Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 34 - Tim Baru


__ADS_3

Pagi itu Dara dan Tomi sudah bersiap sejak pukul 7 pagi. Mereka akan pergi mengunjungi kantor barunya. Memang belum bekerja, baru berkenalan saja dengan lingkungan barunya. Motor mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan arsitektur ala Belanda, dengan halaman yang sangat luas, cukup untuk menampung 10 mobil dan puluhan motor. Dua buah pohon mangga yang rindang, menambah sejuk rumah itu, dan tanpa ragu keduanya segera masuk ke dalam.


Seorang wanita menyapa mereka begitu mereka sampai di ruang tamu. Di sana, terpampang nama kantor mereka. Kantor yang dulu berada di Filipina, kini berpindah ke rumah megah itu.


“Hai. Ini Tomi dan Dara pasti, ya. Aku Sara.” Wanita yang terlihat mungkin sudah berkepala tiga itu, menyapa mereka dengan begitu ramah, dan senyum itu tak pernah sedikit pun turun lengkungannya. Sara adalah manajer mereka yang baru di kantor itu. Perempuan berdarah asli Bandung itu bertubuh mungil, dengan gayanya yang kasual trendi, dan rambutnya yang sebahu.


“Ini Mbak Dara ya, yang suka ngecek kerjaan kita?” seorang lelaki dengan senyum yang sangat ramah, kulit putih dan tinggi, bermata kecil, menyapa dara. Itu Dimas seorang supervisor di kantor itu.


“Hai. Tahu saja.” Dara membalas dengan ramah. Tak butuh waktu lama untuk menjadi akrab dengan orang-orang baru yang ada di sana. Ia menyukai teman-teman barunya, yang terlihat penuh dengan lelucon dan tawa setiap saat.


Hari pertama itu mereka hanya datang untuk perkenalan, melihat sekeliling kantor. Dara dikenalkan kepada Mira, supervisornya, dan Tomi dikenalkan kepada Fanya, supervisor yang lain. Mira begitu ramah, ia membawahi 9 orang pegawai, termasuk Dara. Mereka tampak kompak, dan Dara dengan mudah berbaur dengan mereka.


“Kak Dara, nanti duduknya dekat aku saja besok ya, say” ujar Danang, seorang dari grup mereka. Lelaki tampan dengan tubuh tinggi, tegap, dan langsing. Tipikal penampilan pegawai bank. Dengan gayanya yang agak kemayu, ia tak pernah gagal membuat Dara tertawa dengan setiap leluconnya. Di grup itu ia biasa dipanggil Barbara, nama lain ketika ia berlagak seperti perempuan. Dara langsung menjadi dekat dengan Danang, ia memberitahukan banyak hal kepada Dara, memperkenalkan di mana mereka biasa membeli sarapan, makan siang, dan langganan soto ayam mereka.

__ADS_1


Keesokan harinya, Dara dan Tomi berpisah shift. Dara masuk di jadwal pagi, bersama timnya. Danang sudah ada di sana.


“Jadi duduk di sini kan, ya kak?” ujarnya ramah, sembari menepuk kursi di sebelahnya. Sejak itu, Dara menjadi akrab dengan sosok lelaki multi talenta itu. Perangainya yang selalu ceria, dan memberikan lelucon-lelucon di tengah jam kerja, membuat Dara langsung klik sama seperti waktu ia berteman akrab dengan Nino di Filipina.


“Jadi, suami kakak itu ... sudah berapa lama kakak menikah dengan dia?” tanya Danang disela-sela sibuknya mereka membalas email yang masuk.


“Sekarang, sudah empat tahunan, Nang.”


“Sebentar lagi 5 tahun loh kak. Katanya kalau bertahan 5 tahun itu bertahan seumur hidup nantinya. Orangnya baik kayaknya, ya.” Timpal Danang, dan Dara tak dapat merespon dengan hal lain kecuali senyuman dan mengangguk.


“Jadi ini anak kedua ya, Dar?” tanya Mira di sesi makan siang.


“Iya. Anak kedua ... Nanti aku kenalin sama yang pertama. Mungkin sebentar ikut dengan suamiku. Setelah itu aku akan pulang dengannya.” Jawab Dara.

__ADS_1


Kata-katanya benar. Setelah makan siang itu, dari jendela kantor, ia bisa melihat Tomi membawa Kio pada boncengan tambahan di bagian depan. Mira ternyata sangat suka dengan anak-anak. Ia menghampiri bocah dan ayahnya itu bersama Dara.


“Halo adik kecil!” namun Kio tak bergeming. Dara tertawa kecil.


“Dia enggak bisa bahasa Indonesia, hahaha!” ujarnya kepada Mira.


“Hi young man. What’s your name?” Mira mengubah pertanyaannya. Kio hanya tersenyum menatap gadis itu.


“This is grey.” Kio malah menunjuk warna pada cardigan Mira, dan itu membuat Mira dan beberapa pegawai yang tiba-tiba datang, langsung jatuh hati kepada Kio.


Dara tersenyum bahagia, mengetahui keluarganya bahkan diterima dengan baik oleh teman-teman barunya itu.


“Kak. Kalau dipikir-pikir, Bang Tomi itu lumayan berumur baru punya anak, ya?” tanya Danang setelah mereka kembali ke dalam kamar. Dara membatin, dalam hatinya menimbang apakah ia harus menjawab iya, atau mengatakan yang sebenarnya. Ah! Terlalu dini untuk mereka mengetahui setiap detil. Ia mengangguk pelan dan dengan senyuman yang sama.

__ADS_1


“Iya, Nang. Sudah lumayan berumur saat aku melahirkan Kio. Sekarang anak kedua malah sudah bertambah lagi umurnya, hehe.”


“Enggak apa-apa. Yang penting dia sayang sama kakak, ya kan?” apa yang dikatakan oleh Danang membuat Dara termenung sesaat. Mungkin benar, masa lalunya tak lagi penting. Yang terpenting, ia saat ini dicintai oleh Tomi.


__ADS_2