
Tok tok!!!
Pintunya sudah diketuk pagi-pagi hari. Tomi terbangun dengan kepala yang masih begitu berat. Sudah 3 hari sejak kepergian Dara dan anak-anaknya, ia menghabiskan malam dengan berbotol-botol minuman alcohol.
Ia menguatkan pijakannya, lalu menuju pintu ruang tamu. Pintu itu dibuka, dan terbelalak matanya melihat dara dengan barang-barang bawaannya juga anak-anak mereka.
Tomi segera mengambil Kayla yang tertidur dalam pelukan Dara, lalu bergegas ke dalam membaringkan putrinya itu. Kio berlari kecil masuk ke dalam rumah, lalu memeluk ayahnya itu. Terpancar kebahagiaan di mata bocah itu ketika ayahnya balik memeluk.
Dara tak bergeming … ia berjalan ke ruang tamu menaruh barang-barangnya kemudian bergegas ke kamar dan berbaring. Ini keputusan yang berat untuknya, harus kembali lagi ke rumah dan bertemu dengan orang yang ia benci.
“Thank you … sudah kembali dengan anak-anak …”suara lirih itu membuat Dara memejamkan matanya lebih rapat lagi mencoba untuk menghindari percakapan. Tomi pasti sangat terkejut dengan kedatangan Dara dan anak-anaknya.
Seperti tak punya telinga, Dara tidak merespon apapun omongan suaminya itu, dan terus saja berusaha menutup matanya rapat-rapat. Ia bukan wanita yang lugu dan bodoh lagi … kali ini.
Setidaknya ia sudah merasakan begitu banyak kepahitan dari kelakukan suaminya, dan keputusannya menjadi semakin bulat. Tapi … mengapa ia ada di rumah ini lagi?
Kayla terdengar riuh bermain bersama kakak dan ayahnya di kamar sebelah … hingga ayahnya dikagetkan oleh suara bukkkkk!!!! Begitu keras dari kamar Dara. Tomi bergegas.
Pemandangannya yaitu Dara yang sedang memijit punggung kakinya, dan koper yang tergeletak di samping. Wanita itu pasti baru saja tertimpa koper bermuatan 50 kilogram. Tomi menyadari sesuatu … Dara baru saja memasukkan beberapa barang lain dalam koper itu.
“Kok dimasukin lagi? Untuk apa?” kebingungan melanda otaknya seketika, tetapi perempuan yang ia nikahi itu enggan menjawabnya.
“Hei! Aku bertanya!” kali ini Tomi mulai hilang kesabaran sebab sejak tiba tadi, sedikit pun tak keluar sepatah kata dari mulut istrinya.
__ADS_1
Tatapan Dara dingin, lurus menuju penglihatan suaminya.
“Aku mau pergi!”
“Tapi kalian baru saja datang …”
“aku datang mengambil barang-barang lainnya. Aku akan pergi lagi dengan anak-anak.”
“Ke mana?” Tomi menahan geram dalam suaranya yang berusaha ia pendam agar tak meninggi.
“Ke rumah mamaku …”
Tomi memegang kepalanya yang seakan hamper pecah. Ia tidak menyangka wanita yang ia nikahi dapat dengan mudah pergi setelah bertahun-tahun dengannya.
Dara terdiam, masih dengan ekspresi dinginnya itu.
“Tidak … aku bawa anak-anak.”
“Bawa Kayla … Jangan bawa Kio. Aku mau hidup dengan anak lelakiku. Jika tidak begitu, kamu tidak boleh pergi.”
Darahnya memanas, dan Dara berusaha tidak membuat keributan, meski dalam hati ia tahu ia tak mungkin meninggalkan Kio. Tapi … otaknya berpikir keras … memang kemungkinan besar, ia akan kembali lagi bersama Kio.
“Baik. Aku bawa Kayla.”
__ADS_1
“Kapan berangkat?”
“Lusa …”
Tomi memegang kepalanya lagi, raut wajahnya lesu, seiring gadis kecilnya datang menghampiri betisnya dan digigit penuh canda.
“Sakit Kayla. Hahaha sini kamu. Sini anak ayah!” ia menggendong putrinya dengan penuh kasih sayang, menyadari kalau sebentar lagi mereka berpisah.
Dara menatap … menahan rasa sakit di tenggorokannya menahan air mata.
“apakah aku kelewat batas? Astagfirullah …” batinnya.
Tetapi dengan cepat ia kembali pada keputusannya, mengambil ponsel dan memesan tiket untuknya dan Kayla.
Malam yang getir… Dara memeluk Kio dengan erat. Ia telah menyampaikan beberapa pesan untuk Kio.
“Kio sama papa dulu ya, Kio. Nanti ketemu mama lagi.” Sebisa mungkin ia mengatakan kalimat pahit itu dengan mulus agar anaknya tidak merengek.
“Iya. Mama nanti ke sini lagi kan?
“iya. Mama kembali karena harus kerja … tapi … mama nanti tidak di rumah ini lagi. Nanti mama bawa Kio.” Sambungnya menjawab pertanyaan anak lelakinya.
Dara tidak sedang membual. Ia memang telah menandatangani sebuah kontrak kerja dengan sebuah perusahaan asing di daerah Jakarta. Namun ia harus terlebih dahulu mengunjungi ibunya untuk menitipkan anak perempuannya. Sebuah dilemma … namun itu adalah saran dari ibunya itu.
__ADS_1
Jadi … satu keluarga kecil ini akan tercerai berai terlebih dahulu … dan ia harus memikirkan cara agar bisa kembali hidup dengan kedua anaknya.