Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 56 - Ini Salahku


__ADS_3

“Jadi ... sebenarnya mepet ya, kak.” Tami menanggapi dengan nada lemas, sambil menunduk.


Dara mengangguk meniyakan apa yang dikatakan iparnya itu. Sejak mereka kehilangan pekerjaan, ia harus lebih pintar mengatur sisa-sisa tabungan yang ia miliki di dalam rekening. Berbeda dengan Tomi, Dara sangat merencanakan pengeluaran dan mengusahakan lebih banyak pemasukan. Sedangkan Tomi selalu berpegang pada pendapatnya bahwa ‘rejeki sudah ada Yang mengatur’.


“Terus ... kenapa kakak iya saja ? Kak ... Aa itu terkadang memang egois, kak. Aku paham,” Tami tampak sangat berapi-api mengutarakan isi kepalanya. Sebagai satu-satunya anak perempuan, ia lumayan banyak mengetahui dan memiliki penilaian terhadap sifat abang-abangnya. Selain itu, Tami juga sangat sering beradu mulut dengan Tomi.


“Mau jadi apa kamu nanti? Umur sudah kepala 2 lebih, enggak punya pekerjaan, di rumah saja nonton video K-Pop!” ucap Tomi kepada Tammi suatu hari ketika mereka beradu mulut. Wajar saja jika Tami tak segan memberi komentar pedas tentang abangnya itu bahkan kepada istrinya sendiri.


“Aku tahu, Tam. Aku hanya menjaga supaya jangan ada ribut lagi. Semua harus waras sekarang ini ... jaman lagi susah,” Dara menjawab sambil terus merapikan tasnya. Tami tampak kesal, namun ia tidak bisa lebih banyak memberitahu apalagi menghasut iparnya itu. Sebagai perempuan yang seumuran dengan Dara, ia bisa merasakan apa yang dialami Dara.


Penilaian Tami kepada abangnya itu tidak serta merta datang. Ia telah lama tinggal seatap. Selain itu, ia juga pernah bersama abangnya, ikut merantau ketika ia harus menjalani PKL di masa kuliah. Semua sudah ia ceritakan kepada Dara ketika mereka sama-sama fdi Filipina. Selain suka dengan narkoba, Tomi juga sudah beberapa kali membawa wanita lain masuk ke dalam rumah tangganya dengan Farah. Sepanjang pernikahannya telah ada 3 wanita lain yang ia pacari ketika bekerja. Semua adalah sekretarisnya di tempat kerja berbeda-beda.


Seperti bermain kartu, Dara tidak tahu kartu apa yang dibagikan kepadanya. Tak tertebak tentunya apakah Tomi akan berubah, atau malah masih mengulang lagi. Dalam hatinya Dara berharap Fani adalah kerikil terakhir yang harus ia singkirkan.


“Mau ke mana kamu?” Tomi tiba-tiba masuk ke dalam kamar, mendorong pintu dengan kasar.

__ADS_1


“Enggak. Aku hanya rapikan tas saja. Besok kan mau pulang.”


“Keluarin baju-baju aku. Kamu pulang dahulu saja. Aku masih mengurus yang lain.” Titah Tomi dengan nada ketus setengah membentak. Dara mengelus dadanya. Suaminya itu membentaknya di depan adik iparnya yang sudah menahan geram. Dara menggenggam tangan Tami, memberi isyarat agar Tami tenang.


“Kesetanan kamu? Pulang-pulang bentak Kak Dara!”


“Nyolot. Suka-suka gue. Istri gue bukan istri situ.” Balas Tomi dengan cuek.


“Sudah, Tam. It’s Okay.” ucap Dara lirih, setengah menahan air matanya yang sudah memenuhi pelupuk matanya itu.


Omongan Tami membuat Tomi beranjak dari sofa di ruang tamu, mendobrak lagi pintu kamar itu dengan kasar, menyambangi kedua perempuan itu.


“Mau apa lu, Tam? Nyolot lu. Sana cari kerja. Jangan impulsif saja sama barang. Lemak ketimbun!” teriak Tomi kepada Tami sambil melotot dan menunjuk-nunjuk ke arah adik perempuannya itu. Tami makin geram saja, ia berdiri mendorong-dorong badan abangnya itu, dan berteriak-teriak histeris, “tahu apa lu soal lemak gue? Tahu apa soal kelakuan impulsif gue? Memang dana impulsif dari lu? Enggak kan? Urus saja kelakuan lu yang enggak bener.”


Dara banjir air mata. Ia tidak menyangka pertengkaran hebat iuni terjadi ketika ia memiliki maksud baik untuk menjenguk mertua dan iparnya.

__ADS_1


“Eh. Kok pada ribut?” mertuanya yang entah sejak kapan mendengar pertengkaran itu, tiba-tiba masuk ke dalam kamar sempit itu.


“Kasihtahu ini laki-laki, Mah. Jangan seenaknya body shamming. Memangnya dia sempurna?” omongan Tami itu tidak sama sekali digubris oleh Tomi. Ia hanya terkekeh sinis, dan membuat Dara menjadi tidak enak hati dengan iparnya itu.


Dara tidak menyangka Tomi bisa sekasar itu bertutur kata kepada adiknya. Tami bukanlah anak perempuan yang beruntung. Ayahnya telah tiada sejak ia duduk di bangku kelas 5 SD, dan ia terpaut umr yang cukup jauh dengan kakak-kakaknya. Meskipun semua kakaknya adalah laki-laki, ia tidak pernah bisa mendapat sosok pengganti ayah di dalam diri mereka. Tomi adalah seorang pengejar karier dalam dunia perhotelan, sehingga terus berpindah kota, dan sangat jarang tinggal bersama Tami.


Bukan hanya itu, Tami harus menerima kenyataan bahwa ketiga kakaknya itu hidup berdampingan dengan narkoba, dan kejahatan lainnya. Tentu, ia tidak pernah bisa akur karena kebiasaan buruk kakak-kakaknya itu. Sementara mereka meneruskan kebiasaan itu, Tami sudah biasa melihat ibunya mengucurkan dana yang entah dari mana didapat, untuk menebus putra-putranya yang beberapa kali tertangkap tangan membawa narkoba. ‘Jalur Damai’ selalu ia pilih untuk membawa anak-anaknya pulang kembali. Namun ... kali ini Heri tidak beruntung sebab oknum yang menangkapnya itu sama sekali tidak mau melalui jalur damai tawaran ibunya.


“Tam ... sudah Tam ... Jangan didengar apa kata Aa kamu. Sudah ...” Dara memeluk Tami berusaha menenangkan gadis itu. Ia bisa merasakan detak jantung Tami yang begitu kencang dan cepat, tentu berasal dari emosi yang meledak.


Seperti biasa ... ibu mereka membawa anak laki-laki masuk ke dalam kamarnya.


“Tutup pintu kamar, kak. Kasihan anak-anak lagi tidur. Kakak juga istirahat. Aku ke kamar dulu.” Tami meninggalkan iparnya itu dan pergi ke kamarnya.


Dara termenung. Entah apa yang terjadi, hari ini sangat kacau baginya. Jika saja ia tidak memulai pembicaraan itu di mall, semua pasti akan baik-baik saja hari ini. Ia mulai mendapatkan pikiran seperti itu, dan menyalahkan dirinya. Seketika amarahnya itu berubah menjadi rasa bersalah yang cukup parah.

__ADS_1


“Selalu masalah ini terjadi kalau aku mengecek HP suamiku. Ya Allah ... Aku harus apa?” ia mulai menangis dan menggumam sendiri. Pikirannya mulai membawa pada memori-mormoti pertengkarannya dengan Tomi. Kebanyakan karena isi pesan di ponsel Tomi.


__ADS_2