Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 43- Pengaduan Pertama


__ADS_3

“Assalamualaikum!” Dara memasuki rumahnya, mendapati Tomi sedang asyik menonton bersama kedua anak mereka.


“Mama!” Kio berlari memeluk ibunya. Matanya langsung tertuju pada kantong yang Dara bawa.


“Ini buat Kio, dan Kayla.” ujar Dara menyerahkan bingkisan besar itu, dan Kio langsung sibuk membukanya. Kio mengeluarkan sebuah mainan excavator besar, dan sebuah boneka panda lucu untuk Kayla.


“Thank you, mama!” Kio memeluk ibunya lagi, dan terlihat langsung sibuk memainkan mainan barunya.


“Kenapa beli mainan? Padahal sudah dibilang jangan boros.” Tomi bertanya dengan nada tak senang.


“Bukan. Ini dari Mira dan Danang, kok.” ucap Dara berbohong, setelah ia berdiskusi dengan Mira dan Danang tadi. Tomi mengangguk.


Dara duduk semabari merapikan lantai yang berserakan dengan mainan lain. Hari ini ia cukup menikmati waktunya bersama teman-temannya. Untuk 3 jam ia bisa melepas penatnya, meskipun sesekali terus mengecek apakah Tomi sudah pulang.


“Anak Fani sakit.” Tomi tiba-tiba menyebut nama Fani lagi. Dara tak tahu harus bereaksi seperti apa, sebab ia sangat tak senang dengan wanita itu.


“Lalu?”


“Kok lalu? Kalau anak kamu sakit, orang pasti berempati. Kamu kok pertanyaannya seperti itu?” nada Tomi sedikit meninggi, dan Dara tahu ia tidak boleh membiarkan pertengkaran terjadi.


“Lalu? Maksudnya aku, apa yang bisa kita bantu?” ia menjawab dengan tenang.


“Fani itu ibu tunggal. Dia sudah menjanda, suaminya tidak pernah menafkahi. Anaknya hanya 2 orang, yang bungsu ini sakit sudah 3 hari demam. Tapi dia belum bisa pulang karena harus bekerja. Rumahnya lumayan jauh. Di padalarang.”


“Kamu tau banyak soal dia. Sampai tahu di mana rumahnya,”

__ADS_1


Tomi menghenbuskan nafasnya, seperti tak senang dengan reaksi istrinya. Sedangkan Dara kali ini kokoh tidak mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.


“Kamu itu memang tidak tahu hal semacam itu, karena kamu tidak bergaul. Kamu sombong. Mana pernah kamu duduk bercerita dengan pengasuh-pengasuh di sana? Pantas hal seperti ini pun kamu tak tahu.”


Dara geram seketika. Kali ini ia merasa kata-kata suaminya itu sudah tidak masuk akal.


"Aku memang enggak perlu duduk berbasa-basi dengan orang. Apalagi sampai basa-basi panjang chat setiap hari dengan lawan jenis. Itu enggak penting!" Dara berbicara dengan nada Ketus, lalu menggendong Kayla dan Kio, membawa mereka ke kamar untuk ditidurkan.


Tomi tertegun, sebab kali ini istrinya benar-benar tak sungkan menunjukkan rasa tak sukanya.


Dara menutup pintu kamar, lalu menidurkan Kayla pada box bayinya yang sudah is rapihkan. Bayi itu tertidur pulas, begitu juga Kio yang mulai kelihatan mengantuk. Ia mengambil ponselnya, seakan ingin sekali mengadukan apa yang dikatakan oleh Tomi kepada Danang dan Mira. Keduanya itu adalah pendengar yang baik.


Ia membuka WhatsApp mencari kontak mertuanya.


Ia juga mengirim pesan yang sama kepada iparnya, Tami.


Kring! Ponselnya berbunyi. Telepon dari mertuanya. Dara segera mengangkat panggilan itu.


"Kak Dara! Ya ampun! Kangen." suara Tami langsung terdengar begitu keras di telepon.


"Iya sama. Mama di mana, Tam?"


"Ini ada. Omong aja, kak. Ini pakai loudspeaker kok,"


"Ada apa, Dar?" suara mertuanya kedengaran.

__ADS_1


"Mama kira-kira sibuk enggak nanti? Aku mau pergi ke situ dengan anak-anak."


"Sendiri? Atau dengan aa?" tanya Tami.


"Sendiri saja, Tam, Mah."


"Hmmm. Memang ada apa?" mertuanya tahu sesuatu yg tak beres telah terjadi.


"Aku nanti cerita di sana ya, Mah. Ini soal anak-anak. Aku rasa aku harus keluarkan mereka dulu dari daycare beberapa saat. Karena ... eng ..."


"Apa, Dara?" ujar mertuanya lagi.


"Aa aku lihat suka sekali nge-chat dengan pengasuh perempuan di sana. Chat-nya sudah berlebihan mah, sampai dia diajak ke rumah cewek itu segala."


"Aduh si buaya take insaf!" Tami menggerutu kesal.


Dara bisa mendengar hembusan nafas ibu mertuanya.


"Nanti mama omong dengan aa. Kamu yang sabar ya. Apapun yang terjadi, kamu harus kuat untuk anak-anak." ujar mertuanya memberi saran. Dara menahan air matanya.


"Ya sudah, mah. Nanti aku kasihtau mama lagi ya, kabarnya."


"Iya ..." jawab mertuanya singkat. Dara mengakhiri percakapan itu.


Ia sebenarnya sudah sangat muak dengan tingkah laku suaminya itu, akan tetapi saran dari mertuanya itu selalu meminta Dara untuk bertahan. Dara tak pernah menceritakan apa pun kepada keluarga, apalagi ibunya. Ia takut campur tangan banyak orang membuatnya tidak berpikir jernih. Baiklah. Kali ini sepertinya ia harus bertahan lebih teguh lagi.

__ADS_1


__ADS_2