
“Mama pulang!” teriakan Kio begitu jelas terdengar ketika Dara turun dari mobil itu.
“Loh kakak sudah pulang?” Tami terheran melihat iparnya itu sudah kembali lagi ke rumah padahal baru pergi beberapa saat. Dara tersenyum, namun diam lagi duduk memijit keningnya.
Tami berubah air mukanya, dan ia langsung tahu apa yang kira-kria telah terjadi. Dengan sigap ia pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air dengan banyak es batu, lalu meletakkan gelas itu di depan Dara.
“Minum, kak. Berantem sama Aa ya?” tanya Tami melihat wajah iparnya yang kusut. Dara mengangguk. Ia dan Tami banyak bercakap-cakap. Ia banyak tahu masa lalu suaminya itu dari Tami, dan adik iparnya itu jelas bukan penggemar kakaknya sendiri.
Tak ada yang bisa ia katakan, Tami kembali bermain menyusuk balok-balok bersama kedua keponakannya. Mereka terlihat begitu bahagia, dan Dara menjadi tenang melihat kedua anaknya itu tertawa keras melihat balok yang sudah disusun rubuh ke bawah.
“Dara!” panggil ibu mertuanya dari dalam kamar. Wanita itu sangat jarang beranjak dari tempat tidurnya jika bukan untuk makan, dan pergi kamar mandi. Ia lebih memilih berbaring di tempat tidurnya dengan AC dingin menyala, dan menonton televisi hingga terlelap.
Dara beranjak dari tempat duduknya, menghampiri mertuanya itu di dalam kamar. Ia duduk di lantai tepat dekat kaki mertuanya itu.
“Dar. Mama mau tanya. Memang Dara enggak punya simpanan lagi?”
“Simpanan, Mah?”
__ADS_1
“Iya. Begini. Kan Raffi mau ulang tahun. Minta dibelikan sepeda. Kio kan sudah punya sepeda, itu siapa yang belikan?”
Dara merasa tak nyaman dengan percakapan itu, dan ia tidak menatap mertuanya sama sekali.
“Aku, Mah. Aku yang beli.”
“Nah. Sekarang biarin Aa belikan untuk Raffi.Uang kan bisa dicari lagi, Dara.” Omongan mertuanya jelas sekali berdasar pengaduan anaknya itu. Dara tak punya pilihan lain. Tidak mungkin ia mendebat mertuanya itu.
“Terserah Aa saja, Mah.”
“Dara keluar dulu, Mah. Mau siap-siap barang untuk pulang besok pagi.” Ia berpamitan dan keluar dari kamar mertuanya itu.
Usia Tomi memang sudah kepala 4, namun tidak jarang apa pun yang membuatnya tak nyaman tidak segan sampai ke telinga ibunya. Mengingat masa lalu yang kurang begitu baik antara dirinya dan mertuanya, Dara memilih agar selalu mengalah dengan wanita itu. Setidaknya saat ini ia sudah diterima menjadi menantu.
Dara membuka tas ransel besarnya, memasukkan baju-baju milik mereka, dan perlengkapan anak-anaknya. Di kondisi seperti ini, iaingin sekali cepat kembali ke Bandung dan tinggal di rumah kontrakannya yang adam itu untuk menenangkan hati.
Entah apa lagi yang harus ia lakukan, Dara mulai tak tahu. Ia tentunya paham suaminya itu berkewajiban menafkahi anak-anaknya, namun hingga sekarang tidak ada putusan cerai hitam di atas putih yang menyebutkan nominal rupiah yang harus Tomi penuhi. Saat ini Farah terkesan semaunya menyebut angka, dan Tomi selalu memenuhi permintaannya yang terkadang di luar kewajaran.
__ADS_1
Dara membuka email yang baru saja masuk. Sebuah notifikasi dari kantornya, bahwa pesangon mereka telah ditransfer dalam rekening bank-nya. Dara membuka aplikasi banking dan melihat uang yang lumayan besar sudah ada di sana.
Sekarang ... ia harus mengamankan tabungannya itu. Ia membuka pengaturan ponselnya, lalu mengatur kata sandi untuk ponselnya itu. ATM-nya juga ia pindahkan di belakang casing ponselnya, agar selalu ia bawa ke mana-mana.
“Kak. Kakak lagi apa?” suara Tami dari balik pintu mengalihkan perhatiannya.
“Sini masuk.” Ajak Dara.
“Aku nguping tadi. Kak. Maaf ya kalau lancang. Tapi penghasilan kakak itu berapa kalau dengan Aa?”
Dara sebenarnya tidak pernah nyaman membicarakan penghasilan dan dapur rumah tangganya kepada orang lain, namun kali ini ia rasa ia harus menyalurkan pikirannya.
“Tam. Kita ini sudah di Indonesia. Sejak pulang dari Manila, gaji sudah disesuaikan dari kantor. Dulu masih punya gaji, aku dan Aa itu 16 juta satu bulannya kalau digabung. Tapi kamu tahu enggak pengeluarannya apa saja?”
Tami menggeleng, sebab ia memang tidak pernah tahu masalah itu kecuali beberapa pengeluhan dari Dara ketika uang buianan sudah mulai menipis.
“Aku bukannya perhitungan dengan anak-anak Farah. Bagaimana pun itu anaknya Aa. Perbulan Aa mengirim 7 juta ke sana. 1 jutanya lagi dari sisa gajinya dipakai buat servis motor, dan uang saku dia jajan ke sana kemari. Anak-anak bayar daycare, 2 juta. Aku harus bayar listrik dan air, sewa rumah juga 2 juta. Sisanya hanya untuk hidup sehari-hari. Lalu untuk tabung? Tipis sekali, Tam. Enggak banyak tabungan kalau begitu. Sedangkan tabungan dari Manila juga lama kelamaan akan menipis. Apalagi kita baru ngucurin dana untuk mulai usaha.”
__ADS_1