
Ting! Ting! Ting!
Bunyi mangkuk diketukan dengan
sebuah sendok, terdengar jelas di pagi hari. Seperti ini, kehidupan di Jakarta ...
pikir Dara.
Tomi membangunkan istrinya itu,
memintanya menemani membeli ketoprak di gerobak yang baru saja lewat itu.
Makanan seperti itu, tak ada di daerah asal Dara. Ia duduk di teras, menemani
suaminya yang sedang memesan ketoprak untuk semua orang di dalam rumah itu.
Dalam tiga hari ini, Dara sudah tak
begitu canggung berada dalam rumah mertuanya. Ia belum bertemu keluarga lainnya
selain Haris. Menurut mertuanya, mereka akan mendapat kunjungan dari beberapa
bibi dari Tomi siang ini. Mertuanya punya 6 orang saudara kandung, dan beberapa
dari antara mereka akan datang berkunjung.
Dara memperhatikan tangan pedagang
ketoprak itu, meracik beberapa bumbu di dalam piring dengan sebuah ulekkan
kayu, dan menaruh beberapa bahan di dalam seperti tahu, bihun dan lainnya. Ia
pergi setelah membuatkan pesanan Tomi, dan menerima pembayaran.
“Kamu belum pernah makan ini, bukan?
Mau aku suap?” Tomi mengelus kepala istrinya yang masih menahan kantuk. Beberapa
piring lagi berisi ketoprak sudah ia antarkan ke dalam kamar mertuanya untuk
sarapan Haris, Tami, dan ibu Tomi.
“Aku mungkin enggak bisa makan ini.
Perut aku masih mual,” jawab Dara singkat. Tomi mengangguk, dan memakan
ketoprak itu. Ia begitu menikmatinya, dan melihatnya makan dengan lahap, membuat
Dara tersenyum kecil.
“Sebentar bibi Dina, dan bibi Atin
datang ke sini. Mungkin dengan suami mereka. Mau ketemu kamu, katanya,” ujar
Tomi lalu lanjut memakan ketopraknya hingga habis.
Dara mengangguk. Itu respons yang
paling tepat untuk berita seperti itu. Ia meminum segelas air es di pagi hari
itu, dan menggerakkan kakinya yang terasa keram. Di usia kehamilan empat bulan
ini, perutnya belum terlalu terlihat, akan tetapi pegal yang hebat sering
menyerangnya.
“Oh ya. Si biru mau aku jual. Nanti
ada sepupuku datang dengan temannya yang akan bantu untuk menjual mobil butut
itu,” satu lagi berita dari Tomi untuk Dara, pagi itu.
“Dijual? Kenapa?”
“Buat apa di sini? Lagian kalau aku
tinggalkan mobil di sini, pastinya Tami akan banyak enggak di rumah. Enggak
baik. Lebih baik aku jual saja. Enggak Apa-apa kan?” alasan Tomi cukup masuk
akal, dan diterima oleh Dara dengan baik.
Di rumah
itu hanya Tami dan Tomi yang bisa mengendarai mobil, dan di umurnya yang masih
senang bergaul, Tami sering pulang malam jika membawa mobil.
Siang itu begitu panas. Tomi
terlihat mengeluarkan sebuah kipas angin tinggi ke ruang tamu, dan Dara
merapikan meja dan sofa. Mereka sedang menanti kedatangan bibi-bibi Tomi.
Sebuah mobil merah berhenti di
depan rumah mereka, lalu diikuti bunyi klakson. Dua orang wanita dengan kerudung
panjang keluar, diikuti dua orang lelaki tua.
“Bibi!” Tomi terlihat senang, dan
langsung menarik Dara ikut menghampiri tamu mereka. Dara menyalami satu per
satu dari mereka yang datang, dan perempuan—perempuan tua itu terlihat begitu
ramah kepadanya.
“Cantik,” ujar bibi Dina kepada
Tomi. Dara ingat bibi Dina yang baru saja ia salami ini. Perempuan itu juga
turut pernah menerornya agar menjauhi Tomi. Namun ... ia terlihat begitu ramah.
Semuanya duduk di dalam ruang tamu,
dan banyak cerita yang mereka bagikan. Mereka banyak menanyakan kehidupan Tomi
dan Dara, juga sesekali bercanda pada Kio yang sebenarnya tak paham bahasa Indonesia.
Bibi Dina juga sempat menceritakan
beberapa oleh-oleh yang dibawa oleh mertua Dara ketika kembali dari Filipina,
dan mertuanya juga bercerita bahwa Dara mengurusnya dengan baik di sana.
“Jadi kapan Farah sampai?” tanya bibi
Dina singkat. Dara merasa ia salah mendengar, namun nyata. Air muka Tomi
berubah, begitu juga dengan mertuanya.
“Sebentar malam, bi.” Jawab Tomi
singkat. Dara seakan merasakan sesak yang hebat pada kerongkongannya. Ada
__ADS_1
banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Tomi tentang pembicaraan
itu, namun ia harus setidaknya menunggu setelah tamu mereka pergi.
“Dengan anak-anak?” imbuh Dina lagi.
“Iya bi. Semuanya.” Ujar Tomi
singkat. Ia beberapa kali menghindari kontak mata dengan istrinya yang terlihat
kaget akan hal itu.
Setelah tamu mereka pergi, Dara
masih tertegun, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menunggu hingga Tomi
datang menghampirinya di kamar.
Krriiiet!
Pintu terbuka, dan ia bisa melihat
Tomi masuk. Saat ini, ia seakan antara ingin menangis, dan marah.
“Kamu enggak bilang soal ini.
Kenapa?” ia langsung bertanya dengan nada yang dingin kepada suaminya.
“Aku rindu anak-anak. Farah enggak
izinkan mereka naik pesawat sendiri. Jadi mau enggak mau mereka ikut,” Tomi menjawab
jujur.
“Lalu? Kamu? Di mana kamu akan
taruh Farah?” nada Dara menjadi makin dingin.
Tomi menarik nafas, lalu menjawab
pertanyaan Dara dengan suara pelan, “ Dia di sini. Dengan anak-anak.”
Dara menahan amarah yang
bergejolak. Ia kini menyesali kedatangan mereka ke Jakarta.
“Lalu aku? Kio?”
“Apa kamu mau aku antarkan ke apartemen
kita? Atau kamu juga bisa di sini bersama-sama deng-“
“Dengan Farah? Dengan dia? Apa kamu
gila? Lalu kamu? Apa kamu sudah beritahu anak-anak bahwa kamu tidak bersamanya
lagi? Lalu apa kamu akan ikut tidur dengannya? Apa kamu bahkan berpikir sampai
di situ?” Dara menyela dengan amarahnya.
“Mama enggak mau mereka di tempat
lain. Mama mau mereka di sini. Menurut kamu, aku bisa apa? Anak-anak tentu
belum tahu, mereka masih kecil. Tentu aku akan tidur dengan mereka jika mereka
minta.”
“Lalu? Farah? Farah tidur dengan
sejak awal?” amarahnya masih terus membara.
“Bahkan jika aku tidur dengan
mereka, aku enggak akan berbuat apa-apa dengan Farah, sayang,” Tomi berusaha
meyakinkan istrinya yang marah.
“Apa kamu pikir aku percaya? Kalian
bahkan bersenang-senang di atas ranjang dan mengambil banyak foto saat kau
pulang berlibur dengannya. Apa kamu lupa? Apa aku begitu tak berarti?” air mata
mengucur deras, dan Dara merasakan sebuah sesak di dada.
Sontak ia teringat beberapa foto mesra
Tomi dan Farah beberapa tahun lalu ketika ia ditinggalkan dalam kondisi hamil
di Filipina.
Dara mengambil tas jinjingnya, lalu
dengan cepat menggendong Kio. Pikirannya menjadi singkat, dan ia seakan tak
peduli ke mana ia akan pergi. Ia pergi keluar dari rumah itu menggendong
anaknya. Menaiki taksi, dan berhenti di sebuah mall yang cukup terkenal.
Ia mendorong stroller anaknya, yang
terlihat tak mengerti kondisi apa yang terjadi. Ia berjalan pelan, melihat
sekitar, berusaha memalingkan perhatiannya. Jika saja ia belum membeli tiket, ia
pasti sudah pergi saat ini bersama Kio.
Drrt! Ponselnya bergetar. Sebuah
pesan masuk.
Tomi: Kamu di mana? Ayo pulang.
Dara: Aku akan di luar sini sampai
aku mampu untuk kembali ke sana. Apa kamu pikir aku ini batu yang tak
berperasaan?
Tomi: Jangan keras kepala. Pulang.
Aku akan tidur dengan kamu. Jika anak-anakku minta tidur dengan aku, maka kamu akan
tidur dengan kamu.
Dara: Tetap saja. Kamu enggak
bilang apa-apa soal rencana ini. Apa kamu kira aku mau ketemu dia?
Tomi: Aku milik kamu. Berhenti
keras kepala. Aku akan jemput kamu dan Kio, Ra. Kamu sedang hamil.
Dara duduk di meja food court,
__ADS_1
memesan segelas smoothie untuk menenangkan hatinya. Kio terlihat beberapa kali
mengusap wajah ibunya. Seakan memberi tanda bagi ibunya agar jangan bersedih.
Ia menyerah ... dan akhirnya
membiarkan Tomi menjemputnya. Tomi tak datang sendiri. Ada Haris, dan Tami yang
menemaninya.
Tami melambaikan tangan ketika
melihat Dara dari kejauhan. Ia duduk tepat di samping Dara dan Kio, dan
beberapa kali berbasa-basi menanyakan ini dan itu. Sepertinya Tomi sudah
menceritakan apa yang terjadi kepadanya di dalam perjalanan.
“Kak. Kakak enggak apa-apa ‘kan,
kalau Farah di rumah?” Tami bertanya dengan nada sedikit memelas. Entah antara
prihatin, atau ia juga ingin agar mantan iparnya itu ada di rumah itu.
“Aku ikut apa kata suamiku,” jawab
Dara singkat. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
“Kapan mereka dijemput?”
sambungnya.
“Sebentar. Jam 7 malam. Kak Tomi,
dan Kak Haris yang pergi jemput,” ujar Tami.
Seakan
tak punya pilihan, Dara hanya terdiam setelah mendengar hal itu.
Dara menanti suaminya pulang dengan
cemas. Ia sudah berencana tak akan berinteraksi apa pun dengan Farah ketika ia
sampai nanti.
Sebuah bunyi klakson tiba-tiba mengagetkannya
dari lamunan. Ia dapat melihat mobil mereka telah sampai. Dara melihat dari
jendela, tampak tiga orang anak-anak turun dari mobil itu. Seorang anak
perempuan sekitar 8 tahun, dan dua adik laki-lakinya. Mesin mobil itu lalu
mati. Dara terperangkap dalam kebingungan. Ia tidak melihat siapa-siapa lagi
turun dari mobil itu.
“Cucu nenek!” terdengar suara
mertuanya yang menyambut ketiga anak itu, dengan tangan terbuka, dan mereka
berhamburan dalam pelukannya.
“Farah mana?” sambung mertuanya,
bertanya kepada Tomi.
“Nanti saja ‘ma. Panjang,” jawab
Tomi singkat, dan menyimpan kunci mobil di sebuah gantungan. Dara menghembuskan
nafas lega. Jadi, wanita itu tak ikut datang.
“Sayang, ayo ketemu anak-anak. Bawa
Kio,” ajak Tomi yang tiba-tiba telah berdiri di depan pintu kamar.
“Farah?”
“Enggak. Dia enggak ikut. Pisah di
bandara tadi. Dia tahu ada kamu di sini, dan dia enggak mau lihat aku lagi katanya.
Jadi mungkin dia pergi ke rumah saudaranya,” penjelasan Tomi membawa perasaan
yang lebih lega lagi. Nasib baik berpihak kepada Dara.
Dara keluar dari kamarnya,
menggendong Kio yang sedang sibuk memainkan mainan di tangannya. Anak-anak itu
melihatnya, dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Ini Mama Dara. Ini yang temani
ayah nanti sampai tua. Mama Dara ini mama kalian juga mulai sekarang.” Ujar Tomi
menjawab kebingungan pada wajah anak-anak itu. Ia mengambil Kio dari gendongan
Dara, dan anak-anak itu satu persatu datang mencium tangan Dara. Sebuah
skenario yang terbalik, tak seperti apa yang ia bayangkan.
“Ini ade Kio,” ujar Tomi lagi,
memperkenalkan Kio kepada kakak-kakaknya. Bocah itu langsung dikerubuti oleh
anak-anak itu, dan mereka langsung menjadi akrab dengannya.
“Apa nanti kita tidur dengan mama Dara?”
tanya Fitri, anak perempuan sulung.
“Apa kamu mau tidur dengan mama
Dara?” Tomi balik bertanya.
“Aku mau tidur dengan Kio, juga
dengan ayah,” sahut Fitri.
“Baik. Kalau begitu kita semua
tidur bersama.” Jawab Tomi lalu memberikan pelukan hangat kepada empat orang
anaknya.
Dara tersenyum. Ia harus belajar
menjadi ibu sambung yang baik untuk ketiga anak itu, meskipun ia belum tahu
bagaimana caranya. Tetapi, melihat respons ketiga anak Farah kepadanya, mereka
terlihat tak keberatan dengan kehadiran Dara.
__ADS_1