
“Mama, bisa cari kaos kakiku? Mungkin
mama Farah lupa membawakan aku kaos kaki!” teriak Fitri dari dalam kamar. Ia
menjadi anak yang paling dekat dengan Dara di tiga hari sejak kedatangan mereka.
Beberapa kali, ia bertanya-tanya di mana Dara bertemu dengan ayahnya dan hal
lainnya.
Anak perempuan berusia delapan
tahun itu begitu lengket dengan ibu sambung yang baru ia temui beberapa hari.
Beberapa kali ia memuji Dara, berkata bahwa Dara memiliki paras yang cantik.
Fitri memiliki wajah yang sama persis seperti Tomi. Bagai pinang dibelah dua. Tak
seperti adik-adiknya, Firman dan Raffi yang jauh lebih mirip pada wajah ibu
mereka.
Raffi tak begitu dekat dengan
ayahnya. Anak bungsu itu, ternyata dibawa pergi oleh ibunya pulang ke Makassar
ketika ia masih bayi. Ia bahkan sangat jarang melihat wajah ayahnya. Hanya pada
beberapa kali kunjungan saja. Sedangkan Firman, terlihat sangat lekat pada
ayahnya. Mereka berbicara dengan logat selatan yang begitu kental, dan
terkadang terkekeh apabila mendengar Kio berceloteh singkat dalam bahasa
Inggris.
Kio sangat mudah berbaur dengan
kakak-kakaknya, dan mereka terlihat begitu tertarik kepada balita itu. Dengan omongannya
yang belum jelas, Kio sering menjadi bahan candaan kakak-kakaknya.
“Mama. Ketemu!” Fitri datang
menghampiri Dara dengan sepasang kaos kaki di tangannya. Dara tersenyum, dan
melanjutkan kesibukannya mengemas beberapa tas untuk liburan mereka ke Puncak,
Bogor.
Ini kali pertama Dara akan berada
di sana. Menurut Tomi, dan Haris di malam sebelum Dara memesan villa, hawa di
sana sangat dingin, dan ia harus membawa pakaian hangat. Dara mengeluarkan
beberapa lembar baju hangat milik mereka dari dalam koper besar dan memasukannya
dalam sebuah ransel yang mereka bawa serta dari Filipina.
“Dar. Ayo! Mama sudah siap,”
mertuanya berdiri di depan pintu kamar, dan mengajaknya menyusul yang lain yang
sudah berada dalam mobil.
Dara keluar dari kamarnya, ia bisa mendengar
riuh tawa anak-anaknya dari dalam mobil SUV mewah yang terparkir. Mobil
keluaran Volkswagen itu adalah milik sepupu Tomi yang berprofesi sebagai pilot
salah satu maskapai penerbangan swasta. Dara pernah bertemu Bram, sang pilot
beberapa hari kemarin ketika ia datang membawa temannya yang akan membantu
mereka menjual si biru, city car milik Tomi. Bram tahu banyak hal tentang
kampung Dara rupanya. Ia beberapa kali pernah singgah di sana, ketika masih
__ADS_1
membawa pesawat menuju kota-kota di bagian timur Indonesia. Ia juga sangat
ramah kepada Dara, dan banyak berbincang mengenai pekerjaan Dara.
“Sini. Jangan angkat yang berat,
sayang,” Tomi mengambil dua ransel besar dari pundak Dara, dan membawa semua ke
mobil. Dara naik di mobil itu, dan terlihat Tami sudah terlelap di kursi
penumpang, sementara mertuanya duduk di depan. Fitri tampak sedang asyik
bermain dengan Kio dan beberapa kali dengan gemas mencium anak itu.
Mobil mewah itu melaju. Menyusuri jalanan
Jakarta, masuk di sebuah jalan tol menuju Bogor, dan ketika mulai menanjak,
Dara bisa merasakan hawa yang berubah. Tak seperti panas di Jakarta, hawa menuju
Puncak lebih adam, dan segar. Ia meminta suaminya mematikan pendingin udara,
dan membuka kaca jendela mereka agar bisa merasakan hawa yang natural.
“Semua senang?” tanya Tomi, dan
langsung dijawab oleh teriakan girang anak-anaknya yang mengiyakan.
“Villa ini dipesan sama Mama Dara.
Bilang terimakasihnya sama Mama Dara, ya,” sambung Tomi.
“Terima kasih Mama,” serentak tiga
orang anak itu berterima kasih kepada Dara. Dara hanya tersenyum lebar.
Mereka tiba di area tujuan mereka
tepat saat waktu makan siang. Area rekreasi itu memiliki banyak wahana, dan
sangat luas. Di salah satu bagian, terdapat villa-villa yang bisa disewa. Tampak
pengunjung yang ramai memenuhi area permainan air. Tomi menuntun anak-anaknya
Tomi, satu kamar untuk anak-anak, dan satu kamar lagi untuk Tami, Haris, dan ibu
mereka.
Dara menjadi menantu yang baik. Ia
mengantar mertuanya terlebih dahulu ke kamarnya, lalu merapikan bawaan yang
ada, dan meninggalkan kamar itu ketika mertuanya telah berbaring beristirahat.
Ia berjalan melalui koridor, menuju kamar lain yang begitu riuh. Kio sedang
asyik berlompatan di atas tempat tidur bersama kakak-kakaknya, dan kebahagiaan
sangat terlihat di antara anak-anak itu.
“Kita di kamar sebelah ...” Tomi
menghampirinya, memberikan sebuah kunci kamar. Dara tersenyum kecil. Ia masih
asyik melihat anak-anak itu bermain seolah tanpa beban tentang latar belakang
orang tua mereka.
“Fitri. Ayah mau merapikan barang
dulu di sebelah. Jaga ade Kio, ya,” ujar Tomi kepada anak sulungnya, lalu pergi
membawa beberapa tas milik Dara menuju kamar mereka. Dara mengikuti suaminya
dari belakang. Tomi membuka pintu itu, dan semerbak aroma melati yang harum
dapat tercium dengan jelas oleh Dara. Tempat tidur yang rapi, dengan
pemandangan rerumputan dari jendela, sebuah TV besar dengan sebuah keranjang
__ADS_1
berisi beberapa kudapan. Beberapa tangkai bunga mawar di dalam vas kaca. Kamar
itu jelas terlihat berbeda dari dua kamar lainnya yang sudah ia lihat.
Dara menghampiri vas bunga itu, ia
menyentuh kelopak mawar, memastikan itu bukan bunga palsu yang terbuat dari plastik.
“Sungguhan ternyata ...” gumamnya
lalu tertawa kecil. Sebuah pelukan dari belakang, mendarat pada tubuhnya, diiringi
dengan kecupan pada pipinya.
“Aku belum pernah mengajak kamu ke
tempat seperti ini.” kata Tomi, sembari mengeratkan pelukannya. Ia bisa mencium
harus aroma lembut parfum istrinya itu, dan halusnya rambutnya yang senantiasa
dikeramasi setiap hari.
Sedikit demi sedikit, ia mulai
mencium istrinya, lalu berhenti ketika pintu kamar itu dibuka oleh anak-anak
yang bergerombol masuk.
“Ayah! Ayah! Kio pupup!” Fitri
terlihat menggendong Kio, dan kedua adik laki-lakinya tertawa lucu melihat
kakak mereka panik dengan bau dari celana Kio yang hampir menyebar.
“Untungnya kamar mama wangi!” seru
Raffi, sembari naik ke atas tempat tidur dan lanjut berloncat-loncatan.
Tomi menggaruk kepalanya, seakan sangat
gatal, kemudian membiarkan istrinya pergi mengganti popok Kio. Mereka sangat
jarang mendapat suasana tenang seperti itu, dan baru saja kemesraan itu
dihentikan oleh anak-anak.
“Mama. Aku mau tidur di sini,” ujar
Fitri.
“Aku juga! Aku juga” Firman dan
Raffi, berteriak tak mau ketinggalan.
Dara tak kuasa menolak, meski ia
tahu suaminya mungkin saja mendambakan malam berdua hanya dengannya. Tetapi anggukan
setuju dari Tomi, akhirnya membuatnya membiarkan anak-anak itu tidur bersama
mereka.
Bocah-bocah itu akhirnya tertidur
lelap setelah makan malam yang penuh dengan tawa. Mereka berbaring berjejer
pada tempat tidur di kamar orang tua mereka, sedangkan Dara dan Tomi tidur di
sebuah kasur tambahan di bawah. Kamar anak-anak akhirnya ditempati oleh Tami.
Tomi menarik selimut, sembari
bergidik karena cuaca yang sangat dingin. Ia memeluk istrinya dari belakang, lalu
mengelus pelan perutnya yang akhirnya mulai menggendut.
“Apa kamu perempuan? Atau
laki-laki?” ia bertanya seakan bayi itu bisa menjawabnya.
__ADS_1
Dara tersenyum, dan menggenggam
tangan suaminya, lalu tertidur pulas dalam pelukannya.