Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 33 - Pengganti Cecil


__ADS_3

“Ayo masuk, Teh” Dara mempersilakan seorang perempuan paruh baya, dengan badan lumayan berisi, untuk masuk ke ruang tamu.


“Saya Dara. Tunggu saya panggil suami saya dulu.” Dara pergi ke atas memanggil suaminya, lalu kembali turun bersama dengan Tomi.


“Halo pak. Nama saya Lina.” wanita itu memperkenalkan diri.


“Jadi, sudah pernah mengasuh anak sebelumnya, mbak?” tanya Tomi kepada Lina.


“Sudah. Anak umur 7 tahun. Kalau boleh tahu, anak bapak umurnya berapa?”


“Namanya Kio. Dia lagi keluar dengan omnya. Umurnya baru 2 tahun lebih sedikit. Dia juga baru bisa bicara, dan hanya bisa bahasa Inggris.” Tomi menjawab Lina dengan lengkap.


“Oh masih kecil ya, pak?”


“Iya. Saya harap mbak Lina enggak keberatan. Apalagi Kio masih adaptasi di sini dengan bahasa kita, mungkin awal-awal sedikit susah.”


“Iya. Baik, pak. Saya usahakan yang terbaik.” Ujar Lina dengan sedikit mengangguk.


Dara kemudian mengantarkan pengasuh baru Kio itu menuju kamarnya yang berada di lantai 2 di seberang kamar Dara. Wanita itu membawa sebuah tas jinjing yang lumayan besar, dan sehelai kerudung menutupi kepalanya.


Tak ingin mengganggu istirahat Lina yang baru saja sampai, Dara meninggalkannya di dalam kamar itu, dan akhirnya kembali ke kamar menghabiskan camilan-camilan yang sudah mereka beli.


“Sepertinya orangnya baik ya, sayang?” Tomi ingin menyamakan pendapatnya dengan Dara.


“Iya. Tepat waktu. Aku suka orang yang tepat waktu.” Dara setuju.


Pengasuh ini melamar langsung pada Dara melalui email setelah postingan lowongan pekerjaan yang Dara unggah mendapat banyak respon, bahkan sebelum mereka tiba di Bandung.


Ia memilih Lina sebab sangat luwes dalam percakapan telepon, dan juga jelas identitasnya. Umurnya terbilang tidak muda lagi. Ia sudah berkepala empat dan punya 3 orang anak yang sudah remaja, sudah biasa ia tinggal ketika harus pergi bekerja. Mirip dengan cerita Cecil, namun dengan negara yang berbeda.


Kio rupanya seorang anak yang mudah lengket dengan orang baru, buktinya ia langsung menjadi dekat dengan Lina. Tak jarang setelah beberapa hari, Kio sudah terbiasa tidur siang di kamar Lina, terpisah dari ibu dan ayahnya.


“Kak. Menurut kakak, Lina itu bagaimana?” tanya Anna ketika mereka berdua sedang berusaha menghabiskan semangkuk penuh rujak mangga muda.


Dara tak perlu pikir panjang untuk memberikan penilaiannya,”baik. Orangnya rajin, kok.”


Anna mengangguk, namun betul-betul terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang hampir melompat keluar dari mulutnya.


“Dia ... Apa punya suami?”


“Ada. Dia bilang dia punya suami. Kenapa An?” tanya Dara sedikit kebingungan dengan tajamnya pertanyaan itu.


Anna mengunyah dan menelan dulu buah yang ada di dalam mulutnya, seperti mengumpulkan keberaniannya untuk memberitahu sesuatu kepada calon iparnya itu.


“Bagaimana ya, kak? Ng. Aku enggak tahu harus mulai dari mana. Tapi ini pendapat pribadi aku saja sih, kak.” Canggungnya membuat Dara menghentikan makannya, dan memfokuskan perhatian hanya kepada Anna.


Anna terlihat sekali sungkan ingin mengatakan sesuatu yang sudah menggantung di depan lidahnya. Apa itu? Dara juga tidak tahu.


“Kak. Kak Dara tahu kalau Aa Tomi sering pergi keluar dengan Lina?”


“Keluar? Ke pasar atau belanja-belanja maksud kamu?”


Anna mengangguk mengiyakan apa yang Dara tanyakan. Aneh sekali topik ini, dan Dara mulai terlihat tertarik untuk mengupasnya lebih jauh.

__ADS_1


“Lalu?” Dara mengerutkan sedikit dahinya, namun tetap dengan nada bicara yang santai agar Anna tidak merasa tak nyaman.


“Aku rasa, nanti sebaiknya kakak dan Aa Tomi saja yang keluar berbelanja. A ... Anu kak. Enggak enak lihat pemandangan mereka berdua di motor.” Anna akhirnya berterus terang. Sejak hari pertama mereka datang di Bandung, Tomi memang bertransportasi dengan sebuah motor yang dipinjamkan oleh adiknya. Beberapa kali ia membonceng Lina untuk membeli keperluan rumah. Jika ia mengajak Dara, tentu akan kesulitan membawa barang-barang yang lumayan banyak dengan perutnya yang gendut.


Dara mengangguk, sebagai wanita dewasa ia sudah paham apa yang dimaksud oleh Anna.


“Aku paham maksud kamu, hehe. Tapi ... Lina itu sudah berumur, An. Lagi pula ... penampilannya ... Astagfirullah kenapa kita jadi gibah begini? Ayo makan lagi.” Dara menghentikan pembicaraan itu, dan menepuk punggung tangan Anna dengan lembut. Keduanya kompak tertawa.


Anna wanita yang baik, jelas sekali terlihat ketulusannya ketika memperingati Dara tentang rutinitas suaminya dengan pembantu baru mereka. Tak ada yang salah dengan itu, memang seharusnya Tomi dan Lina sedikit menjaga jarak agar orang tidak salah paham.


“Arrrgghhh!” pagi-pagi sudah terdengar teriakan Lina dari kamarnya di lantai 3. Dara bergegas merapikan mukenanya dan menghampiri wanita itu.


Tok Tok!


Ia mengetuk pintu yang masih terkunci. Hari masih gelap, baru jam 4 subuh. Jelas saja pintu itu masih terkunci. Teriakan tadi hilang, dan tidak ada tanda-tanda Line membukakan pintu.


“Mungkin mimpi, ya ...” ujar Dara lalu berlalu pergi ke kamarnya lagi. Ia berbalik lagi ke arah kulkas yang ada di depan kamarnya, lalu melihat sekeliling, mencari Tomi yang tidak ada di kamar sejak ia bangun untuk sholat. Malam ini Haris dan Anna sudah tidak ada di rumah, mereka harus pulang agar Anna bisa bekerja.


Dara menutup matanya lagi, sembari memeluk Kio.


Kriet!


Pintu kamarnya terbuka, Tomi masuk ke dalam. Celana pendek sebatas setengah paha itu memperlihatkan otot kakinya yang keras.


“Dari mana?” tanya Dara singkat kepada suaminya itu.


“Kamar mandi ...”


“Tidur sayang. Buat apa bangun jam segini?” imbuh Tomi kepada istrinya, sembari mendaratkan sebuah elusan di perut gendut Dara.


“Aku sholat. Memang kamu enggak?”


“Nanti saja. Kalau sudah mandi ...” jawab Tomi singkat, memeluk istrinya lalu tidur.


Mandi? Batin Dara bertanya-tanya. Setelah kedatangan mereka di Bandung, mereka jelas belum ‘berbuat apa-apa’. Oh! Atau mungkin Tomi hanya berjaga-jaga saja, sehingga harus mandi.


“Tadi Lina berteriak, sayang ...” ucapan Dara itu lama tidak ditanggapi oleh Tomi, ia berbalik dan melihat suaminya itu tertidur pulas sambil memeluk perut gendutnya.


“Tapi kenapa teteh?” di hari ke 10 Lina bekerja, ia tiba-tiba membawa tas yang sudah ia kemas, lalu berpamitan ingin pulang. Wajahnya tertunduk, lesu menahan tangis.


“Itu, bu. Suami saya sakit. Sudah tua. Saya harus jaga dulu. Nanti ada pengganti saya, sudah saya kasih nomor ponselnya ke bapak.”


Dara terdiam sejenak, ia tahu tidak mungkin melarang seorang istri yang ingin berbakti kepada suaminya. Ia pun mengangguk lembut, dan mengulas senyum kecil di wajahnya.


“Ya sudah. Nanti saya minta suami saya antar teteh pulang, ya. Gajinya nanti dikasih sama suami saya juga.” tandas Dara, kemudian memanggil suaminya. Tomi turun, dan aroma parfumnya mengisi ruang tamu itu.


Ia pun bergegas pergi mengantarkan Lina, dengan motornya. Dara masih tertegun, membayangkan bahwa ia harus mulai dari 0 lagi mengajari pengganti Lina nanti. Ia harus mengajari orang itu dengan cepat karena besok ia dan Tomi akan mulai bekerja.


“Kio. Sini! Awas jatuh,” Dara berusaha mengejar Kio yang hendak turun dari tangga lantai 2.


“Mama. Daddy?” bocah itu menanyakan keberadaan ayahnya.


“Daddy pergi. Antar teteh Lina, nanti bawa teteh baru untuk Kio. Eh itu apa?” Dara melihat sesuatu di tangan Kio, ia menghampiri bocah itu, ternyata ia memegang ponsel Tomi.

__ADS_1


Dara mengusap layar ponsel pintar itu. Ada password yang harus di masukan ... Aneh ... Selama ini dia dan Tomi tidak pernah menggunakan password apa pun di ponsel mereka.


Dara bukan perempuan yang suka terusik dengan urusan ponsel pasangannya, namun dengan password yang sudah diatur di ponsel suaminya, ia sedikit merasa aneh.


“4 angka? Oh ...” ia mencoba sebuah kombinasi angka. 2703. Tring! Layar ponsel itu terbuka. Dara tak menyangka dalam satu kali tebakan saja, ia bisa membuka ponsel suaminya itu.


Tangannya tanpa pikiran macam-macam, membuka WhatsApp suaminya. Lina berada di paling atas di daftar percakapan. Dara menyipitkan matanya sembari dahinya yang mengerut membaca pesan Lina.


Lina: [ Kayaknya ibu bangun tadi ]


Tomi: [ Kenapakah? ]


Lina: [ Nanti kalau ibu sampai tahu bagaimana, pak? ]


Tomi: [ Istri saya enggak seperti itu. ]


Dara tertegun, bingung harus berekspresi seperti apa tentang pesan-pesan yang ambigu itu. Ia menggenggam ponsel itu seakan hampir memecahkannya.


“Gila kamu, Dar.” Ia menggerutu dirinya sendiri, menepis semua prasangka buruk.


Drrtt! Ponsel itu bergetar. Dara menggendong anaknya, masuk ke dalam kamar, agar ia bisa lebih dengan tenang membongkar apa yang ada dalam WhatsApp suaminya.


Lina: [ Antara kita saja, pak. Saya enggak akan kasih tahu siapa-siapa. ]


Apa ini? Batin Dara makin kacau. Apa maksud Lina?


“Sayang!” suara Tomi mengagetkannya, ia segera menutup aplikasi yang terbuka dan mengunci lagi ponsel itu.


Dara bergegas menggendong anaknya, menghampiri suaminya di lantai 1 rumahnya. Di tangannya ada sebuah tas jinjing baru, dan seorang wanita terlihat seumuran dengan Dara, berdiri di belakangnya.


“Iya sayang. Sorry, tadi aku ganti popoknya Kio ...” kebohongan itu dengan natural keluar begitu saja dari mulut Dara.


“Sini sayang. Ini Ros. Pengganti Lina. Dia tetangganya Lina, rumahnya dekat. Ini istri saya Ros.” Tomi memperkenalkan keduanya. Perempuan berkulit gelap dengan kerudung coklat itu tersenyum kepada Dara.


Seperti sebelumnya, Dara mengantarkan pengasuh baru itu ke kamarnya, kemudian menjelaskan segala sesuatu tentang merawat Kio. Dara beruntung tentunya memiliki anak yang tidak pilih-pilih seperti Kio. Ia mudah lengket dengan siapa saja pengasuhnya, meski kadang ia sulit diajak untuk makan, namun tidak begitu merepotkan. Ros rupanya sangat telaten, dan gesit. Ia dengan cepat bisa melakukan semua yang diberitahukan oleh majikan perempuannya, dan di malam pertama ia berada di rumah itu, ia tidur dengan Ros.


“Sayang. Kamu buka HP ku tadi?” tanya Tomi dengan wajah santai, tampaknya aman saja jika Dara menjawab jujur.


“Mmm. Iya. Aku bingung kenapa di password jadi aku coba buka, ternyata terbuka.”


“Hehe. Ulang tahun Kio passwordnya. Sengaja aku password, soalnya Kio beberapa kali bisa nelpon orang sembarangan.” dengan santai Tomi menjawab.


Wajah Dara berubah datar, menimbang-nimbang haruskah ia bertanya tentang pesan dari Lina yang ia baca.


“Kamu baca pesan dari Lina?” tanya Tomi. Dara mengangguk pelan, dan tak berani menatap matanya.


“Pagi itu, dia kesulut api rokoknya sendiri. Pas kamu dengar dia teriak. Dia enggak enak kalau kamu tahu dia merokok, jadi akhirnya minta berhenti.” Penjelasan Tomi itu seketika mengangkat semua beban prasangka yang sudah berjam-jam ada di kepala Dara.


“Oh begitu ... Padahal dia tinggal kasihtau saja ke aku ... Tapi ya sudahlah. Aku kira ...”


“Kamu kira apa? Hahaha! Sayang? Kamu kira aku main api dengan Lina?” Tomi dengan gemas menghampiri istrinya itu, memeluk pinggangnya, dan mendaratkan ciuman mesra yang lembut di pipinya. Dara mengangguk, menahan malunya.


“Aku punya kamu. Kenapa aku harus cari yang kurang dari kamu? Ada-ada saja bumil ini.” ia memeluk lagi istrinya itu, dan mengelus kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2