Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 18 - Yang Tak Dinantikan


__ADS_3

Dara menopang dagunya sambil menggoyang-goyangkan pelan kaleng minuman bersodanya yang sudah habis. Beberapa jam lagi, shift-nya akan usai dan ia harus pulang. Ini bukan hari yang ia nantikan, dan sama sekali tak ia harapkan. Kedatangan mertuanya hari ini adalah sesuatu yang ingin sekali ia hindari.


Tak seperti biasanya, ia tampak tak bersemangat membaca pesan dari suaminya. Tomi mengirimkan beberapa foto, terlihat adik perempuannya, dan ibunya yang telah sampai dengan banyak sekali koper. Banyaknya koper itu, tentu sudah bisa dipahami oleh Dara ... mereka akan lama berada di apartemennya.


“Ra. Enggak pulang?,” itu Nino, salah satu teman Dara di kantor. Laki-laki yang agak kemayu itu begitu lembut dan memperlakukan Dara seperti saudarinya sendiri.


“Iya. Malas ah. Nanti saja,”


Dara terlihat begitu tak bersemangat, seperti sebuah pikiran yang berat bergelantungan di sekeliling kepalanya, dan hal itu bisa terlihat jelas oleh Nino.


“Mereka sudah nyampe ya, Ra?”


“Iya nih. Mana kopernya gede lagi. Bakal lama kayaknya,” jawab Dara sambil memanyunkan bibirnya, dan disambut dengan tawa dari Nino.


“Hahaha. Ya sudah mau bagaimana lagi, Ra. Kamu enggak sekalian juga liburan ke Indonesia sama Kio” canda Nino kepada sahabatnya itu.


Keinginan Dara untuk pulang ke Indonesia sangat besar. Ingin sekali membawa anaknya pergi mengunjungi ibunya. Akan tetapi ia baru saja berpindah perusahaan dengan Tomi. Ya! Perusahaan baru, namun masih bersama dengan Tomi. Saat ini kendalanya adalah VISA kerjanya yang belum selesai diurus oleh pengacara dari perusahaan. Tanpa VISA, ia tidak bisa pergi kemana-mana.


“Iya ini. VISA kita kan macet, No. Fiuh,” seperti orang putus asa, ia menjawab Nino yang sedang membereskan tas.


“Ya sudah. Kamu pulang saja. Kalau ketemu mereka biasa saja, Ra. Kamu tuan rumah. Harusnya mereka bisa nempatin diri. Yuk! Aku enggak pulang kalau kamu enggak pulang,” Nino membesarkan hati temannya agar mau bergegas pulang.


Drrt! Drrt!


Ponsel Dara bergetar. Sebuah pesan dari suaminya, membuatnya makin tak ingin pulang. Mereka sudah sampai di apartemen, dan Dara bisa melihat mertuanya itu menempati kamarnya. Dara sedikit heran, karena menurut suaminya, mertuanya itu akan menempati kamar di sebelah. Entah apa gerangan, kini mereka menempati kamar utama tempat Dara dan Tomi beristirahat.

__ADS_1


Dara dengan berat hati melangkahkan kaki pulang. Jarak antara kantor dan apartemennya sangat dekat. Dalam beberapa menit saja ia telah sampai. Ia tak langsung memasuki lift; beberapa saat ia duduk di sofa lobby, sambil menghembus-hembuskan nafasnya beberapa kali.


Entah apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dua orang perempuan yang pernah menghardik dan merendahkannya melalui pesan-pesan singkat. Namun, ia akhirnya berdiri dan memasuki lift, karena teringat anaknya.


Ia memencet bel di samping pintu, dan tak lama kemudian pintu itu dibuka oleh Cecil. Ia bisa mendengar riuh tawa dari suaminya dan iparnya. Ia menanggalkan sepatu lalu masuk, dan langsung bisa melihat mertua dan adik ipar bersama Tomi sedang menyantap makan malam. Akan tetapi mereka seperti tidak menyadari keberadaannya sama sekali.


“Eh ...” sebuah sapaan yang sangat canggung dari adik iparnya yang akhirnya melihat keberadaannya di antara riuh suasana tawa mereka bertiga.


“Sudah pulang ternyata. Sini, ini mama, ini Tami,” Tomi menghampiri istrinya itu, dan memberi kode untuk bersalaman dengan ibunya. Perempuan yang sudah tak muda lagi itu, tersenyum begitu lebar. Senyum yang begitu bertolak belakang dengan sikapnya kepada Dara selama beberapa tahun bersama Tomi. Dara menyalami mertuanya itu, tanpa sepatah kata pun, namun dengan sebuah senyum tipis yang wajar. Tangannya disambut oleh adik iparnya yang menyalaminya.


“Sudah makan, Nak?” ujar mertuanya. Ada apa ini? Bukankah selama ini ia begitu benci kepadaku? Kira-kira itu yang ada dalam benak Dara.


“Iya sudah, tante,” jawab Dara singkat namun tidak menunjukkan kegugupan sama sekali. Ia telah mendengar banyak hal dari Cecil mengenai kejadian seperti ini, dan tentu ia bukan orang yang ragu-ragu menunjukkan keberaniannya.


“Iya. Lanjut saja. Aku mau langsung tidur,” Dara mempersilakan suaminya untuk melanjutkan bincang-bincang seru mereka yang terputus dengan kehadiran Dara.


Dara harus tidur di kamar sebelahnya. Rupanya Cecil sudah merapikan kamar itu, dan memindahkan barang-barang keperluan Dara di situ. Terlihat beberapa pakaian Tomi juga ada di situ, dan Kio yang sudah tertidur pulas. Dara mengirimkan pesan pada ponsel Cecil, meminta ‘partnernya’ itu untuk datang ke kamarnya. Dara dapat berbicara beberapa percakapan sehari-hari dalam bahasa Tagalog. Ia menggunakan keahliannya itu untuk menanyakan beberapa hal kepada Cecil, seperti siapa yang menyuruhnya memindahkan barang-barang Dara, apakah mereka membicarakan atau menyebut namanya di rumah, dan bagaimana respons Kio menemui nenek, dan tantenya pertama kali.


Cecil tertawa kecil melihat majikannya yang begitu penasaran. Dengan lugas, ia menceritakan semuanya. Mulai dari permintaan ibu Tomi untuk tinggal di kamarnya, hingga Kio yang menangis ketika pertama kali bertemu. Sebuah celotehan yang menggelikan juga dari Cecil, yaitu mengenai beberapa koper besar seakan pertanda mereka akan berlama-lama berada di sini.


Dara memang telah melihat rentetan koper besar yang dibawa. Rasanya ia bukan berada di tempat tinggalnya sendiri, melainkan seperti orang yang menumpang. Baru kali ini ia merasa tak nyaman dalam bilik di apartemennya. Beberapa kali, ia membolak-balikkan badan, mencoba memejamkan mata agar bisa segera tertidur.


...****************...


Pagi itu, seperti biasa Cecil ‘berduet’ bersama Dara di dalam dapur. Meskipun memiliki seorang pembantu rumah tangga, Dara tetap aktif melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Sebelum langit terang, ia sudah selesai menyiapkan sarapan untuk semua orang. Hari itu, ia akan memulai pekerjaan di kantor pukul 9 pagi, dan akan berangkat beberapa belas menit sebelum jam masuknya.

__ADS_1


Sebagai seorang wanita dengan penuh perencanaan, ia tak pernah tergesa-gesa mengerjakan apa pun ... kecuali saat merencanakan pernikahannya dengan Tomi.


Ia memakan rotinya bersama dengan Cecil, ditemani secangkir kopi hitam dengan gula yang lumayan banyak. Semenjak ada Cecil, Dara memiliki teman untuk menyantap sarapan bersama, dan kadang makan di larut malam bersama.


“Pagi. Sudah mau berangkat? Aku enggak antar, ya. Sebentar aku enggak masuk. Aku minta cuti hari ini. Mau antar mama jalan-jalan ke salon,” kehadiran Tomi yang tiba-tiba membuat Dara sedikit kaget.


“Iya. Ini mau berangkat,” singkat, padat, dan jelas. Tipikal Dara.


Ada yang beda, pagi itu Tomi mendaratkan sebuah kecupan di dahi istrinya sebelum ia berangkat kerja. Sifatnya teramat baik belakangan ini.


Dara berjalan menyusuri jalanan kota yang lumayan ramai di jam begitu. Sambil terus melangkah, ia mencerna kembali apa yang dikatakan oleh suaminya. Ke salon? Wow. Itu hal yang sama sekali belum pernah Dara lakukan selama bersama dengan Tomi. Baiklah. Ia akan berbesar hati dan menganggap ini sebuah bakti anak kepada ibunya.


Tanpa banyak terganggu, Dara menghabiskan waktunya di kantor, dan tidak terlalu banyak memikirkan jadwal suaminya yang begitu banyak dalam kunjungan mertuanya itu.


Ketika pulang, Dara melihat beberapa tas belanja dari merek-merek ternama. Berbelanja baju juga rupanya. Hal itu sedikit aneh baginya, sebab ia tahu sekali Tomi sangat membatasi penggunaan uang pada fashion.


“Eh, sudah pulang, kak. Ini tadi Kak Tomi bawa aku belanja sama mama. Beli baju juga buat Kak Farah,” lagi-lagi, Tami yang pertama menyadari keberadaan Dara.


Mendengar nama Farah, Dara membara sekejap. Drama macam apa lagi ini?


Dara tak banyak bercakap-cakap. Ia hanya mendengarkan rincian belanja yang disampaikan oleh suaminya. Ya! Seperti biasa. Menggunakan uang tabungan mereka.


“Tadi mama ke salon, Ra. ini bersihin wajah, dan dipijat juga,” omongan mertuanya ini membuatnya iri hati seketika. Ia telah beberapa tahun mengatasi masalah kulit wajahnya sendiri, tanpa mengunjungi salon. Hal ini karena suaminya itu begitu perhitungan jika uang digunakan untuk hal-hal semacam itu.


Beda sekali ... selama berada berdampingan, mertuanya bersikap sangat baik kepadanya. Sulit dipercaya selama ini orang yang sama memberikan hardikan demi hardikan, dan dapat bersikap manis seketika kepada Dara dan Kio.

__ADS_1


__ADS_2