
“Aku mau ketemu sama Handi. Kamu mau ikut?”
“Handi lagi ...” gumam Dara dengan nada kesal. Tomi menghela nafasnya.
“Hmmm. Justru karena aku enggak mau kamu curiga, makanya aku tanya. Aku mau ketemu saja, berbincang. Bukan apa-apa kok. Makanya ayo ikut.”
Ada betulnya juga yang dibilang Tomi, dan Dara tentu tidak mau lelaki itu tiba-tiba pulang dengan sekantung ganja setelah bertemu dengan temannya itu.
“Aku tunggu di depan. Ayo siapin anak-anak.”
“Ah jangan Aa. Aku mau main dengan anak-anak.” Tami yang tiba-tiba masuk ke kamar yang tidak ditutup pintunya itu, terlihat sedang asyik dengan Kayla dalam gendongannya.
“Yakin, Tam?” Dara ingin meyakinkan dirinya lagi.
“Iya. Sana pergi saja.” Jawab iparnya itu singkat.
Tak ada salahnya kali ini Dara pergi dengan suaminya berdua saja, sebab ia juga ingin membicarakan sesuatu. Obrolan suaminya dengan segerombolan bibi dan paman yang datang itu cukup mengganggu pikirannya.
Tomi berhenti di depan sebuah mall yang baru saja dibangun tak terlalu jauh dari tempat ibunya. Ia menggenggam tangan istrinya itu, berjalan dari satu lantai ke lantai atas lainnya, dan berhenti pada foodcourt yang lumayan ramai.
“Kita tunggu Handi, ya? Kayaknya masih di jalan. Aku sudah telepon tapi enggak diangkat. Kamu mau makan apa?” tanya Tomi kepada istrinya yang terlihat cukup lelah mengurus kedua anaknya yang lumayan rewel. Anak-anak yang sudah terbiasa di cuaca Bandung itu, selalu saja rewel ketika datang ke Jakarta.
__ADS_1
“Nanti saja. Tunggu Handi biar sama-sama. Minum saja mungkin enak. Jus al-“
“Jus alpukat, tidak pakai gula, pakai susu kental manis yang banyak, es banyak. Ya kan?” Tomi memotong omongan istrinya dengan detil yang lengkap. Dara tersenyum, sedikit tertawa.
“Iya. Yang itu ...” jawabnya dan suaminya itu langsung beranjak memesankan apa yang ia mau.
Drrrtt!
Ponsel Tomi yang ada di depannya itu bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk bisa ia lihat dengan jelas, dan Dara menjadi sedikit penasaran untuk mencontek isinya. Ia menarik sedikit ponsel itu ke arahnya, dan melihat pesan masuk.
Farah: [ Jadi kapan? 5 juta enggak akan cukup. Belum lagi beli hadiah. ]
Suasana hatinya tiba-tiba saja berubah melihat pesan itu. Ia selalu terganggu dengan pesan semacam itu, apalagi saat ini mereka sedang merintis dari 0 dan tidak ada yang memiliki penghasilan bulanan yang pasti.
“Ada apa lagi, sih?” Tomi sedikit kesal, dan mengambil ponselnya, lalu membaca pesan yang masuk.
Ia duduk, lalu membalas pesan itu dengan raut wajah serius, sementara Dara dengan tatapan sedikit benci memandangi jari-jarinya yang mengetik.
“Apa lagi? Kita ini belum ada apa-apanya. Kok banyak sekali permintaan dari sana?”
“Raffi ulang tahun. Mau dirayakan. Mau dibelikan hadiah juga. Itu saja kok.” Tomi menjawab dengan nada yang lebih santai, berusaha tidak memperkeruh suasana.
__ADS_1
“Kio juga ulang tahun. Mana pernah dirayakan? Apa kata kamu? Hemat! Apa lagi kata kamu? Enggak penting. Terus?” nada-nada ketus itu keluar begitu saja dari mulut Dara, bahkan ketika jus-nya diantar, Dara sama sekali tidak berbasa-basi.
“Aku bilang aku enggak janji. Aku bilang begitu ke Farah.”
“Enggak janji? Loh. Bilang enggak bisa, bukannya enggak janji. Uang dari mana?”
Tomi menggebrak meja mereka, dan seketika perhatian beberapa orang tertuju kepada mereka.
“Kamu itu selalu carinya ribut. Kenapa sih? Tahu begitu tadi aku tinggal saja kamu di rumah.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku lagi membahas soal kelakuan kamu yang berbuat apa-apa tidak pernah diskusi dengan aku sebagai istri. Aku ini istri kamu, Tom. Semua yang kamu mau lakukan, baiknya kita bicarakan sama-sama. Uang dari mana sebanyak itu? Kita harus menabung. Belum tentu usahaku ramai. Oh satu lagi! Aku tidak pernah dengar apapun dari kamu soal buat cabang untuk masing-masing anakmu di Makassar. Lagi pula, itu usaha aku!” berapi-api Dara berbicara panjang tanpa hela nafas sedikit pun. Tomi menatap istrinya itu dengan geram, sementara Dara juga tidak memalingkan tatapannya. Ia merasa kali ini apa yang ia bilang itu begitu masuk akal.
“Kamu itu perempuan! Istri! Kamu tidak ada hak atur aku, atur rumah tangga. Bisnis yang kamu bilang punya kamu itu, bukan punya kamu. Kita suami istri. Bisnis itu milik bersama, tetapi aku suami! Aku kepalanya di sini! Aku yang berhak menentukan akan ke mana bisnis itu! Aku yang berhak ngatur ke mana uang yang masuk dan keluar! Paham?” suara geram itu akhirnya keluar lagi setelah bertahun-tahun tak terdengar. Tomi mengambil ponselnya dari atas meja, dan pergi begitu saja meninggalkan istrinya di situ. Dara tak berniat mengejar suaminya. Memanggil saja pun tidak. Ia juga berusaha mempertahankan pendapatnya kali ini. Muak ... mungkin itu yang paling tepat dikatakan olehnya. Sebagai perempuan mandiri yang selalu punya ide dan pendapat, ia tidak mau terlalu lama menjadi boneka Tomi. Mau tidak mau, dengan cara apa pun, ia harus menyadarkan suaminya itu agar memperhitungkan perasaan dan pendapatnya juga di dalam semua keputusan.
“Sial! Dia kira siapa dia? Bangsat!” Dara menggerutu sendiri, mendengus kesal lalu menyeruput jusnya. Kepalanya tak tenang, dan ia ingin sekali berteriak untuk memberitahukan pendapatnya kepada tomi dengan gamblang.
Dara memang selalu menahan emosinya. Setidaknya dalam enam tahun ini ia telah banyak menahan lidahnya, sebab Tomi bukan orang yang mudah menerima saran dari orang lain apalagi perempuan.
Dara cepat-cepat menghabiskan jusnya. Kepalanya penuh dengan emosi, dan ia tidak bisa membendung perasaannya kali ini.
Ia membuka ponselnya, dan memesan taxi online untuk mengantarnya pulang ke tempat mertua.
__ADS_1
Sambil berjalan ke tempat penjemputan, matanya berusaha melihat sekeliling, ingin mengetahui apakah Tomi masih ada di sekitar situ.
“Persetan!” dengusnya kesal, mempercepat jalanannya ketika ia melihat mobil dengan nomor polisi yang dipesannya sudah tiba tepat di pintu lobby.