Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 49 – Selangkah Lagi


__ADS_3

“Terus! Terus! Hopp!” seorang pria dengan topi kuning, dan kaos hitam sedang sibuk mengarahkan mobil pikap yang sedang mengantar alat pemanggangan milik Dara. Bak menunggu seorang jamaah pulang umroh, semua berkumpul di sana ingin melihat wujud asli alat yang sudah dinantikan. Dengan kegigihannya, Dara berhasil mendapatkan izin sewa lahan yang persis berada di pinggir jalan Surapati, tak jauh dari Gedung Sate yang populer.


Sesuai janjinya, Sapri menyelesaikan alat yang ia buat, tepat pada waktunya. Sumringah, Dara berdiri memandang proses alatnya itu dipindahkan. Pada sisi depannya sudah terbubuhkan tulisan ‘K’s’ seperti yang ia rencanakan.


Begitu ramai orang yang datang membantu alat itu diletakan pada posisinya. Mereka adalah penduduk sekitar kedai itu yang berprofesi sebagai tukang ojek, dan beberapa lelaki yang rutin duduk menghabiskan kopi pagi mereka di tongkrongan itu.


“Bagaimana teh? Suka?” Sapri menghampiri Dara yang sedang menggendong anak perempuannya.


Dara mengangguk cepat, meyakinkan Sapri bahwa semua berjalan sesuai keinginannya.


“Suka. Maksih ya, Kang Sapri.”


“Kalau begitu, saya langsung pamit dengan tim saya, Teh.”


“Buru-buru amat, Kang. Makasih ya, sudah sampai di sini alatnya,” Tomi menjabat tangan lelaki itu, seraya merangkul pundaknya. Sapri memang sangat tidak pehitungan dengan teman, dan ia juga menepati janjinya.


Di samping pekerjaannya sebagai satpam, ia masih sempat menyisihkan waktu luang menyelesaikan apa yang Dara minta, tanpa satu hari pun berhenti hingga selesai tepat waktu.


Mobil itu melaju, membawa Sapri dan 3 orang yang membantunya. Sementara Dara, dan Tomi masih di sana memandangi alat mereka itu.


“Kenalin, ini Ujang. Kang, ini istri saya, Dara,” Tomi memperkenalkan Dara kepada seorang pria dengan jaket ojek online. Sebelumnya ia sudah pernah mendengar tentang lelaki itu dari Tomi.


Karena Tomi yang pertama pergi melobi tempat yang mereka sewa, ia yang lebih tahu dan kenal dengan orang-orang di sana. Ujang seorang pria asli Garut, kulitnya hitam terkena matahari karena pekerjaannya yang selalu membawanya pergi kesana kemari mengantar penumpang. Ia salah satu orang berpengaruh di tongkrongan itu, dengar-dengar ia yang membereskan beberapa masalah yang lazim terjadi di antara para tukang ojek yang mangkal.


“Halo, Teh. Semoga betah. Teteh pulang saja. Kasihan anak-anaknya. Nanti kami yang bantu-bantu aa di sini.” Tuturnya begitu ramah, bertolak belakang dengan rupanya yang memberi kesan sangar. Dara tersenyum dan membalas dengan anggukan sopan.


“Saya harus pulang dulu, Kang. Saya ada jadwal kerja sebenarnya. Ini saya tinggal sebentar karena alat mau diantar,” Tomi menjelaskan singkat.

__ADS_1


“Oh iya. Enggak apa-apa, Kang Tomi. Tinggal saja. Aman di sini. Ada saya dan anak-anak lain,” mendengar apa kata Ujang, Tomi dan Dara menjadi merasa tenang. Tak hanya itu, semua yang ada di tongkrongan itu juga menerima mereka dengan baik, apalagi Dara adalah seorang wanita yang begitu ramah, sehingga orang menjadi bersikap baik kepada mereka.


“Tapi kita libur, bi ... kerja?” protes Dara ketika sampai di rumah. Ia bingung mengapa suaminya itu berbohong dan segera mengajaknya pulang.


“Aku mau ketemu seseorang. Yang akan bantu-bantu nanti. Kita kan kerja, jadi enggak masuk akal kalau kita yang harus jaga kedai. Begitu maksudku, sayang.” sambil melepas sepatunya di depan pintu rumah, Tomi menengok ke langit yang penuh dengan awan mendung.


Dara membaringkan Kayla pada tempat tidur bayi, sedangkan Kio sudah lebih dulu dibaringkan Tomi di sofa ruang tamu.


“Kenal di mana?”


“Facebook. Orangnya baik. Awalnya aku mencari suplier arang, lalu dia muncul menawarkan, dan sekaligus menawarkan jika dia bisa jadi karyawan di K’s. Menurut kamu?”


“Hmmm ...” Dara mengatupkan bibir, sembari memandang ke atas.


“Boleh dicoba ... lagian kamu sudah berpengalaman merekrut orang ...” ujarnya menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


“Aku pergi sejam lagi. Enggak lama, kok. Aku hanya mau pastikan apa dia serius, kemudian pulang lagi. Dia bisa mulai lusa.” imbuh Tomi.


“Pergi sendiri?” Dara merasa bahwa ia juga harus dilibatkan untuk hal ini, lagi pula ia harus tahu siapa yang bertanggung jawab untuk menjalankan idenya ini.


Tomi menghela nafas, lalu menghembuskannya lagi.


“Repot, Ra. Kamu harus bawa-bawa dua anak. Sudahlah, aku saja. Kamu istirahat di rumah,”


Dara tak punya pilihan lain, dan ia pun setuju tinggal di rumah bersama anak-anaknya. Ia mungkin bisa menghabiskan waktu untuk bermain bersama mereka dan mempersiapkan hal lain untuk Trial Opening di lusa nanti.


“Kok belum pulang sih?” Dara cemas melihat ponselnya, menunjukkan pukul 11 malam. Tomi sudah pergi sejak siang tadi, dan ia berkata hanya sebentar saja, namun sudah selama ini ia belum juga tiba di rumah.

__ADS_1


Dara sudah berusaha beberapa kali menelepon nomor ponsel Tomi. Nihil ... panggilannya  tidak dijawab satu pun. Ia memang wanita yang teguh berpegang pada janji, dan kali ini ia merasa resah karena suaminya itu sudah melewati waktu yang ia janjikan sebelum berangkat.


Biip!


Suara klakson mengagetkan Dara, dan ia bisa melihat suaminya itu tertawa terbahak-bahak melihatnya kaget setengah mati. Dara membuka pintu dengan raut wajah kesalnya.


“Hehe. Nungguin, ya? Ini wedang. Kamu suka, kan?” Tomi turun dari motornya dan memberi sebungkus wedang ronde yang ternyata masih hangat, kemudian memberi kecupan untuk istrinya itu.


“Buka dulu di mangkuk, terus kembali ke sini, ya? Aku tunggu ...” sambungnya kepada Dara. Wanita itu bergegas pergi menghidangkan wedangnya di dalam mangkuk, lalu kembali duduk bersama suaminya.


“Kok lama?”


“Aku asyik ngobrol dengan Yadi. Anaknya baik. Ternyata dia serabutan juga, membantu orang tuanya jualan tahu Sumedang.” jawab Tomi sambil menatap istrinya melahap wedang.


“Hasilnya?”


“Dia mulai kerja lusa, seperti yang aku bilang. Orangnya baik, sopan bicaranya. Dia juga masih punya adik yang kecil-kecil. Tulang punggung, seperti kamu. Oh ya, apa kamu sudah beritahu mama kamu soal K’s?”


Dara menggeleng. Akhir-akhir ini ia sangat jarang berkomunikasi dengan ibunya, sebab ketika hubungannya tidak baik dengan Tomi, ia akan menghindar dari keluarganya agar tidak menceritakan apa yang terjadi dalam rumah tangganya.


“Sama. Aku juga belum. Tapi nanti saja baru kita ceritakan, kalau ada waktu pulang.” kata Tomi lagi kepada istrinya.


“Jangan lupa cerita, aku founder dan CEO-nya,” cakap Dara, dan Tomi menyambut ucapan itu dengan senyumnya.


“Iya, bawel. Oh iya. Aku berpikir kita harus pindah dari kontrakan ini. Aku sudah ketemu rumahnya, tadi aku pergi dengan Yadi. Lagi pula, kita butuh space yang lebih luas nanti untuk pengolahan. Kita tunggu dulu jadwal kerja baru besok ... Nanti kita putuskan kapan pindahannya,”


Apa yang dikatakan oleh Tomi memang benar, mereka membutuhkan kontrakan yang lebih luas lagi untuk aktifitas usahanya nanti. Syukurlah ia sudah menemukan tempat yang tepat, sehingga Dara tak perlu capek mencari melalui online.

__ADS_1


“Selangkah lagi ...” gumam Dara. Ia tak percaya ia sudah sejauh ini berusaha mewujudkan idenya sendiri.


__ADS_2