
“Kak! Ya ampun, Kayla. Sini sama om. Ya ampun gemes banget anak ini.” adik Dara langsung memeluk kakak dan ponakannya yang baru saja tiba dari bandara. Terlihat jelas, semua orang begitu menantikan kedatangan ibu dan anak itu. Kayla memang anak yang tidak mudah cengeng; ia langsung menjadi akrab dengan kedua omnya itu.
“Mama mana?” Dara menyimpan tasnya sembari menengok ke dalam rumah.
“Mama lagi keluar. Sore baru pulang. Sudah makan kak?” jawab adiknya.
Dara mengangguk mengiyakan. Tak banyak yang berubah dari rumah itu. Masih saja sama ... kehangatannya, masih sama seperti terakhir kali mereka datang berlibur ke sana.
Drrrtt! Ponselnya bergetar, dan Dara sudah bisa menebak siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
Benar saja! Yup! Tomi.
__ADS_1
Tomi: [ Sudah sampai kan kalian?]
Dara menimbang-nimbang apakah ia harus membalas pesan itu seperti biasa yang ia lakukan selama bertahun-tahun menyandang status istri. Atau ... bolehkah ia mengabaikan lelaki yang sudah ia tinggalkan itu?
“Tunggu dulu. Kio masih di sana ...” timpalnya dalam hati lalu segera membalas pesan dari Tomi.
Dara: [ sudah. Baru saja sampai ]
Tomi: [ Baguslah. Senang-senang dengan Kayla, dengan mama. Semoga sehat semua. Aku besok akan pergi ke kaki gunung dengan Kio. ]
Kio ... lagi- lagi nama itu menggetarkan hatinya. Dara memeluk erat ponselnya.
__ADS_1
“Ya Allah. Tunjukan aku jalanMu ...”isaknya di dalam hati.
Banyak yang singgah, ingin mengetahui kondisi Dara. Separuhnya terlihat betul hanya sekedar ingin tahu. Di belakang, mereka mungkin menggunjingnya, dan ia tahu itu.
Dara sudah berada di rumah ibunya selama seminggu. Selama itu juga komunikasinya dengan Tomi terjalin baik ...
Lelaki itu, tiba-tiba dengan mudah meleleh seperti lilin yang kena hawa panas. Satu hal ... ia dengan sepenuh hati merawat Kio, mengantar bocah itu beberapa kali bermain di taman, gunung, berkemah, dan lainnya.
Dara masih tak luluh. Ia tetap pada pendiriannya. Ia sudah bertekad akan kembali ke Jakarta dan bekerja, mengurus perceraiannya, lalu membawa Kio bersamanya. Kali ini, ia bertekad tidak mundur, meski ia lihat suaminya itu sedang berusaha memadamkan api yang hampir membakar habis rumah tangga mereka. Dilemanya saat ini yaitu ... ibunya bukan orang yang mudah bertutur kata. Ia lebih sering diam memendam kesal, dan terkadang hal itu membuat Dara tak nyaman. Terkadang pengeluhan finansial luar biasa membebaninya ... tapi lagi-lagi ia tak punya pilihan saat ini.
Jika ditanya apakah berat baginya meninggalkan putrinya di sana, Dara mungkin memilih agar dapat bekerja membawa anak-anaknya bersamanya. Lagi-lagi ... ia tidak punya pilihan itu. Bukan hanya anaknya yang harus ia nafkahi sekarang, ibunya dan adik-adiknya juga belum mandiri secara finansial. Di tahap ini, ia lebih sering termenung, tapi sulit untuk menangis. Ingin menangis terisak tetapi tak punya daya, atau memang ... ia tahu tak banyak yang berubah bahkan sekalipun ia menangis 100 hari lamanya. Semua terasa berat, sehingga berminggu-minggu di sana ia habiskan memandang layar laptopnya mencari pekerjaan-pekerjaan sampingan yang bisa membuat tabungannya terisi dengan cepat. Hanya itu, yang bisa ia lakukan, sambil menata lagi rencanya kedepan. Ya ... hanya itu.
__ADS_1