
“Bi! Ayo cepat mandinya, kita ada meeting 15 menit lagi. Ini email kamu sudah aku balas. Kita di suruh berhenti kerja dulu.” Dara mengetuk pintu kamar mandi, memberikan informasi penting kepada suaminya.
“Sudah ini.” Pintu kamar mandi tiba-tiba dibuka, dan Tomi keluar dari sana. Ia memeluk istrinya itu, dan mengecupnya.
“Ayo. Nanti kita telat gabung di Zoom. Anak-anak mumpung masih tidur.” Dara menarik tangan suaminya itu, dan Tomi berjalan berusaha memegangi handuknya.
Dara membuka Zoom, dan terlihat semua teman-temannya sudah ada. Ada juga berpuluh nama lain yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Suara notifikasi pesan grup di ponselnya mulai ramai seketika, ketika CEO pemilik perusahaan memasuki sesi meeting itu.
Mira: [ Ini ada apa Bu OM? ]
Danang: [ Iya ih, kok serem ada pak bos ]
__ADS_1
Glinda: [ Hahaha naik gaji masal ]
Grup itu terus saja ramai hingga akhirnya CEO menyalakan microphone-nya. Semua orang berusaha mendengar dengan seksama. Pada menit-menit pertama, semua orang begitu kagum dengan semua pujian yang keluar dari mulut pria itu atas hasil kerja keras para pegawainya. Hingga ...
“We have finally decided to send everybody home because our business is going for liquidation soon ...” kalimat itu menghentikan kerja otak semua yang mendengar, termasuk Tomi, dan Dara. Dara tercengang hingga tak tahu lagi apakah ia masih menapak di bumi atau sudah berpindah alam.
Pria bule CEO itu masih terus berbicara, hingga akhirnya ia selesai dan meeting itu di tutup. Grup kerja di WhatsApp kembali ramai.
Danang: [ Terus kita harus bagaimana, ini? **__** ]
“Kantor tutup, Ra?” Tomi ternyata masih tak paham dengan apa yang terjadi di meeting tadi. Wajar saja, ia tak begitu bagus memahami bahasa asing.
Dara mengangguk lemas, dan Tomi menepuk keningnya seketika.
__ADS_1
“Kita tunggu saja. Habis ini ada group call dengan bu OM. Aku sebenarnya sudah dengar-dengar sejak beberapa bulan lalu isu ini. Banyak produk kita yang sudah tidak dijalankan. Beberapa teman sudah dapat pekerjaan baru. Kamu ingat kan, banyak yang resign sebelum ini? Mereka sudah mengendus.” Dara menjelaskan dengan nada lemas. Ia sebenarnya sudah tahu ini akan terjadi, namun tidak memiliki kesempatan untuk mencari pekerjaan lainnya.
Kring! Ponsel mereka berdering bersamaan.
Panggilan grup itu dijawab, dan terdengar beberapa orang sudah ribut di sana. Dara dan Tomi bisa mendengar dengan jelas suara teman-teman kerja mereka yang memprotes PHK ini. Namun, satu sisi baiknya, perusahaannya ini mengatakan tidak akan lepas tangan dan tetap membayarkan pesangon. Mendengar itu, Dara sedikit lebih lega.
“Teman-teman masih harus kerja sampai akhir bulan ini. Enam hari lagi. Setelah itu, kita akan difinalkan.” ucap sang OM. Dara sedikit bisa menerima, sebab setidaknya mereka tidak pergi dengan tangan hampa. Lagi pula ia optimis bisa bekerja lagi setelah ini di perusahaan lainnya.
Panggilan itu selesai, dan keduanya masih termenung. Pengeluaran mereka tidak begitu besar, namun Tomi pasti memikirkan bagaimana mencukupi permintaan Farah.
“Jangan takut. Pasti ada jalan keluar ...” Dara menyemangati suaminya itu dan memberi pelukan hangat.
“Iya. Kamu benar. Enggak ada gunanya kalau kita berkeluh kesah. Lebih baik, cari solusinya.” Tomi ternyata sudah dengan cepat berbesar hati menerima semua yang telah diputuskan.
__ADS_1
“Kita coba dulu besok pakai alatnya. Setelah itu ... kita bisa buka resmi. Untung kamu sudah ada ide bisnis ini, sayang” sambungnya memuji Dara. Dara tersenyum, dan menggenggam jemari suaminya memberi kekuatan dan kembali bekerja seperti biasanya, meski otaknya terbagi kesana dan kemari.
Kantor mereka bukan satu-satunya yang terdampak pandemi. Sejauh ini sudah banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan karena bisnis yang turun akibat serangan corona. Apa boleh buat? Dara dan Tomi untungnya bisa berbesar hati dan tidak terpaku pada masalah yang mereka alami.