
Aroma bumbu yang kuat, dapat tercium di dalam apartemen. Rendang yang sedang mendidih bumbunya, sangat mencolok di dalam kuali di atas kompor induction. Kata orang, ini fase mengidam. Kehamilan kedua ini bukan hal yang mudah bagi Dara, tak seperti saat ia mengandung Kio. Bayi kali ini begitu spesial, karena selain ia diletakkan Tuhan ke dalam rahim saat Dara mengonsumsi pil pencegah kehamilan, kali ini Dara kedatangan ipar perempuan yang menemaninya di apartemen. Musuh yang menjadi saudara.
“Tam. Sini deh, ini sudah pas belum ya asinnya,” tangannya memegang sebuah sendok yang berisi saus rendang yang masih beruap. Harumnya dapat langsung menyerang hidung Tami. Ia memegang sendok dari kakak iparnya itu dan meniupnya beberapa kali sebelum mencicipi.
“Hmmm ...” ia kehabisan kata-kata menjelaskan sedapnya saus itu, dan hanya mengangkat jempolnya saja.
“Wah! Aku enggak dibagi? Sayang, aku boleh coba juga dong, masa Tami saja?” protes Tomi yang melihat Tami sedang sibuk mengambil potongan kecil dari dalam kuali.
Dara sangat bahagia jika orang gemar menghabiskan masakannya. Ia mengambil sebuah sendok baru, dan menaruh potongan kecil rendang untuk suaminya.
Sama saja, Tomi pun kehabisan kata menjelaskan sedapnya masakan istrinya itu. Sebuah kecupan mendarat di kening Dara, diiringi komentar suaminya,”enak. Ya kan, Tam? Bagaimana masakan istriku? Makin hari makin jago dia.”
Dara tersipu. Ia mematikan kompor lalu beristirahat sejenak di atas sofa, sambil menonton Kio yang sedang asyik belajar alfabet bersama Cecil. Seperti biasa, di jam-jam pagi hari hingga siang bolong, Dara merasakan mual yang begitu hebat. Hari ini ia mendapatkan sedikit kekuatan untuk mengolah sesuatu untuk keluarga kecilnya. Namun, mual itu datang kembali melanda setelah ia selesai memasak. Ia menutup matanya, berusaha mengabaikan rasa mualnya yang semakin kuat.
Tangan dingin tiba-tiba menyentuh bagian bahunya dengan pijatan yang lembut, dan ia terhanyut menikmati lega dari pegal di pundaknya.
“Tidur saja. Enggak apa-apa. Mana lagi yang pegal,” ujar Tomi menyuruh Dara untuk tidur sebelum ia berhasil membuka matanya.
Dara mengarahkan tangannya ke belakang, dan menunjuk bagian tengah punggungnya. Ia begitu beruntung mendapatkan pijatan gratis.
Tak lama ... ia langsung tertidur pulas, dengan otot yang serasa diperbaiki oleh pijatan suaminya.
__ADS_1
...****************...
Dara terbangun dengan tangisan Kio. Bocah itu menjerit-jerit, dan suaminya terdengar sedang berusaha menenangkannya.
“Kenapa Kio?” Dara melihat bocah itu sedang berusaha menyedot air dari botol minumnya.
“Ini Kio kena bumbu rendang mulutnya, kak. Pedas,” jawab Tami sembari berusaha memberikan sesuap es serut pada mulut ponakannya itu.
Tomi terlihat juga sibuk menenangkan anak itu, dan wajahnya tampak tak senang dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dara tahu betul, suaminya itu panik akan segala sesuatu yang terjadi kepada Kio. Setelah hubungan mereka membaik, Tomi menjadi sangat perhatian kepada anak pertamanya dengan Dara. Tak jarang Dara dan Cecil menjadi sasaran kemarahannya jika bocah itu terluka. Ia juga sering mengajak Kio berjalan-jalan jika istrinya sedang sibuk memasak sesuatu di rumah.
“Makanya, kalau lagi sama anak kecil jangan fokus ke handphone,” entah omongan Tomi ditujukan kepada siapa.
Dahi Tami mengerut, dan ia menyahut,”Loh kok, main salah-salahan? Kan aku enggak tahu kalau Kio bisa sampai ke situ!”
“Memang salah kalau orang main handphone? Hidup di jaman apa kamu?”
“Kamu itu datang ke sini untuk cari kerja, bukan malah main handphone, dan jalan-jalan ke sana kemari. Kamu paham?” nada Tomi mulai meninggi kepada adik perempuannya.
“Kamu kira aku diam saja tiap hari? Aku juga cari kerja belum ada yang nyangkut!” beradu nada tinggi, Tami juga tak mau kalah membela dirinya.
Tomi berdiri dari kursinya, dan ia terlihat sangat geram. Suasana itu begitu canggung bagi Dara dan Cecil, meski Cecil tak paham apa yang mereka bicarakan, namun tetap saja ia tahu ini sebuah perdebatan antara kakak dan adik.
__ADS_1
“Kamu itu enggak bisa dapat kerja kalau skill pas-pasan! Makanya handphone di pakai belajar, bukan hanya untuk sosial media!” Tomi yang geram menggebrak meja yang ada di depannya. Dara tak bisa lagi membiarkan perdebatan ini lebih panjang. Ia pergi menarik suaminya sambil membujuknya untuk meninggalkan ruangan itu.
“Sudah, Bi... sudah ... enggak perlu diperpanjang, toh Kio sudah diam,” ia menenangkan suaminya yang sangat marah.
“Bukan soal Kio. Aku juga harus tegur dia! Mau sampai kapan dia begitu? Merasa enak jadi anak bungsu?” masih saja amarah Tomi berkelebat hebat.
Tak lama, terdengar pintu dibuka dan ditutup. Dara pergi mengecek, dan ia tahu Tami pergi keluar.
Tomi dan Tami memang tak akur. Pada ulanya, Dara mengira mereka adalah pasangan kakak adik yang diharapkan semua orang tua di dunia. Nyatanya karena perbedaan umur yang jauh, pemikiran mereka tak selalu sama untuk hal-hal tertentu.
Tami terbilang sedikit dimanjakan oleh ibunya. Di usianya yang seumuran dengan Dara, ia sama sekali belum pernah bekerja, meski ia adalah seorang sarjana dari universitas swasta yang bagus di Jakarta.
“Kamu lihat dia. Bangun selalu siang, lalu keluar beli jajanan. Duduk dan utak-atik handphone, nonton video di sosial media. Terus kapan cari kerjanya?” amarah Tomi masih tak padam. Keinginannya untuk meluapkan kemarahan kepada adiknya, masih ada.
“Iya. Sabar. Dia nanti akan dapat, kok. Hanya butuh waktu. Aku sudah bantu dia melamar di beberapa tempat,” istri yang baik selalu menenangkan amarah suaminya, dan Dara memang salah satu dari kelompok itu.
Dara sadar, apa yang dikatakan suaminya itu bukan hanya bualan karena emosi, namun memang nyata terjadi di depan mata.. Adik iparnya itu tak begitu bisa bangun di pagi hari, dan sangat aktif dengan media sosial. Tentu bukan sesuatu yang bisa ia salahkan, karena Tami memiliki banyak teman di sana. Sangat terbalik, Dara malah hanya memiliki segelintir teman yang diajak bertukar pikiran tentang pekerjaan.
Mungkin karena terlahir dari latar belakang keluarga yang amat berbeda, sehingga Dara dan Tami memiliki kegigihan yang berbeda pula. Di usia mudanya, Dara sudah harus bekerja menjadi tulang punggung, sedangkan Tami menikmati masa mudanya berkuliah dan bergaul bersama teman-temannya.
“Kamu juga bilang ke dia ya, Ra. Diet! Jangan hanya jajan untuk nambah berat badan. Hidup juga perlu gerak, olahraga!” Tomi masih saja memiliki hal lain yang ia pikirkan mengenai adik perempuannya itu.
__ADS_1
Dara tak bisa menjawab banyak jika suaminya sedang marah seperti ini. Sudah beberapa bulan lamanya, ia tak melihat suaminya marah seperti ini, dan kini sisi galaknya itu keluar lagi lantaran seorang adik perempuan yang begitu sulit diarahkan.