Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 30


__ADS_3

Kuy baca.. happy reading..


Follow IG : Meta_moo


Add FB : Meta Morfosa


➡➡➡


Mungkin sepertinya kita bukanlah berpura pura. Hanya saja hidup ini memang tidaklah sempurna.


Selalu ada sisi terlemah, selalu ada bagian yang patah, selalu ada kisah yang payah, dan selalu ada rasa yang salah.


Dengan itu semua, bukan berarti hidup kita tidak seutuhnya bahagia.


Bahagia juga ada porsinya. #raiiinyy


➡➡➡


"Kemana kamu ingin pergi?" Suara Zidan memecahkan kesunyian di dalam mobil.


Zidan menyetir dengan satu tangan, dan tangan yang satunya lagi menggenggam tanganku erat.


Aku menoleh ke arah Zidan, "terserah kemana kamu akan membawaku, aku akan selalu mengikutimu," jawabku seraya tersenyum manis.


.......


Setengah jam kemudian, mobil Zidan memasuki sebuah perumahan dengan penjagaan ketat.


Aku tahu jika ini adalah kawasan elite Alexis Regency. Aku tahu karena aku pernah membaca perumahan ini di Internet. Dengan harga perunitnya bisa mencapai harga di atas rata rata.


Di kanan dan kiri jalan berdiri sebuah perumahan yang mewah dan mewah. Bahkan sepanjang mata memandang, hanya di isi dengan bangunan yang mungkin mayoritas pemiliknya adalah pengusaha, selebriti ataupun politisi.


Luas dan juga megah adalah gambaran nyata untuk menggambarkan situasi di sini. Tidak heran jika Alexis Regency sendiri menjadi pilihan hunian yang high class. Yang di gadang gadang menjadi hunian termahal di Ibu kota.


Juga dengan tingkat keamanan nomor satu yang tidak sembarang orang bisa memasukinya, kecuali pemilik properti itu sendiri, atau saat pemilik properti mengizinkan seorang tamu untuk memasukinya.

__ADS_1


Pihak keamanan akan berjaga selama dua puluh empat jam nonstop dan setiap sudutnya di lengkapi dengan CCTV keluaran terbaru.


Kami tiba di depan pagar sebuah rumah mewah unit lima belas. Dengan pagar yang tinggi dan juga kokoh, memperlihatkan jika pemiliknya benar benar memiliki kekuasaan yang tidak bisa di anggap remah. Security bergegas membuka pagar begitu tahu jika Zidan telah datang.


Mungkin mereka sudah hafal dengan mobil Zidan sampai mereka terburu buru untuk membukanya, dan mereka mungkin tidak ingin Zidan menunggu lama.


Mobil Zidan segera memasukinya dan wow.. harus ku akui jika ini sangat luar biasa. Entah ini rumah atau istana, aku juga tidak bisa membedakannya.


Sebuah rumah mewah tiga lantai berdiri di sana. Ada sebuah air mancur di depan rumah, juga halaman luas yang tertanam berbagai jenis bunga bunga mahal khas orang kaya. Sementara rumahnya sendiri bergaya modern, dengan arsitektur yang wah.. dan funtastis.


Aku kagum sampai titik dimana aku tertegun seperti orang bodoh. Rumah Adnan memang mewah, tapi rumah ini berpuluh puluh kali lebih mewah dari rumah Adnan. Rumah Adnan bahkan bisa di bilang bukan apa apanya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Suara Zidan membuatku sadar jika mobil Zidan sudah berhenti.


"Dimana ini?" Tanyaku dengan tingkat penasaran yang tinggi. Tidak mungkin jika Zidan membawaku ke rumahnya bukan? Mustahil.


"Rumahku, kenapa?"


Aku membelalakan mata, "apa? Ru.. rumahmu?" Aku tergagap. Bagaimana mungkin Zidan membawaku ke rumahnya? Apa ini tidak terburu buru? Maksudku adalah ini tidak akan baik untukku, okey?


"Aku janji semua akan baik baik saja," Zidan mengusap rambutku pelan, seakan meyakinkanku jika semuanya tidak perlu untuk di khawatirkan, "Putriku akan berada di kamarnya sepanjang hari."


Aku tersentak, "putri?" Aku memandang Zidan lekat seakan meminta penjelasan. Tapi apa lagi yang perlu di jelaskan? Bukankah dari awal aku juga sudah tahu jika Zidan memang memiliki anak? Tapi kenapa sekarang aku justru mulai merasa menyesal karena telah pergi dengan Zidan kali ini?


Astaga.. apa yang harus ku lakukan? Kali ini tamat riwayatku.


"Iya, tapi kamu tenang saja, karena Putriku tidak akan pernah keluar dari kamarnya." Ucap Zidan dengan suara yang terdengar santai dan tenang.


Aku menelan ludah dengan susah payah, aku merasa duniaku akan berakhir hari ini, detik ini. Tidak tahu kenapa, firasatku berkata jika ini tidak akan baik.


Jika aku tidak pergi dari sini, aku takut semuanya akan berakhir sebelum aku bahkan memulainya.


Aku mencoba menepis ketakutan itu, tapi aku tidak bisa. Aku bukan orang yang cuek dengan keadaan di sekitarku. Aku selalu menimbang baik dan buruk serta benar atau tidaknya.


"Apa ini tidak terburu buru? Maksudku.. kita baru saja kenal beberapa hari yang lalu, apa ini tidak terlalu cepat?" Aku mencoba untuk meyakinkan Zidan jika ini bukanlah waktu yang tepat.

__ADS_1


Aku ingin pergi dari rumah ini secepat yang aku bisa. Aku ingin berlari dan kemudian bersembunyi sampai tidak ada seorangpun yang akan menemukanku.


"Aku janji, percayalah." Ucap Zidan seraya turun dari mobil, berputar membuka pintu mobil untukku, dan menggenggam tanganku erat, kemudian mengajakku masuk.


Kesan pertama saat aku memasuki rumah Zidan adalah, perfect. Sangat sempurna. Aku tidak pernah menyangka jika rumah Zidan bisa di kategorikan seperti istana. Dengan warna white and gold yang mendominasi seluruh ruangan, membuatku serasa masuk ke abad di mana Ratu Cleopatra tinggal.


Zidan mengajakku untuk duduk di sofa. Aku seperti telah menjadi Nyonya besar di rumah ini, juga kehidupan mewah yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.


Alangkah lebih baik jika aku bisa tinggal di sini bersama Kirani, serta membuang hama yang menganggu jauh jauh.


"Apa kamu tegang?" Pertanyaan Zidan membuatku tersenyum.


Apakah itu masih perlu untuk di tanyakan? Bukankah semua sudah cukup jelas? "Sedikit," jawabku santai, meski sebenarnya aku sudah cemas setengah mati.


Rasanya seperti pencuri yang sudah tertangkap basah dan tidak memiliki celah lagi untuk berlari atau bersembunyi. Namun aku mencoba untuk bersikap tenang seakan ini bukan masalah besar.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku kemudian. Sepertinya aku perlu melakukan sesuatu untuk menghilangkan kegugupanku saat ini.


Zidan menoleh padaku, "apa kamu punya ide?"


Apa ini? Bukannya memberi jawaban Zidan justru mengajukan pertanyaan padaku, "Apa apaan ini? Aku tidak menunggu pertanyaan, tapi aku menunggu jawaban, okey?" Ucapku mencibir Zidan.


Zidan tersenyum.


Aku tidak tau kenapa Zidan justru tersenyum saat mendengar cibirannku? Astaga.. ada apa dengan bumi? Kenapa aku merasa tinggal di dalamnya bisa membuatku terkena serangan jantung? Apa lagi jika aku terus saja melihat senyum ajaib Zidan yang.. ah sudahlah.


"Apa yang biasanya kamu lakukan di akhir pekan dengan seorang wanita?"


"Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah berkencan dengan wanita lain selain kamu," Zidan menjawab cepat tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Astaga, Zidan..."


"Apa lagi? Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, okey? Percaya atau tidak itu terserah kamu."


Aku mengangkat bahu. Sepertinya Zidan tidak berbohong dengan ucapannya. Entahlah.. aku hanya merasa jika Zidan sangat manis hari ini.

__ADS_1


__ADS_2