
Masih sangat gelap langit yang terbentang luas di luar jendela kamar. Dara menutup lagi kain jendela yang tadi ia singkap, bergidik di bawah selimut, kemudian kembali memeluk Kio yang masih tertidur pulas. Tangannya berusaha meraih ponselnya yang ia simpan di bawah bantalnya. 18 derajat celcius. Wow! Bandung memang tempat yang pas untuk tidur, tanpa harus terbeban tagihan listrik untuk pemakaian AC.
Suaminya sudah tak di sana. Lelaki itu bilang kepada Dara, ia akan bangun subuh hari pergi berlari di sekitar kompleks rumah kontrakan mereka. Dara kembali menutup matanya, menarik selimutnya lagi.
“Hahaha!” riuh tawa dari suara-suara yang Dara kenal, membatalkan tidurnya. Ia merapikan pakaiannya, kemudian turun ke lantai satu. Di ruang tamu itu, Anna, duduk dalam pelukan Haris, dan Tomi di sofa seberangnya.
“Sudah bangun? Tidur saja lagi. Masih terlalu pagi,” Tomi yang menyadari keberadaan istrinya, langsung menghentikan riuh tawa mereka. Mata Dara dengan cepat dapat menangkap kondisi di ruang tamu itu. Sebuah mangkuk bekas makanan cepat saji yang penuh dengan abu dan puntung-puntung rokok, beberapa gelas dengan kopi yang sudah tersisa ampas saja, dan tas punggung milik Haris yang setengah menganga.
Dara langsung mengenali apa yang kelihatan sedikit dalam tas itu. Sebuah botol whiskey dengan label ternama, harganya lumayan mahal. Tak ingin merusak paginya ia segera mengabaikannya begitu saja, dan ikut duduk di samping suaminya.
“Hari ini yang mau jadi pengasuh Kio, datang” ujarnya sembari membunyikan jari-jarinya yang masih sedikit kaku.
“Jam berapa?” tanya suaminya.
Dara tak langsung menjawab, namun masih sibuk beberapa saat sembunyi-sembunyi memerhatikan manjanya Anna kepada Haris. Untuk ukuran orang Indonesia, mereka lumayan ‘lengket’ meski di depan keluarga.
“Jam 12 siang. Nanti dia telepon kalau mau ke sini. Aku naik dulu, ya. Aku mau siapkan susu Kio” ucap Dara kemudian berlalu pergi. Ia sebenarnya ingin berlama-lama di sana, namun tidak begitu nyaman dengan wangi rokok yang tersebar di seluruh ruang tamu.
Ia kembali masuk ke dalam kamar, kemudian memeluk lagi anaknya, dan tidur beberapa jam. Lagi pula, mereka baru akan masuk kerja satu minggu lagi, ia masih bisa dan boleh berleha-leha.
Anna memberi kesan pertama yang lumayan baik. Ia begitu ramah, dan penuh dengan senyuman. Ia juga begitu ringan tangan menolong ketika membereskan barang-barang di dalam rumah kontrakan, sepindahnya dari hotel.
Wanita itu kurus, bahkan lebih kurus dari Dara. Rambutnya lurus sebahu, dan alisnya yang khas dibentuk menukik. Giginya terlihat tak utuh lagi, beberapa bagiannya pecah. Namun hidung yang mancung, memberitahu Dara bahwa ia pernah menjadi wanita yang amat menarik dulunya. Kulitnya yang coklat tua, sangat wajar karena suka pergi ke sana kemari dengan motor bersama Haris. Suaranya lumayan rendah untuk wanita, kata orang karena kebiasaan merokok.
Dalam beberapa hari bersama, Dara bisa mengiyakan apa kata orang tentang suara rendah itu. Anna memang wanita yang begitu aktif merokok. Dalam sekali duduk saja, ia bisa menghabiskan 3 hingga 4 batang rokok. Sehari ia bisa menghabiskan sebungkus, lebih banyak dari yang Haris konsumsi.
Tak banyak yang Dara ketahui, hanya itu saja dari pengamatannya. Mungkin ia perlu menggali lebih banyak informasi dari suaminya, menjaga-jaga kalau ia bisa salah bicara dan menyinggung Anna.
Matahari yang sudah lumayan hangat di tengah udara yang masih dingin, membangunkan Dara. Kio berubah sejak mereka sampai di Bandung. Ia tidur lebih pulas, dan sering bangun dengan nyaman bermain sendiri di dalam kamar itu.
“Kio? Jangan panjat-panjat ya, Nak. Awas Kio bisa jatuh,” ia mengingatkan balita yang sedang berusaha memanjat teralis di jendela.
“Doorrr!” suara Tomi mengangetkan Dara dan juga Kio yang langsung lari berhamburan menyerang pelukan ayahnya.
“Do you want eat something baby?” tanya Tomi kepada anaknya.
[ Kamu mau makan sesuatu, Nak? ]
__ADS_1
“I want Daddy!” jawab Kio sembari memeluk ayahnya yang ia panggil dengan sebutan Daddy. Kio sejak kedatangan mereka, menjadi bahan obrolan tetangga sekitar. Balita itu berbicara bahasa Inggris dengan luwesnya dengan ibunya, meski ada beberapa kata yang belum begitu jelas ia ucapkan. Dalam sekejap, Kio telah menghilang dari penglihatan Dara, dibawa oleh ayahnya.
“Mama you want breakfast?” Tomi kembali lagi bersama Kio, dan bertanya dari depan pintu kamar.
Dara menggeleng. Ia belum terlalu bernafsu makan di pagi hari, dan hal ini sudah berlangsung selama kehamilan keduanya ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu kamarnya diketuk, dan setelah itu terdengar suara Anna memanggil,”Kak! Aku boleh masuk?”
“Iya. Masuk saja, An!” balas Dara sambil tetap berbaring di kasurnya sembari melihat akun Facebook.
Pintu itu terbuka, bersamaan harum teh melati singgah di hidung Dara. Anna terlihat membawa secangkir teh yang masih mengepul. Dara cepat-cepat duduk.
“Ini kak. Minum yang hangat dulu biar enggak mual.” Ia menyodorkan cangkir teh itu.
“Terimakasih ya. Tahu saja. Hehe” timpal Dara lalu menyeruput teh melati. Teh itu jelas bukan teh celup, rasa teh yang pekat dan panasnya yang hampir membuat lidahnya terbakar.
“Bukan teh celup kan? Enak”
“Kok tahu kak? Iya itu daun tehnya aku godok. Hahaha. Kampungan tapi nikmat kak, ya?” Anna tertawa ramah.
“Repot-repot saja kamu, An.”
“Ah enggak apa-apa. Mau repot sama siapa lagi kalau bukan kakak?” jawabnya singkat dengan senyum yang tipis.
“Di Jakarta tinggal di mana, An?” Dara memulai percakapan.
“Di radio dalam, kak. Kakak pernah ke daerah sana?”
Dara menggeleng dan tersenyum,”mungkin pernah, kemarin kami keliling-keliling pas liburan lebaran, tapi enggak hafal nama tempatnya. Dengan keluarga?”
Kali ini, Anna yang menggeleng dan berkata dengan senyum, “Sendiri kak. Kost. Kadang ditemani Haris. Lebih banyak sendirian”
“Maaf. Kamu bukan orang sini, An? Maksud aku or-“
“Paham kak. Hmmm. Aku asli orang Jakarta, kak. Tapi sudah lama terpisah hidup dari mama, dan adik. Adik aku ada satu orang saja.”
__ADS_1
“Lalu papa?”
“Sudah enggak ada. Mmmm enggak jelas siapa, dan di mana. Mamaku bandel dulu. Keren ya? Hahaha” jawab Anna dengan santai dan Dara langsung menjadi merasa bersalah telah menanyakan hal itu.
“Ah, maaf. Aku enggak bermaksud. Tapi aku juga tinggal dengan single mother. Papaku juga enggak jelas di mana sekarang.” kata Dara.
Dara memerhatikan Anna selagi ia berbicara. Wanita dengan kaos dan celana jeans sederhana itu, terlihat sangat murah senyum dan menceritakan beberapa kejadiannya selama tinggal sendiri di kost. Ia kelihatan jelas lebih tua beberapa tahun dari Dara, bahkan Haris pun memang 11 tahun lebih tua dari Dara, namun harus memanggil Dara sebagai kakak.
Anna ... perempuan yang jelas sudah berkepala 3 itu, telah lama berpacaran dengan Haris. Ia tinggal sendiri di kost selama belasan tahun, kira-kira sejak ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia bukan wanita yang manja, ia bekerja. Pernah menjaga toko, menjadi pegawai sales di dealer motor, dan yang terkiri pada sebuah toko komputer. Ibunya seorang keturunan Tionghoa, sama dengan ayah Dara. Darah ibunya itu tampak jelas pada mata Anna yang kecil. Ia bercerita bahwa Haris dan dia sudah beberapa kali putus, namun lagi-lagi memutuskan melanjutkan hubungan mereka.
Hingga ia keluar dari kamar itu, Dara termenung dengan banyaknya pertanyaan tentang Anna di kepalanya.
“Sayang. Kio mau dibawa sama Haris dan Anna jalan-jalan ke kebun binatang. Aku juga mau ajak kamu ke kebun teh. Tolong dimandiin dulu Kio, ya?” Tomi tiba-tiba membuka pintu.
“Kenapa kak Dara? Aku saja Aa!” timpal Anna yang sedang menggendong Kio di belakang Tomi.
Dara mengangguk dengan senyumannya, dan mempersiapkan pakaian Kio. Anna jelas sangat baik terhadap Kio, merawatnya seperti anak sendiri. Setelah mempersiapkannya, mereka langsung membawa bocah itu berjalan-jalan, berpisah tujuan dengan Tomi dan Dara.
Tomi akan membawa Dara pergi ke kebun teh, namun Dara menolak rencana itu, karena mereka harus menunggu pengasuh yang akan datang. Mereka memutuskan membeli makanan-makanan khas Bandung dan berdua menyantapnya di dalam kamar yang dingin.
“Bi. Anna. Bukankah sudah lama sekali dengan Haris?” tanya Dara, disambut dengan anggukan dari Tomi.
“Lalu. Kenapa mereka belum menikah?” lanjut Dara menyelesaikan rasa penasarannya.
“Nanti kamu paham kalau sudah lumayan lama, sayang. Oh omong-omong dia juga pindah agama, dulu sama seperti kamu.” Tomi menjawab rasa penasaran istrinya dengan kalimat yang malah makin membuat Dara penasaran.
“Bi ... Mmmm. Dia, dan Haris. Mereka peminum?” Dara bertanya lagi.
“Hahahaha! Kamu tahu dari mana, sayang?”
“Aku lihat ada botol di dalam tas mereka. M-maksudku, aku enggak sengaja lihat pas memang tas itu terbuka.” Dara terbata-bata tak mau terkesan lancang.
“Iya. Mereka memang suka minum. Bukan hal baru itu, sayang. Mereka berdua juga pernah dibawa ke kantor polisi. Satu hari pas ada razia, mereka dihentiin dan kedapatan bawa lintingan ganja. Hahaha”
“Terus?” Dara penasaran.
“Terus. Aku pergi dan ‘menebus’.” Jawab Tomi dengan entengnya.
__ADS_1
“Masa sih bisa ditebus?”
“Bisa. Anggap saja aku mau masukin mereka ke rehabilitasi. Lagian itu hanya setengah batang ganja yang sudah dibakar sebelumnya.” Tomi menambahkan.