
“Tangan Dara tak berhenti dari semalaman. Ia sibuk ke sana kemari di internet mencari sesuatu yang bisa menghasilkan baginya, meskipun ia tahu K’s adalah bisnisnya. Dengan sikap Tomi yang seperti itu, ia tidak bisa berharap banyak pada bisnis yang ia bangun.
Semangkuk sereal dengan susu segar ia pilih untuk srapannya dan anak-anak agar mereka memiliki mood yang sejalan. Sementara dalam beberapa minggu ini, hampir sebulan, Tomi selalu menolak untuk sarapan di rumah, dan sering pulang dari kedai dengan perut yang sudah terisi penuh.
Komunikasi mereka tidak baik, dan malah memburuk. Dara tidak lagi ambil pusing apa yang terjadi pada ponsel suaminya itu ... tapi tetap memilih menjadi wanita dalam rumah itu dan setia mengerjakan tugas-tugasnya.
Tomi sudah tak menyentuhnya lagi sejak itu, bahkan beberapa kali Dara berganti pakaian di depannya ... tak ada yang terjadi. Lelaki itu mungkin sedang mati rasa.
Hal baik yang bisa Dara ambil dari perang dingin itu adalah, ia terbangun dari zona nyamannya, dan mengetahui kelemahan-kelemahannya sebagai perempuan. Salah satunya yautu mandiri secara finansial. Ia harus bisa lagi berdiri dengan penghasilan sendiri, meski kehilangan pekerjaan kemarin bukan sesuatu yang mudah dilalui.
Suara langkah kaki dari kamar terdengar begitu jelas, Dara tahu suaminya itu sedang menuju ke dapur.
“Ada 8 juta di rekening?” sudah ia duga, laki-laki itu pasti butuh sesuatu hingga mencarinya di dapur.
“Buat apa?” Dara tak menatap Tomi sedikit pun.
“Ada enggak?” nada tinggi sedikit tersirat.
“Ada. Untuk apa?”
Ada yang mau pesan banyak setiap hari selama 2 minggu. Sehari 40 kilogram. Ada kan?”
Dara terdiam, tapi menyimpan rasa senang dalam hatinya sebab bisnisnya itu makin berkembang dari hari ke hari.
__ADS_1
“Ada. Kapan dikembalikan?”
Pertanyaan itu tidak dijawab, namun direspon oleh cekak pinggang Tomi.
“Perhitungan? Setelah pisah kamar, pisah ranjang, pisah keuangan?” ia bertanya dengan nada ketus kepada istrinya itu. Dara tidak pernah mendengar hal semacam itu selama pernikahannya, ini kali pertama.
“Itu tabungan anak-anak. Aku harus bisa balikin ke nominal semua. Lagian kalau memang untuk bahan baku, modalnya bisa dikembalikan. Ya kan?”
“Ya sudah. Transfer saja. Nanti aku belikin saat sudah masuk pembayaran order.”
Apa yang diprediksikan Dara benar-benar terjadi ... K’s menjadi begitu ramai, sampai ia sendiri kewalahan menholah bahan baku. Yadi sendiri sedang jatuh sakit, ia tidak bisa masuk kerja, sehingga Tomi menggantikannya seharian.
Tiba-tiba produknya berkembang pesat, dan di saat bulan puasa Ramadhan, ia melihat antrian panjang di kedai oleh orang-orang yang menunggu pesanan mereka. Hingga bulan puasa berakhir, dan lebaran datang, Tomi belum juga ada basa-basi tentang dana yang dipinjamnya itu. Tapi beberapa kali ia menyempatkan diri pulang makan malam bersama keluarganya meskipun Dara tidak sehangat dulu, dan mereka masih ada di kamar yang terpisah.
“Mereka tinggal dengan kita saja nanti. Kasihan, perantauan.” Sambung Tomi.
Dara tak banyak berkomentar sebab ia sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu. Lagi pula, memang benar mereka kewalahan mengolah bahan baku dengan permintaan yang makin banyak.
“Kapan tabungan anak-anak kembali?” singkat, padat, dan jelas pertanyaan Dara.
“Tunggu dulu. Aku masih simpan karena rencana membuka cabang baru. Bisa jadi akan aku pakai untuk membuat alat baru.”
Dara mengerutkan dahinya. Semua yang dibilang oleh Tomi adalah hal baru yang tidak pernah ia diskusikan sebelumnya.
__ADS_1
“Kenapa sepihak?”
“Apanya?”
“Semua rencana itu. Kenapa sepihak. Aku kan juga turut ambil andil dengan berdirinya K’s?”
“Aku laki-laki. Aku suami. Keputusan apa pun yang aku buat itu pasti buat keluarga. Kamu kenapa sih?” nada Tomi mulai terlihat tidak senang.
Dara menarik nafas, dan mematikan setrikanya. Ia berusaha tetap tenang agar tidak mencuatkan sebuah pertengkaran di saat kedua anaknya sedang tertidur pulas.
“Mama. Mah. Sampai kapan kamu mau begini terus?”
“Memangnya kenapa aku bisa begini?”
“Mana aku tahu? Kamu selalu begini.” Seakan sebelumnya tak terjadi apa-apa, dengan gampangya Tomi mengucap sesuatu yang menaikkan adrenalin Dara.
“Tom. Kamu itu pergi dengan perempuan lain. Kamu bohogin aku. Sekongkol dengan teman-teman tongkronganmu itu ...”
“Itu Fani. Apa lagi yang kamu cemburui dari dia. Aku enggak minat sama perempuan itu. Kami hanya keluar ramai-ramai. Aku post story lagi ngopi dengan teman-teman, dan dia minta ikut. Haruskah aku tolak?”
Dara geram. Entah di mana otak suaminya itu, sampai ia tidak bisa memecahkan hal sederhana seperti yang ia tanyakan.
“Urus saja orderan. Urus bisnis. Kita enggak akan bahas ini semua kalau kamu masih enggak sadar di mana letak salah kamu.” Dara menghentikan diskusi mereka itu sebelum ia naik pitam.
__ADS_1