Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 24 - Rencana Tersembunyi


__ADS_3

Ting! Ting! Ting!


Bunyi mangkuk diketukan dengan


sebuah sendok, terdengar jelas di pagi hari. Seperti ini, kehidupan di Jakarta ...


pikir Dara.


Tomi membangunkan istrinya itu,


memintanya menemani membeli ketoprak di gerobak yang baru saja lewat itu.


Makanan seperti itu, tak ada di daerah asal Dara. Ia duduk di teras, menemani


suaminya yang sedang memesan ketoprak untuk semua orang di dalam rumah itu.


Dalam tiga hari ini, Dara sudah tak


begitu canggung berada dalam rumah mertuanya. Ia belum bertemu keluarga lainnya


selain Haris. Menurut mertuanya, mereka akan mendapat kunjungan dari beberapa


bibi dari Tomi siang ini. Mertuanya punya 6 orang saudara kandung, dan beberapa


dari antara mereka akan datang berkunjung.


Dara memperhatikan tangan pedagang


ketoprak itu, meracik beberapa bumbu di dalam piring dengan sebuah ulekkan


kayu, dan menaruh beberapa bahan di dalam seperti tahu, bihun dan lainnya. Ia


pergi setelah membuatkan pesanan Tomi, dan menerima pembayaran.


“Kamu belum pernah makan ini, bukan?


Mau aku suap?” Tomi mengelus kepala istrinya yang masih menahan kantuk. Beberapa


piring lagi berisi ketoprak sudah ia antarkan ke dalam kamar mertuanya untuk


sarapan Haris, Tami, dan ibu Tomi.


“Aku mungkin enggak bisa makan ini.


Perut aku masih mual,” jawab Dara singkat. Tomi mengangguk, dan memakan


ketoprak itu. Ia begitu menikmatinya, dan melihatnya makan dengan lahap, membuat


Dara tersenyum kecil.


“Sebentar bibi Dina, dan bibi Atin


datang ke sini. Mungkin dengan suami mereka. Mau ketemu kamu, katanya,” ujar


Tomi lalu lanjut memakan ketopraknya hingga habis.


Dara mengangguk. Itu respons yang


paling tepat untuk berita seperti itu. Ia meminum segelas air es di pagi hari


itu, dan menggerakkan kakinya yang terasa keram. Di usia kehamilan empat bulan


ini, perutnya belum terlalu terlihat, akan tetapi pegal yang hebat sering


menyerangnya.


“Oh ya. Si biru mau aku jual. Nanti


ada sepupuku datang dengan temannya yang akan bantu untuk menjual mobil butut


itu,” satu lagi berita dari Tomi untuk Dara, pagi itu.


“Dijual? Kenapa?”


“Buat apa di sini? Lagian kalau aku


tinggalkan mobil di sini, pastinya Tami akan banyak enggak di rumah. Enggak


baik. Lebih baik aku jual saja. Enggak Apa-apa kan?” alasan Tomi cukup masuk


akal, dan diterima oleh Dara dengan baik.


Di rumah


itu hanya Tami dan Tomi yang bisa mengendarai mobil, dan di umurnya yang masih


senang bergaul, Tami sering pulang malam jika membawa mobil.


Siang itu begitu panas. Tomi


terlihat mengeluarkan sebuah kipas angin tinggi ke ruang tamu, dan Dara


merapikan meja dan sofa. Mereka sedang menanti kedatangan bibi-bibi Tomi.


Sebuah mobil merah berhenti di


depan rumah mereka, lalu diikuti bunyi klakson. Dua orang wanita dengan kerudung


panjang keluar, diikuti dua orang lelaki tua.


“Bibi!” Tomi terlihat senang, dan


langsung menarik Dara ikut menghampiri tamu mereka. Dara menyalami satu per


satu dari mereka yang datang, dan perempuan—perempuan tua itu terlihat begitu


ramah kepadanya.


“Cantik,” ujar bibi Dina kepada


Tomi. Dara ingat bibi Dina yang baru saja ia salami ini. Perempuan itu juga


turut pernah menerornya agar menjauhi Tomi. Namun ... ia terlihat begitu ramah.


Semuanya duduk di dalam ruang tamu,


dan banyak cerita yang mereka bagikan. Mereka banyak menanyakan kehidupan Tomi


dan Dara, juga sesekali bercanda pada Kio yang sebenarnya tak paham bahasa Indonesia.


Bibi Dina juga sempat menceritakan


beberapa oleh-oleh yang dibawa oleh mertua Dara ketika kembali dari Filipina,


dan mertuanya juga bercerita bahwa Dara mengurusnya dengan baik di sana.


“Jadi kapan Farah sampai?” tanya bibi


Dina singkat. Dara merasa ia salah mendengar, namun nyata. Air muka Tomi


berubah, begitu juga dengan mertuanya.


“Sebentar malam, bi.” Jawab Tomi


singkat. Dara seakan merasakan sesak yang hebat pada kerongkongannya. Ada

__ADS_1


banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Tomi tentang pembicaraan


itu, namun ia harus setidaknya menunggu setelah tamu mereka pergi.


“Dengan anak-anak?” imbuh Dina lagi.


“Iya bi. Semuanya.” Ujar Tomi


singkat. Ia beberapa kali menghindari kontak mata dengan istrinya yang terlihat


kaget akan hal itu.


Setelah tamu mereka pergi, Dara


masih tertegun, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menunggu hingga Tomi


datang menghampirinya di kamar.


Krriiiet!


Pintu terbuka, dan ia bisa melihat


Tomi masuk. Saat ini, ia seakan antara ingin menangis, dan marah.


“Kamu enggak bilang soal ini.


Kenapa?” ia langsung bertanya dengan nada yang dingin kepada suaminya.


“Aku rindu anak-anak. Farah enggak


izinkan mereka naik pesawat sendiri. Jadi mau enggak mau mereka ikut,” Tomi menjawab


jujur.


“Lalu? Kamu? Di mana kamu akan


taruh Farah?” nada Dara menjadi makin dingin.


Tomi menarik nafas, lalu menjawab


pertanyaan Dara dengan suara pelan, “ Dia di sini. Dengan anak-anak.”


Dara menahan amarah yang


bergejolak. Ia kini menyesali kedatangan mereka ke Jakarta.


“Lalu aku? Kio?”


“Apa kamu mau aku antarkan ke apartemen


kita? Atau kamu juga bisa di sini bersama-sama deng-“


“Dengan Farah? Dengan dia? Apa kamu


gila? Lalu kamu? Apa kamu sudah beritahu anak-anak bahwa kamu tidak bersamanya


lagi? Lalu apa kamu akan ikut tidur dengannya? Apa kamu bahkan berpikir sampai


di situ?” Dara menyela dengan amarahnya.


“Mama enggak mau mereka di tempat


lain. Mama mau mereka di sini. Menurut kamu, aku bisa apa? Anak-anak tentu


belum tahu, mereka masih kecil. Tentu aku akan tidur dengan mereka jika mereka


minta.”


“Lalu? Farah? Farah tidur dengan


sejak awal?” amarahnya masih terus membara.


“Bahkan jika aku tidur dengan


mereka, aku enggak akan berbuat apa-apa dengan Farah, sayang,” Tomi berusaha


meyakinkan istrinya yang marah.


“Apa kamu pikir aku percaya? Kalian


bahkan bersenang-senang di atas ranjang dan mengambil banyak foto saat kau


pulang berlibur dengannya. Apa kamu lupa? Apa aku begitu tak berarti?” air mata


mengucur deras, dan Dara merasakan sebuah sesak di dada.


Sontak ia teringat beberapa foto mesra


Tomi dan Farah beberapa tahun lalu ketika ia ditinggalkan dalam kondisi hamil


di Filipina.


Dara mengambil tas jinjingnya, lalu


dengan cepat menggendong Kio. Pikirannya menjadi singkat, dan ia seakan tak


peduli ke mana ia akan pergi. Ia pergi keluar dari rumah itu menggendong


anaknya. Menaiki taksi, dan berhenti di sebuah mall yang cukup terkenal.


Ia mendorong stroller anaknya, yang


terlihat tak mengerti kondisi apa yang terjadi. Ia berjalan pelan, melihat


sekitar, berusaha memalingkan perhatiannya. Jika saja ia belum membeli tiket, ia


pasti sudah pergi saat ini bersama Kio.


Drrt! Ponselnya bergetar. Sebuah


pesan masuk.


Tomi: Kamu di mana? Ayo pulang.


Dara: Aku akan di luar sini sampai


aku mampu untuk kembali ke sana. Apa kamu pikir aku ini batu yang tak


berperasaan?


Tomi: Jangan keras kepala. Pulang.


Aku akan tidur dengan kamu. Jika anak-anakku minta tidur dengan aku, maka kamu akan


tidur dengan kamu.


Dara: Tetap saja. Kamu enggak


bilang apa-apa soal rencana ini. Apa kamu kira aku mau ketemu dia?


Tomi: Aku milik kamu. Berhenti


keras kepala. Aku akan jemput kamu dan Kio, Ra. Kamu sedang hamil.


Dara duduk di meja food court,

__ADS_1


memesan segelas smoothie untuk menenangkan hatinya. Kio terlihat beberapa kali


mengusap wajah ibunya. Seakan memberi tanda bagi ibunya agar jangan bersedih.


Ia menyerah ... dan akhirnya


membiarkan Tomi menjemputnya. Tomi tak datang sendiri. Ada Haris, dan Tami yang


menemaninya.


Tami melambaikan tangan ketika


melihat Dara dari kejauhan. Ia duduk tepat di samping Dara dan Kio, dan


beberapa kali berbasa-basi menanyakan ini dan itu. Sepertinya Tomi sudah


menceritakan apa yang terjadi kepadanya di dalam perjalanan.


“Kak. Kakak enggak apa-apa ‘kan,


kalau Farah di rumah?” Tami bertanya dengan nada sedikit memelas. Entah antara


prihatin, atau ia juga ingin agar mantan iparnya itu ada di rumah itu.


“Aku ikut apa kata suamiku,” jawab


Dara singkat. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


“Kapan mereka dijemput?”


sambungnya.


“Sebentar. Jam 7 malam. Kak Tomi,


dan Kak Haris yang pergi jemput,” ujar Tami.


Seakan


tak punya pilihan, Dara hanya terdiam setelah mendengar hal itu.


Dara menanti suaminya pulang dengan


cemas. Ia sudah berencana tak akan berinteraksi apa pun dengan Farah ketika ia


sampai nanti.


Sebuah bunyi klakson tiba-tiba mengagetkannya


dari lamunan. Ia dapat melihat mobil mereka telah sampai. Dara melihat dari


jendela, tampak tiga orang anak-anak turun dari mobil itu. Seorang anak


perempuan sekitar 8 tahun, dan dua adik laki-lakinya. Mesin mobil itu lalu


mati. Dara terperangkap dalam kebingungan. Ia tidak melihat siapa-siapa lagi


turun dari mobil itu.


“Cucu nenek!” terdengar suara


mertuanya yang menyambut ketiga anak itu, dengan tangan terbuka, dan mereka


berhamburan dalam pelukannya.


“Farah mana?” sambung mertuanya,


bertanya kepada Tomi.


“Nanti saja ‘ma. Panjang,” jawab


Tomi singkat, dan menyimpan kunci mobil di sebuah gantungan. Dara menghembuskan


nafas lega. Jadi, wanita itu tak ikut datang.


“Sayang, ayo ketemu anak-anak. Bawa


Kio,” ajak Tomi yang tiba-tiba telah berdiri di depan pintu kamar.


“Farah?”


“Enggak. Dia enggak ikut. Pisah di


bandara tadi. Dia tahu ada kamu di sini, dan dia enggak mau lihat aku lagi katanya.


Jadi mungkin dia pergi ke rumah saudaranya,” penjelasan Tomi membawa perasaan


yang lebih lega lagi. Nasib baik berpihak kepada Dara.


Dara keluar dari kamarnya,


menggendong Kio yang sedang sibuk memainkan mainan di tangannya. Anak-anak itu


melihatnya, dengan tatapan penuh pertanyaan.


“Ini Mama Dara. Ini yang temani


ayah nanti sampai tua. Mama Dara ini mama kalian juga mulai sekarang.” Ujar Tomi


menjawab kebingungan pada wajah anak-anak itu. Ia mengambil Kio dari gendongan


Dara, dan anak-anak itu satu persatu datang mencium tangan Dara. Sebuah


skenario yang terbalik, tak seperti apa yang ia bayangkan.


“Ini ade Kio,” ujar Tomi lagi,


memperkenalkan Kio kepada kakak-kakaknya. Bocah itu langsung dikerubuti oleh


anak-anak itu, dan mereka langsung menjadi akrab dengannya.


“Apa nanti kita tidur dengan mama Dara?”


tanya Fitri, anak perempuan sulung.


“Apa kamu mau tidur dengan mama


Dara?” Tomi balik bertanya.


“Aku mau tidur dengan Kio, juga


dengan ayah,” sahut Fitri.


“Baik. Kalau begitu kita semua


tidur bersama.” Jawab Tomi lalu memberikan pelukan hangat kepada empat orang


anaknya.


Dara tersenyum. Ia harus belajar


menjadi ibu sambung yang baik untuk ketiga anak itu, meskipun ia belum tahu


bagaimana caranya. Tetapi, melihat respons ketiga anak Farah kepadanya, mereka


terlihat tak keberatan dengan kehadiran Dara.

__ADS_1


__ADS_2