Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 26 - Mengantar Anak-Anak


__ADS_3

Dalam satu minggu, Dara


menghabiskan waktunya menggeluti peran barunya sebagai ibu sambung. Banyak hal


yang terjadi kepadanya, dan ia meninggalkan kesan yang baik bagi anak-anak yang


lahir bukan dari rahimnya.


Di hari ketujuh, mereka akan


mengantar Fitri dan adik-adiknya menuju Bandara. Mereka akan berangkat pada


sore hari, dan Farah berkata ia akan menunggu mereka di bandara nanti. Kali ini,


Dara memiliki lebih banyak kepercayaan diri, dan sesuatu yang berbeda dalam


dirinya mendorongnya agar ikut bersama Tomi mengantarkan anak-anak itu.


“Kamu ikut, sayang?” tanya Tomi


melihat Dara yang masih berdaster di sofa.


“Mama ikut? Ikut ‘kan?” Fitri ikut


bertanya.


Dara tersenyum manis, menjawab anak


itu dengan suara lemah lembut, “iya. Mama ikut. Mama mau ganti baju dulu.”


Biasanya ia menghabiskan kurang


dari 3 menit untuk bersiap-siap dan memilih pakaian. Kali ini, ia mengenakan


pakaian dengan warna pastel yang cantik, dengan riasan tipis khasnya. Dress


hamil kuning pastel, dengan sepatu rata berwarna satu tingkat lebih cerah,


rambut lurusnya yang terurai, blush on berwarna oranye seperti daging ikan


salmon, tipis menghias wajahnya.


Mobil SUV yang sudah menyala sejak


tadi, terlihat terparkir menunggu Dara. Ia melangkah ke arah mobil itu, dan


Tomi menurunkan kacanya, melempar sebuah senyuman kepada istrinya yang terlihat


berbeda.


“Apa nanti kita bisa ketemu Mama


Dara lagi, ayah?” ujar Firman sembari mobil itu melaju membawa mereka ke tempat


di mana mereka akan berpisah.


“Tentu saja. Kalian juga bisa


tinggal dengan Mama Dara suatu hari nanti. Tapi nanti. Kalau kalian sudah besar,


karena nanti Mama Dara bisa kurus mengurusi anak-anak bandel,” sahut Tomi dari


kursi kemudi.


Jalanan itu seakan terasa begitu


pendek, hingga dalam beberapa saat setelah percakapan itu, mereka bisa melihat


area bandara di depan mereka. Fitri mengangkat ponselnya yang berdering, dan di


sampingnya, Dara bisa mendengar suara perempuan setengah berteriak.


“Iya sudah hampir sampai, Mah. Aku


enggak pegang HP dari tadi ... Ayah ada. Iya ... Mama Dara juga ada,” ujar


Fitri di telepon.


“Iya ... Tante Dara ...” ia


memelankan suaranya seperti mengoreksi omongannya barusan. Kemudian menutup panggilan


itu.


Fitri terlihat tak segembira ketika

__ADS_1


mereka akan menaiki mobil itu di rumah. Jelas sesuatu yang tak membuatnya


senang, mungkin terucap di percakapan itu.


“Ada apa, Nak?” tanya Tomi kepada


Fitri, ketika Dara memberikan sinyal kedipan mata pada kaca yang ada di depan.


“A ... Anu. Kata mama, Mama Dara


enggak boleh ikut.” ujarnya dengan nada lesu.


“Itu kata mama. Kata ayah, Mama


Dara boleh ikut. Ada ayah. Jangan takut.” Tomi menampakkan sisinya sebagai


seorang ayah. Dara merangkul pundak bocah perempuan itu. Ia bisa merasakan


bocah itu seperti berada dalam tekanan.


“Fitri. Minum susunya nanti


dibanyakin lagi, ya. Supaya agak gemuk badannya,” Dara mengalihkan pembicaraan


agar anak itu tak lagi memikirkan percakapannya dengan Farah.


“Kami enggak minum susu, ayah. Seperti


ade Kio, dia selalu minum susu. Kalau kami, hanya susu cair di kotak kadang.


Sangat jarang,” timpal Firman, dan apa yang dikatakan mendatarkan ekspresi Tomi


dan Dara.


“Kalau begitu, nanti kalian bisa


kok minta mama belikan susu. Iya kan, ayah?” Dara tahu sekali bagaimana


membesarkan hati anak-anak. Sebagai anak yang tumbuh dengan seorang ibu


tunggal, dan kehidupan ekonomi yang sulit, ia tahu bagaimana mengatasi semua


perasaan yang mengganjal pada anak-anak ini.


“Iya. Nanti ayah yang kasihtau ke


Mobil itu berhenti di terminal yang


mereka tuju, dan Dara menggiring anak-anak itu turun, sementara Tomi membawa


tas anak-anak itu.


Di antara hiruk pikuk itu, Dara


bisa melihat Farah yang berdiri dengan kerudung melingkar di kepala dan


lehernya, kaos lengan panjang ketat, dan celana jeans bermodel body fit. Ia


tahu Farah pasti sudah melihatnya.


“Itu mama!” teriak Raffi, namun tak


menghampiri ibunya. Anak itu hanya melambaikan tangan, dan terlihat Farah


menghampiri mereka. Dalam jarak 2 meter, ia dan Dara saling berhadapan. Di luar


dugaan, Dara mengira ia akan menjadi pihak yang terlebih dahulu salah tingkah.


Akan tetapi kenyataan berkata lain. Ia bisa melihat Farah memperlihatkan gestur


tak nyaman.


“Mama. Nanti ketemu lagi, ya.


Sampai jumpa adik kecil ...” Fitri memeluk Dara, dan kepalanya bersandar pada


perut Dara yang menggendut. Dara membalas pelukan itu, dan mengecup anak


perempuan itu pada pipi dan keningnya. Raffi, dan Firman juga mengikuti kakak


mereka memeluk Dara, sangat erat. Dara bisa melihat genangan air mata pada


kelopak Fitri. Ia menunduk dan mengusap kedua mata kecil itu. Entah apa yang


dirasakan bocah itu hingga menitikkan air mata.

__ADS_1


“Jangan menangis. Fitri mau pulang


dengan mama. Harusnya senang bisa kumpul kembali dengan mama.” Ucapnya sambil


menghapus air mata yang akhirnya bercucuran di pipi bocah itu.


“Ayo anak-anak,” Farah setengah


berteriak memerintahkan anak-anaknya agar meninggalkan Dara dan ayah mereka.


“Hati-hati di jalan, mbak.” Sebuah ucapan


perpisahan yang tulus, keluar dari mulut Dara begitu saja.


Perempuan itu berbalik badan tanpa


mengucapkan apa pun, dan meninggalkan sepasang suami istri itu, membawa


anak-anaknya dan menghilang dari pandangan mereka.


Tomi merangkul pundak istrinya, dan


sebuah kecupan mendarat di kepalanya.


“Kamu hebat ...” katanya memuji,


membuat Dara menahan genangan air matanya.


“Apa yang kamu sedihkan?” ujarnya


lagi sembari berjalan menuju mobil mereka.


Dara hanya menggeleng. Baginya


bukan karena ia berpisah dari anak-anak yang telah memperlakukannya seperti ibu


sendiri, akan tetapi ia tahu anak-anak itu akan habis dimarahi oleh ibu kandung


mereka.


“Dia memang seperti  itu. Setidaknya aku tidak salah pilih,


bersama kamu ...” sambung Tomi.


Keduanya terdiam sepi di dalam


mobil itu, sembari Tomi sesekali menggenggam tangan istrinya yang terus mengusap


sedikit demi sedikit air mata yang menetes.


“Apa kamu dengar tadi? Mereka


enggak minum susu,” Dara membuka sebuah topik.


Tomi menghembuskan sebuah nafas


yang terasa penuh kesedihan.


“Aku dengar. Aku tahu dia enggak jujur


dengan keuangan, dan setiap perak yang aku kirimkan. Tapi ... Aku enggak


menyangka 5 kilogram susu dalam laporannya hanya sebuah isapan jempol. Ada


baiknya anak-anak tinggal dengan kita suatu saat nanti. Aku harap kamu tidak


keberatan ... Mama Dara ...” jawab Tomi.


“Tentu aku enggak keberatan. Apa


kamu gila? Itu anak-anakmu. Aku pernah berada di posisi mereka, hidup dengan


seorang ibu tunggal. Itu menyakitkan. Posisi Farah enggak mudah, apa pun yang


ia lakukan terhadap kamu, ia tetap seorang perempuan dalam posisi sulit bersama


tiga orang anak, bi,”


“Ini satu sisi yang aku suka dari


kamu, istriku ...” Tomi tersenyum dan menanggapi ucapan istrinya barusan. Tak


hanya cantik, baginya Dara juga seorang wanita yang sabar dan terbuka


pikirannya. Mobil itu terus melaju, membawa dua orang yang penuh dengan kasih

__ADS_1


sayang, pulang ke rumah.


__ADS_2