
“Uhuk uhuk!” suara batuk dari kamar Ros menggelegar. Di cuti yang tinggal beberapa hari lagi, Dara harus menerima kenyataan bahwa Ros akan segera berhenti bekerja karena penyakitnya. Beberapa kali, gadis itu memuntahkan darah segar akibat penyakit tukak lambungnya. Permasalahan baru bagi Dara adalah, siapa yang akan mengasuh Kayla dan Kio nanti saat ia harus kembali bekerja. Meskipun Kayla adalah seorang bayi yang sangat tenang, jarang menangis kecuali ia ingin minum susu, dan diganti popoknya, Dara tetap saja tidak bisa mempercayakan Kayla ke sembarangan orang, apalagi setelah sekian lama Ros bersama mereka.
“Istirahatlah, Ros. Nanti biar aku yang masak siang ini, kebetulan Kayla lagi tidur.” Ia menyuruh Ros kembali ke kamar untuk berisirahat ketika tangannya baru akan menyentuh cucian yang menumpuk.
“Tapi bu ...”
“Sudah. Enggak ada tapi-tapian,” timpal Dara, lalu memberi isyarat dengan tangannya agar Ros kembali ke kamar.
Mengasuh dua anak bukan sebuah perkara yang mudah saat ini sebab Kio sering mengalami tantrum di malam hari, sedangkan Dara perlu lebih banyak beristirahat.
Kring!
Ponselnya berdering keras, Dara bergegas menjawab panggilan itu sebelum suara ponselnya membangunkan kedua anaknya yang sedang tidur.
"Halo Kak. Aku mau ke situ dengan Haris ya, kak?” Anna berbicara dengan nadanya yang terdengar ceria, seperti biasanya.
“Iya. Kapan sampainya, An? Aku belum masak.”
“Jangan masak. Aku bawa rendang buatanku dari sini, kak. Ini sudah di Cipanas. Sebentar lagi sampai, kok.” Ujar Anna lagi lalu memberi salam mengakhiri percakapan telepon mereka.
Anna dan Harris akan menjadi orang pertama dari keluarga Tomi yang datang menjenguk Dara dan putrinya yang baru saja lahir. Setelah kelahiran Kayla, mertuanya sama sekali belum datang menengok, namun seperti sudah mati rasa, Dara tidak memusingkan hal tersebut.
Beberapa kali di sela percakapannya dengan Tomi, ia bertanya kepada suaminya itu apakah mertuanya selalu seperti ini? Maksudnya, apakah ia memang tidak seperti nenek pada umumnya yang terlihat enerjik dan bersemangat menyambut kelahiran cucunya.
Tomi menceritakan bahwa di saat Farah bersamanya, ibunya itu selalu ada menemani Farah untuk persalinan, meskipun Farah tidak pernah bersalin secara natural, selalu dengan operasi. Bisa saja apa yang disampaikan Tomi itu menjadi bahan bakar untuk Dara menjadi benci kepada mertuanya, namun ... tidak. Ia memilih fokus untuk merawat kedua anaknya.
Dara telah memasang CCTV yang disambungkan dengan koneksi WiFi di ruang tamu mereka, tujuannya untuk dapat mengawasi Kio dengan lebih mudah apabila ia harus menyusui Kayla di dalam kamar, dan Kio bermain di sana. Melalui CCTV itu juga, Tomi sering melihat istrinya yang baru melahirkan 2 bulan lebih lalu sering bolak balik dari lantai satu ke lantai dua membawa anak-anak mereka setelah tertidur pulas menonton bersama.
Bekerja tanpa ada Dara di kantor untuk beberapa bulan, membuat Tomi jadi lebih erat bergaul dengan rekan kerja lainnya. Ia sebenarnya sebuah spons, yang sangat cepat menyerap kebiasaan baru yang ditularkan oleh pergaulan sekitar. Beberapa kali, Dara harus mengusir Tomi agar pergi mandi terlebih dahulu karena pulang dengan baju yang pekat bau asap rokok. Ia juga lebih sering terlambat pulang karena masih mengobrol usai jam kerjanya berakhir.
Ponsel Dara bergetar, sebuah pesan masuk dari suaminya itu.
Tomi: [ Aku enggak langsung pulang. Aku mau pergi dulu ngopi dengan anak-anak. ]
Dara menghela nafasnya, ini adalah sesi ‘ngopi’ kesekian di minggu ini, namun daripada menyebabkan keributan, lebih baik ia mengiyakan saja.
Dara: [ OK. Hati-hati. Anna dan Haris dalam perjalanan kemari ]
__ADS_1
Sampai di situ saja, pesannya tak lagi dibalas oleh suaminya ... atau memang belum mau dibalas.
Dara lanjut mengerjakan pekerjaan rumahnya selama berjam-jam selagi anak-anak tidur. Lalu tiba-tiba ...
Tok tok!
“Kak. Assalamualaikum, kak!” itu suara Anna. Sudah sampai rupanya. Mood Dara langsung berubah, ia sangat menyukai kehadiran Anna, sebab perempuan itu suka berbagi cerita dengannya.
Dara memberikan pelukan hangat kepada Anna, setelah itu perempuan itu langsung meminta izin agar ia membersihkan dirinya terlebih dahulu sebab berkendara motor dari Jakarta ke Bandung tentu dihinggapi banyak debu.
Haris tersenyum melihat ipar perempuannya yang menenteng beberapa cucian kering di pundaknya, “sibuk ya, kak? Aa mana?”
“Aa belum pulang, masih pergi dengan teman kantor. Ayo masuk dulu, istirahat. Tunggu aku buatkan minum dulu, ya.” Jawab Dara lalu bergegas meninggalkan iparnya itu.
Ia kembali dengan sebaki berisi dua cangkir teh hangat dan piring dengan kue bolu gulung yang ia buat sendiri.
“Ayo minum du-“ ucapan Dara terhenti ketika ia mendengar Kio menangis, ia bergegas pergi menghampiri anaknya itu. Bocah itu terbangun dan mungkin mencari ibunya, Dara menggendong Kio yang terlihat masih sangat mengantuk. Lalu tak lama, terdengar tangisan Kayla. Hal ini sering terjadi, ketika dua orang anak menangis bersama-sama, Dara selalu berusaha untuk tenang dan akan mengatasinya satu per satu.
Bagai berduet, adik kakak itu menangis bersamaan dengan ibunya yang masih sibuk menenangkan Kio.
Dara menggendong Kayla, menyusuinya sedikit agar ia bisa kembali tertidur.
“Kak. Kalau kakak repot, aku bisa bawa Kio. Itu pun kalau kakak izinkan. Aku bisa rawat dia di tempat aku dan Haris, atau di rumah mama.” Anna menawarkan bantuan. Ia dapat melihat wanita muda yang telah menjadi ibu dua anak itu, terlihat super sibuk.
“Aku enggak mau merepotkan, An. Lagian tanggung jawabku.”
“Ini tanggung jawab kakak dan suami, kak. Kakak juga perlu istirahat. Aku yakin kakak belum pernah sekali pun istirahat sejak melahirkan,” ujar Anna lagi, dan omongannya ini membuat Dara terdiam. Apa yang dikatakan Anna memang benar, sejak pulang dari klinik bersalin, Dara sama sekali belum tidur panjang, atau merawat tubuhnya dengan benar. Meskipun luka pasca persalinannya sudah sembuh, badannya masih terasa pegal sebab langsung menyusui bayinya dan mengurus Kio, bersamaan ketika Ros jatuh sakit.
“Lagian Kio dekat dengan aku, kak. Aku nanti yang bilang ke aa. Kakak harus istirahat.” tambah Anna lagi dan disambut dengan anggukan dari Dara.
Mengurus dua orang anak memang bukan perkara mudah, apalagi Dara juga harus mengurusi suaminya, dan sebentar lagi ia akan kembali bekerja. Yang membesarkan hati dan semangatnya hingga saat ini adalah, ia berusaha meyakinkan diri bahwa itu adalah tugas utama dari seorang istri dan ibu. Hal ini juga membuat Dara bertekad untuk menyudahi produktivitasnya sebagai perempuan, dalam artian tidak ingin memiliki anak lagi.
Kehadiran Anna dan Haris di hari itu membuat lebih mudah pekerjaan Dara. Kio dengan mudahnya teralihkan kepada Anna, dan ia tampak sangat menyukai wanita itu. Mereka membawa bocah itu keluar untuk berjalan-jalan mencari udara segar, sedangkan Dara bisa mengurusi Ros yang sedang sakit ketika Kayla tertidur.
Pukul 8.30 malam, Tomi belum tiba juga, sedangkan seisi rumah sudah tidur setelah makan malam bersama.
“Sayang. Ini ambil belanjaan,” suara Tomi menyadarkan Dara dari lamunannya, ia segera menghampiri suaminya yang menunggu di depan pintu. Dua tas belanjaan di tangannya menandakan ia baru saja kembali dari salah satu fashion outlet ternama di kota Bandung.
__ADS_1
“Haris mana? Itu aku belikan baju untuk Kio dan Kayla. Emmmm ada juga oleh-oleh untuk mamaku.” ujar Tomi, sambil melepas jaketnya.
“Sudah pada tidur. Ya sudah nanti baru aku rapikan. Aku mau tidur juga.”
“Tunggu dulu. Kamu masak?”
“Iya aku masak,”
“Oh syukurlah. Kamu sudah makan?”
“Sudah. Kamu mau aku siapkan makanan?”
“Enggak perlu. Tadi sudah makan dengan Lita, dan Rian.” ujar Tomi lalu pergi meninggalkan Dara sambil terus mengetik pada ponselnya.
Dara menarik nafasnya, menghembuskannya dengan sedikit kesal. Ia lalu pergi juga mengikuti Tomi ke kamar.
“Kio mau dibawa sama Anna dan Haris kalau kamu izinkan. Katanya aku repot di sini,” Dara membuka percakapan.
“Memangnya kamu repot?” Tomi mengkonfirmasi.
“Lumayan. Apalagi nanti saat sudah kerja, mungkin bertambah repot karena Ros akan segera pulang,”
Tomi menghembuskan nafasnya, lalu menyimpan ponselnya di tempat tidur.
“Farah juga urus 3 orang anak. Aku kira kamu lebih mudah bukan? Hanya dua orang anak,”
Serasa disambar petir, Dara tak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu.
“Farah itu enggak bekerja, dia tiap bulan dikirimi uang sudah pasti. Juga, dia punya dua orang kakak perempuan yang bantu untuk mengurus anak-anaknya, sedangkan aku sendiri di sini. Jelas saja dia lebih ringan. Kenapa kamu harus bawa-bawa Farah?” Dara menjawab dengan ketus.
Tomi tersenyum, senyum seakan geli terhadap sesuatu.
“Aku enggak membandingkan. Aku bertanya,” ucapnya.
Dara tak mau menjawab lagi omongan suaminya itu, ia segera menyimpan belanjaan yang ia terima tadi lalu menarik selimut dan tidur tanpa membahas apa yang barusan ia dengar.
“Kamu tidur? Ya sudah, nanti aku bilang Haris untuk bawa Kio sementara sambil kita cari pengasuh baru. Jangan ngambek dong, sayang.” Tomi berusaha meluluhkan istrinya yang tidur membelakanginya. Dara tak bergeming, ia menutup matanya agar tidak terbawa emosi.
__ADS_1