
Slurp!
Dengan penuh semangat, Tomi menyeruput kuah dari mie buatan istrinya itu. Cuaca saat ini memang paling pas ditemani semangkuk mie hangat, dan Dara selalu pandai memanjakan lidah suaminya itu. Dara tak memakan apa pun, selain memandang dengan lahapnya lelaki yang menikahinya itu menghabiskan apa yang ia masak.
“Oh iya sayang. Apa semua sudah siap? Maksudku, ketika alatnya jadi, kamu mau langsung buka?” tanya Tomi kepada istrinya itu.
“Iya sudah. Dekorasi, logo, menu, semuanya sudah siap. Aku mungkin mau buat hari pertama free saja untuk tetangga sekitar kedai kita nanti.”
“Kamu tahu enggak?”
“Apa?” tanya Dara kepada pertanyaan suaminya.
Tomi tersenyum, meneguk air di gelasnya, dan mengelus kepala istrinya itu.
“Kamu itu serba bisa, dan aku laki-laki yang beruntung bisa dapat kesempatan jadi suami kamu. Bayangkan kalau saat ini aku masih dengan Farah?”
Aneh tapi nyata, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Tomi, dan tak berusaha munafik, Dara menyukai pujian itu. Ia menangkap tangan suaminya itu, dan mengecup punggung tangannya.
“Aku yang beruntung. Aku dapat laki-laki seperti kamu, mau mendukung mimpi aku,”
__ADS_1
Di ujung lidahnya, Dara menahan semua komentar yang sebenarnya ingin ia sampaikan menanggapi omongan Tomi tentang Farah.
“Jangan. Jangan sekarang.” Gumamnya dalam hati agar menahan keinginan itu, dan tidak merusak suasana. Tak bisa ia pungkiri di usia pernikahannya yang ke 6 tahun ini, Dara masih tak bisa menyudahi kekesalannya terhadap Farah. Selain itu, Tomi pun masih memperlakukan Farah sama seperti beberapa tahun lalu, apalagi dalam urusan keuangan. Satu hal yang berbeda, Dara sudah tidak lagi banyak berkomentar tentang urusan finansial kepada Tomi, sebab ia secara perlahan mulai mengambil alih hasil jerih payahnya sendiri, dan tidak lagi diatur oleh Tomi sejak pertengkaran mereka tentang Fani.
“Kamu serius enggak mau punya anak lagi, sayang?” Tomi membawa kembali topik candaan yang sudah dijawab Dara sebelumnya ketika mereka berada di bengkel milik Sapri.
“Iya. Cukup saja dua.”
Tomi mengangguk-angguk. Ia mendekati istrinya itu, memeluknya dengan erat, hingga Dara bisa merasakan detak jantung suaminya itu.
“Tumben,” protes Dara dengan suara kesal.
Dengan lembut, ia mengecup kening istrinya, dan memeluknya lagi ...
“Janji sama aku,”
“Apa sayang?” tanya Tomi.
“Jangan lagi ada Fani lain ... aku sudah cukup banyak menyapu kerikil selama enam tahun ...”
__ADS_1
Tomi menggeleng lalu menatap istrinya itu. Kedua tangannya ia letakkan pada pipi Dara.
“Aku sayang kamu, aku sayang anak-anak. Sebentar lagi kita punya K’s. Aku harus bisa mengurus keluargaku lebih baik supaya K’s bisa berkembang. Kita enggak pernah tahu kalau bisnis kamu ini bisa menjadi besar untuk kita sekeluarga.” Tomi menempelkan juga keningnya pada kening istrinya, berusaha meyakinkan Dara. Matanya tampak begitu serius, dan tentu saja Dara sekonyong-konyong terpikat.
Dara memeluk suaminya itu, merasa waktu membawa kembali suasana 7 tahun lalu ketika mereka pertama kali bertemu. Ia tentu sangat mencintai pria yang telah menikahinya itu, dan karena itulah ia telah bertahan, dan meyakini setiap kata maaf dari Tomi.
Sebagai pasangan yang sering sekali bertengkar, siang dingin itu menjadi ajang mereka untuk duduk dan saling bicara dengan kepala yang lebih dingin. Mungkin ... Dara tidak cukup berani membahas tentang Fani dan wanita lainnya yang pernah menyulut emosinya. Tapi, setidaknya ia bisa menjelaskan apa yang ia inginkan dari suaminya itu.
“Kamu itu lucu, sayang. Seakan enggak butuh, tapi ternyata butuh sama aku,” Tomi mencubit pipi istrinya, dan membuat wanita itu tersipu.
“Aku akan lebih banyak waktu dengan kamu dan anak-anak. Aku juga sudah berumur, sebenarnya sudah enggak nyaman nongkrong sana-sini. Tapi ... hidup sosial memang seperti itu sayang.” Sambung Tomi menjelaskan apa dasar ia sering pergi bersama teman-temannya.
Dara menggenggam jemari suaminya, dan meletakkan kepalanya di atas genggaman mereka.
“Terkadang aku berpikir ... apa aku harus berhenti sampai sini ... dulu ada Farah ... ada lagi hal-hal lain. Tapi toh aku sampai juga di sini. Dari yang sangat sakit hati dan bisa menangis, sampai enggak menangis lagi sekarang.” ucap Dara dan mengulas senyum tipisnya.
“Aku tahu. Itu kenapa aku memilih kamu. Kamu wanita yang hebat. Kamu kuat. Aku percaya sama wanita seperti kamu. Aku janji aku akan lebih baik.” Sekali lagi Tomi beruaha meyakinkan istrinya.
Untuk kali ini Dara bisa sedikit tenang, walau ia tahu ia tak bisa terlalu berpegang pada omongan suaminya itu, tapi setidaknya kata-kata itu cukup menghibur setelah berpuluh pertengkaran yang sudah mereka lewati. Entahlah. Ia juga tak yakin apa yang ia inginkan, namun saat ini rumah tangga yang harmonis, mungkin sudah cukup baginya.
__ADS_1