
Dalam satu minggu, Dara
menghabiskan waktunya menggeluti peran barunya sebagai ibu sambung. Banyak hal
yang terjadi kepadanya, dan ia meninggalkan kesan yang baik bagi anak-anak yang
lahir bukan dari rahimnya.
Di hari ketujuh, mereka akan
mengantar Fitri dan adik-adiknya menuju Bandara. Mereka akan berangkat pada
sore hari, dan Farah berkata ia akan menunggu mereka di bandara nanti. Kali ini,
Dara memiliki lebih banyak kepercayaan diri, dan sesuatu yang berbeda dalam
dirinya mendorongnya agar ikut bersama Tomi mengantarkan anak-anak itu.
“Kamu ikut, sayang?” tanya Tomi
melihat Dara yang masih berdaster di sofa.
“Mama ikut? Ikut ‘kan?” Fitri ikut
bertanya.
Dara tersenyum manis, menjawab anak
itu dengan suara lemah lembut, “iya. Mama ikut. Mama mau ganti baju dulu.”
Biasanya ia menghabiskan kurang
dari 3 menit untuk bersiap-siap dan memilih pakaian. Kali ini, ia mengenakan
pakaian dengan warna pastel yang cantik, dengan riasan tipis khasnya. Dress
hamil kuning pastel, dengan sepatu rata berwarna satu tingkat lebih cerah,
rambut lurusnya yang terurai, blush on berwarna oranye seperti daging ikan
salmon, tipis menghias wajahnya.
Mobil SUV yang sudah menyala sejak
tadi, terlihat terparkir menunggu Dara. Ia melangkah ke arah mobil itu, dan
Tomi menurunkan kacanya, melempar sebuah senyuman kepada istrinya yang terlihat
berbeda.
“Apa nanti kita bisa ketemu Mama
Dara lagi, ayah?” ujar Firman sembari mobil itu melaju membawa mereka ke tempat
di mana mereka akan berpisah.
“Tentu saja. Kalian juga bisa
tinggal dengan Mama Dara suatu hari nanti. Tapi nanti. Kalau kalian sudah besar,
karena nanti Mama Dara bisa kurus mengurusi anak-anak bandel,” sahut Tomi dari
kursi kemudi.
Jalanan itu seakan terasa begitu
pendek, hingga dalam beberapa saat setelah percakapan itu, mereka bisa melihat
area bandara di depan mereka. Fitri mengangkat ponselnya yang berdering, dan di
sampingnya, Dara bisa mendengar suara perempuan setengah berteriak.
“Iya sudah hampir sampai, Mah. Aku
enggak pegang HP dari tadi ... Ayah ada. Iya ... Mama Dara juga ada,” ujar
Fitri di telepon.
“Iya ... Tante Dara ...” ia
memelankan suaranya seperti mengoreksi omongannya barusan. Kemudian menutup panggilan
itu.
Fitri terlihat tak segembira ketika
__ADS_1
mereka akan menaiki mobil itu di rumah. Jelas sesuatu yang tak membuatnya
senang, mungkin terucap di percakapan itu.
“Ada apa, Nak?” tanya Tomi kepada
Fitri, ketika Dara memberikan sinyal kedipan mata pada kaca yang ada di depan.
“A ... Anu. Kata mama, Mama Dara
enggak boleh ikut.” ujarnya dengan nada lesu.
“Itu kata mama. Kata ayah, Mama
Dara boleh ikut. Ada ayah. Jangan takut.” Tomi menampakkan sisinya sebagai
seorang ayah. Dara merangkul pundak bocah perempuan itu. Ia bisa merasakan
bocah itu seperti berada dalam tekanan.
“Fitri. Minum susunya nanti
dibanyakin lagi, ya. Supaya agak gemuk badannya,” Dara mengalihkan pembicaraan
agar anak itu tak lagi memikirkan percakapannya dengan Farah.
“Kami enggak minum susu, ayah. Seperti
ade Kio, dia selalu minum susu. Kalau kami, hanya susu cair di kotak kadang.
Sangat jarang,” timpal Firman, dan apa yang dikatakan mendatarkan ekspresi Tomi
dan Dara.
“Kalau begitu, nanti kalian bisa
kok minta mama belikan susu. Iya kan, ayah?” Dara tahu sekali bagaimana
membesarkan hati anak-anak. Sebagai anak yang tumbuh dengan seorang ibu
tunggal, dan kehidupan ekonomi yang sulit, ia tahu bagaimana mengatasi semua
perasaan yang mengganjal pada anak-anak ini.
“Iya. Nanti ayah yang kasihtau ke
Mobil itu berhenti di terminal yang
mereka tuju, dan Dara menggiring anak-anak itu turun, sementara Tomi membawa
tas anak-anak itu.
Di antara hiruk pikuk itu, Dara
bisa melihat Farah yang berdiri dengan kerudung melingkar di kepala dan
lehernya, kaos lengan panjang ketat, dan celana jeans bermodel body fit. Ia
tahu Farah pasti sudah melihatnya.
“Itu mama!” teriak Raffi, namun tak
menghampiri ibunya. Anak itu hanya melambaikan tangan, dan terlihat Farah
menghampiri mereka. Dalam jarak 2 meter, ia dan Dara saling berhadapan. Di luar
dugaan, Dara mengira ia akan menjadi pihak yang terlebih dahulu salah tingkah.
Akan tetapi kenyataan berkata lain. Ia bisa melihat Farah memperlihatkan gestur
tak nyaman.
“Mama. Nanti ketemu lagi, ya.
Sampai jumpa adik kecil ...” Fitri memeluk Dara, dan kepalanya bersandar pada
perut Dara yang menggendut. Dara membalas pelukan itu, dan mengecup anak
perempuan itu pada pipi dan keningnya. Raffi, dan Firman juga mengikuti kakak
mereka memeluk Dara, sangat erat. Dara bisa melihat genangan air mata pada
kelopak Fitri. Ia menunduk dan mengusap kedua mata kecil itu. Entah apa yang
dirasakan bocah itu hingga menitikkan air mata.
__ADS_1
“Jangan menangis. Fitri mau pulang
dengan mama. Harusnya senang bisa kumpul kembali dengan mama.” Ucapnya sambil
menghapus air mata yang akhirnya bercucuran di pipi bocah itu.
“Ayo anak-anak,” Farah setengah
berteriak memerintahkan anak-anaknya agar meninggalkan Dara dan ayah mereka.
“Hati-hati di jalan, mbak.” Sebuah ucapan
perpisahan yang tulus, keluar dari mulut Dara begitu saja.
Perempuan itu berbalik badan tanpa
mengucapkan apa pun, dan meninggalkan sepasang suami istri itu, membawa
anak-anaknya dan menghilang dari pandangan mereka.
Tomi merangkul pundak istrinya, dan
sebuah kecupan mendarat di kepalanya.
“Kamu hebat ...” katanya memuji,
membuat Dara menahan genangan air matanya.
“Apa yang kamu sedihkan?” ujarnya
lagi sembari berjalan menuju mobil mereka.
Dara hanya menggeleng. Baginya
bukan karena ia berpisah dari anak-anak yang telah memperlakukannya seperti ibu
sendiri, akan tetapi ia tahu anak-anak itu akan habis dimarahi oleh ibu kandung
mereka.
“Dia memang seperti itu. Setidaknya aku tidak salah pilih,
bersama kamu ...” sambung Tomi.
Keduanya terdiam sepi di dalam
mobil itu, sembari Tomi sesekali menggenggam tangan istrinya yang terus mengusap
sedikit demi sedikit air mata yang menetes.
“Apa kamu dengar tadi? Mereka
enggak minum susu,” Dara membuka sebuah topik.
Tomi menghembuskan sebuah nafas
yang terasa penuh kesedihan.
“Aku dengar. Aku tahu dia enggak jujur
dengan keuangan, dan setiap perak yang aku kirimkan. Tapi ... Aku enggak
menyangka 5 kilogram susu dalam laporannya hanya sebuah isapan jempol. Ada
baiknya anak-anak tinggal dengan kita suatu saat nanti. Aku harap kamu tidak
keberatan ... Mama Dara ...” jawab Tomi.
“Tentu aku enggak keberatan. Apa
kamu gila? Itu anak-anakmu. Aku pernah berada di posisi mereka, hidup dengan
seorang ibu tunggal. Itu menyakitkan. Posisi Farah enggak mudah, apa pun yang
ia lakukan terhadap kamu, ia tetap seorang perempuan dalam posisi sulit bersama
tiga orang anak, bi,”
“Ini satu sisi yang aku suka dari
kamu, istriku ...” Tomi tersenyum dan menanggapi ucapan istrinya barusan. Tak
hanya cantik, baginya Dara juga seorang wanita yang sabar dan terbuka
pikirannya. Mobil itu terus melaju, membawa dua orang yang penuh dengan kasih
__ADS_1
sayang, pulang ke rumah.