Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 25 - Pergi Ke Puncak


__ADS_3

“Mama, bisa cari kaos kakiku? Mungkin


mama Farah lupa membawakan aku kaos kaki!” teriak Fitri dari dalam kamar. Ia


menjadi anak yang paling dekat dengan Dara di tiga hari sejak kedatangan mereka.


Beberapa kali, ia bertanya-tanya di mana Dara bertemu dengan ayahnya dan hal


lainnya.


Anak perempuan berusia delapan


tahun itu begitu lengket dengan ibu sambung yang baru ia temui beberapa hari.


Beberapa kali ia memuji Dara, berkata bahwa Dara memiliki paras yang cantik.


Fitri memiliki wajah yang sama persis seperti Tomi. Bagai pinang dibelah dua. Tak


seperti adik-adiknya, Firman dan Raffi yang jauh lebih mirip pada wajah ibu


mereka.


Raffi tak begitu dekat dengan


ayahnya. Anak bungsu itu, ternyata dibawa pergi oleh ibunya pulang ke Makassar


ketika ia masih bayi. Ia bahkan sangat jarang melihat wajah ayahnya. Hanya pada


beberapa kali kunjungan saja. Sedangkan Firman, terlihat sangat lekat pada


ayahnya. Mereka berbicara dengan logat selatan yang begitu kental, dan


terkadang terkekeh apabila mendengar Kio berceloteh singkat dalam bahasa


Inggris.


Kio sangat mudah berbaur dengan


kakak-kakaknya, dan mereka terlihat begitu tertarik kepada balita itu. Dengan omongannya


yang belum jelas, Kio sering menjadi bahan candaan kakak-kakaknya.


“Mama. Ketemu!” Fitri datang


menghampiri Dara dengan sepasang kaos kaki di tangannya. Dara tersenyum, dan


melanjutkan kesibukannya mengemas beberapa tas untuk liburan mereka ke Puncak,


Bogor.


Ini kali pertama Dara akan berada


di sana. Menurut Tomi, dan Haris di malam sebelum Dara memesan villa, hawa di


sana sangat dingin, dan ia harus membawa pakaian hangat. Dara mengeluarkan


beberapa lembar baju hangat milik mereka dari dalam koper besar dan memasukannya


dalam sebuah ransel yang mereka bawa serta dari Filipina.


“Dar. Ayo! Mama sudah siap,”


mertuanya berdiri di depan pintu kamar, dan mengajaknya menyusul yang lain yang


sudah berada dalam mobil.


Dara keluar dari kamarnya, ia bisa mendengar


riuh tawa anak-anaknya dari dalam mobil SUV mewah yang terparkir. Mobil


keluaran Volkswagen itu adalah milik sepupu Tomi yang berprofesi sebagai pilot


salah satu maskapai penerbangan swasta. Dara pernah bertemu Bram, sang pilot


beberapa hari kemarin ketika ia datang membawa temannya yang akan membantu


mereka menjual si biru, city car milik Tomi. Bram tahu banyak hal tentang


kampung Dara rupanya. Ia beberapa kali pernah singgah di sana, ketika masih

__ADS_1


membawa pesawat menuju kota-kota di bagian timur Indonesia. Ia juga sangat


ramah kepada Dara, dan banyak berbincang mengenai pekerjaan Dara.


“Sini. Jangan angkat yang berat,


sayang,” Tomi mengambil dua ransel besar dari pundak Dara, dan membawa semua ke


mobil. Dara naik di mobil itu, dan terlihat Tami sudah terlelap di kursi


penumpang, sementara mertuanya duduk di depan. Fitri tampak sedang asyik


bermain dengan Kio dan beberapa kali dengan gemas mencium anak itu.


Mobil mewah itu melaju. Menyusuri jalanan


Jakarta, masuk di sebuah jalan tol menuju Bogor, dan ketika mulai menanjak,


Dara bisa merasakan hawa yang berubah. Tak seperti panas di Jakarta, hawa menuju


Puncak lebih adam, dan segar. Ia meminta suaminya mematikan pendingin udara,


dan membuka kaca jendela mereka agar bisa merasakan hawa yang natural.


“Semua senang?” tanya Tomi, dan


langsung dijawab oleh teriakan girang anak-anaknya yang mengiyakan.


“Villa ini dipesan sama Mama Dara.


Bilang terimakasihnya sama Mama Dara, ya,” sambung Tomi.


“Terima kasih Mama,” serentak tiga


orang anak itu berterima kasih kepada Dara. Dara hanya tersenyum lebar.


Mereka tiba di area tujuan mereka


tepat saat waktu makan siang. Area rekreasi itu memiliki banyak wahana, dan


sangat luas. Di salah satu bagian, terdapat villa-villa yang bisa disewa. Tampak


pengunjung yang ramai memenuhi area permainan air. Tomi menuntun anak-anaknya


Tomi, satu kamar untuk anak-anak, dan satu kamar lagi untuk Tami, Haris, dan ibu


mereka.


Dara menjadi menantu yang baik. Ia


mengantar mertuanya terlebih dahulu ke kamarnya, lalu merapikan bawaan yang


ada, dan meninggalkan kamar itu ketika mertuanya telah berbaring beristirahat.


Ia berjalan melalui koridor, menuju kamar lain yang begitu riuh. Kio sedang


asyik berlompatan di atas tempat tidur bersama kakak-kakaknya, dan kebahagiaan


sangat terlihat di antara anak-anak itu.


“Kita di kamar sebelah ...” Tomi


menghampirinya, memberikan sebuah kunci kamar. Dara tersenyum kecil. Ia masih


asyik melihat anak-anak itu bermain seolah tanpa beban tentang latar belakang


orang tua mereka.


“Fitri. Ayah mau merapikan barang


dulu di sebelah. Jaga ade Kio, ya,” ujar Tomi kepada anak sulungnya, lalu pergi


membawa beberapa tas milik Dara menuju kamar mereka. Dara mengikuti suaminya


dari belakang. Tomi membuka pintu itu, dan semerbak aroma melati yang harum


dapat tercium dengan jelas oleh Dara. Tempat tidur yang rapi, dengan


pemandangan rerumputan dari jendela, sebuah TV besar dengan sebuah keranjang

__ADS_1


berisi beberapa kudapan. Beberapa tangkai bunga mawar di dalam vas kaca. Kamar


itu jelas terlihat berbeda dari dua kamar lainnya yang sudah ia lihat.


Dara menghampiri vas bunga itu, ia


menyentuh kelopak mawar, memastikan itu bukan bunga palsu yang terbuat dari plastik.


“Sungguhan ternyata ...” gumamnya


lalu tertawa kecil. Sebuah pelukan dari belakang, mendarat pada tubuhnya, diiringi


dengan kecupan pada pipinya.


“Aku belum pernah mengajak kamu ke


tempat seperti ini.” kata Tomi, sembari mengeratkan pelukannya. Ia bisa mencium


harus aroma lembut parfum istrinya itu, dan halusnya rambutnya yang senantiasa


dikeramasi setiap hari.


Sedikit demi sedikit, ia mulai


mencium istrinya, lalu berhenti ketika pintu kamar itu dibuka oleh anak-anak


yang bergerombol masuk.


“Ayah! Ayah! Kio pupup!” Fitri


terlihat menggendong Kio, dan kedua adik laki-lakinya tertawa lucu melihat


kakak mereka panik dengan bau dari celana Kio yang hampir menyebar.


“Untungnya kamar mama wangi!” seru


Raffi, sembari naik ke atas tempat tidur dan lanjut berloncat-loncatan.


Tomi menggaruk kepalanya, seakan sangat


gatal, kemudian membiarkan istrinya pergi mengganti popok Kio. Mereka sangat


jarang mendapat suasana tenang seperti itu, dan baru saja kemesraan itu


dihentikan oleh anak-anak.


“Mama. Aku mau tidur di sini,” ujar


Fitri.


“Aku juga! Aku juga” Firman dan


Raffi, berteriak tak mau ketinggalan.


Dara tak kuasa menolak, meski ia


tahu suaminya mungkin saja mendambakan malam berdua hanya dengannya. Tetapi anggukan


setuju dari Tomi, akhirnya membuatnya membiarkan anak-anak itu tidur bersama


mereka.


Bocah-bocah itu akhirnya tertidur


lelap setelah makan malam yang penuh dengan tawa. Mereka berbaring berjejer


pada tempat tidur di kamar orang tua mereka, sedangkan Dara dan Tomi tidur di


sebuah kasur tambahan di bawah. Kamar anak-anak akhirnya ditempati oleh Tami.


Tomi menarik selimut, sembari


bergidik karena cuaca yang sangat dingin. Ia memeluk istrinya dari belakang, lalu


mengelus pelan perutnya yang akhirnya mulai menggendut.


“Apa kamu perempuan? Atau


laki-laki?” ia bertanya seakan bayi itu bisa menjawabnya.

__ADS_1


Dara tersenyum, dan menggenggam


tangan suaminya, lalu tertidur pulas dalam pelukannya.


__ADS_2