan ke depan, aku akan memberikan konpensasi perceraian juga menanggung kebutuhan Kirani. Aku juga sudah menitipkan sebuah sepeda motor untukkmu berangkat kerja."


Aku memejamkan mataku setelah membaca ini, dan kemudian kembali membukanya dengan setetes bening yang ikut mengalir. Adnan benar benar menghancurkan ku sampai kandas, sampai aku tidak bisa bangun kembali.


Ini adalah penghinaan yang teramat hina yang pernah aku terima dari Adnan. Jika aku di beri kesempatan untuk bangun dan berdiri kembali, aku bersumpah orang yang akan aku makamkan untuk pertama kali adalah pria l*knat itu.


Jika sudah seperti ini, aku tidak mungkin menjemput Kirani. Mataku bengkak, wajahku lusuh, dan hatiku patah. Penampilan yang sempurna untuk seseorang yang baru saja di buang beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang, untungnya sebelum menemui Adnan, aku terlebih dulu mencari pekerjaan dan aku mendapatkannya. Meski hanya seorang Apoteker di Apotik kecil, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada menjadi pengangguran.


Adnan memang tidak pernah menyinggung tentang uang tabungan kami, mungkin Adnan sengaja untuk membiarkan uang itu untuk aku pakai sebagai konpensasi perceraian untuk menjalani hidupku ke depannya bersama Kirani.


__ADS_2