
Siang yang dingin dengan langit yang mendung di Bandung itu begitu cocok dengan perasaan Dara yang tak menentu. Sejak satu tamparan dari Tomi mendarat di pipinya beberapa hari lalu ketika mereka berada di Jakarta, ia belum sama sekali bertegur sapa dengan suaminya itu. Meskipun serumah, Dara akan menghindari tatapan mata dan komunikasi apa pun. Lagi pula, perutnya yang kian membesar dan waktu persalinan yang semakin dekat, mengharuskannya lebih banyak pergi bergabung dengan komunitas yoganya.
Kring! Kring!
Ponselnya berdering dengan keras, sebuah panggilan dari Tomi yang ternyata sudah beberapa kali masuk namun tidak terlihat olehnya. Dengan mudah kali ini, ia mengabaikan panggilan dari suaminya itu sembari menyedot es teh siap minum yang ada di botol. Ia harus setidaknya melegakan dahaganya sebelum memesan ojek online untuk menjemputnya.
“Kenapa enggak angkat. Aku telepon dari tadi.” dirinya dikagetkan oleh suara Tomi. Bagaikan sulap, lelaki itu sudah berdiri di sampingnya, memerhatikan istrinya itu minum.
Dara tak ingin menjawabnya, lebih baik ia terus menghabiskan teh yang sudah mulai menjadi suhu ruangan.
“Ayo naik.” titah suaminya sembari menarik tangan istrinya. Dara mempertahankan posisinya, dengan keras menahan badannya agar tidak ikut bersama suaminya itu. Tomi menghentikan langkahnya, kemudian membalik badannya.
“Ada apa? Ayo,”
“Aku naik ojek,” dengan ketus Dara menarik tangannya. Jari jemari kakinya yang terlihat bengkak itu mencuri perhatian suaminya.
__ADS_1
“Kamu boleh marah. Aku tahu. Tapi kamu istriku, kamu sedang hamil. Aku akan antar kamu pulang. Ayo!” nada Tomi kali ini melembut, dan ia berusaha meyakinkan Dara untuk ikut dengannya.
“Ayo. Kamu enggak harus nempel dengan aku. Aku duduk di ujung motor deh, ya?” timpalnya lagi, dan itu membuat Dara mengumbar senyum gelinya. Tomi tersenyum melihat lengkung bibir istrinya yang tak dapat menahan tawa. Tanpa berbicara lagi, ia menggandeng tangan wanitanya itu dan membawa mereka melaju dengan motor.
Seperti janjinya, ia berusaha duduk berjarak dengan istrinya itu, dan tiba-tiba saja ia bisa merasakan sepasang tangan yang masuk dalam saku jaketnya. Tomi tersenyum, dan membetulkan posisi duduknya agar istrinya bisa memeluknya dengan gampang.
“Jadi enggak marah lagi nih? Kita pergi ke Lembang ya, sayang. Ros sama Kio di rumah. Aku mau ajak kamu lihat yang segar-segar supaya enggak suntuk. Besok kan kita kerja lagi.” ujar Tomi dan berkendara menuju Lembang. Dara tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia tahu ada kenyamanan tersendiri ketika ia duduk di boncengan suaminya itu. Terasa nyaman ... dan ... entahlah. Tak bisa ia jelaskan.
Kota Bandung boleh saja terik. Namun tidak dengan Lembang. Pepohonan yang ada di sana seakan tahu caranya mendinginkan kota kecil itu, dan oksigennya terasa jauh lebih banyak dari kota mana pun di dunia ini.
Motor itu terus melaju, hingga melewati gerbang Tangkuban perahu, kebun teh rimbun yang begitu hijau menghampar luas sepanjang jalan, lalu saung-saung penduduk sekitar yang dijadikan tempat istirahat komersil.
Motor itu berhenti di sebuah saung, dengan pohon besar di bagian belakang, dan sebuah saung tersendiri di bawah pohon itu.
“Ayo turun. Kio pasti suka kan kalau kita bawa ke sini. Sekarang kita berdua saja dulu yang nikmatin. Next nanti kita bawa Kio, ya.” Tomi mengelus kepala istrinya yang masih tak bersuara sejak tadi. Dengan cepat ia membantu istrinya itu untuk membuka sepatunya dan naik di atas bale-bale.
__ADS_1
Ia meninggalkan Dara beberapa menit, lalu kembali dengan dua gelas teh hangat, dan sebuah kudapan manis dari pisang.
“Mah ... Dara ... Istriku ...” ia membuka percakapan. Dara menunduk, berusaha menjauhkan pandangannya dari sepasang mata yang menatapnya.
“Aku tahu kamu marah. Tahu kamu kecewa. Ini salah aku, aku minta maaf ...” sambungnya sembari memegang tangan istrinya itu. Serasa sesuatu memanaskan aliran darahnya, tubuh Dara menjadi begitu hangat. Ia tidak pernah bisa menolak permintaan maaf dengan suara lembut lelaki itu.
Dara menunduk. Kali ini bukan untuk menghindari tatapan Tomi, namun menyembunyikan buliran air mata yang mulai mengalir deras.
“Jangan menangis ... Aku sayang kamu. Aku sayang anak kita. Aku akan berusaha lebih baik lagi, tolong percaya aku,” Tomi mengangkat wajah istrinya itu dan menghapus air matanya.
Dara membenamkan kepalanya dalam pelukan suaminya, menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan air mata, dan memeluk kuat lelaki itu. Tangisan antara merasa sedih, kecewa namun ... bahagia ... mungkin ... ya, mungkin bahagia ada sedikit tebersit.
“Apa kamu bisa? Tinggalkan semua itu demi aku?” Dara memberanikan dirinya bertanya kepada suaminya itu. Tomi memegang kedua pipi wanita itu. Ia memastikan mata mereka bertemu, seakan meyakinkan apa yang akan ia ucapkan.
“Aku tinggalkan Farah ... Aku tinggalkan dia ... Aku juga pasti bisa tinggalkan kebiasaan ini. Sayang ... Lihat aku. Aku bisa,” nadanya yang serius dan penuh kelembutan itu menghentikan air mata Dara, merubahnya menjadi gerakan cepat memeluk suaminya dengan penuh kehangatan.
__ADS_1