
Sebuah pemandangan keluarga kecil bahagia. Pagi itu Dara, Tomi, dan Kio sedang bersenda gurau di balkon apartemen, sambil menyemprotkan air pada beberapa burung Love Bird yang mereka punya di dalam sebuah kandang besar. Beberapa kali, gelak tawa Dara dapat terdengar. Sesuai ekspektasinya di awal pernikahan, ini adalah aktifitas keluarga yang ia impikan.
“Masuk yuk, Kio. Sudah panas di luar sini,” Tomi menggantung kembali sangkar burung ditempatnya, lalu menggendong Kio masuk ke dalam apartemen. Hawa sejuk dari AC begitu menyegarkan setelah beberapa puluh menit berada di luar ruangan.
“Mana dia? Lihat. Jam begini belum juga bangun. Mau jadi apa nantinya?” kembali lagi Tomi menggerutu tentang adiknya yang belum keluar dari kamar. Dara tersenyum saja, tanpa memberi komentar apa pun. Ia sebenarnya tahu, Tami sudah bangun pagi itu, dan sudah bersiap di dalam kamarnya.
Pintu kamar terbuka, dan terlihat Tami sudah rapi, tak seperti biasanya. Tomi harus menelan ludah karena sudah berburuk sangka kepada adiknya itu.
Tami merapikan kerudungnya, lalu duduk di meja makan, menghadap laptop Dara yang sudah disiapkan sejak pagi buta.
“Tumben! Ada apa?” ejek Tomi kepada adiknya yang sudah memasang wajah cemberut karena ocehan kakaknya.
“Dia ada wawancara, Bi ...” Dara yang menjawab. Tomi menangguk-anggukan kepala.
Ini harapan sesungguhnya akan adiknya itu. Ia bermaksud baik, agar adiknya itu menjadi produktif di usia yang bukan anak-anak lagi. Namun, Tomi memang bukan tipikal orang yang bisa berhalus dalam kata-kata untuk menyampaikan maksudnya.
“Wawancara jam berapa?” tanya Tomi kepada adiknya yang sudah memakai headphone.
“Ini sudah mau mulai, Bi,” lagi-lagi Dara yang menjawab. Ia tahu semua omongan Tomi tidak akan digubris oleh iparnya itu. Tami mungkin saja sudah ‘bad mood’ karena ocehan kakaknya yang menyangka ia masih tertidur pulas.
Tentang kebiasaannya bangun agak siang, Dara sudah beberapa kali membela Tami di hadapan kakaknya. Bagi Dara itu bukan sebuah masalah besar. Lagi pula ia yakin, Tami akan berubah kelak jika sudah punya pekerjaan, apalagi jika sudah menikah nanti. Tetap saja, Tomi memiliki pemikiran lain sehingga hal itu terus saja ia permasalahkan.
Perdebatan antara kakak-adik itu bukan hanya satu atau dua kali. Mereka sering sekali berdebat, perkara Tomi yang tak bisa menerima gaya hidup adiknya yang terkadang senang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.
Dara merasa semua sifat Tami itu adalah sebuah kewajaran, sebab ia adalah satu-satunya anak perempuan di antara semua kakak-kakaknya. Lagi pula, ibunya tidak pernah membatasinya.
Tami mengibas-ngibaskan tangannya memberi sinyal kepada Tomi untuk pergi, lalu ia menjawab sebuah panggilan video di laptop. Dara memperhatikan iparnya itu sepanjang percakapan. Beberapa kali Tami terhenti, dan memikirkan apa yang harus ia ucapkan.
Ah! Rupanya ia juga tak fasih berbahasa asing. Dara menjadi ikut-ikutan gugup melihat iparnya yang mulai kebingungan dan memberi sinyal kepada Dara. Apa boleh buat, ia tak bisa membantu karena ini adalah panggilan video.
“Baik. Terima kasih, pak,” Tami tiba-tiba berubah berbicara dalam bahasa Indonesia.
__ADS_1
Panggilan video itu terhenti, dan hembusan nafas Tami menandakan ia begitu tertekan selama percakapan dengan sang pemberi kerja.
“Kok bahasa Indonesia, Tam?” Dara penasaran.
“Iya. Ternyata yang wawancara orang Indonesia. Sama seperti kakak begini, sudah lama di sini.” ujar Tami.
“Lalu? Apa katanya?” sambung Dara.
“Katanya siang ini dikabarkan lagi lewat email,” jawab Tami singkat lalu merenggangkan kerudungnya.
“Mana bisa. Kamu enggak ada persiapan interview. Kenapa bisa terbata-bata seperti itu,” mulai lagi! Tomi berkomentar, seakan senang sekali memicu perdebatan.
“Aku hanya bisa sebatas itu. Kok kamu sewot?” Tami yang tak terima mulai meninggikan nadanya.
“Sudah ... Yang penting sudah selesai, kan?” Dara selalu menjadi penengah yang baik setiap kali kedua orang itu berdebat.
Di dalam hati, Dara juga merasa adik iparnya tak begitu luwes menjawab pertanyaan dalam wawancara, dan sangat sedikit berbicara dengan aksen dan kata-kata yang tak begitu teratur. Ia sendiri tak yakin apakah Tami dapat diterima bekerja. Ini adalah interview online yang pertama. Beberapa kali, Tami sempat menyambangi dua hingga tiga kantor untuk interview, namun hasilnya nihil.
“Ini sudah ada email!” serunya kaget melihat sebuah email dari perusahaan tadi.
Dara bergegas mendekati Tami. Ia juga ingin mengetahui hasilnya.
Kali ini Tomi menang lagi. Tami baru saja dinyatakan tidak berhasil dalam wawancara kerja yang baru saja ia lakukan. Ia terduduk lesu, kemudian menutup laptop yang ada di depannya.
“Gagal kan? Apa aku bilang,” seperti menambahkan bensin pada api yang menyala, Tomi menyambar begitu saja.
“Aku sudah berusaha. Kamu bisa enggak jangan begitu?” berderai air mata, Tami menjawab kakaknya yang tampak tak senang dengan hasil yang ia dapat.
“Kamu? Berusaha? Apa usahanya? Apa kamu pernah duduk konsultasi dengan istriku supaya bisa wawancara dengan baik? Atau apakah kamu pernah duduk belajar bahasa asing? Itu namanya usaha?” sambar Tomi, dan kata-kata itu makin membuat Tami menderu-deru dalam tangisannya.
Yang dikatakan Tomi itu memang benar, dan Dara pun tahu adik iparnya itu barangkali berpikir setiap wawancara itu akan sama saja. Sejauh ini, Dara belum berani berkomentar. Ia takut salah bicara kepada iparnya, dan menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
“Ya sudah! Aku pulang ke rumah mama! Aku selalu salah di sini!” Tami sedikit keras berbicara kepada kakaknya.
“Ya sudah! Pulang saja!” Tomi pun tak ada keinginan untuk menahan adiknya. Dara terdiam, mendengar perdebatan mereka. Ia tahu pasti Tami sangat tertekan dengan sifat kakaknya, akan tetapi ia tak bisa berbuat banyak untuk iparnya itu. Memiliki rumah tangga yang aman, dan tentram beebrapa bulan belakangan saja sudah bagus. Ia rasa bukan ide bagus untuk menambah masalah baru.
Dara mengikuti Tomi yang pergi masuk ke dalam kamar. Ia akan menidurkan Kio yang sudah lelap di pangkuannya. Tomi terlihat begitu geram, dan Dara sering kali salah tingkah jika melihat suaminya seperti itu.
“Jangan tahan dia ... Enggak perlu. Biarkan dia pulang,” ucapan Tomi memecahkan keheningan dalam kamar itu. Dara mengangguk, lalu menutupi tubuh Kio dengan selimut tipis.
“Bi. Apa enggak sebaiknya dipikir lagi? Kasihan dia. Lagian, ini baru berapa bulan di sini?”
“Aku enggak mau ada orang yang enggak tahu diri di dalam apartemen ini. Kalau mau kerja, usahanya harus maksimal. Bukannya asal-asalan pergi wawancara, dan nihil hasilnya. Biar saja dia pulang.” Jawab Tomi dengan tegas kepada istrinya.
Mungkin juga, apa yang dikatakan oleh suaminya itu sesuatu hal yang baik. Dengan pulangnya Tami, Dara bisa kembali menghemat, karena selama keberadaannya di sini, Dara harus menanggung segala sesuatu untuk Tami.
“Kita antar dia nanti. Kebetulan sudah mau lebaran. Kita juga bisa pulang ke Indonesia.” Sambung Tomi.
“Kita?”
“Iya. Kita. Aku, kamu, dan Kio. Kita bisa pulang menjenguk ibu kamu,” ujarnya.
Dara tersenyum bahagia, dan spontan memeluk suaminya. Itu adalah sebuah impiannya untuk pulang menjenguk ibunya di Indonesia. Selama ini Tomi selalu melarangnya untuk pergi kemana-mana, dan kali ini suaminya itu berinisiatif membawa Dara berlibur ke Indonesia.
__ADS_1