
Soundtrack untuk mengisi novel ini adalah "ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu pada diriku, dan bla bla bla." intinya lagu itu lah.. anggap aja lagi nonton pelm di ikan terbang.
udah. gitu aja.. happy reading.
➡➡➡
Aku tiba di lobby sebuah hotel lima belas menit kemudian. Bertanya pada receptionist tentang kamar Tuan Pradipta, dan yang cukup mengejutkan adalah saat mendengar mbak receptionist mengatakan jika Adnan tinggal di sini sejak beberapa bulan yang lalu.
Tinggal di hotel selama beberapa bulan? Apa Adnan gila? Namun aku tidak mau memikirkan ini sekarang, karena ini sama sekali bukan urusanku. Aku hanya meminta kartu kamar Adnan, aku mengatakan jika Adnan tengah menungguku, dan mbak receptionistpun memberikannya tanpa ragu.
Aku naik lift ke lantai sembilan, dan segera mencari kamar yang Adnan tinggali. Aku menempelkan kartu dan pintupun terbuka.
Pemandangan yang terlihat untuk pertama kalinya adalah.. kamar yang sangat berantakan. Aku membuka tirai yang menutupi jendela, tidak tahan karena kamar ini terlalu pengap dan juga gelap, tidak ada cahaya apapun selain lampu remang remang di atas nakas.
Tampak sosok Adnan masih bergelung dengan selimutnya. Aku mendekat ke arah ranjang, "bangun, bodoh!!" Aku menarik paksa selimut yang membungkus tubuh Adnan, hingga menampilkan tubuh telanjangnya, "cepat pakai celanamu!! Bisa bisanya kamu tidur dengan bertelanjang seperti ini!!" Aku melemparkan sebuah celana yang ku temukan di lantai.
Adnan menggeliat, mengusap matanya hingga beberapa kali karena silau saat cahaya masuk lewat jendela lebar di kamar Adnan.
Adnan tampak mengawasi sekeliling, kemudian pandangannya berhenti padaku, seakan tidak yakin jika ada aku di sini, "Sasya??" Adnan terkejut saat melihat jika ini memang aku yang sekarang tengah berdiri di samping ranjang dengan berkacak pinggang.
"Ya.. ini aku," jawabku singkat, aku mendudukkan diriku di atas sofa.
__ADS_1
Adnan buru buru memakai celananya, "kenapa kamu di sini?" Mungkin Adnan heran karena aku bisa menemukan keberadaannya dengan mudah.
"Aku sudah menghubungimu sampai lima puluh kali, dan mengirimimu pesan sampai empat puluh kali, namun nomor kamu tidak aktif. Ck ck ck." Aku menatap iba kondisi Adnan yang tampak menyedihkan dengan penampilan yang super berantakan.
"Ah," Adnan tersentak, segera mencari hpnya, dan menemukannya di antara tumpukan kemeja yang berserakan di lantai. Namun hpnya mati dan tidak bisa di hidupkan, Adnan meringis, "aku lupa tidak mengisi dayanya, memangnya ada apa?" Adnan segera mencharge hpnya.
"Carla.. dia.. kehilangan bayinya." Aku berucap santai.
"Apa?? Maksudmu.. anakku mati??" Adnan syok, buru buru mengambil kemejanya dan segera memakainya dengan cepat, dan mengambil kunci mobilnya.
"Hei.. jangan terburu buru!! Kenapa kamu harus panik menjenguk bayi orang lain?? Lagipula, bayinya sudah ku makamkan." Aku melambaikan tangan, meminta Adnan untuk mendekat ke arahku.
Adnan yang hendak membuka pintu untuk keluar lantas segera menghentikan tindakannya, mencoba mencerna maksud ucapanku, "bayi orang lain?" Adnan berbalik, berjalan mendekat, dan kemudian duduk di sebelahku.
Adnan mengangguk.
"Tapi.. bagaimana jika itu bukan bayimu?"
Ekspresi Adnan berubah dalam sekejap, seakan menyimpan emosi rumit yang tidak dia tampakkan. "Bukan bayiku? Lalu?"
"Apa kamu merasa pernah tidur dengannya?"
__ADS_1
Adnan menggelengkan kepala, "sejujurnya aku tidak yakin, aku melupakan kejadian sepenting itu, namun tiba tiba Carla datang dan mengatakan jika itu adalah bayiku." Adnan terlihat tengah berpikir keras, kembali mengingat semua kejadian itu. Mulai awal pertemuan mereka yang tidak di sengaja, sampai Adnan terbangun di hotel dengan Carla di pelukannya, dan kemudian Carla datang dan mengatakan jika itu adalah bayinya.
Aku menyeringai, "dan bodohnya adalah kamu mempercayainya. Dasar naif, Carla hanya menjadikanmu sebagai tutup untuk kehamilannya."
Adnan diam. Mungkin masih memikirkan ini dengan serius. Sesaat kemudian, Adnan menoleh ke arahku, "sepertinya memang begitu, tapi.. aku merasa lega jika memang seperti itu ceritanya. Setidaknya.. kamu tidak lagi membenciku." Ekspresi syok Adnan berubah seketika, membuat Adnan tersenyum lembut kepadaku. Merasa senang jika kenyataannya memang begitu.
Aku tersenyum, "kamu salah, aku tidak pernah membencimu, Adnan.. aku hanya merasa sedikit kecewa."
"Sya.. aku sungguh sungguh minta maaf karena membuatmu kecewa, aku mencampakanmu dan sekarang aku sudah mendapat karmanya. Aku tidak hanya di bohongi, tapi juga di manfaatkan." Adnan merasa sangat menyesal atas semua perbuatan buruknya yang ternyata langsung di bayar kontan oleh Tuhan melalui karma.
"Semua sudah berlalu, aku dan Kirani sudah memaafkanmu. Dan satu hal yang harus kamu ketahui, Carla sangat mencintaimu. Sekarang dia sudah hancur, bayinya mati dan dia kehilangan rahimnya. Dia tidak akan pernah menjadi seorang Ibu sampai kapanpun," aku menyentuh punggung tangan Adnan, "ku mohon.. kembalilah.. Carla sangat membutuhkanmu, aku berharap kamu bisa mencintai Carla, dan bisa menerima Carla apa adanya." Aku memohon dengan tulus. Berharap jika Adnan bisa menjalin hubungan baik dengan Carla. Anggaplah jika ini adalah caraku untuk menebus kesalahanku pada Carla karena telah menuduhnya sebagai penyebab kecelakaan Haris.
Adnan menggenggam tanganku sebagai gantinya, menatap mataku hingga kami berdua saling berpandangan, "Sya, jangan memintaku untuk mencintai Carla, aku tidak bisa, karena sampai sekarang aku masih sangat mencintaimu, ku mohon.. kembalilah.. kita akan memulai semua dari awal lagi, hm??"
"Ada suatu hal yang jika di perbaiki akan semakin hancur, sama halnya seperti hubungan kita. Kita tidak seharusnya meributkan tentang masa lalu. Aku punya keluarga yang membutuhkanku sekarang." Aku mencoba menarik tanganku dari genggaman Adnan. Namun Adnan tidak mengizinkannya, justru semakin mengeratkan genggamannya.
"Sya.. kamu tidak mengerti, aku.. kesulitan jika tanpa kamu. Aku menjalani hari yang sangat sulit sejak berpisah denganmu," suara Adnan terdengar lemah, bahkan nyaris tidak terdengar.
Aku memeluk Adnan, menepuk punggungnya pelan, "meskipun aku bukan lagi Istrimu, tapi Kirani masih dan selalu menjadi anakmu. Datanglah kapanpun kamu mau, pintu Rumah kami akan selalu terbuka untukmu."
Adnan melepaskan pelukanku, "Tapi itu lain, Sya. Aku yakin jika di hatimu masih ada aku."
__ADS_1
"Semua rasa itu, juga namamu yang pernah terukir di hati, semua sudah di gantikan oleh sesorang sejak kamu memilih untuk tidak mempercayaiku. Jika kamu percaya padaku sejak awal, jujur, dan tidak menutupi apapun, mungkin dulu kita bisa mencari solusinya bersama. Lain lagi dengan sekarang, meskipun kebenarannya kamu tidak pernah berkhianat, tapi rasa yang dulu pernah ada, kini sudah mati." Aku berdiri, "semua keputusan berada di tanganmu, kamu mau melanjutkan hidupmu ke depannya, terserah kamu. Aku hanya berharap, kamu bisa bahagia." Aku melangkah pergi, meninggalkan Adnan tanpa menoleh lagi ke belakang. Sangat yakin jika ini adalah pilihan terbaik.